TANAMAN OBAT SUMBAWA UNTUK PRODUK RAMUAN HERBAL REBUS NAGAVIT

Pulau Sumbawa dengan luas sekitar 15.400 km² adalah pualu yang didominasi oleh hutan-hutan yang masih  lebat dan juga terkenal dengan Gunung Tamboranya yang meletus pada tahun 1815, tercatat sebagai letusan gunung terbesar dalam sejarah manusia. Disamping Gunung Tambora, Sumbawa juga memiliki Gunung Batulanteh dengan hutan-hutan lebat yang menutupi lereng-lerengnya yang asri dan subur yang masih menjadi sumber mata air utama untuk kota Sumbawa Besar dan sekitarnya. Kedua gunung terebut menjadi lokasi utama tempat tanaman-tanaman obat organik berkwalitas tinggi tumbuh dengan lebatnya.

Keberadaan kedua gunung tersebut dengan tanaman-tanaman obat yang sangat beragam telah menarik minat seorang dokter berkebangsaan Jerman untuk tinggal selama bertahun-tahun di Kota Sumbawa Besar pada tahun pada sekitar tahun 60-an dan beliau pernah menjadi kepala Rumah Sakit Umum Sumbawa. Selama memimpin RSU Sumbawa, beliau sangat tertarik dengan tanaman-tanaman obat asli Sumbawa.


Naga
Vit  Plus dan NagaVit  Exclusif

Sejak tahun 2005 kami telah secara intensif mempelajari tanaman-tanaman obat yang digunakan di dalam Tradisi Pengobatan Herbal Naturopati Sumbawa dan juga tanaman-tanaman obat Sumbawa yang belum digunakan di dalam tradisi tersebut karena keterbatasan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh para praktisi pengobatan (Sandro Samawa).

Ada banyak tanaman obat yang telah kami amati penggunaannya, pelajari data-data  penelitian farmakologinya, dan tanaman-tanaman obat tersebut telah kami pergunakan secara langsung terhadap para pasien sehingga tingkat kemanfaatan dan effektivitasnya telah diketahui dengan baik berdasarkan pengalaman empiris dan catatan-catatan terhadap fakta-fakta keberhasilan (Evidences) kesembuhan yang kami buat.

Tanaman-tanaman obat tersebut sekarang digunakan sebagai bahan untuk membentuk formula-formula NagaVit Plus dan NagaVit Exclusif guna mendukung enam bahan utama NagaVit Biasa. Tanaman-tanaman obat ini telah dipergunakan sebagai ramuan dalam terapi pemulihan penyakit.

DAFTAR TANAMAN OBAT

Berikut ini adalah beberapa tanaman obat untuk NagaVit Plus dan NagaVit Exclusif (beberapa nama ditulis dalam bahasa Sumbawa):

