Johan Sport Center adalah wadah yang digunakan untuk mengkolaborasikan olahraga renang dan atletik
DARI ALAT SEDERHANA MENUJU PRESTASI
Johan Kurniawan, S.Pd.
Guru PJOK SMP Negeri 2 Terbanggi Besar
Selama mengabdi di berbagai sekolah, saya hampir selalu menemukan persoalan yang sama: jumlah murid banyak, semangat mereka tinggi, tetapi sarana olahraga sangat terbatas. Pengalaman tersebut semakin menguat saat saya Menjadi Kepala Sekolah Penggerak di SDN 1 Poncowati, kemudian SDN 1 Gunung Sugih, hingga kini di SMP Negeri 2 Terbanggi Besar. Saya memilih kisah ini karena benar-benar saya alami dan memberikan dampak nyata bagi murid. Tujuan saya sederhana, yaitu memastikan setiap murid memperoleh pengalaman belajar PJOK yang aktif, menyenangkan, aman, dan bermakna meskipun fasilitas sekolah terbatas.
Saya percaya bahwa kualitas pembelajaran tidak selalu ditentukan oleh banyaknya fasilitas, melainkan oleh kemauan guru untuk terus mencari jalan agar setiap murid memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Keyakinan inilah yang menjadi pegangan saya sejak mengawali pengabdian sebagai guru olahraga di MTs Yasmida Ambarawa, SMA PGRI Terbanggi Besar, SD Kristen 3 Bandar Jaya, SMPN 9 Metro, SDN 3 Bandarjaya, SDN 1 Poncowati, SMP Kristen 2 Bandar Jaya, SDN 3 Poncowati hingga kini di SMP Negeri 2 Terbanggi Besar.Ā
Di hampir setiap sekolah, saya menemukan tantangan yang sama. Jumlah murid cukup banyak, semangat mereka tinggi, tetapi alat olahraga sangat terbatas. Bahkan beberapa materi pembelajaran tidak dapat dilaksanakan secara optimal karena sekolah hanya memiliki sedikit peralatan. Akibatnya, aktivitas belajar cenderung monoton dan murid hanya mengenal jenis permainan yang itu-itu saja. Ketika saya mengusulkan pengadaan alat, sering kali jawabannya adalah keterbatasan anggaran. Di sisi lain, keterlibatan orang tua dalam mendukung penyediaan sarana juga belum maksimal. Kondisi ini membuat saya berpikir bahwa jika hanya menunggu bantuan, perubahan tidak akan pernah terjadi.
Saya memilih untuk tidak berhenti pada keterbatasan. Saya mulai memodifikasi alat dari bahan sederhana. Bola saya buat dari kertas bekas yang dibungkus plastik kresek, cone dari corong minyak bekas, gawang permainan dari kardus, serta berbagai media lain yang mudah ditemukan. Saya juga mengajak murid membuat alat pembelajaran di rumah maupun di sekolah. Proses ini justru membuat mereka lebih kreatif karena merasa ikut memiliki alat yang digunakan saat belajar. Beberapa orang tua yang dekat dengan saya pun saya ajak berdiskusi sehingga mereka memahami pentingnya pembelajaran PJOK yang menyenangkan.
Dalam perjalanan tersebut saya belajar bahwa komitmen pribadi juga menjadi bagian dari solusi. Setiap kali tunjangan sertifikasi cair, saya menyisihkan sebagian untuk membeli dua atau tiga alat olahraga baru serta buku-buku yang menunjang kompetensi saya sebagai guru. Kebiasaan ini saya lakukan secara konsisten hingga sekarang. Saat dipercaya menjadi kepala sekolah, saya juga mengalokasikan pengadaan alat olahraga sekolah dan memperbaiki sarana yang rusak, termasuk lapangan basket SDN 1 Poncowati yang kini menjadi salah satu ikon sekolah. Agar pembinaan tidak berhenti di jam pelajaran, saya membentuk klub atletik dan klub renang yang sampai sekarang terus melahirkan prestasi bagi sekolah dan daerah.
Perubahan terlihat jelas. Murid menjadi lebih antusias mengikuti pembelajaran karena alat tersedia lebih banyak sehingga kesempatan praktik meningkat. Pada materi sepak bola tersedia lebih dari lima bola, begitu pula pada bola voli, bola basket, atletik, renang, dan senam irama. Murid menjadi pusat pembelajaran karena lebih banyak bergerak daripada menunggu giliran. Saya sebagai guru lebih mudah memberikan umpan balik. Klub atletik dan renang yang saya bentuk juga menghasilkan berbagai prestasi bagi sekolah. Pembelajaran terbesar yang saya peroleh adalah jangan menunggu keadaan ideal untuk berbuat baik. Mulailah dari apa yang dimiliki, lakukan dengan ikhlas dan konsisten. Saya yakin praktik ini dapat diterapkan guru lain sesuai kondisi sekolah masing-masing.
Perubahan juga saya rasakan sebagai guru. Saya lebih mudah merancang pembelajaran yang bervariasi sesuai tujuan pembelajaran. Saya tidak lagi menghabiskan banyak waktu mengatur antrean penggunaan alat sehingga fokus dapat diarahkan pada pendampingan dan umpan balik kepada setiap murid. Hal yang paling membahagiakan adalah seluruh alat yang saya beli merupakan milik pribadi sehingga tetap dapat saya manfaatkan ketika berpindah tugas ke sekolah lain. Dengan demikian, manfaatnya terus dirasakan oleh lebih banyak murid.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Saya belajar untuk tidak terlalu bergantung pada keadaan atau menunggu bantuan datang. Selama tujuan kita adalah memberikan layanan terbaik kepada murid, selalu ada cara untuk memulai. Saya juga belajar bahwa investasi terbaik bukan hanya membeli alat, tetapi membangun budaya belajar yang kreatif, mandiri, dan berpusat pada murid.
Saya berharap praktik sederhana ini dapat menginspirasi guru lain. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas lengkap, namun setiap guru memiliki kesempatan untuk berinovasi sesuai kondisi masing-masing. Memodifikasi alat, melibatkan murid, mengajak orang tua berdiskusi, serta menyisihkan sebagian rezeki untuk meningkatkan kualitas pembelajaran merupakan langkah yang dapat dilakukan secara bertahap. Saya percaya, ketika guru berani memulai perubahan, murid akan merasakan manfaatnya dan lingkungan sekolah pun akan ikut berkembang.
Bagi saya, keberhasilan bukan diukur dari banyaknya alat yang dimiliki, tetapi dari semakin banyaknya senyum, semangat, dan kesempatan belajar yang dirasakan murid setiap hari. Itulah alasan mengapa saya akan terus melangkah, terus belajar, dan terus berusaha menghadirkan pembelajaran PJOK yang bermakna bagi setiap anak.
Tidak hanya sampai disini, saya juga membentuk club atletik yang bernama BKE Atletik Club, Club Renang yang Bernama Johan Swimming Club, Club Senam juga yang alhamdulilah berkat terbentuknya club itu, para alumni dapat terus belajar bersama saya meraih prestasi. Seperti Kejurnas Atletik, O2sn Renang Tingkat Nasional, O2sn Atletik Tingkat Nasional dan juga lomba lomba senam baik senam ritmik / Artistik maupun senam irama bisa kami ikuti diberbagai perlombaan. Bahkan beberapa murid saya yang teropsesi menjadi guru olahraga karna melihat kegiatan dan cara saya memperlakukan mereka.