Peserta memahami konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dihubungkan dengan konsep budaya dan lingkungan positif di sekolah yang berpihak pada murid.
Peserta melakukan evaluasi dan refleksi tentang praktik disiplin di sekolah untuk mendapatkan pemahaman baru mengenai konsep disiplin positif untuk menciptakan murid dengan Profil Pelajar Pancasila.
Peserta memahami peran sebagai guru untuk membangun budaya positif dengan menerapkan konsep disiplin positif dalam berinteraksi dengan murid.
Peserta memahami konsep perubahan paradigma stimulus respons dan teori kontrol, 3 teori motivasi perilaku manusia, motivasi internal dan eksternal, keyakinan kelas, hukuman dan penghargaan, 5 kebutuhan dasar Manusia, 5 posisi kontrol guru dan segitiga restitusi.
Peserta mampu menerapkan strategi disiplin positif yang memerdekaan murid untuk menciptakan ekosistem sekolah aman dan berpihak pada anak.
Peserta mampu menyusun langkah-langkah dan strategi yang efektif dalam mewujudkan kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan sekolah agar tercipta budaya positif yang dapat mengembangkan karakter murid.
Peserta bersikap reflektif dan kritis terhadap budaya di sekolah dan senantiasa mengembangkannya sesuai kebutuhan sosial dan emosional murid.
Hukuman dapat mendisiplinkan anak.
Pemberian hukuman dengan hal positif seperti membaca atau membersihkan halaman sekolah dapat meningkatkan disiplin anak.
Memberi penghargaan/hadiah dapat meningkatkan motivasi belajar anak.
Sumber: Modul 1.4 PGP Disiplin Positif
Kegiatan Kepalan Tangan
Ada A dan B (Anda dan teman Anda).
Sobeklah secarik kertas kecil, tuliskan benda atau sesuatu yang sangat berharga untuk Anda. Letakkan di salah satu tangan Anda dan genggam benda/sesuatu tersebut dengan segala daya. Buatlah sebuah kepalan.
Teman Anda (B) akan mencoba dengan sekuat tenaga, dengan berbagai cara untuk meminta Anda memberikan benda tersebut. B bisa membujuk, mengancam, menghardik, merayu, menyuap, apa saja agar dapat membuka kepalan tangan Anda.
Apa yang terjadi?
Ilusi guru mengontrol murid.
Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat menguatkan karakter.
Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat
Ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk memaksa.
Sumber: Modul 1.4 PGP Disiplin Positif
Sumber: Modul 1.4 PGP Disiplin Positif
Bahwa penghargaan berlaku ‘sama’ dengan hukuman, dalam arti meminta atau membujuk seseorang melakukan sesuatu untuk memenuhi suatu tujuan tertentu dari orang yang meminta/membujuk. Dorongannya eksternal dan akan ada faktor ketergantungan. Beberapa dampak dari pemberian penghargaan (Alfie Kohn, 1993).
Mengapa kita memiliki peraturan harus menggunakan helm bila mengendarai kendaraan roda dua?
Mengapa kita memiliki peraturan 3M, menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak 1.5 meter?
Mengapa kita memiliki peraturan harus datang tepat waktu pada saat mengikuti pelatihan?
Untuk mendukung motivasi intrinsik, kembali ke nilai-nilai/ keyakinan-keyakinan lebih menggerakkan seseorang dibandingkan mengikuti serangkaian peraturan-peraturan.
Sumber: Modul 1.4 PGP Disiplin Positif
Penghukum
Pembuat rasa bersalah
Teman
Pemantau
Manajer
Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat.
Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka ingin menjadi (tujuan mulia), dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Gossen; 2004)
Praktik Restitusi (https://youtu.be/WMyPIVLsYhQ)
Hal baru apa yg mengubah paradigma saya/ yang saya dapatkan?
Perasaan apa yang muncul selama mengikuti sesi ini khususnya mengenai makna disiplin dan motivasi intrinsik?
Peran among seperti apakah yang saya telah lakukan selama mengikuti modul ini?
Saya akan menjadi among yang seperti apakah setelah mengikuti modul ini?