Important Announcement: Journal status update, Garuda indexation, and the separation of OJS systems.
Reny Indrayani
Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Jember
Karera Aryatika
Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Kampus Bondowoso
Keywords: keluhan pendengaran, pemetaan kebisingan, alat pelindung pendengaran, penggergajian kayu
ABSTRACT
Keluhan pendengaran, menurut banyak penelitian telah dinyatakan berkorelasi positif dengan kehilangan pendengaran. Kehilangan pendengaran merupakan penyebab kecacatan keempat tertinggi di dunia dan dapat disebabkan oleh paparan kebisingan di tempat kerja. Banyak penelitian mengungkapkan bahwa salah satu sektor pekerjaan dengan tingkat kebisingan tinggi di area kerjanya adalah pengolahan kayu. WHO merekomendasikan adanya tindakan identifikasi gangguan pendengaran beserta penyebabnya, dan menerapkan tindakan pencegahan untuk membatasi dampak merugikan yang ditimbulkan oleh paparan kebisingan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan keluhan pendengaran yang dialami pekerja dan memetakan intensitas kebisingan di tempat kerja industri penggergajian kayu UD. Mayoa Jember guna menentukan jenis alat pelindung telingan / pendengaran yang dibutuhkan oleh pekerja. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer yang didapatkan melalui wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan kepada seluruh pekerja yang berjumlah 32 orang. Observasi dilakukan dengan melakukan pengukuran intensitas kebisingan pada 139 titik pengukuran yang tersebar di seluruh area kerja. Pengolahan data untuk pembuatan peta sebaran kebisingan dilakukan dengan bantuan aplikasi Surfer ver.16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami keluhan pendengaran pada level yang tidak mengganggu aktifitas. Pemetaan intensitas kebisingan menunjukkan bahwa kebisingan yang terjadi pada saat jam kerja berkisar antara 73,8 – 105,2 dBA dan luas area dengan tingkat kebisingan di atas NAB adalah sekitar 500 m2. Intensitas pada saat jam istirahat berkisar antara 68,2 – 101,0 dBA dengan luas area dengan tingkat kebisingan di atas NAB adalah kurang dari 30 m2. APT yang direkomendasikan untuk tingkat kebisingan 86 - 95 dBA adalah sumbat telinga, untuk kebisingan 96 – 100 dBA adalah sumbat telinga/penutup telinga, sedangkan untuk kebisingan lebih dari 100 dBA adalah perlindungan ganda yakni sumbat telinga dan penutup telinga. Saran yang dapat diberikan kepada pengurus usaha adalah untuk melakuan redesain jam kerja atau melakukan rotasi kerja.
REFERENCES
1] Berger, E.H. (1983). Laboratory Attenuation of Earmuffs and Earplugs Both Singly and in Combination. m. Ind. Byg. Assoc. J, 44(5), 321-329.
2] Dhere, A.M., Pawar, C.B., Patil, D.A., Pawar, J.A. (2009) Noise induced hearing loss (NIHL) in saw mill and printing press workers in Akluj Town of Solapur district. J. Environ. Sci. Eng. 51, 187–190.
3] Fahlefi, A.M. (2020). Intensitas Kebisingan dan Keluhan Pendengaran pada Pekerja Penggergaji Kayu Kabupaten Jember. Skripsi. Universitas Jember
4] Gani, L.R., Rachmawati, D.A., Indreswari, L., Mardijana, A., Nurdian, Y. (2020). Hubungan antara Kebisingan di Tempat Kerja dengan Kualitas Tidur pada Pekerja Pabrik KayuPT. Muroco Jember. Journal of Agromedicine and Medical Sciences, 4(2), 72-76.
5] Gokulram, M. Prabu, M. Magibalan, S. Boopathi, R. Senthilkumar, P. (2017). A Review on Noise Mapping. JETIR, 4(10), 541-544.
6] Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan
7] Lie, A., Skogstad, M., Johannessen H.A., Tynes, T., Mehlum, I.S., Nordby, K.C., Engdahl, B., Tambs, K. (2016). Occupational Noise Exposure and Hearing: a Systematic Review. Int Arch Occup Environ Health, 82, 351-372.
8] Noweir M.H., Bafail, A.O., Jomoah, I.M. (2015). Noise Pollution in Metalwork and Woodwork Industries in the Kingdom of Saudi Arabia. International Journal of Occupational Safety and Ergonomics, 20(4), 661–670
9] OSHA. 2015. URL https://www.osha.gov/dts/osta/otm/new_noise/. Accessed November 30th2020.
10] Owoyemi, M.J., Falemara, B.C., Owoyemi, A.J. 2017. Noise Pollution and Control in Wood Mechanical Processing Wood Industries. Biomedical Statistics and Informatics. 2(2), 54-60.
11] Platon, S.N., Hionis C.A. (2014). Noise Exposure Risk Prevention In Working Environment Using Noise Mapping. Environmental Engineering and Management Journal,13(6), 1349-1354
12] Robinson, T., Whittaker, J., Acharya, A., Singh, D., Smith, M. (2015). Prevalence of noise‐induced hearing loss among woodworkers in Nepal: A pilot study. Int. J. Occup. Environ. Health, 21(1), 14–22.
13] Samelli, A.G., Andrade, C.Q., Pereira, M.B., Matas C.G.(2013). Hearing Complaints and the audiological profile of the users of an academic health center in the western region of São Paulo. Int Arch Otorhinolaryngol, 12(2), 125-130.
14] Sari, A.Y. (2009). Pemantauan Kebisingan dan Efektifitas Pengendalian yang Ada di Dapur Peleburan Baja Slab Steel Plant II (SSP II) PT Krakatau Steel Cilegon. Laporan Khusus. Universitas Sebelas Maret
15] SNI 7231:2009 tentang Metoda Pengukuran Kebisingan di Tempat Kerja
16] WHO. 2018. Addressing the Rising Prevalence of Hearing Loss. URL https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/260336/9789241550260-eng.pdf. Accessed November 30th2020.
17] Zheng, Y.P., Juang, Y.J., Yiin, L.M.(2020). Modeling of Woodworkers’ Exposure to Occupational Noises by Integrating Frequency Spectra Generated by Power Tools: A Pilot Study. Applied Sciences, 10, 1-8.