Santo Petrus Kanisius

PETRUS KANISIUS : PELINDUNG SMK PETRUS KANISIUS KLATEN

Petrus Canisius lahir pada tanggal 8 Mei 1521 di kota Nijmegen, Belanda, dari pasangan Jacob Canis dengan puteri seorang apoteker yang terkenal. Ayahnya, Jacob Canis, seorang Walikota yang sangat dihormati oleh masyarakat. Canisius termasuk anak nakal yang sering meresahkan orangtuanya. Ketika keluarganya mengikuti Ekaristi di dalam gereja, dia malah bermain di halaman gereja. Bilamana di dalam gereja, dia sering berbuat iseng. Petrus Canisius sendiri mengaku bahwa dirinya termasuk sombong dan angkuh karena ayahnya adalah penguasa Namun setelah bertobat dari kenakalannya, Canisius suka melakukan visitasi di depan Sakramen Mahakudus di dalam gereja dekat sekolahnya. Dalam visitasinya inilah ia mulai merasakan kedekatan dengan Allah. Sekolah pertama yang dimasuki oleh Petrus Canisius adalah sekolah berbahasa Latin di kota Nigjmegen. Ketika berumur 12 tahun Canisius pindah ke sekolah berasrama, hidup bersama teman laki-laki sebaya. Setelah menyelesaikan sekolah di Nijmegen, Canisius didaftarkan oleh ayahnya ke Universitas Koln (Jerman). Di Koln Canisius dititipkan pada seorang imam bernama Andrew Herll, yang tinggal di biara Carthusian dekat gereja St. Gereon. Gereja ini nantinya turut berperanan dalam menumbuhkan kerohanian Canisius. Selama tinggal di biara Koln itu, ada beberapa orang yang mempunyai pengaruh besar dalam hidup Canisius. Mereka itu adalah: Nicholas van Esche, Laurence Surius, Andrian dari Utrecht, Jorgen Skodborg, Gerard Kalckbrenner, dan Johann Justus. Mereka itulah yang menjadi pendamping Petrus Canisius dalam menghadapi suasana kota Koln yang kering, brutal, korup dan sekular. Umumnya mahasiswa Koln suka berkelahi, mabuk, judi, dan musik. Setelah menyelesaikan studi filsafatnya di Koln, tahun 1539 Canisius melanjutkan studinya di Louvain, Belgia, untuk mengikuti kursus singkat hukum Gereja. Ayahnya sudah curiga pada kedekatan Canisius dengan para imam dan rahib Carthusian di Koln. Ayahnya bermaksud membelokkan kedekatan Canisus itu dengan menghadirkan seorang puteri cantik dalam hidupnya. Namun perempuan cantik itu tidak mampu mengubah minatnya pada hidup rohani. Canisius menyikapi tawaran ayahnya itu dengan mengucapkan kaul kemurnian pribadi. Segala usaha ayahnya untuk membelokkan Canisius dari cita-citanya tidak bisa mengalahkan karya Allah yang menghendaki dia menjadi imam.

Pada tahun 1540-1543, Canisius meneruskan belajar teologi. Canisius mengambil spesialisasi di bidang Kitab Suci. Persahabatannya dengan Laurence Sarius berkembang selama studinya di Universitas Koln. Mereka berkaul untuk tidak akan saling berpisah. Kaul ini sangat mengikat mereka. Jika salah satu di antara mereka masuk ke lembaga religius tertentu, yang lain harus mengikutinya juga. Pada Februari 1540 Surius masuk ordo Carthusian di Koln. Pilihan Surius ini membuat Canisius dalam kesulitan karena dia masih condong untuk masuk sebuah ordo imam baru yang masih ia tunggu. Ordo baru ini tidak muncul sampai sekitar 7 bulan setelah Surius masuk ordo Carthusian. Canisius tetap yakin akan panggilannya untuk masuk ordo imam baru yang keberadaannya belum ia ketahui. Sementara itu Canisius tetap melanjutkan studinya di Koln.

Pada suatu ketika, perhatian Canisius terarah pada seorang imam muda Spanyol, Alvaro Alfonso namanya. Setelah beberapa saat bertemu di Koln, Alvaro dan Canisius bersahabat. Allah bekerja melalui Alvaro Alfonso. Melalui dia untuk pertama kalinya Canisius mendengar ceritera yang sangat inspiriatif tentang Ignatius Loyola dan sahabat-sahabatnya, terutama Petrus Faber. Canisius lalu pergi mencari Petrus Faber di Mainz, Jerman. Ia disambut hangat oleh Petrus Faber. Tidak lama sesudah itu, Canisius manjalani Latihan Rohani di bawah bimbingan Pater Petrus Faber, salah seorang pendiri Serikat Yesus. Canisius menuliskan pengalamannya menjalani Latihan Rohani kepada temannya di Koln sbb.: Aku tidak dapat menemukan kata-kata untuk menggambarkan pengalamanku menjalani Latihan Rohani. Pengalaman ini mengubah jiwa dan perasaan-perasaanku, menerangi akal budiku dengan cahaya baru dan memberiku inspirasi dengan kekuatan yang menyegarkan. Melimpahnya rahmat ilahi juga mengalir dalam tubuhku. Aku sungguh-sungguh dikuatkan dan diubah menjadi manusia baru.

