Articles‎ > ‎

Perilaku Berbohong

Rena Latifa. Tidak diterbitkan. 2011.

https://sites.google.com/a/uinjkt.ac.id/renalatifa/articles/perilaku-berbohong

-----------------

Mitchell (1986) mendefinisikan perilaku berbohong sebagai bentuk komunikasi yang salah yang cenderung untuk menguntungkan komunikator. Namun demikian, definisi ini disebut sebagai definisi yang kontroversial sebab mengindikasikan bahwa seseorang yang secara tidak sadar melakukan kesalahan memberi petunjuk yang salah pada orang lain juga dapat masuk ke dalam kategori melakukan kebohongan. Contohnya seorang penjaga toko tidak sengaja memberi petunjuk harga yang salah pada pembeli, penjaga toko tidak tahu bahwa bosnya baru saja menurunkan harga jual barang tersebut, dan berdasarkan definisi Mitchell ini maka si penjaga toko dapat dikatakan telah berbohong pada pembeli. Maka banyak orang tidak setuju dengan pendapat Mitchell ini dan meyakini bahwa seseorang dapat dianggap berbohong manakala ia secara sengaja tidak menyatakan hal yang benar.

 Krauss (1981) memberi batasan perilaku berbohong dan menipu sebagai sebuah tindakan yang diniatkan mempengaruhi orang lain akan sesuatu hal yang sesungguhnya tidak benar. Dianggap sebagai sebuah perilaku berbohong apabila tindakannya dilakukan secara diniatkan, dan seseorang yang mengatakan suatu hal yang bukan sebenarnya namun karena kesalahan (ketidaktahuan dirinya) maka tidak dapat dikatakan sebagai perilaku berbohong. Pelaku kebohongan tidak ingin kebohongannya terbongkar, dan akan sangat berusaha untuk membuat seolah semuanya benar dan jujur melalui berbagai cara, misal dengan ekspresi wajah yang tetap wajar atau dengan mengubah tekanan suaranya.

Ekman (1992) mendefinisikan perilaku berbohong adalah suatu keputusan yang disengaja untuk mengecoh lawan bicara tanpa memberi informasi bahwa ia berniat melakukan kebohongan.

Namun demikian, bagi Vrij (2001), definisi yang tepat mengenai perilaku berbohong yakni suatu percobaan yang disengaja, baik berhasil atau tidak percobaan tersebut, tanpa peringatan dini, untuk membentuk keyakinan pada diri orang lain, dimana si penyampai pesan (komunikator) sesungguhnya menyadari dan mengetahui bahwa hal yang disampaikan tersebut tidak benar. Perilaku berbohong dapat terjadi apabila setidaknya ada 2 orang yang terlibat di dalamnya (penyampai pesan dan penerima pesan).

 

Motif Perilaku Berbohong

Banyak penelitian menunjukkan bahwa perilaku berbohong adalah hal biasa yang terjadi sehari-hari. Jika dirata-rata, orang berbohong sekitar 2 kali sehari atau dalam seperempat interaksinya dengan orang lain. Individu cenderung sedikit berbohong pada individu lain yang secara emosional dianggap dekat. Hanya sekitar 1 kebohongan dalam 10 interaksi sosial yang dilakukan dengan pasangan, misalnya.

Individu berbohong untuk berbagai alasan (Vrij, 2001). Pertama, berbohong dalam rangka membuat kesan positif terhadap orang lain atau untuk melindungi dirinya dari rasa malu atau penolakan dari individu lain. Kedua, individu berbohong dalam rangka mendapatkan keuntungan. Ketiga, berbohong dilakukan untuk menghindari hukuman. Ketiga jenis bohong ini dapat dikategorikan sebagai self-oriented yakni bertujuan agar pelakunya tampak tampil lebih baik di hadapan orang lain dan untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Keempat, ada jenis orang yang berbohong untuk keuntungan orang lain, untuk membuat orang lain jadi tampak lebih baik atau melindungi orang lain, disebut sebagai other-oriented lie. Individu yang melakukan tipe bohong seperti ini biasanya adalah individu yang sudah merasa dekat dan memiliki keterlibatan emosional dengan orang yang dilindunginya tersebut.

Kelima, yakni jenis ‘social lies’, dimana perilaku berbohong yang tampil adalah untuk tujuan memelihara hubungan sosial. Tipe berbohong ini didasari pemikiran bahwa dalam setiap relasi sosial, percakapan akan terkesan kaku dan cenderung membuat pelaku interaksi menjadi tidak nyaman dan merasa terganggu manakala saling mengutarakan kejujuran satu sama lain.

