Kenapa sih kurikulum berubah? Apakah kurikulum selama ini tidak baik?
Bapak dan ibu, perubahan kurikulum bukan karena kurikulumnya tidak baik, namun lebih kepada perubahan substansi yang mengikuti perubahan zaman dan kebutuhan dasar manusia (cinta, kesetaraan, kekuatan diri, dan kebahagiaan).
Lantas di mana letak bedanya?
Jika pada kurikulum sebelumnya menekankan pada kompetensi pengetahuan yang terlalu luas, maka di kurikulum merdeka lebih berfokus pada kebermanfaatan dari pengetahuan itu sendiri. Kesetaraan antara pengetahuan, keterampilan, dan perilaku. Tidak hanya sebatas formalitas, namun lebih kepada perubahan nyata pada perilaku dalam kehidupannya.
Jika saya pinjam kata-kata di atas bahwa "orang-orang hebat sekarang lahir dari guru tempo Doeloe" maka boleh saya sampaikan juga jika "orang-orang buruk zaman sekarang juga hasil didikan guru tempo Doeloe"
Nah, artinya setiap sisi positif akan selalu ada sisi negatif. Untuk itu kita perlu perubahan ke arah yang lebih baik. Baik pada segi keilmuan, juga baik pada perilaku. Karena beda masa, beda pula orangnya. Beda zaman, beda pula cara mendidiknya.
Katanya RPP 1 lembar, tapi nyatanya guru disibukan dengan tugas administrasi yang banyak. Apakah guru di kurikulum jadi Budak Administrasi saja?
Bapak dan ibu guru yang saya banggakan. Jika merujuk pada panduan pembelajaran dan asesmen (PPA) Kurikulum Merdeka. Maka di sana sudah sangat jelas terdapat petunjuk teknis dalam melakukan perencanaan pembelajaran dan asesmen. Terdapat tiga cara dalam membuat Perencanaan Pembelajaran yaitu:
adopsi
modifikasi
buat sendiri
Adopsi 👉Dalam melaksanakan pembelajaran, guru diperbolehkan mengambil dan menggunakan Modul Ajar/RPP yang sudah tersedia di platform baik itu PMM maupun lainnya. Asalkan itu sesuai dengan kebutuhan mengajar bapak dan ibu guru, cukup download yang ada, kemudian lakukan sesuai dengan skenario pembelajaran yang ada di Modul Ajar/RPP tersebut.
Modifikasi 👉Bapak ibu guru silahkan mendownload atau meminta Modul Ajar/RPP yang tersedia baik di PMM maupun rekan sejawat, kemudian diedit dan disesuaikan dengan kondisi murid/kelas.
Buat Sendiri 👉 Bapak dan ibu guru hebat, untuk membuat sendiri juga gak perlu sempurna, yang penting tepat guna. Artinya bapak ibu guru bebas mau membuat seperti apa dan dengan aplikasi apapun. Penting untuk diperhatikan adalah komponen wajib dari Modul Ajar atau RPP, yaitu:
Tujuan Pembelajaran
Rancangan Asesmen
Langkah Pembelajaran
Media
Artinya jika itu bisa dipahami, 1 lembar PPT pun juga bisa tergambar. Lantas apakah masih berfikir kalau guru diribetkan dengan administrasi terkhusus yang memiliki pandangan ribetnya buat RPP/MA? Perlu saya tegaskan kembali. Yang membuat ribet itu kebiasaan dan kebijakan dari orang-orang yang terperangkap dengan pengalaman masa lalu. Intinya, jika ada yang gampang, kenapa mesti bertahan dengan yang ribet?
Tugas guru tidak relevan, karena sibuk di depan laptop dan yang dihadapi guru sekarang adalah laptop, bukan siswa.
Apakah benar tidak relevan?
Bapak dan ibu guru hebat yang saya banggakan. Saya sepakat dengan pernyataan di atas. Guru lebih sering dihadapan laptop, handphone, dan teknologi lainnya. Padahal dulu gak ada teknologi tetapi guru masih bisa ngajar. 😁
Mari, kita refleksi!
Benar tanpa teknologi guru bisa mengajar. Namun, apakah tanpa teknologi guru bisa mengajarkan hal yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik zaman ini?
Apakah bapak ibu tidak merasa bahwa teknologi sangat membantu dalam memudahkan pekerjaan kita?
Apakah zaman ini perkembangan teknologi bisa kita hindari?
Bukankah jargonnya kita ketika di dunia belajar sepanjang hayat?
Menurut Ki Hajar Dewantara, tujuan pendidikan adalah "menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi- tingginya.” (Dewantara, 1961: 20).
Artinya, jika kita mau merefleksikan, bahwa siswa kita terlahir di zaman perkembangan teknologi sangat pesat. Teknologi saat ini adalah bagian dari kehidupan manusia. Kita tidak bisa lari dari perkembangan zaman. Jadi, yang bisa kita lakukan adalah menyesuaikan diri dengan perkembangan. Pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat
Nah, menyadari hal itu, sebagai seorang pendidik tentu kita tidak mau kehilangan peran dan intervensi dari pendidikan peserta didik kita. Jika kita masih bertahan dengan posisi guru sebagai Pengajar, maka ketahuilah, prefesi guru tidak dibutuhkan oleh zaman, karena Teknologi lebih kaya pengetahuan dibandingkan Guru. Namun, jika guru memposisikan diri sebagai pendidik maka yakinlah peran pendidik tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi secanggih apapun. Jika saat ini bapak dan ibu guru melihat, banyak rekan sejawat yang sibuk di depan laptop, maka percayalah itu bagian dari proses penyesuaian diri terhadap perkembangan zaman yang menuntut profesi guru mengikuti perkembangan teknologi.
Jika ada yang berpandangan bahwa yang di hadapan guru adalah laptop bukan siswa, saya rasa ini juga perlu kita refleksi bersama. Dulu yang disebut kelas itu adalah satu-satunya ruang interaksi guru dan siswa di tempat yang sama. Namun, di era teknologi, guru dan siswa bisa berinteraksi tanpa ada sekat ruang dan waktu. Dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja bisa dilakukan.
Semoga bermanfaat 🤗 Salam dan bahagia
------------------------------
Januari 2024,
Yul Pendri, M.Pd (Ketua Komunitas KKG Angso Duo Jambi
:: FORUM DISKUSI ::