Tugas Modul 3.1 Koneksi antar Materi
Disusun oleh Sidik Purnomo, S. Pd.T
CGP A9 Kelas 29. F SMK MUHAMMADIYAH PRAMBANAN,15 Februari 2024
Tugas Modul 3.1 Koneksi antar Materi
Disusun oleh Sidik Purnomo, S. Pd.T
CGP A9 Kelas 29. F SMK MUHAMMADIYAH PRAMBANAN,15 Februari 2024
Foto, kegiatan CGP
1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Filosofi KHD dengan Pratap Triloka memiliki kaitan yang sangat erat dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin. Dalam Pratap Triloka yang berisi Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, terdapat nilai-nilai yang memiliki kaitan erat dalam pengambilan keputusan seorang pemimpin. Seorang pemimpin harus mampu menjadi suri tauladan dalam pengambilan keputusan, sehingga keputusan yang diambil bisa memberikan kebaikan dan solusi yang sesuai, hal ini sesuai dengan prinsip Ing Ngarsa Sung Tuladha, yaitu sebagai seorang pemimpin, kita harus mampu memberikan contoh yang baik dan berada di depan sebagai pemberi contoh agar keputusan yang diambil bisa membahagiakan semua pihak.
Filosofi KHD kedua dari Pratap Triloka adalah In Madya Mangun Karsa, dimana seorang pemimpin harus mampu berada di tengah-tengan warga, dan mampu memberikan semangat atau motivasi serta aura positif sehingga suasana menjadi positif dan nyaman. Dengan suasana yang positif dan nyaman, maka proses pengambilan keputusan akan dapat berjalan dengan baik dan tentunya akan menghasilkan keputusan yang memuaskan semua pihak.
Filosofi ketiga dari pratap triloka adalah Tut Wuri Handayani, dimana dalam filosofi ini, seorang pemimpin mampu menempatkan diri dibelakan warganya untuk selalu memberikan dukungan ataupun support. Dalam kaitannya dengan proses pengambilan keputusan tentunya, seorang pemimpin harus mampu memposisikan diri berada dibelakang warganya untuk selalu memberikan dukungan dan support agar semua bisa berjalan dengan baik , lancar dan nyaman.
2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Nilai-nilai kebajikan universal yang ada sangatlah banyak, sehingga tentunya banyak pula nilai-nilai kebajikan yang kita miliki. Nilai kebajikan itu melekat dengan sangat baik, tertanam dengan baik dalam diri kita sebagai seorang CGP. Nilai kebajikan tersebut diantaranya, kejujuran, kesetiaan, integritas, tanggungjawab dan masih banyak lagi. Dalam pengambilan keputuan ada tiga prinsip yang dapat diterapkan yaitu, prinsin berpikir hasil, prinsip berpikir aturan, prinsip berpikir kepedulian. Atau dengan kata lain:
End-based-thinking (Berpikir berbasis hasil akhir)
Rule-based-thinking (Berpikir berbasis peraturan)
Care-based-thinking (Berpikir berbasis rasa peduli)
Semua prinsip yang digunakan dalam pengambilan keputusan adalah prinsip yang baik, tidak ada yang terbaik, tinggal bagaimana kita akan menerapkannya disesuaikan dengan situasi serta kondisi yang ada dan peristiwa yang terjadi. Tentunya semua prinsip tersebut sangat dipengaruhi oleh nilai kebajikan universal yang diyakini. Semua nilai kebajikan universal yang diyakini pastinya semua sesuai dengan prinsip pengambilan keputusan, sehingga apapun prinsip yang digunakan, semua harusnya berdasar pada latar belakang, keadaan dan situasi serta kondisi yang dihadapi. Karena prinsip pengambilan keputusan bukanlah hal yang kaku, akan tetapi dapat disesuaikan dengan keadaan atau situasi yang sedang dihadapi, yang semuanya tentunya bertujuan untuk kebaikan murid-murid kita semuanya.
3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.
Pembimbingan yang diberikan oleh pendamping atau fasilitator terhadap saya sebagai seorang guru maupun sebagai seorang CGP sangatlah bermanfaat dan sangat membantu saya dalam memahami bagaiman proses pendampingan dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi baik dengan sesame rekan sejawat maupun dengan murid. Saya juga jadi lebih memahami apakah proses coaching yang saya lakukan sudah sesuai dengan alur TIRTA atau belum. Dan juga apakah proses coaching saya sudah berpihak pada murid saya atau belum.
Dalam hal pengambilan keputusan, saya masih harus banyak belajar tentang merefleksikan keputusan yang sudah saya ambil, apakah sudah memenuhi kebutuhan murid ataukah hanya sekedar formalitas saja. Dalam proses pembimbingan saya banyak belajar bagaiman saya menggali dan memunculkan pertanyaan berbobot agar mampu menemukan solusi dan solusi tersebut berasal dari san coachee itu sendiri.
Tentunya masih banyak pertanyaan yang muncul setelah pengambilan keputusan, yaitu apakah keputusan yang diambil sudah sesuai dengan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian keputusan. Dan yang paling utama apakah keputusan yang diambil sudah berpihak pada murid atau belum. Dan agar mampu mengambil keputusan yang baik, maka perlu dilakukan latihan yang intensif dalam pengambilan keputusan.
