RELASI PRIBADI DENGAN GEREJA DAN JEMAAT


RELASI PRIBADI DENGAN GEREJA DAN JEMAAT

Oleh Pdt. Saumiman Saud *)[1]

 

            Gereja yang sehat adalah gereja yang jemaatnya memiliki relasi yang baik dengan Tuhan. Untuk menjalin ikatan yang erat itu maka jemaat Tuhan harus senantiasa bersekutu , berdoa dan membaca firman-Nya. Tidak ada jalan pintas untuk menciptakan relasi baik ini, perlu adanya proses dan itu berlangsung setiap hari. Demikian juga relasi kita secara pribadi sebagai anggota tubuh Kristus dengan gereja dalam arti tubuh Kristus atau persekutuan orang-orang di dalamnya. Jika relasi kita dengan Tuhan tidak beres, maka hubungan kita dengan sesama pasti tidak beres juga. Jadi sebenarnya kunci utama supaya kita dapat menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama terletak pada bagaimana hubungan kita dengan Tuhan secara pribadi.

 

            Relasi pribadi di gereja dengan jemaat berbeda dengan relasi kita dengan sesama di dunia sekuler. Dunia sekuler sebenarnya juga menawarkan relasi yang baik, namun perbedaannya terletak pada syarat-syarat secara manusiawi. Jika relasi kita baik dengan orang lain, sudah pasti secara normal orang lain juga baik dengan kita. Kekristenan justru mengajarkannya berbeda, walaupun orang lain itu relasinya tidak menunjukkan gelagat kebaikan terhadap kita, namun kita tetap saja harus membalasnya dengan kebaikan.  Inilah yang bisanya disebut dengan kasih tanpa syarat (unconditional love), seperti yang telah Tuhan Yesus kerrjakan buat kita.

 

            Kesibukan kerja di sana-sini, rumah yang berjauhan sangat mempengaruhi relasi pribadi seseorang dengan jemaat di gereja. Akibatnya persekutuan sesama jemaat menjadi renggang, bahkan ada yang tidak saling kenal, walaupun satu gereja, sementara itu yang aktif hanya mereka yang memang rumahnya dekat dengan gereja dan pekerjaannya tidak begitu sibuk bila akhir pekan. Itu sebabnya belakangan ini di gereja-gereja muncul persekutuan dalam bentuk kelompok-kelompok kecil atau persekutuan wilayah, tujuannya agar mereka yang tidak terjangkau dalam kelompok besar dapat dipantau melalui kelompok kecil ini. 

 

Memang gereja dapat saja membuat segala program untuk untuk mempererat relasi sesama anggota jemaat, namun tanpa dibarengi pemahaman dan pengenalan akan makna persekutuan Kristen yang benar, maka tidak jelas pula apa artinya persekutuan itu. Akibatnya persekutuan dianggap sebagai ajang gossip, makan-makan dan ngobrol yang tidak menentu tujuannya.  Alkitab kita sangat jelas sekali menekankan tentang apa saja yang seharusnya dilakukan dalam sebuah persekutuan itu sehingga tercipta relasi yang indah dan harmonis.

 

            1. Relasi harmonis tercipta melalui saling mengasihi

 

            Mengasihi yang dimaksud di sini bukan sekadar rasa simpati atau kata-kata manis di bibir saja,namun kasih itu harus diwujudkan di dalam “perbuatan” atau “tindakan” seperti yang dinashiti oleh Yohanes dalam  1 Yohanes 3:18  Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

 

            Tindakan mengasihi akan terwujud bila seseorang dengan rela memberi hati dan perhatian pada orang lain. Tidak cukup itu, tindakan praktisnya adalah, bila kita melihat saudara kita membutuhkan maka kita secara spontan membantunya berupa moril dan materil. Wujud nyata saling mengasihi yang demikian merupakan tanda bahwa orang-orang percaya benar-benar adalah pengikut Kristus yang sejati.