Tipe Perilaku Berbohong

DePaulo, Kashy, Kirkendol, Wyer & Epstein (1996) membedakan perilaku berbohong ke dalam tiga tipe yakni: outright lies, exaggeration dan subtle lie. Outright lies adalah tampilan berbohong yang benar-benar mengandung kesalahan informasi, dimana informasi asli sangat jauh berbeda dengan informasi yang diutarakan, dan bahkan dapat pula bersifat kontradiksi dengan kenyataan yang sesungguhnya. Tipe berbohong ini dapat ditemui pada terdakwa pembunuhan yang benar-benar mengingkari keterlibatannya pada aksi pembunuhan tersebut. Studi DePaulo dan kawan-kawan ini juga menunjukkan bahwa kebanyakan tipe bohong yang sering ditampilkan orang ialah tipe berbohong jenis outright lies ini (65%).

Sementara itu, exaggeration ialah jenis bohong yang dilebih-lebihkan dari fakta yang sesungguhnya, informasi yang disampaikan melebih kenyataan. Tampilan yang biasa terjadi untuk menjelaskan tipe berbohong ini ialah dapat dilihat pada para calon pekerja yang melamar pekerjaan, biasanya akan menampilkan diri seolah-olah sebagai individu yang rajin dan berkualitas sehingga layak untuk dipilih sebagai karyawan.

Subtle lying ialah mengatakan kebenaran tapi tujuannya menyesatkan, menyembunyikan informasi dengan menghindari pertanyaan atau menghilangkan informasi yang relevan.

Perbedaan Individual yang Melatari Perilaku Berbohong

Perbedaan Jenis Kelamin

Ditemukan bahwa pria lebih banyak mengutarakan jenis self-oriented lies, sementara perempuan lebih sering mengutarakan jenis other-oriented khususnya dalam rangka menghormati sesama perempuan. Sebab dalam interaksinya dengan orang lain, perempuan cenderung lebih terbuka, akrab dan saling mendukung secara emosional, jika dibandingkan dengan para pria. Dalam hal konsekuensi dari perilaku berbohongnya, perempuan juga ditemukan merasa lebih bersalah, cemas dan memiliki rasa takut, dibanding pria.

Dalam hal frekuensi siapa yang lebih banyak berbohong, tidak ditemukan perbedaan signifikan.

Perbedaan Usia

Perilaku berbohong sudah dapat ditemui pada seorang anak berusia 3 tahun (Lewis, 1993). Anak berbohong biasanya dalam rangka menghindari hukuman.

Trait Kepribadian

Penelitian membuktikan bahwa ragam tipe kepribadian individu ternyata melatari perilaku berbohong yang tampil. Vrij (2001) membaginya ke dalam 4 tipe kepribadian yang berbeda yakni: tipe manipulator, aktor, sociable, dan adaptor.

Tipe manipulator adalah mereka yang tinggi dalam skor Machiavellianism atau social adroitness (ketangkasan sosial). Cirinya ialah seringkali mengutarakan tipe berbohong self-oriented; cenderung untuk bertahan pada kebohongannya meski sudah ditantang untuk segera mengungkap kebenaran; tidak merasa tidak nyaman saat berbohong; berbohong tidak membuat kognisinya menjadi rumit; memandang orang lain secara sinis; sedikit keperduliannya terhadap norma dan moral; dan secara terbuka mengakui bahwa ia akan berbohong, berbuat curang dan memanipulasi orang lain dalam rangka mendapatkan apa yang diinginkannya.

Secara interpersonal, manipulator adalah orang yang licik dan tak bodoh (Kashy & DePaulo, 1996). Ia tidak akan mengeksploitasi korban jika korbannya tidak membalas, dan tidak akan berbuat curang seandainya ia tahu bahwa ia akan tertangkap. Dalam percakapan, biasanya ia cenderung mendominasi namun tampak santai, cerdas penuh bakat dan sangat percaya diri. Manipulator juga ternyata disukai banyak orang dan dikagumi sebagai pasangan hidup.

