Bedah Buku Karya Prof. Dr. Taliziduhu Ndraha

Tanggal postingan: 2012 Mar 30 07:31:47

Dalam rangka mendukung perkuliahan dan menambah wawasan civitas akademika IPDN, pada tanggal 28 Maret 2012 bertempat di ruang Graha Wyata IPDN Unit Perpustakaan IPDN Kampus Jatinangor menyelenggarakan kegiatan bedah buku karya Prof. Dr. Taliziduhu Ndraha yang merupakan Trilogi dari seri Kybernology. Dua buku yang dibedah antara lain Bukan Salah Ibu Mengandung Tapi Bapa Salah Memandang dan Bukan Salah Ibu Mengasuh Tapi Bapa Salah Mengajar. Hadir pada acara pembukaan antara Rektor IPDN, Wakil Rektor dan Purek I. Rektor memberikan pengantar dan kemudian dibuka oleh wakil rektor. Acara ini diselenggarakan pada hari Kamis tanggal 28 Maret 2012 bertempat di ruang Grha Wyata Praja IPDN Kampus Jatinangor. Hal yang menarik adalah pembedah atau pembahas buku tersebut bukan hanya dari Kampus IPDN Jatinangor dan Kampus Cilandak tapi juga dari Kampus IPDN Sulsel dan Kampus IPDN Sumbar melalui fasilitas video conference. Sehari sebelumnya tanggal 28 Maret 2012 Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia (MIPI) menyelenggarakan kegiatan TOT dengan tema Pemerintahan bagi semua orang, sekaligus lauching buku Bukan Salah Ibu Mengandung Tapi Bapa Salah Memandang. Peserta adalah masyarakat Kybernologi Indonesia sekitar 35 orang bertempat di Ruang Ujian Pascasarjana IPDN. Buku tersebut layak sebagai pengantar bagi setiap orang untuk mengenal Ilmu pemerintahan. Bedah buku ini sangat menarik karena suasanaya sangat interaktif, Hal ini terlihat ketika banyak sekali pertanyaan serta komentar baik dari para pembedah maupun partisipan yang hadir. Sedikit mencuplik pembahasan Pak Muhadam : Menurut pandangan beliau judul buku tak lain semacam silent protest terhadap kesalahan kita dalam mengembangkan fungsi pembelajaran ilmu pemerintahan di kampus yang menggunakan term megah pemerintah. "Ibu", yang menjadi kata simbol menunjukkan rahim dimana kita sedang memposes kualitas manusia dari yang diperintah menjadi yang akan memerintah di kemudian hari. Itulah kualitas tertinggi. Dia hanya wadah dimana kita bersemayam untuk melahirkan kualitas manusia yang mampu menjawab masalah pemerintahan di setiap jamannya. Disebabkan wadah tersebut bersifat netral, maka kritik beliau lebih pada aspek "pengendaranya" (salah bapa mengajar). Kesalahan Bapa mengajar berkaitan dengan apa materi (baik forma maupun materil) yang akan diajarkan, siapa yang tepat mengajarkannya, serta bagaimana cara mengajarkannya kepada praja sehingga kualitasnya benar-benar sesuai yang diharapkan.

Pembahasan dari direktur IPDN Kampus Sulsel terkesan netral dan cukup menarik perhatian. Beliau menangkap keresahan penulis di dalam tulisannya, dan pembahas juga mengarahkan pembahasan dengan menggambarkan fakta-fakta pemerintahan saat ini. Menurut beliau pelaksana pemerintahan berada dipersimpangan dan tidak memiliki kebanggaan yang selayaknya dimiliki oleh aparatur negara, penghargaan yang masih minim menjadi salah satu penyebab.

Peserta sebagian besar praja, jadi masih pemula, menurut salah satu pembedah buku sulit akan memahami isi buku tersebut. Oleh karena itu pembedah cenderung menguraikan apa isi buku tersebut dan tidak berlawanan dengan isi buku. Beberapa pembedah dan partisipan mempunyai pandangan yang lain dengan penulis. Namun perbedaan pendapat tersebut perlu diapreasi dan dibudayakan. Inilah ilmu sosial yang selalu berkembang dan selalu mempunyai pandangan yang berbeda bagi yang mempelajarinya. Semoga kebiasaan ini ke depan dapat di laksanakan secara terus menerus dan dapat meningkat demi perbaikan kampus IPDN