Setelah menjalani Latihan Rohani, Petrus Canisius mengambil keputusan untuk menjadi seorang Yesuit. Pada tanggal 8 Mei 1543, dia diterima menjadi novis Serikat Yesus, dan menjalani novisiat di Mainz, Jerman. Dengan demikian, Canisius telah menemukan ordo imam baru yang telah sekian tahun lamanya ditunggu kelahirannya. Inilah saat terpenuhinya ramalan seorang wanita suci dari kota Arnhem bahwa Canisius akan bergabung dengan sebuah lembaga religius yang saat itu sedang dalam proses didirikan. Lembaga religius itu adalah Serikat Yesus.

Masa novisiat di Koln bagi Canisius menjadi masa pemisahan yang tenang dari kehidupan duniawi. Pada tanggal 8 Mei 1543, persis pada hari ulang tahunnya dan sekaligus hari pesta nama St. Mikael, Petrus Canisius mengucapkan kaul di dalam Serikat Yesus. Hari ini oleh Canisius dilihat sebagai hari kelahirannya yang kedua. Dia melihat Petrus Faber sebagai ayah keduanya yang telah melahirkannya kembali menjadi manusia baru di dalam Tuhan. Selanjutnya, Canisius kembali ke Koln untuk meneruskan studi teologinya. Ia ditahbiskan menjadi imam di Koln pada tanggal 12 Juni 1546.

Sebagai imam muda, Petrus Canisius diutus oleh Ignatius untuk mengajar di kolese Yesuit pertama di Messina, Sicilia. Tetapi tidak lama kemudian, pada bulan September 1549, Paus Paulus III mengutusnya ke Jerman untuk menangani misi penting, yaitu membela Gereja Katolik Jerman melawan serangan para reformator. Pada waktu itu, suasana Gereja di negeri Jerman sedemikian kacau sebagai akibat Reformasi. Umat sulit membedakan ajaran Gereja Katolik dan ajaran Luther. Canisius diminta membendung arus penyeberangan orang-orang Katolik ke Protestantisme dan mengembalikan mereka ke pangkuan Gereja. Lewat khotbah-khotbahnya, dia menjelaskan tema-tema pokok iman Katolik.

Pada bulan Februari 1552, Canisius diutus ke Wina, Austria, untuk mendirikan sebuah kolese Yesuit dan menyalakan kembali iman orang-orang Katolik. Di ibukota Austria itu, ia mendapati Gereja sudah kehilangan umatnya. Banyak juga, Gereja terpaksa ditutup karena tidak ada imamnya. Ia lalu mencari calon-calon imam, dan mendirikan sebuah seminari di dekat kolese Wina tersebut.

Selama berkarya di Wina, Petrus Canisius menghasilkan buku yang sangat terkenal, yaitu Katekismus. Buku itu menjadi sangat populer di Jerman karena memenuhi kebutuhan yang paling mendesak pada saat itu. Buku itu memuat ajaran Kristiani; terbit pada bulan April 1555. Buku itu ditulis dalam bahasa Latin, dengan judul: Summarium Doctrinae Christianae (Ringkasan Doktrin Kristen). Isi bukunya berupa tanya jawab karena dimaksudkan sebagai pegangan praktis bagi para pelajar kolese. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman pada tahun 1556. Sebuah penyesuaian diterbitkan bagi anak-anak Sekolah Menengah dengan judul: Katekismus Singkat. Katekismus ini mengalami sekitar dua ratus kali cetak ulang selama Canisius masih hidup, dan terus dicetak ulang sampai abad XIX.

Pada bulan Juli 1555, ia pergi ke Praha untuk membuka sebuah kolese. Pada bulan Juni 1556, ia ditunjuk menjadi Provinsial di Jerman, dan tugas ini dijalaniselama empat belas tahun. Setelah dibebaskan dari tugas sebagai Provinsial pada tahun 1569, ia pergi ke Insburck untuk menulis buku-buku ilmiah dan berkhotbah. Pada tahun 1573, ia mengunjungi Roma untuk membicarakan situasi Jerman dengan Paus. Selama pembicaraan itu, ia menganjurkan supaya di Jerman didirikan lebih banyak seminari. Ia percaya, kalau persiapan para imam menjadi semakin baik, umat Katolik di paroki-paroki akan semakin baik pula.

Menginjak usianya yang ke-68, kesehatannya mulai memburuk. Keadaan ini memaksa dia menghentikan aktivitasnya. Pada tanggal 21 Desember 1597, pada usianya yang ke-76, ia meninggal dalam damai Tuhan. Petrus Canisius dinyatakan sebagai santo oleh Paus Pius XI pada taggal 21 Mei 1925, dan diberi gelar Pujangga Gereja. Pesta Santo Petrus Canisius dirayakan setiap tanggal 27 April.

Selama hidupnya ia telah mendirikan 18 kolese, dan mengarang 37 buku. Lewat khotbah-khotbahnya, ia berperan besar dalam membantu membangun kembali kekatolikan di Jerman. Kecuali itu, sumbangan penting yang pantas dicatat adalah perhatiannya yang besar terhadap pendidikan calon-calon imam untuk mendukung pembangunan Gereja. Hal terakhir inilah yang menjadi dasar utama mengapa Petrus Canisius diangkat sebagai pelindung Seminari Menengah Mertoyudan. Hidup dan semangatnya banyak memberi inspirasi untuk penyelenggaraan pendidikan calon-calon imam.

Referensi:

1. Iman Katolik, Media Komunikasi & Sarana Katekese

2. Seminari Menengah Mertoyudan