Namun demikian, Wilson, Near & Miller (1998) menemukan penilaian yang kontradiksi terhadap para manipulator ini. Berdasarkan hasil penelitiannya, manipulator ternyata dipandang orang lain sebagai individu yang egois, tak memiliki keperdulian, sering menghakimi orang, sombong, tidak dapat dipercaya, agresif, dapat diandalkan namun mencurigakan.

Tipe aktor adalah pelaku berbohong yang ternyata lebih terampil dalam meregulasi perilaku verbal dan non-verbalnya. Indikatornya ialah terdapatnya kendali emosi, kendali sosial, memainkan peran dan ekspresif secara sosial. Kendali emosi ialah kemampuan meregulasi/mengelola emosi dalam berkomunikasi dan tampilan non-verbal (mampu menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya). Kendali sosial yakni kemampuan bermain peran, mengelola prilaku verbal, dan trampil dalam mempresentasikan diri. Sementara ekspresif secara sosial ditampilkan melalui ketrampilan dalam hal ekspresi verbal dan kecakapan verbal.

Jika dibandingkan dengan non-aktor, tipe aktor lebih mampu mempertahankan perilaku berbohongnya meski dalam kondisi sedang ditantang, lebih merasa nyaman manakala berbohong, namun nyatanya terlalu sulit untuk berbohong.

Tipe sociable dicirikan oleh kenikmatan dalam interaksi sosial. Individu yang menikmati interaksi sosial biasanya juga pandai berbohong. Ciri kepribadian extrovert juga dapat mewakili tipe sociable ini, yakni senang jika bersama dengan orang lain, tidak merasa malu dan percaya diri dalam interaksi sosialnya. Kemampuan sosialisasinya juga ditandai dengan kecenderungan untuk berafiliasi ke orang lain dan lebih memilih untuk berada bersama orang lain ketimbang seorang diri. Tipe sociable frekuensi berbohongnya lebih sering dibanding individu yang menarik diri (withdrawn person), dapat merasa nyaman saat berbohong, dan dapat mempertahankan perilaku berbohongnya dalam jangka waktu tertentu.

Tipe adaptor, adalah tipe individu yang sesungguhnya merasa cemas dan tidak aman dalam interaksi sosialnya, namun ia dapat beradaptasi mengatasi ketidaknyamanan tersebut dengan cara membuat kesan yang sangat positif terhadap lawan bicaranya. Dimana berbohong adalah salah satu cara untuk membuatnya aman dan berkesan positif. Tipe adaptor ini cenderung sangat santai (relaxed) saat berbohong.

Proses Yang Terjadi Saat Individu Berbohong

Saat berbohong, tiap pelaku biasanya mengalami jenis proses yang berbeda dalam dirinya. Tiap jenis proses dapat mempengaruhi pelaku dalam menampilkan jenis bohong dan bentuk perilaku berbohongnya.

Proses Emosional

Jenis-jenis emosi yang biasa berhubungan dengan perilaku berbohong ialah rasa bersalah (guilt), rasa takut (fear) dan perasaan menikmati/excitement (Ekman, 1989, 1992). Guilt dapat terjadi manakala individu mengingkari suatu kelalaian/kesalahan yang dilakukannya yang berakibat merugikan orang lain. Afraid dan fear terjadi saat individu khawatir jika kebohongannya terungkap. Excitement hadir saat merasa menikmati jika dapat kesempatan membodohi orang lain.

Kuat lemahnya jenis emosi tersebut bergantung pada tipe kepribadian pelaku kebohongan dan kondisi yang melatari terjadinya perilaku berbohong (Ekman, 1992). Misal pada tipe kepribadian manipulator, berbohong adalah suatu hal yang wajar dan cara yang dapat diterima dalam rangka meraih tujuan, sehingga individu ini tidak akan merasa bersalah saat berbohong. Kadar rasa bersalah yang dialami individu juga amat bergantung pada kondisi, misalnya seorang pelaku bohong tidak akan merasa bersalah jika berbohongnya dianggap demi suatu kebaikan dan dianggap benar secara moral (morally justified). Kuat lemahnya rasa bersalah juga dipengaruhi oleh kuat lemahnya kemungkinan konsekuensi negatif yang bisa diderita oleh objek yang dibohongi. Karakteristik objek yang dibohongi juga berpengaruh terhadap kadar rasa takut yang dimiliki pelaku kebohongan. Jika objek diketahui punya kemampuan deteksi kebohongan maka pelaku akan mengalami rasa takut yang berlebih dibanding jika ia berbohong pada objek yang mudah dibohongi. Melalui pengalaman biasanya pelaku dapat dengan mudah mengetahui tentang individu mana yang mudah dibohongi dan individu mana yang sekiranya jika ia berbohong justru dapat tertangkap basah. Ketrampilan membedakan objek ini dapat meningkatkan rasa percaya diri dan menurunkan rasa takut saat berbohong. Terakhir, rasa takut akan dialami oleh pelaku yakni saat kondisi high stakes ialah ‘kondisi taruhan’ dimana konsekuensi ketahuan yang tinggi, kemungkinan besar orang lain dapat mengetahui bahwa pelaku sedang berbohong.

