Implementasi Kurikulum Merdeka melalui
IHT (In House Training) Tatanen di Bale Atikan
Implementasi Kurikulum Merdeka melalui
IHT (In House Training) Tatanen di Bale Atikan
Berita Terkini >> SD Negeri Cijaya >> 27 Juni 2022
UPTD SDN Cijaya menyelenggarakan IHT (In House Training) Tatanen di Bale Atikan pada tanggal 27-29 Juni 2022. Kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari ini dan diikuti oleh kepala sekolah, guru, komite sekolah, perwakilan orangtua siswa dan penjaga sekolah. Dengan narasumber yang berkompeten di bidangnya dan telah bersertifikat. Kegiatan ini bertujuan untuk untuk meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan sesuai kecakapan abad 21. Adapun tujuan khusus dari kegiatan ini adalah Memberikan pemahaman substansi konsep-konsep, pola operasional, dan indikator ketercapaian program Tatanén di Balé Atikan untuk meningkatkan kesadaran hidup ekologis bagi dirinya, sesama, dan lingkungannya (bakti ka diri, ka sasama, ka alamna), Memberikan pelatihan teknis implementasi permakultur, Memberikan wawasan dan pemahaman guru dan tenaga kependidikan mengenai resep tindak lanjut perbaikan setiap topik, Memandu guru dan tenaga kependidikan untuk mampu menyusun rencana tindak lanjut implementasi Tatanén di Balé Atikan.
Tatanen di bale atikan merupakan gerakan pendidikan karakter untuk menumbuhkan kesadaran hidup ekologis dalam merawat bumi dan berguru pada bumi yang terintegrasi dalam kegiatan pertanian berbasis Pancaniti, sehingga peserta didik tumbuh dan berkembang sesuai kodrat dirinya, kodrat alamnya, dan kodrat zamannya.
Sebagai sebuah gerakan, Tatanen di bale atikan memiliki makna bahwa kegiatan tersebut merupakan tanggung jawab bersama yang dilaksanakan secara masif, seiring, sejalan, sabobot sapihanean oleh seluruh warga sekolah dan stakeholder pendidikan di Kab. Purwakarta. Melalui kegiatan Tatanen di bale atikan diharapkan tumbuh kesadaran hidup ekologis.
Dalam rangka merawat bumi, pendidikan pada konteks Tatanen diorientasikan pada upaya membangun watak peradaban yang dapat merawat, melestarikan sekaligus menyelamatkan bumi untuk masa depan kehidupan umat manusia. Seiring dengan upaya merawat bumi, peserta didik juga sekaligus berguru pada bumi, yaitu menjadikan bumi sebagai ekosistem kehidupan harus menjadi materi pembelajaran lintas disiplin ilmu di sekolah. Alam semesta menjadi kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah yang dapat melahirkan kearifan peserta didik dalam menghadapi kehidupan.
Kegiatan Tatanen di bale atikan yang dikembangkan di Kab. Purwakarta dilaksanakan dengan sistem permakultur, yaitu sebuah paradigma bekerja dengan alam yang melihat tumbuhan dan hewan dalam semua fungsinya, serta memperlakukan semua area sebagai satu kesatuan produk. Guru diharapkan dapat menjadikan kegiatan Tatanen di bale atikan sebgaai laboratorium pembelajaran berbasis semesta. Peserta didik dapat berekspresi dan melakukan penelitian sederhana untuk menghasilkan produk pertanian yang bermanfaat bagi dirinya, bagi lingkungannya, dan bagi alamnya.
Implementasi Tatanen di bale atikan yang dikembangkan oleh Dinas Pendidikan Kab. Purwakarta berbasis pada filosofi atikan kesundaan, yaitu Pancaniti. Pancaniti merupakan tahapan filosofi atikan yang terdiri dari lima tahapan, yaitu niti Harti, niti Surti, niti bukti, niti bakti, dan niti sajati. Lima tahapan atikan kesundaan ini memiliki kesamaan makna dengan level kognitif dalam taksonomi Anderson dan tujuan pendidikan versi UNESCO. Anderson membagi level kognitif pada enam tingkatan, yaitu mulai dari mengingat, memahami, membedakan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Sedangkan UNESCO menetapkan empat pilar pendidikan, yaitu learning tol know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.