  1. Rebu teki (C. tuberosus Rotbb)
  2. Akar wangi (Adropogon squarosus)
  3. Anggrek merpati (Denrobium crumenatum)
  4. Aren (Arenga pinata)
  5. Asam (Tamarindus indicus)
  6. Bandotan (Ageratum conyzoide)
  7. Bayam duri (Amaranthus spinosu)
  8. Bangle (Zingiber cassummunar)
  9. Pace buah kecil (Bancudus latifolia)
  10. Kayu songa (Strychnos linguistrina)
  11. Biduri (Calotropis gigantia)
  12. Batang malang (Tinospora perculata)
  13. Bungur kembang ungu (Langestriemia speciosa)
  14. Cengkeh (Eugenia carryophylatta)
  15. Ceplukan (Phylais minima)
  16. Dadap ayam (Erythrina warigata)
  17. Jinten (Caleus amboinicus)
  18. Daun duduk (Desmodium triquetrum)
  19. Ingu (Ruta anguistifolia)
  20. Daun sendok (Plantago major)
  21. Delima (Punica granatum)
  22. Jringo (Acorus calamus)
  23. Jagung (Zea mays)
  24. Jahe biasa (Zingiber officinale)
  25. Jahe merah (Zingiber reed)
  26. Juwat (Eugenia cumini)
  27. Jambu batu (Pysdium klutuk)
  28. Jambu monyet (Anacardium occidentale)
  29. Jamur kuping (Auricularia judae)
  30. Jarong lelaki (Stachytarpheta indica)
  31. Jaruju (Acanthus ilicifolius)
  32. Jati belanda (Guazuma ulmifolia)
  33. Jeruk kingkit (Triphasia aurantiola)
  34. Jeruk nipis (Citrus aurantifolia)
  35. Jeruk purut (Citrus bystrix)
  36. Gadung (Dioscorea hirsuta)
  37. Gambir hutan (Jasminum pubescens)
  38. Gandarusa (Justicia gendarusa)
  39. Genje (Cleodendron indicum)
  40. Kayu angin (Usnea specdivers)
  41. Kayu garu (Gonystulus bancanus)
  42. Kayu manis (Cinamomun burmani)
  43. Jamur Lingzhi (Ganoderma lucidum)
  44. Kaki kuda (Hydrocotyle asiatica)
  45. Randu (Eriodendron aufractuosum)
  46. Kapulaga (Amonum cardamomun)
  47. Keji beling kecil (Hemigraphie coloranta)
  48. Keji beling besar (Strobilanthes crispus)
  49. Kelapa (Cocos nucifera)
  50. Kelor (Moringa oleifera)
  51. Kemangi hutan (Ocimum santum)
  52. Kemboja (Plumiera acutifolia)
  53. Kemiri (Aleurites triloba)
  54. Kencur (Kaemferia galanga)
  55. Ketapang (Terminalia catappa)
  56. Ketepeng (Cassia alata)
  57. Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus)
  58. Kunyit biasa (Curcuma longa)
  59. Kunyit putih atau kunyit pepet (Kaepheria angutiforia)
  60. Kusambi (Schechera triyuga)
  61. Lada (Piper nigrum)
  62. Gluning (Vitex trifolia)
  63. Lempuyang gajah (Zingiber zerumbet)
  64. Lidah buaya (Aloe vera)
  65. Luntas (Pluchea indica)
  66. Maja (Aegle marmelos)
  67. Maja keling (Terminalia chebuca)
  68. Manggis (Garnicia mangostana)
  69. Melati (Jasminum samboe)
  70. Sarkajang (Phyllanthus niruri)
  71. Nanas (Ananas comusus)
  72. Orang-aring (Eclipta alba)
  73. Pala (Myristica fragans)
  74. Patikan (Euphorbia piluifera)
  75. Pacar cina (Aglaia odorata)
  76. Picisan (Polypodium nummulari)
  77. Pule (Aistonia scholaris)
  78. Pule landak (Rauwolfia serfintina)
  79. Salam (Eugenia polyantha)
  80. Sambiloto (Andrographis paniculata)
  81. Sawi lemah (Nasturtium indicum)
  82. Semangi (Hydrocotyle sibthorpiolia)
  83. Sembung (Blumea balsamifera)
  84. Serai (Andropogon nardus)
  85. Salaguri (Sida rhombifolia)
  86. Sirih (Piper betle)
  87. Sosor bebek (Bryophyllum calicinum)
  88. Srigading (Nycthanthes arbotristis)
  89. Suran (Cedrela febrifuga)
  90. Kesumbang bawi (Elephantopus scaber)
  91. Tapak dara (Selaginella plana)
  92. Temu giring (Curcuma heyneana)
  93. Sang mamung (Lamtana camara)
  94. Temu hitam (Curcuma aeruginosa)
  95. Temu kunci ((Castrochilus panduratum)
  96. Temulawak (Curcuma xanthorhiza)
  97. Turi (Sesbania grandiflora)
  98. Waru (Hibiscus tiliaceus)
  99. Alang-Alang (Imperata cyllindrica)
  100. Arbenan (Duchesnea indica)
  101. Brojolintang (Belamcanda chinensis)
  102. Bugenvil (Bougainvillaea glabra)
  103. Bunga tasbih (Canna indica)
  104. Bungur kecil (Langerstoemia indica)
  105. Cakar ayam (Selaginella doederleinii)
  106. Daruju (Acanthus illicifollus)
  107. Jali (Coix lachryma)
  108. Kacapiring (Gardenia jasminoides)
  109. Kaktus pakis giwang (Euphorbia millii)
  110. Labu kuning (Cucurbita moschata)
  111. Pecut kuda (Stachytarpheta jamaicentis)
  112. Rumput lidah ular (Hedyotis diffusa)
  113. Rumput mutiara (Heydotis corymbosa)
  114. Sangitan (Sambucus javanica)
  115. Senggani (Melastoma candidum)
  116. Bambu tali (Asparagus officinalis)
  117. Bawang putih (Allium sativum)
  118. Benalu (Loranthus parasiticus)
  119. Bunga matahari (Helianthus annuus)
  120. Daun dewa (Gynura segetum)
  121. Keladi tikus (Typhonium flagelliforme)
  122. Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa)
  123. Alpokat (Persea gratissima0
  124. Beringin (Ficus benyamina)
  125. Brunai (Antidesma bunius)
  126. Daun sendok (Plantago mayor)
  127. Daun ungu (Graptophyllum pictum)
  128. Lebui atau kedelai hitam (Cajanus cajan)
  129. Kecubung besar (Datura metel)
  130. Kenanga (Canangium odoratum)
  131. Kitolod (Isotoma longiflora)
  132. Kol belanda (Pisonia alba)
  133. Kompri (Symphytum officinale)
  134. Landep (Barleria prionitis)
  135. Mahoni (Swietenia mahagoni)
  136. Mangkokan (Nothopanax scutellarium)
  137. Murbei (Morus alba)
  138. Nanas kerang (Rhoe discolar)
  139. Pacar air (Impatiens balsamina)
  140. Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius)
  141. Patah tulang (Eupharbia tirucalli)
  142. Pegagan (Centella asiatica)
  143. Pinang (Areca catechu)
  144. Tanda balit (Euphorbia puicherrima)
  145. Tanduk rusa (Paltycerium coronarium)
  146. Tempuyung (Sonchus arvensis)
  147. Teratai (nelumbium nelumbo)
  148. Nanas (Ananas comosus)
  149. Nangka (Artocarpus heterophyllus)
  150. Kayu rengala polak (Stigmaphyllon littorale)
  151. Sukun  (Artacarpus altilis)
  152. Kulur (Artacarpus communis)
  153. Suwir merah (Ficus carita)
  154. Sirsak tuban (Annona muricata)
  155. Srikaya belanda (Annona reticulata)
  156. Srikaya groso (Annona squamosa)
  157. Angrek tanah (Bletilla striata)
  158. Cabe olat (Piper retrofractum)
  159. Bunga pagoda (Clerodendrum japonicum)
  160. Iler (Coleus scutellarioides)
  161. Rumput kucing (Orthosiphon spicatus)
  162. Nanas (Ananas comocus)
  163. Bunga boroco (Celosia argentea)
  164. Jengger ayam (Celosia cristata)
  165. Korong konde (Passiflora foetida)
  166. Rambutan (Nephelium lappaceum)
  167. Wijayakusuma (Epiphyllum oxypetalum)
  168. Tahi kotok (Tagetes erecta)
  169. Andong (Cordyline fruticosa)
  170. Apu-apu (Pistia stratiotes)
  171. Lidah mertua (Sansevieria laurentii)
  172. Nimba (Azadirachta indica)
  173. Sambung nyawa (Gynura procumbens)
  174. Sawo manila (Achras zapola)
  175. Pakis haji (Cycas revoluta)
  176. Waru landak (Hibiscus mutabilis)
  177. Sentalo (Obat Luar) untuk luka borok
  178. Cemara pinus (Pinus mercusi)
  179. Mengkeng asu (obat luar) untuk ambeien
  180. Kayu kuku bodok (Uncaria gambir)
  181. Dandelion  (Taraxacum officinale)
  182. Jeruk monte (Citrus hystrix)
  183. Cabai rawit (Capsicum frutescens)
  184. Pohon malaka (Phyllanthus emblica)
  185. Tanaman ruku (Ocimum tenuiflorum