Sementara itu, excitement atau kegembiraan atau duping delight (perasaan senang kala berhasil membodohi orang lain) meningkat manakala objek yang dibohongi diketahui adalah orang yang sulit untuk dibohongi, namun pelaku kebohongan berhasil membohongi. Kemudian excitement semakin meningkat lagi manakala ada orang lain sebagai saksi berjalannya pembodohan terhadap objek yang dibohongi tersebut.

Kompleksitas Isi Kebohongan

Saat individu berbohong, tentunya melibatkan proses fikir yang tidak sederhana. Seorang pelaku berbohong harus memikirkan jawaban yang masuk akal, tidak boleh bertentangan dengan dirinya sendiri, harus dapat menjelaskan isi kebohongannya secara konsisten dengan segala hal yang mungkin diketahui oleh objek yang dibohongi, serta harus sebisa mungkin menghindari salah bicara (‘keseleo lidah’). Lebih jauh lagi, pelaku harus dapat mengingat detil yang sudah dikatakan, sehingga jika suatu saat ditanyakan tentang hal yang sama maka ia dapat mengulang ceritanya tanpa ada perbedaan.

Saat melibatkan proses kognitif yang kompleks ini, individu sering menampilkan cara bicara yang ragu-ragu dan tersendat (speech hesitationsi), serta adanya kesalahan bicara (speech errors), bicara lebih lambat, lebih banyak berhenti, dan agak menunggu lama sebelum akhirnya memberikan jawaban (Goldman-Eisler, 1968).

Usaha Mengontrol Perilaku

Pelaku kebohongan diketahui mengalami pengalaman emosional tertentu sehingga menjadi tidak mudah dalam berbohong jika kondisi emosinya mempengaruhi, dan hal ini akan menghasilkan tanda-tanda perilaku yang dilandasi emosi dan kompleksitas konten bicara.

Pelaku biasanya dapat merasa takut jika tanda-tanda emosional dan kompleksitas konten bicaranya dapat mengungkap kebohongan yang sedang terjadi. Sehingga saat ini terjadi, pelaku mencoba untuk menekan tanda-tanda yang ada dalam rangka menghindari agar tidak tertangkap. Yang dikhawatirkan oleh para pelaku kebohongan adalah apabila membuat kesan tidak jujur

Bohong Patologis

Bohong patologis adalah manakala pelaku kebohongan melakukannya secara kompulsif dan habiatual, bisa jadi bentuknya meluas pada banyak aspek di kehidupannya serta dalam frekuensi tinggi dan sangat rumit (Dike, 2008). Jenis-jenisnya dapat berupa konfabulasi, facticious disorder, malingering dan psychopathy. Ada pula kategori bohong patologis ini saat individu berbohong disebabkan oleh kerusakan sistem syaraf. Karakter struktur otaknya mirip seperti epilepsy, abnormal EEG, head trauma, atau infeksi CNS. Intervensi yang dapat diberlakukan pada berbohong tipe ini tentunya terkait dengan intervensi neurologis dan psikiatris.

Perilaku Bohong dan Budaya

Kebudayaan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan pribadi, alam pikir dan emosi manusia. Michael Cole dalam bukunya “Cultural Psychology”, mengatakan bahwa hampir semua kegiatan kejiwaan manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, sebab kebudayaan adalah media dimana manusia hidup (Jatman, 2008). Kebudayaan dianggap membantu manusia dalam memaknai hidupnya, maka kepribadian individu pun tergantung pada kebudayaan dimana ia tumbuh dan berkembang. Kepribadian adalah subjektivikasi dari kebudayaan, sementara kebudayaan adalah objektivikasi dari kepribadian.

Tradisi kebudayaan telah mengatur, mengekspresikan, dan mentransformasi jiwa manusia, yang membuat ke-satu-utuh-an psikis manusia menjadi berkurang dan memunculkan perbedaan etnis dalam pikiran, diri, dan emosi (Shweder, 1990).

