Seminar Motivasi Buku Populer : "Excuse Me Your Life is Waiting" di Perpustakaan IPDN Jatinangor

(Jatinangor, 27 November 2010). Seminar motivasi yang menghadirkan penulis buku Excuse Me Your Life Is Waiting, Bambang Q Anees diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Wahana Wyata Praja IPDN pada tanggal 27 November 2010 bertempat di lantai dua perpustakaan IPDN Jatinangor. Kehadiran sang penulis yang sekaligus motivator tersebut difasilitasi oleh Penerbit PT Mizan. Acara dipandu oleh Nindya Praja Teguh Surahman Jaya yang juga merupakan Kepala Dinas Pendidikan Wahana Wyata Praja.

Nama Bambang Q Anees tentunya sudah tidak asing lagi terdengar sebagai seorang motivator sekaligus penulis buku motivasi terbitan PT Mizan, selain aktif menulis di berbagai media masa baik lokal maupun nasional, beliau juga seorang dosen Teologi Universitas Islam Negeri Bandung, sekretaris komisi Riset MUI untuk wilayah Jawa Barat, dan sebagai staff ahli direktur program Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Bandung. Sebagai seorang motivator, Bambang Q Anees termasuk sosok yang sangat menjunjung tinggi afirmasi positif dalam diri seseorang. Bambang Q Anees menerangkan bahwa seminar tersebut bukanlah arena untuk membedah buku Excuse Me your life is Waiting, tetapi ia inginkan arena tersebut menjadi ajang pengembangan diri yang memotivasi pesertanya maju dan lebih mengetahui panggilan jiwanya untuk tidak melewatkan episode dalam hidupnya hanya berdiam diri semata tanpa melakukan sesuatu untuk masa depannya.

Kepada audiens yang sebagian besar berasal dari praja IPDN, terutama tingkat Muda, dan Madya Praja serta sejumlah penggiat kegiatan bedah dan seminar motivasi buku dari tingkat Nindya praja, dan hadir pula ibu pengasuh satuan praja, Bambang mempersilakan peserta seminar untuk menuliskan apapun yang melintas di pikirannya, hanya menulis tanpa memikirkan bagus atau tidaknya tulisan itu, peserta diminta untuk menulis sesuatu yang melintas di pikirannya saat itu juga tanpa berpikir panjang selama 5 menit pertama, kemudian di 5 menit berikutnya peserta diminta untuk menuliskan sesuatu secara lebih terpola dan terstruktur baik dari segi isi, dan tata bahasanya. Hasilnya beberapa peserta kemudian diminta untuk berdiri menyampaikan isi tulisannya.

Pada umumnya untuk latih tulis pada termin pertama peserta sempoyongan dengan rasa ngantuk yang mendera, rasa lapar dan berkutat pada rasa rindu yang mendalam kepada keluarga mereka masing-masing, bahkan ada yang sampai menitihkan air mata tanda ungkapan rasa rindunya yang teramat sangat pada ibunda tercinta di kampung halaman. Selanjutnya tulisan pada termin kedua yang berpola lebih trstruktur rapi, menunjukkan pola emosi yang lebih stabil dan konsisten, mereka sudah beragumen untuk mengusahakan suatu bagaimana agar dirinya mampu berbuat untuk kemaslahatan umat, seperti yang diungkapkan seorang madya wanita praja bahwa ia hidup hanya untuk melakukan sesuatu yang bermakna bagi lingkungannya di dunia.

Kegiatan yang menarik itu tidak berhenti sampai di situ saja, Bambang kemudian menginstruksikan kepada peserta agar mengikuti senam singkat khusus menggerakkan bagian ruas tulang belakang di belakang leher, kedua lengan dan bahu agar pasokan oksigen lancar mengalir ke otak, “Tidak ada teorinya kita merasa mengantuk karena kelelahan mengerjakan sesuatu! Hanya saja pasokan oksigen ke otak kurang lancar, dan untuk memperlancarnya silahkan ikuti gerakan seperti yang saya lakukan” terang Bambang saat seminar berlangsung di menit menjelang seperempat jam sesi penutupan materi. Peserta tampak antusias mengikuti setiap gerakan yang dicontohkan.

Sesi yang tidak kalah pentingnya yaitu, sesi Tanya jawab, terdapat tiga pertanyaan, dua di antaranya disampaikan oleh Nindya Praja, dan yang satunya disampaikan oleh Madya praja. Nindya praja Rivan Maulana asal pendaftaran Sulawesi Selatan bertanya, hidup itu menurut sebagian orang bermakna subjektif ada sebagian orang yang menganggap bahwa hidupnya sudah berada pada koridor yang tepat padahal menurut orang lain jalan hidupnya kurang tepat, begitu pula sebaliknya jadi bagaimana hidup yang baik menurut pandangan bapak? Pertanyaan kedua lebih bersifat teknis, disampaikan oleh Nindya wanita Praja Ramanditha asal pendaftaran Kalimantan Timur,” Ada kalanya seorang penulis itu menciptakan sesuatu tergantung suasana hati yang dirasakannya pada saat ia menulis, namun bagaimana menjaga konsistensi optimal hasil tulisan agar menjadi sesuatu yang baik untuk dibaca?” pertanyaan terakhir disampaikan oleh Madya wanita Praja, mengenai bagaimana mengubah diri menjadi mesin yang siap untuk maju?

Untuk menjawab pertanyaan itu kemudian Bambang menampilkan slide presentasi yang mempersonifikasikan manusia sebagai tiga buah karakter yang disintesis menjadi bentuk sebuah wortel, bijih kopi yang ditumbuk, dan telur mentah. Kepada tiga benda tadi diberi perlakuan yang sama yaitu sama-sama dipanaskan dalam panci berisi air mendidih dengan api panas. Hidup yang baik adalah yang sepeti bijih kopi, setelah ditumbuk kemudian dipanaskan akan bercampur dengan air panas menjadi minuman yang enak dan berguna, selaiknya hidup kita sesuatu yang mengubah kita diibaratkan sebagai variable tetap yaitu air panas yang mendidih, kemudian akan berubah lebih baik kah atau sebaliknya tergantung pada diri kita menjadi bermanfaat untuk orang lain atau tidak (TSJ).

Penulis : Teguh Surahman Jaya, kepala Dinas Pendidikan Wahana Wyata Praja (Nindya Praja)

Last update : Admin (13-12-2010)