 

            2. Relasi harmonis tercipta melalui saling melayani

 

            Seorang ahli filsafat terekenal dapat saja menulis dengan kata-kata muluk melalui buku yang tebal tentang tips bagaimana mendidik anak, tetapi ia sendiri tidak pernah mengurus anak-anaknya. Perkataan dengan perbuatan tidak sejalan, oleh sebab itu maka tidak dapat dipungkiri lagi, hanya Tuhan Yesus satu-satunya teladan kita dalam pelayanan. Ia merendahkan diri-Nya sama seperti seorang hamba dengan suka-rela menanggalkan jubah kebesaran-Nya, dan mengenakan pakaian seorang hamba, membasuh kaki murid-murid-Nya.  Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu”. (Yohanes 13 : 15)

 

            Coba lihat penekanan rasul Paulus dalam Filipi 2 :6-7 “Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”. Ayat 6 menekankan dalam bahwa Yesus “dalam rupa Allah”, dalam bahasa Yunaninya di dahului dengan kata ‘berada” (jadi terjemahannya berada dalam rupa Allah); katya yang dipakai adalah Hyparchon (terus menerus berada) dan bukan kata “on” (sedang berada). [2] Maksudnya adalah Kristus senantiasa telah di dalam rupa Allah dengan pengertian sampai sekarang masih tetap demikian. Nah, Kristus yang demikian pernah mempraktekkan diri seperti seorang hamba melayani murid-murid-Nya sendiri.

 

            Bila saling melayani terwujud di dalam gereja betapa indah sekali, kita tidak akan pernah mendengar lagi orang-orang yang berkata “ Itu bukan urusanku”, “ Saya bukan majelis”, “Itu tugas pendeta” , “ Saya tidak di gaji” dan sebagainya.  Pelayanan yang sesungguhnya adalah akibat dari kita meresponi kasih.  Jika saling melayani itu tidak disertai kasih maka gereja  tidak ubahnya seperti lembaga sosial.

 

            3. Relasi harmonis tercipta melalui saling menanggung beban

 

            Tuhan tidak menginginkan kita hidup egois atau menyendiri, oleh sebab itu maka tugas gereja yang sangat penting itu bersaksi, bersekutu dan Melayani (Marturia, Koinonia dan Diakonia)[3] tidak boleh diabaikan.  Menanggung beban merupakan salah satu wujudnya. Namun apa saja yang dapat dilakukan?  Jika gereja memiliki kasih dan saling melayani, maka anggota jemaatnya tidak sungkan untuk menceritakan pergumulan yang dialaminya untuk didoakan dan dan ditolong, karena ia tahu jelas kasusnya tidak bakal diangkat menjadi ajang gossip.  

 

            Hendaklah kalian saling membantu menanggung beban orang, supaya dengan demikian kalian mentaati perintah Kristus. “ (Galatia 6:2, BIS [4]) Saling menanggung beban itu penting supaya tercipta keseimbangan di dalam jemaat Tuhan, termasuk kerohanian mereka.  Dengan membagikan beban pergumulan, problema atau persoalan kepada orang lain baik untuk di doakan atau ditolong, maka seorang jemaat itu tidak perlu menanggung sendiri masalahnya. Kehidupan kekristenanpun terasa lebih nikmat dan awet, dengan demikian yang disebut suka-cita dalam Kristus itu boleh terwujud.

 

            4. Relasi harmonis tercipta melalui saling mengampuni

 

                  Mengampuni dan diampuni adalah hal yang seharusnya terlihat dalam sebuah gereja. Manusia itu tidak sempurna, namun jangan gara-gara ketidaksempurnaan ini sehingga tercipta musuh seumur hidup. Konflik itu biasanya terjadi karena kita sudah akrab, dan hasilnya sangat menyakitkan. Ada pepatah mengatakan bahwa hal yang paling menyakitkan kita adalah tatkala orang-orang yang kita kasihi itu menyakiti kita.