Menurut sudut pandang Psikologi Lintas Budaya yang digunakan oleh Harry C.Triandis dan David Matsumoto diantaranya (dalam Jatman, 2008), tak ada psikologi positivistik yang bisa berlaku objektif, universal dimanapun juga, sehingga konsep yang berlaku pada satu kelompok bangsa belum tentu berlaku pula untuk bangsa yang lain, seperti rasa” di Jawa dengan “emosi” atau “feeling” di Amerika Serikat. “Rasa” Jawa lebih dari sekedar “rasa” yang diungkapkan sebagai “feeling”, “emotion”, “sentimentality”, “lust”, “mood”, atau “sensation”. “Wong Jawa” memaknai rasa sebagai pengecapan, perasaan, karakter manusia, pernyataan dari kodrat Illahi, hati nurani.

Termasuk dalam hal perilaku berbohong ini, unsur budaya menjadi amat penting untuk dikaji secara lebih mendalam, dalam rangka melihat bentuk pengaruh budaya terhadap terjadinya perilaku berbohong pada orang-orang berlatar ragam suku di Indonesia.

Tidak ada masyarakat yang pernah diketahui, yang sama sekali terbebas dari bohong. Penelitian menunjukkan bahwa hampir semua bentuk masyarakat yang ada di dunia ini, terdapat perilaku bohong di antara anggota-anggotanya (Mendatu, 2010). Bohong tumbuh pada masyarakat yang memiliki perbedaan kelas-kelas sosial. Ada yang kaya, ada yang miskin. Ada yang menjadi atasan, ada yang menjadi bawahan. Ada yang berkuasa ada yang tidak, dan seterusnya. Kelas sosial berimplikasi pada munculnya beragam tata krama untuk menyesuaikan perilaku dengan kelas-kelas sosial yang ada. Seseorang dari kelas sosial rendah diharapkan berbeda dalam bersikap dan berperilaku menghadapi kelas sosial yang setara maupun yang lebih tinggi. Seorang bawahan diharapkan akan berbeda cara dalam menghadapi sesama bawahan dengan menghadapi atasan. Persetujuan lebih sering diberikan kepada atasan. Perbedaan kelas sosial menunjukkan adanya hirarki. Seseorang yang lebih baik dari segi apapun, baik itu harta, pengetahuan, penampilan atau lainnya, tentu akan menempati hirarki lebih tinggi dibandingkan yang lain. Agar individu menempati posisi lebih tinggi dalam hirarki maka orang-orang berupaya melakukan manajemen kesan supaya terlihat lebih baik.

Perilaku berbohong juga tumbuh pada masyarakat yang relasi sosialnya terdapat dominasi (Mendatu, 2010). Seseorang tentu akan menghadapi yang lebih berkuasa dengan cara berbeda dengan ketika menghadapi yang kurang berkuasa. Seseorang yang selalu membangkang yang berkuasa, biasanya akan mendapat kesulitan. Pada saat seorang anak berbohong pada orangtuanya, tidak lain karena orangtua mempunyai dominasi kekuasaan. Sang anak khawatir akan mendapatkan hukuman dari orangtua jika mengatakan kebenaran, dan oleh karena itu diungkapkanlah kebohongan.

Selanjutnya, perilaku berbohong pun tumbuh pada masyarakat yang mengajarkan kepatuhan. Setiap kepatuhan diharapkan maka juga melahirkan kebohongan. Pada masyarakat dimana tata aturan norma sangat berat dan dimana pelanggaran dijatuhi hukuman berat, akan menjadi wajar jika melakukan kebohongan untuk menghindari kesulitan.

Terdapat satu lagi bentuk masyarakat yang memungkinkan memunculkan perilaku berbohong lebih sering, yakni masyarakat yang mengharapkan anggota-anggotanya menunjukkan perhatian lebih besar dalam bentuk dukungan sosial, dukungan emosional atau kepedulian. Pada bentuk masyarakat yang mengajarkan moral demikian itu, maka anggota-anggotanya akan berusaha sedapat mungkin mewujudkannya meskipun dalam bentuk kebohongan. Misal, di saat ada orang lain yang sedang berduka, biasanya individu akan mengutarakan turut berduka, padahal sebenarnya tidak berduka.

