Malam itu Karang berlari dengan tergesa-gesa menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Cowok itu terlihat sedikit kebingungan. Dia mengeluarkan isi lemari dan laci untuk menemukan sesuatu yang sedang dia cari. Namun, dia tidak bisa menemukannya. Remaja itu lalu mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar sembari berkacak pinggang, mencoba mengingat-ingat di mana terakhir kali barang itu dia letakkan.
“Ah… Karang si bodoh itu! Pasti dia yang mindahin barangbarang gue!” gerutu remaja dengan T-shirt hitam tersebut yang ternyata adalah Agha.
Karang yang suka dengan kebersihan, tidak suka jika kamarnya dimasukkan segala barang oleh Agha. Sedangkan Agha juga tidak segan-segan membuang barang-barang milik Karang, termasuk boneka kucing pemberian Biru, yang sering kali jadi pelampiasan kemarahan Agha. Boneka kucing berbentuk guling itu adalah satu-satunya barang berharga milik Karang. Namun, dengan teganya Agha membuang boneka itu bahkan ke goronggorong di depan rumah mereka. Agha merasa cemburu karena Biru tidak pernah memberikan sesuatu untuknya.
“MBOK!” teriak Agha dari lantai atas.
“IYA?” Mbok Jum berlari lalu mendongak ke arah suara berasal. “Ada apa tho Mas Agha? Teriak-teriak?” Sepertinya Mbok Jum sudah tahu kalau yang saat ini berteriak adalah Agha.
“Mbok lihat kotak kecil di dalam lemari Agha nggak?”
“Nggak ada, Mas. Terakhir kemarin Mbok rapihin lemarinya Mas Karang, nggak ada Mbok liat kotak apa pun disana.”
“ISH SIAL! PASTI KERJAANNYA SI BODOH PENYAKITAN ITU, MBOK!”
“Coba cari lagi yang benar. Kali aja keselip di mana. Mbok nggak pernah lihat Mas Karang bawa kotak.”
Agha tidak menimpali ucapan ART-nya itu lagi. Remaja itu sangat kesal karena belum bisa menemukan kotak yang dia cari. Agha lalu berlari menuruni tangga menuju gudang penyimpanan barang-barang bekas. Mungkin saja barang yang dia cari ada di sana sebagai balasan karena dia sudah membuang boneka kesayangan Karang.
Benar saja, sebuah kotak kecil duduk cantik di atas sebuah tumpukan barang yang tidak terpakai.
“Ketemu.” seru Agha lega.
Remaja itu lalu membuka kotak untuk memastikan apakah isi di dalamnya masih ada atau tidak, dan ternyata isinya masih lengkap: sebuah sapu tangan dan uang koin pecahan lima ratus rupiah berada di dalamnya. Jika Karang mempunyai boneka sebagai barang berharga, maka Agha mempunyai sebuah sapu tangan dan koin uang lima ratusan yang dia simpan dalam sebuah kotak kecil berwarna cokelat.
Agha lalu mengeluarkan sapu tangan tersebut dan memandangnya dengan raut wajah sendu. “Nggak apa-apa kalau Karang ngelupain kamu. Tapi, aku dan Banu masih mengingatmu. Maafin aku yang belum bisa menemukanmu. Tapi aku janji, aku pasti akan menemukanmu dan membelikanmu sebuah sepatu yang cantik seperti janjiku dulu.”
Agha kembali teringat saaat Karang kecil bertemu dengan pemilik sapu tangan dan uang koin pecahan lima ratus rupiah tersebut. Entah apa yang membuat Karang menghapus bagian ini dalam ingatannya, tapi tidak demikian halnya dengan Agha dan Banu. Walau kejadian itu adalah kejadian pahit buat Karang kecil, tetapi baik Banu maupun Agha tidak melupakannya. Mereka berdua malah menjadikan potongan itu menjadi salah satu bagian terbaik dalam hidup mereka. Karena gadis itu membuat hari Karang kecil yang begitu hancur berubah bahagia.