 

Gereja merupakan satu-satunya tempat yang sangat rentan terjadi hal-hal yang menyakitkan. Semua itu terjadi bukan karena Tuhan Yesus tidak mengasih kita, tetapi karena tindakan anak-anak Tuhan yang belum dewasa dan sikapnya  yang tidak meneladani Kristus.  Efesus 4 : 31  mencatat  Hilangkanlah segala perasaan sakit hati, dendam dan marah. Jangan lagi berteriak-teriak dan memaki-maki. Jangan lagi ada perasaan benci atau perasaan lain semacam itu. Sebaliknya, hendaklah kalian baik hati dan berbelaskasihan seorang terhadap yang lain, dan saling mengampuni sama seperti Allah pun mengampuni kalian melalui Kristus.”

 

            5. Relasi harmonis tercipta melalui saling mendoakan

 

                        Konsep iman kepercayaan Kristen akan terlihat melalui seberapa tekunnya seseorang berdoa. Namun heran sekali, ada banyak gereja -  komisi yang paling sulit bertambah anggotanya adalah komisi doa; padahal semua orang tahu doa itu memilki kuasa yang dahsyat.  Jalan kehidupan kekristenan kita senantiasa menghadapi tantangan, itu sebabnya diperlukan kekuatan dari Tuhan. Satu-satunya cara melalui doa.   “Doa orang benar , bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya” Yakobus 5 : 16b.

 

Hidup di negeri perantauan tidak gampang, apalagi sanak saudara jauh dari sisi kita. Banyak hal yang merupakan persoalan hidup ini kadang sulit diceritakan kepada orang lain, karena sangat sulit ditemukan mereka yang mau memahami, peduli dan mengerti keadaan kita. Kesibukan dalam keluarga dan pekerjaan masing-masing sudah cukup, maka persoalan lain sebisanya dihindari. Jika keadaaan itu muncul di gereja tentu bahaya sekali, sebab akan terjadi seseorang itu bergumul dan stress sendiri tanpa diketahui dan pertolongan orang lain.

 

Yakobus 5:16Sebab itu, hendaklah kalian saling mengakui kesalahan dan saling mendoakan, supaya kalian disembuhkan. Doa orang yang menuruti kemauan Allah, mempunyai kuasa yang besar. “  Oleh sebab itu sebagai anak Tuhan, kita perlu mengambil waktu saling mendoakan; sebab tantangan dan godaan itu berlangsung setiap hari dan selalu mengancam serta hendak menjatuhkan kita.

 

 

          6. Relasi harmonis tercipta melalui saling menasihati

 

Belajar satu dengan yang lain di dalam gerreja itu sangat penting sekali, namun semua ini tidak dpat dilaksanakan jika orang-orang percaya tidak dibekali firman Tuhan.  Roma 15:14  Saudara-saudaraku! Saya yakin bahwa ada banyak sekali hal yang baik padamu. Kalian pun mengetahui segala-galanya dan dapat mengajar satu sama lain juga.  Kata “banyak sekali hal yang baik padamu” itu berarti apa yang sudah kita terima dan pelajari tersebut dapat dipakai untuk menolong orang lain melalui nasihat kita, jadi nasihat yang diberikan itu  berupa firman Tuhan.  

 

Anda tidak diminta menjadi mata-mata atau polisi yang sengaja mencari dan mencatat kesalahan orang lain. Janganlah karena pernah belajar sedikit firman Tuhan lalu menganggap telah mengetahui segalanya. Anda bukannya memberi nasihat, tetapi mengkritik dan memprotes sana-sini.  Namun jika memang anda diberi kesempatan untuk memberi nasihat, berilah nasihat dengan penuh kasih; yang artinya bukan untuk menjatuhkan orang tersebut tetapi justru membuat orang itu bertambah sukses dan berhasil dalam kehidupan kekeristenannya.