4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
Pendidik dalam hal ini guru harus mampu memahami dan melihat kemampuan serta latar belakang muridnya. Berdasar pengetahuan mengenai kesadaran social emosional, guru harus memapu memahami bahwa KSE ada 6 macam yang harus diperhatikan, KSE tersebut adalah kompetensi sosial emosional seperti kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan ketrampilan berhubungan social (relationship skills), serta pengambilan keputusan yang bertanggungjawab. Pengambilan keputusan haruslah dilakukan dengan kesadaran penuh atau mindfulness, karena semua keputusan yang diambil pastinya ada konsekuensi yang menyertai. Dengan kesadaran penuh tentunya keputusan yang diambil akan sesuai dengan paradigm yang ada, prinsip pengambilan keputusan dan langkah-langkah pengujian keputusan yang diambil. Seorang guru harus berani mengambil sikap dengan penuh percaya diri agar keputusan yang diambil mampu mengakomodir semua pihak, pastinya sebuah keputusan yang diambil tidak bisa memuaskan semua pihak, akan tetapi setidaknya mampu mengakomodir semua pihak yang terlibat.
5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Seorang pendidik, yang juga merupakan seorang guru dan seorang pemimpin pembelajaran diharapkan mampu memahami dan mengidentifikasi permasalahan atau yang ada sebagai dilemma etika ataukan sebagai bujukan moral. Hal sederhana untuk membedakannya adalah, jika kasus yang dihadapi tidak terkait dengan masalah hokum dan peraturan, maka kasus tersebut bisa masuk dalam dilemma etika, akan tetapi jika kasus tersebut terkait dengan permasalahan hokum atau aturan maka kasus tersebut merupakan bujukan moral.
Dalam mensikapinya, seorang pemimpin pembelajaran diharapkan menerapkan nilai-nilai yang dimilikinya diantaranya, nilai inovatif, kolaboratif, mandiri dan reflektif. Seorang pendidik dapat menuntun muridnya untuk dapat mengenali potensi yang dimiliki dalam mengambil keputusan dan mengatasi masalah yang dihadapi sehingga dengan nilai- nilai dari seorang pendidik tersebut maka semua pihak akan mendapatkan solusi yang terbaik tanpa merasa digurui.
6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Dalam proses pengambilan keputusan hendaknya seorang guru mampu membedkan permasalahan atau kasus yang dihadapi apakah merupakan dilemma etika ataukan bujukan moral. Setelah mampu mebedakannya, maka masuk pada tahapan berikutnya yaitu menggunakan prinsip pemecahan atau penyelesaian masalah atau kasus, prinsip tersebut adalah prinsip berdasar hasil akhir, prinsip berdasar aturan dan prinsip berdasar kepedualian. Tidak ada yang paling baik dari ketiga prinsip tersebut, semua bisa digunakan dan semua bisa dikombinasikan untuk mendapatkan keputusan yang mampu mengakomodir semua pihak dengan baik. Setelah menerapkan tiga prinsip pengambilan keputusan, maka dilanjut dengan langkah-langkah pengujian keputusan, langkah tersebut ada 9 yang harus diterapkan. Dan yang paling akhir dan prinsip adalah refleksi terhadap keputusan yang telah diambil.Jika proses pengambilan keputusan sudah menerapkan hal-hal yang disebut diatas, maka tentunya pelaksanaan keputusan tersebut akan menciptakan lingkungan yang positif dn kondusif serta aman dan nyaman.
7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Tantangan yang saya hadapi dalam pegambilan keputusan diantaranya, kemampuan sumber daya manusia dalam memahami dilemma etika maupun bujukan moral, kemudian terkadang pengambilan keputusan tidak menggunakan musyawarah akan tetapi langsung diputuskan sendiri oleh pimpinan (terkadang tanpa berdiskusi dengan rekan sejawat dan tanpa mencari alasan latar belakang kasus tersebut bisa terjadi). Terkadang keputusan yang diambil berdasar subyektifitas atau rasa suka dan tidak suka. Tantangan yang dihadapi semua berkaitan dengan paradigm lingkungan atau paradigm perkembangan dan perubahan jaman.
8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Pembelajaran materi pada modul 3.1. sangat membantu saya dalam pengajaran yang memerdekan murid-murid saya, dimana dalam modul sebelumnya disampaikan bahwa proses pembelajaran adalah proses menuntun murid untuk menjadikan murid yang merdeka dan bahagia sesuai dengan kodrat jaman dan kodrat alam mereka. Sementara dalam modul 3.1, dipelajari materi tentang pengambilan keputusan yang bertanggungjawab, dimana didalamanya dipelajari tentang paradigm pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengujian keputusan, hal ini sangat membantu guru dalam memberikan pengajaran yang memerdekakan murid, dimana dalam langkah pengujian terdapat proses refleksi, dimana proses refleksi sangat diperlukan untuk mengetahui bagaiman respond an sikap murid terhadap keputusan yang diambil.