    MODAL KEILMUAN

Katakan bahwa kita sudah mengetahui komponen biokimia dan khasiat tanaman-tanaman obat dari hasil penelitian farmakologinya serta bagian-bagian mana yang digunakan. Untuk dapat merubah tanaman-tanaman obat unggulan di atas menjadi kekuatan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan, maka dibutuhkan ilmu-ilmu penting seperti:

  • Pengetahuan tentang ilmu kedokteran allopati, kedokteran naturopati, dan kedokteran oriental (ketimuran) agar dapat melakukan analisa terhadap rekam medik, mengarahkan orang-orang sakit ke laboratorium atau ke dokter untuk melakukan pemeriksaan komponen-komponen tertentu, dan melakukan pembuatan peta penyakit sehingga dapat menentukan skala prioritas penanganan dan bentuk penanganan baik penanganan medis, penanganan herbal, atau penanganan terpadu yang terbentuk dari penggabungan penanganan medis, penanganan herbal,  edukasi psikologi, dan pola makan sehat.  
  • Kemampuan bahasa asing yang baik minimal bahasa Inggris untuk dapat membaca sumber-sumber kedokteran dari berbagai latarbelakang ilmu kedokteran sehingga dapat membuat perbandingan antara teori dengan faktanya.
  • Ketrampilan dan pengalaman empiris di dalam membuat formula ramuan obat herbal, menentukan komposisi, dan dosis yang disesuaikan dengan hasil analisa rekam medik.  

Disamping itu untuk mempertajam kekuatan tanaman obat dalam pemulihan kesehatan dan penyembuhan penyakit, maka diperlukan juga ilmu pengetahuan tentang nutrisi dan keamanan pangan, dan ilmu psikologi kesehatan agar dapat menyusun pola makan sehat dan dapat memberikan edukasi untuk penguatan psikologis karena bagaimana pun juga makanan merupakan obat yang sangat kuat yang perlu didukung oleh kondisi psikologis yang stabil dari pemahaman yang sepantasnya tentang suatu penyakit.

Penggunaan tanaman-tanaman obat menjadi bagian integral di dalam pelayanan kesehatan oleh para dokter naturopati, dokter Ayurveda,  dokter oriental, dan bahkan oleh dokter-dokter medik yang menggabungkan layanan kesehatan allopati (medis) dengann layanan kesehatan herbal.

Tanpa bekal ilmu pengetahuan tentang kesehatan dan ilmu-ilmu pendukung lainnya, maka kita tidak akan dapat merubah tanaman obat unggulan menjadi kekuatan untuk menyembuhkan penyakit walaupun tanaman-tanaman tersebut memang benar dapat digunakan untuk penyembuhan penyakit.  

Konsultasi: silahkan hubungi kami