Berdirinya SMA Negeri 1 Banyumas merupakan perjuangan tokoh-tokoh masyarakat Banyumas yang menginginkan adanya suatu Sekolah Lanjutan Tingkat Atas guna menampung anak-anak didik lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) terutama diwilayah kota Banyumas pada umumnya. Tetapi perlu diketahui bahwa berdirinya SMA Negeri 1 Banyumas ini melalui beberapa proses.
Pertama, SMA Negeri 1 Banyumas semula bernama Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan (SMPP) yang didirikan pada tahun 1973. Berdasar Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 0236/O/1973 tanggal 18 Desember 1973 dengan menimbang :
Bahwa dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 5 November 1973 Nomor ; 0199/O/1973 telah ditetapkan Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan dan pedoman penyelenggaraannya.
Bahwa fasilitas pendidikan yang telah ada, yang telah dipersiapkan untuk pembukaan Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan.
Bahwa sehubungan dengan itu, dipandang perlu membuka beberapa Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan mulai tahunn1973.
Mengingat :
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor ; 73/M tahun 1972, Nomor : 9 tahun 1973, Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor ; 0199/O/1973 tanggal 5 November 1973.
Mendengar :
Saran-saran Ketua Bidang Pengembangan Pendidikan dan Direktorat Jenderal Pendidikan.
Menetapkan :
Pertama, terhitung mulai Tahun Ajaran 1974 membuka Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan Purwokerto di Banyumas.
Kedua, menugaskan kepada para Kepala Perwakilan Sekolah Menegah Pembangunan Persiapan dengan ketentuan
Gedung sekolah, perlengkapan dan fasilitas pendidikam lain dengan yang telah ada yang disiapkan untuk pembukaan Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan.
Sambil menunggu ketentuan lebih lanjut, guru, tenaga edukatif lainnya maupun tenaga administrasi bagi Sekolah Menegah Pembangunan Persiapan diambilkan dari Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Setempat.
Kedua, setelah Sekolah Menegah Pembanguan Persiapan berdiri kurang lebih 12 tahun, kemudian terbitlah Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 0353/O/1985 tanggal Agustus 1985 tentang perubahan nama Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan menjadi Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas (SMA).
Membaca :
Surat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah tanggal 19 Juni 1985 Nomor : 6675/C/R/85, Surat Kepala Biro Organisasi tanggal 11 Juli 1985 Nomor : 145/A.D/1985.
Menimbang :
Bahwa Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan (SMPP) sejak berdirinya menggunakan Kurikulum Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas (SMA).
Bahwa sehubungan hal tersebut sub 2 dan untuk menertibkan administrasi yang menyangkut kedua sekolah tersebut dipandang perlu adanya perubahan SMPP menjadi SMA.
Mengingat :
Keputusan Presiden Republik Indonesia. Nomor : 44 tahun 1974, Nomor : 40/M tahun 1980, Nomor : 45/M tahun 1983, Nomor : 15 tahun 1984, Nomor : 138/M tahun 1985.
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
Semua keputusan Mendikbud tentang Pendirian SMPP.
Tanggal 22 Desember 1978 Nomor:0371/O/1978.
Tanggal 30 Juni 1979 Nomor:0145/O/1979.
Kemudian sekolah mengalami beberapa perubahan nama sekolah, maka pada tahun 1977 terjadi perubahan nomor klatur yaitu dari nama SMA menjadi SMU, serta organisasi dan tata kerja SK Pendidikan dan Kebudayaan Nomor:035/O/1997 sehingga dalam penyelenggaraan administrasi dan proses belajar mengajar ada sedikit perubahan.Untuk kelancaran penyelenggaraan administrasi dan proses belajar mengajar harap memperhatikan beberapa hal:
Mempedomani surat edaran direktorat Jenderal anggaran tanggal 27 Maret 1997 No:SE.44/A/63/0397.
Sekolah menerima keputusan Mendikbud tersebut dalam jumlah yang telah ditetapkan, harap diteruskan ke Kanwil direktoral Jenderal Anggaran, KPKN yang ada di wilayah saudara, Kepala Bidang dan Bagian terkait di Kanwil, serta kandep/kanin kabupaten di wilayah saudara.
Nama sekolah lama dengan stempelnya dapat digunakan sampai akhir triwulan kedua tahun anggaran 1997/1998 dan selanjutnya pengajuan spp ke KPKN sudah memakai nama dan stempel sekolah baru, dengan menambahkan eks sekolah lama
Penyelenggaraan kegiatan kurikuler sampai dengan penyelenggaraan EBTANAS nama dan stempel sekolah lama masih dapat dipergunakan tetapi untuk STTB tahun 1996/1997 harus sudah memakai nama stempel yang baru, untuk penulisan Raport Akhir Tahun Pelajaran 1996/1997 harus sudah menggunakan stempel baru.