Dalam memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid yang berbeda-beda adalah dengan melakukan assessment awal, dimana assessment awal tersebut bisa beruba angket, atau wawancara langsung dengan murid, bisa juga dengan melihat narasi atau deskripsi yang ada dalam raport mereka. Berbeda potensi bukan berarti kita harus memberikan materi dan cara yang berbeda sejumlah murid kita, akan tetapi kita sebagai guru bisa mengelompokkannya menjadi keplompok besar atau setidaknya mewakili sebagian besar potensi murid kita.
9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Dalam mengambil keputusan yang dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid adalah dengan memperhatikan dan memenuhi kebutuhan belajar murid-muridnya. Seorang guru harus mengetahui dan memahami kebutuhan belajar muridnya, selain itu seorang guru juga harus mampu memahami latar belakang murid-muridnya. Jika guru sudah mengetahui latarbelakang serta kemampuan muridnya, maka guru akan mampu membantu mengembangkan atau menuntun murid-muridnya dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya.
10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Materi yang ada pada modul 3.1 tentang pengambilan keputusan yang bertanggungjawab sangat erat kaitannya dengan materi pada modul sebelumnya. Dimana pada modul sebelumnya dipelajari materi tentang filosofi pendidikan menurut KHD, juga tentang tujuan pendidikan menurut KHD, yaitu sebuah proses menuntun murid untuk menjadi manusia yang merdeka dan bahagia. Merdeka disini berarti murid mampu bertanggungjawab atas kehidupannya sendiri, mampu mengambil keputusan atas kehidupannya sendiri tanpa menggantungkan pada orang lain. Merdeka buka berarti bebas akan tetapi berarti mampu bertanggungjawab pada diri sendiri.
Dalam proses pembelajaran yang memerdekakan murid, seorang guru harus memiliki kesadaran penuh dalam pengambilan keputusan yang berdasar pada paeadigma yang ada, tiga prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengujian keputusan yang diambil. Dalam proses pembelajaran selain menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, baik proses, konten maupun produk, seorang guru juga harus mampu menerapkan kompetensi ssocialemosional (KSE) selama proses pembelajaran agar KSE murid dapat berkembang dengan maksimal.
11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Pemahaman saya mengenai 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengampilan keputusan dan 9 langkah pengambilan keputusan bertambah atau meningkat dari yang sebelumnya tidak tahu sama sekali menjadi semakin paham, terutama setelah mengikuti beberapa diskusi kelompok maupun melalui diskusi bersama instruktur. Sebenarnya selama ini dalam pengambilan keputusan sudah menerapkan sesuai dengan materi yang dipelajari, akan tetapi belum memahami secara teori.
Banyak hal yang diluar dugaan saya, yaitu bahwa ternyata kasus yang ada dibagi menjadi 2 yaitu dilemma etika dan bujukan moral, dan setelah mempelajari modul 3.1, saya baru mengetahui perbedaannya. Saya juga baru memahami bahwa paradigam pengambilan keputusan dikelompokkan menjadi 4 macam, saya juga baru mengetahui bahwa dalam pengambilan keputusan terdapat langkah-langkah yang harus ditaati agar keputusan yang diambil dapat mengakomodir semua pihak.
12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Sebagai pemimpin pembelajaran, tentunya saya pernah mengambil keputusan yang terkait dengan dilemma etika. Yang membedakan setelah saya mempelajari modul 3.1 adalah sebelumnya saya tidak menerapkan 9 langkah pengambilan keuputsan, akan tetapi setelah mempelajari modul ini, saya selalu berusaha untuk menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan.
13. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Dampak setelah mempelajari modul 3.1 adalah saya semakin memahami perbedaan antara kasus yang terkait dengan dilemma etika dan bujukan moral. Saya juga memahami kasus yang saya hadapi masuk dalam kriteria paradigm yang mana, kemudian saya juga menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan. Dan yang pasti saya menjadi paham mengenai proses pengujian, yang selama ini saya tidak pernah terfikirkan mengenai proses pengujian terhadap kasus yang ada. Dan satu hal saya lakukan selalu sekarang setelah mempelajari modul 3.1 adalah dengan melakukan refleksi terhadap keputusan yang diambil.
14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Sebagai seorang individu mempelajari modul 3.1 sangat penting karena dengan mempelajari modul ini dapat meningkatkan potensi ataupun kemampuan saya dalam mengambil keputusan. Terlebih lagi dalam diri saya sebagai individu, subyektivitas masih sangat dominan, tetapi setelah mempelajari modul 3.1 saya semakin mampu meminimalkan subyektivitas tersebut.
Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, materi pada modul 3.1. sangat bermanfaat, karena mampu menambah pemahaman saya sebagai seorang guru agar dapat mengambil keputusan yang sesuai dengan alur dalam rangka mengembangkan potensi murid agar nantinya tujuan pendidikan menurut KHD dapat tercapai, yaitu menuntun murid menjadi pribadi yang merdeka dan bahagia sesuai dengan kodrat alam dan kodrat jaman.