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk, dimana terdapat kelas-kelas sosial, ada relasi yang mendominasi, dan ada tata aturan norma yang mengikat kepatuhan. Hal ini membuat masyarakatnya tidak bisa menghindarkan diri dari terjadinya kebohongan.

Ciri Karakter Berdasar Budaya Orang Indonesia

Suku Jawa

Diketahui individu dari suku Jawa menganut wejangan dari Ki Ageng Soerjomentaram (dalam Jatman, 2008) yang mengatakan bahwa orang Jawa sebisa mungkin agar tetap bisa bahagia dalam situasi“keplenet” yang seperti apa pun. Artinya bisa memungkinkan orang untuk membohongi orang lain yakni berpura-pura bahagia padahal sesungguhnya sengsara. Serta dapat mengarah pada bentuk self-deception (menipu diri sendiri), yang dapat bermuara pada istilah ‘mendem jero’, ‘membatin’, atau memendam perasaan/represi dan supresi.

Selain itu terdapat ungkapan “Jawa iku nggone rasa”. Bahwa hidup bahagia bila rasa itu ditata, karena “di dunia ini tidak ada yang layak dihindari mati-matian atau dikejar-kejar matimatian: sabutuhe, saperlune, sacukupe, sapenake, samesthine, sabenere”. Orang tidak dianjurkan untuk “ngangsaangsa, ngaya-ngaya, golek benere dhewe”.  Namun di sisi lain dalam pergaulan, orang cenderung untuk mengejar “drajat, semat, kramat”. Di sini dapat terjadi pergolakan batin yang dapat memicu individu untuk berbohong, serta terdapat dugaan prediksi tipe kepribadian adaptor lah yang dapat mewakili kondisi prinsip ke-jawa-an yang ini.

Suku Sunda

Ajip Rosidi dalam bukunya “Mencari Sosok Manusia Sunda” (2010), mengutarakan bahwa tipe watak orang Sunda itu mempunyai variasi yang cukup kaya. Di samping mereka yang mempunyai watak satria seperti yang dilukiskan juru pantun atau dalang wayang, cukup banyak orang Sunda yang pengecut, pengkhianat, penipu. Pada suku sunda diketahui terdapat prinsip “sumuhun dawuh” dan “sadaya-daya kumaha kersa” (Ajip Rosidi, 2010). Berakar dari historis rakyat daerah sunda sebagai daerah yang paling lama dijajah di Indonesia ini. Sebagai bangsa jajahan, mentalis kaum elit sunda yang diangkat oleh penjajah sebagai perpanjangan tangannya, memperlihatkan sikap “sumuhun dawuh” ini dalam rangka mempertahankan jabatan dan tidak tumbuh sikap berani menuntut hak yang menjadi miliknya. Mentalitas manusia jajahan ini digambarkan sering merasa ketakutan dan tidak berani mengemukakan pikiran sendiri karena ‘heurin ku letah’ dan sebagai abdi dalem yang setia selalu melihat ‘ka mana miringna bendo’: lebih mengutamakan keselamatan dan kedudukan pribadi daripada memperlihatkan sikap ‘berani dan teguh pendirian dalam kebenaran dan keadilan’.


DAFTAR PUSTAKA

 

Ajip Rosidi. (2010). Mencari Sosok Manusia Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya

 

DePaulo, B. M., & Bell, K. L. (1996). Truth and investment: Lies are told to those who care. Journal of Personality and Social Psychology, 71(4), 703-716.

 

Dike CC. (2008). Pathological Lying: Symptom or Disease? Psychiatric Times.

 

Jatman, Sudarmanto. (2008). Ilmu Jiwa Kaum Pribumi. Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro.

 

Koentjaraningrat. (2007). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.

 

Latifa, Rena. (2010). Gambaran Dishonesty pada Mahasiswa: Academic Dishonesty, Relationship Dishonesty, Money Dishonesty, dan Intensi Berbohong dalam Kehidupan Sehari-hari. Preliminary Studies.

 

Mahon, J. E. (2008). The Definition of Lying and Deception. Stanford Encyclopedia of Philosophy.

 

Mendatu, Achmanto. (2010). Kebohongan Manusia: Arti, Ragam Jenis, Penyebab dan Konteks. Yogyakarta: Psikoeduka

 

Vrij, A. (2000). Detecting lies and deceit: The psychology of lying and the implications for professional practice. New York: John Wiley & Sons, Ltd.

Comments