Penulisan Kepala Surat Dinas, Kode Surat Dinas, Cap Dinas, Stempel, dan Papan Nama Sekolah. Sehubungan dengan keputusan menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 7 Maret 1997 Nomor:035/O/1997 tentang Perubahan Nomor Klatur SMA menjadi SMU serta Organisasi dan Tata Kerja SMU tersebut
akan memakan waktu karena membutuhkan Penerbitan SK Penyesuaian Guru/Pegawai dengan nama SMU yang baru.
Semenjak berdiri tahun 1973 yang pertama kali diberi nama SMPP, kemudian berubah menjadi SMA dan berubah lagi menjadi SMU dan yang terakhir SMA, semua urusan administrasi Guru/Pegawai dan Tata Kerja lainnya diatur oleh pemerintah pusat.
Kemudian mulai bulan Januari 2001 semua organisasi dan tata kerja SMU diatur oleh Pemerintah Daerah Kabupaten sehubungan dengan otonomisasi daerah.
Perkembangan SMA Negeri Banyumas yang diawali dengan nama Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan (SMPP) Tahun 1974, telah berhasil meluluskan anak didiknya untuk pertama kali pada tahun 1976. Pengelompokan jurusan dimulai semenjak tahun 1976 s.d 1985 dengan nama jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Tahun 1985 s.d 1996 pengelompokkan jurusan berubah menjadi jurusan A1 (Ilmu – Ilmu Fisika), jurusan A2 (Ilmu – Ilmu Biologi), jurusan A3 (Ilmu – Ilmu Sosial). Tahun 1997 sampai dengan sekarang kembali ke model penjurusan Ilmu – Ilmu Alam (IIA) dan Ilmu – Ilmu Sosial (IIS).
PERKEMBANGAN
Pada tahun 1994 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI bahwa Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan adalah sekolah yang setaraf/sama dengan Sekolah Menengah Umum (SMU). Kemudian sejak tahun 1976 sudah mulai menghasilkan lulusan yang pertama kalinya.
Dengan meningkatnya jumlah pelajar yang memasuki Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan Banyumas ini, yaitu pada tahun 1981 jumlah kelas menjadi 21 ruang kelas. Kemudian pada tahun 1976 sampai dengan 1985 Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan (SMPP) dibagi menjadi beberapa jurusan.
Pada Tahun Pelajaran 1976/1977 sampai tahun 1985/1986 ada dua penjurusan yaitu jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan Kepala Sekolah Bapak R. Boenjamin Hendrowaskito yang kemudian beliau mengalami kecelakaan dunia, sejak tahun 1985 kepemimpinan dipegang oleh Bp. Wigeno, BA.
Pada tahun 1986/1987 sampai dengan tahun 1996 dibagi menjadi tiga jurusan, yaitu : A.1 (Ilmu – Ilmu Fisik), A.2 (Ilmu – Ilmu Biologi) dan A.3 (Ilmu – Ilmu Sosial). Bapak Wigeno, BA, memimpin SMA Negeri Banyumas sampai dengan tahun 1991 kemudian jabatan diserahterimakan kepada Bapak Sipoen Hadiwidjodjo. Berhubung Bapak Sipoen Hadiwidjodjo memasuki masa pensiun, maka kepemimpinan SMA Negeri 1 Banyumas diteruskan oleh Bapak Soemarsono pada tahun pelajaran 1996/1997 dengan penjurusan kembali seperti semula yaitu jurusan IPA dan IPS. Dan sejak tahun 1997 Bapak Soemarsono memasuki pensiun dan digantikan oleh Bapak Fadlan Ismail, Beliau menjabat sebagai Kepala SMA Negeri Banyumas sampai tahun 2002 yang kemudian digantikan oleh Drs. H. Slamet yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala SMA Negeri Sokaraja. Sejak dipimpin oleh Bapak Drs. H. Slamet banyak terjadi perubahan dari pemerintah, termasuk untuk sistem pembelajaran yang waktu itu menggunakan sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Sejak KBK ini penjurusan berubah menjadi Ilmu – Ilmu Alam (IIA) dan Ilmu – Ilmu Sosial (IIS). Kemudian pada bulan Mei 2007 Drs. H. Slamet memasuki masa MPP, kemudian digantikan oleh Drs. Sumanto. Sejak kepemimpinan Bapak Drs. Sumanto dibentuk sebuah tim untuk merintis SMA Negeri 1 Banyumas menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Dengan berbagai upaya dan kerja keras maka pada tanggal 24 Juni 2009 SMA Negeri 1 Banyumas ditetapkan sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dan dihadiri dan diresmikan langsung oleh Bupati Banyumas.