 

Anak-anak Tuhan perlu bercermin diri dan minta hikmat dari Tuhan sebelum memberi menasihati orang lain, sebaliknya anak-anak Tuhan harus rendah hati apabila menerima nasihat itu. Ingatlah bahwa anda tidak lebih baik dari orang lain, jika hari ini  anda belum terlihat bersalah, kemungkinan kesalahan anda belum terungkap. Oleh karena itu sejak dini saling menasihati untuk menguatkan satu dengan yang lain sangat diperlukan oleh anak-anak Tuhan.

 

7. Relasi harmonis tercipta melalui saling menghiburkan

 

Saling memberikan penghiburan bukan suatu hal yang mudah, soalnya kita sebagai manusia memiliki hidup yang berliku-liku . Tatkala kita senang, bahagia, kaya, sehat, mungkin  kita dapat dengan gampang menghibur orang lain, namun apa yang terjadi tatkala kita juga berada pada posisi yang sulit. Rasul Paulus selalu menekankan masalah memberikan penghiburan ini, terutama di dalam surat-surat pastoralnya, misalnya surat Tesalonika dan Filipi; padahal kondisi  Paulus sewaktu menulis surat itu berada di dalam penjara.

 

Paulus mengatakan hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini (1 Tesalonika 4 :18).  Memang perkataan yang keluar dari mulut kita kadang sangat berbahaya, oleh sebab itu maka setiap perkataan kita perlu dipikirkan matang-matang. Apakah perkataan kita menjadi berkat atau malah menjatuhkan iman seseorang? Bila kita hendak memiliki relasi yang harmonis maka kata-kata yang keluar dari mulut kita semestinya yang menguatkan dan menghiburkan. Anak-nak Tuhan sudah begitu capek dan lelah serta tertekan di dunia sekuler dengan segala pekerjaan , sekolah dan kehidupan, maka di dalam persekutuan umat Tuhan perlu sesuatu yang menguatkan iman kepercayaan mereka.

 

      Di dunia ini tidak ada gereja yang sempurna, karena anak-anak Tuhannya memang tidak ada yang sempurna. Jika hari ini anda mendengar berita bahwa di Los Angeles ada gereja yang sempurna, maka anda dianjurkan supaya tidak berbakti di sana? Tentu anda bertanya mengapa? Karena kehadiran anda akan membuat gereja itu menjadi tidak sempurna, karena anda sendiri tidak sempurna.

 

      Duapuluh lima tahun cikal bakal Gereja Injili Indonesia Los Angeles berdiri, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada. Kita patut bersyukur kepada Tuhan, karena Dia mau memakai anak-anak-Nya yang tidak sempurna ini untuk mengerjakan suatu tugas pelayanan yang sempurna, sehingga berkat-berkat Tuhan hingga hari ini tidak pernah habis hingga hari ini. Saya yakin semua ini dapat berjalan karena adanya  relasi yang harmonis ini. Oleh sebab itu, marilah kita bergandengan tangan bersama,  tingkatkan dan pertahankan segala yang baik, buanglah hal-hal yang tidak berguna, supaya kita melangkah ke depan - menuju pada gereja yang penuh harapan.  Amin.

           

(Washington, Lynnwood , Mei 2008)

 

           

           



[1] *)Penulis adalah alumni Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang, saat ini melayani di Gereja Injili Indonesia Seattle. Beliau dapat dihubungi via email saumiman@gmail.com atau kunjungi website pribadinya di http:///www.saumimansaud.org   Artikel ini ditulis dalam rangka HUT Gereja Injili Indonesia Los Angeles Ke 25 dan penahbisa Ev Wilson Suwanto menjadi pendeta 21 September 2008

[2] Saumiman Saud, The Dynamic Life Of Believers, Yasinta, Jakarta, 2004, lihat topik Kerendahan Hati Orang Percaya tepatnya di halaman 83

[3] marturia, koinonia dan diakonia

[4] BIS adalah Alkitab Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari