Sebuah Kesaksian

                        TUHAN PASTI BUKA JALAN

               

(Kesaksian Hidup dari Ny. Ratna Sutrani

melawan penyakit kanker)

 

 

 

 

 

 

 

 

September 2006

 

 

 

 


TUHAN PASTI BUKA JALAN

 

(Kesaksian hidup dari Ny. Ratna Sutrani melawan penyakit kanker)

 

 

“Aku mengasihi Tuhan, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telingaNya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepadaNya” (Mazmur 116 : 1-2)

 

 

Keterangan singkat tentang penulis:

 

Nama:  Ratna Sutrani (68 tahun), kelahiran Blora (Jateng) dan tinggal di Bandung

Suami:  Benyamin Gunadi

Anak:  Daniel Gunadi, Petrus Gunadi, dan Vivien Gunadi

 

Riwayat Sakit / Ringkasan Mujizat:

 

 

AGUSTUS 1995: satu tahun setelah saya pensiun sebagai pegawai negeri

 

Di kala sedang sibuk mempersiapkan keberangkatan Daniel untuk melanjutkan studinya ke Purdue University, West Lafayette, Amerika Serikat, tiba-tiba di depan cermin tanpa sengaja saya melihat adanya lump (benjolan) di payudara sebelah kiri atas.  Puji Tuhan! Walaupun saya melihat itu, saya diberi ketenangan oleh Tuhan, serta diberi ketegaran dan tidak panik.  Saya tidak cerita ke siapapun dan dapat mendampingi Daniel berangkat ke Amerika.  Saya mengajak Daniel ke Disneyland, Universal Studios, Hollywood dan lain-lain dengan tidak ada beban apa-apa.

 

Selama Daniel orientasi sebelum mulai kuliah, saya tinggal selama satu minggu di kediaman keponakan saya di Winnipeg (Canada) dan kemudian tinggal di Seattle (Amerika) di kediaman keluarga dokter Widyawati, sahabat saya.  Di sanapun, saya tidak menceritakan masalah kesehatan saya ini.  Di kala itu kesehatan saya sangat prima dan saya tetap tenang.

 

 

OKTOBER 1995: Diagnosis awal kanker payudara

 

Sepulang saya ke Indonesia, saya melihat lagi di cermin dan baru waspada.  Apalagi dalam bulan yang sama, saya menghadiri pernikahan salah satu keponakan saya di Surabaya.  Saya bertemu dengan keluarga dokter gigi kerabat saudara ipar saya yang dipanggil Tuhan sehubungan dengan penyakit kanker payudara yang dideritanya.

 

Sewaktu saya kembali ke Bandung, saya memeriksakan diri ke dokter bedah, dan ia mencurigai adanya keganasan.  Puji Tuhan, lagi-lagi saya diberi ketenangan dan ketegaran.  Konfirmasi juga datang dari dokter Sutanto, saudara kandung ipar saya.  Kemudian saya menjalani mamografi dan biopsi.  Hasil yang keluar menandakan saya positif terkena kanker payudara stadium IIA.

 

 

OKTOBER 25, 1995: Mastectomy (pengangkatan total payudara)

 

Terima kasih pada Tuhan karena telah mengirimkan Dr. Sutanto, seorang dokter yang baik, pandai dan kerabat sendiri yang sangat taat kepada Tuhan.  Diagnosis: Kanker Payudara Stadium IIA, dan semua pertanda tumor masih normal.  Setelah operasi pengangkatan payudara selesai dilakukan, saya menjalani radiotherapy (penyinaran) sebanyak 20 kali di RS Cipto Jakarta.

 

Bukan suatu kebetulan kalau saya hanya cerita kepada satu orang, dokter kolega saya (karena saya bekerja di bidang kesehatan, yang di kala itu jumlah staf yang bersama dengan saya kurang lebih 60 orang dokter).  Suaminya (yang sekarang menjadi wakil kepala bagian Radiologi di salah satu RS terkenal di Bandung) sedang menjalani magang di RS Cipto.  Suami istri inilah yang mendampingi saya sewaktu mengalami pemeriksaan/penyinaran di RS tersebut.

 

Saya teringat firman Tuhan dalam Mazmur 91:11 yang berbunyi: “Sebab malaikat-malaikatNya akan diperintahkanNya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu”.  Dan juga salah satu kutipan yang membuat saya terkesan yang tertera di tempelan lemari es saya: “God in His wisdom and His love very often sends His angels down to walk with us. We know them best as friends” (Tuhan dalam kebijakan dan kecintaanNya kepada kita seringkali mengirimkan malaikat-malaikatNya untuk berjalan bersama kita.  Kita mengenal mereka sebagai teman).

 

Sesudah penyinaran, pengobatan dilanjutkan secara hormonal dengan Tamoxifen dari bulan Oktober 1995 hingga April 2001. Keadaan saya baik-baik saja!

 

 

MEI 2001: Metastase ke Liver dengan Ascites

 

Pada bulan Maret 2001 saya mengantar anak saya Vivien melanjutkan studi ke University of New South Wales, Sydney, Australia dalam keadaan sehat.  Saya tinggal di Australia kurang lebih 1 bulan dan melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal.  Tetapi sekitar pertengahan bulan April, saya merasakan ketidaknyamanan di daerah perut.  Saya mulai merasa mual-mual, perut semakin membesar dan sering sakit dan mules.

 

Saya memeriksakan diri ke dokter, dan dokter menganjurkan untuk USG. Hasil USG menunjukkan adanya penyebaran kanker ke hati yang ditandai dengan banyaknya bercak-bercak di hati dan asites/cairan di dalam perut.  Hasil laboratorium pengambilan darah pada saat itu menunjukkan tumor marker sebagai berikut:

 

CA 15.3 = 177 U/mL (normal: 35 U/mL)

MCA = 28.8 U/mL (normal: 10 U/mL)

CEA = 2.3 ug/L (normal: 3–5 ug/L)

 

 

25 MEI – 27 SEPTEMBER 2001: Kemoterapi di Singapura

 

Lagi-lagi bukan suatu kebetulan, tetapi Tuhan yang sudah buka jalan.  Anak saya yang kedua, Peter, seharusnya sudah diterima untuk sekolah lagi di Amerika, tetapi ketika dia berpamitan dengan atasannya (Peter telah bekerja selama kurang lebih 4 tahun sejak lulus kuliah di salah satu perusahaan multinasional di Jakarta) dia diberi kesempatan bekerja di Singapura.

 

Setelah melalui pergumulan panjang, akhirnya Peter memutuskan untuk menerima tawaran kerja di Singapura.  Belum genap satu bulan dia bekerja di sana, saya memerlukan pengobatan dan pilihan dijatuhkan untuk menjalani pengobatan di Singapura.  Sekali lagi Tuhan buka jalan!

 

Bahkan tempat pun Tuhan telah sediakan.  Di apartemen tempat Peter tinggal ada empat kamar.  Dia tinggal di sana bersama dua orang teman sekantornya.  Satu kamar ekstra itu seharusnya digunakan untuk urusan kantor, tetapi karena mereka baru bekerja di Singapura selama sebulan maka mereka belum bisa bekerja di rumah (belum mendapat fasilitas kerja di rumah).  Jadi satu kamar ekstra tersebut rencananya akan disewa salah seorang teman kantor mereka.  Tetapi empat hari sebelum saya tiba di sana, teman kantor tersebut membatalkan perjanjian karena dia sudah mendapatkan tempat tinggal yang lebih dekat dengan kantornya.

 

Rupanya Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia (Roma 8:28).  Peter akhirnya menempati kamar extra tersebut, dan atas kebaikan kedua teman Peter tersebut kami (saya dan suami) menempati kamar Peter.  Bahkan pembagian sewa pun mereka dengan tulus tidak mau menerima.  Biarlah Tuhan yang akan membalas budi baik mereka ini.  Rupanya Roh Kudus telah menggerakkan hati mereka. Terima kasih Tuhan!

 

Saya menjalani pemeriksaan di Gleneagle Hospital Singapore dan menjalankan kemoterapi di sana.  Bagaimana dengan prognosa/perkiraan kesembuhan saya?

Kanker saya ternyata sudah stadium 4.  Secara medis, sebetulnya dinyatakan sudah tidak bisa diobati (stage 4 cancer has no cure, and almost hopeless).  Bahkan menurut perkiraan dokter saya hanya bisa bertahan hidup 3–6 bulan saja. 

 

Terpukulkah saya?  Tidak!!  Karena waktu dokter mengatakan itu, saya ada di ruang periksa/ganti dan saya membaca kata-kata itu pada buku harian suami saya pada waktu menjelang kemoterapi ke-4 dan hasil USG lever saya sudah membaik.  Jumlah maupun ukuran kanker sudah jauh berkurang dan marker pun sudah turun setengahnya (CA 15.3: 93 U/mL dulunya 177 U/mL).

 

Yang membesarkan hati suami dan anak saya di kala mendengar prognosa itu adalah perkataan dokter Singapura yang menenangkan saya (beliau seorang Kristen): “Kita, kalian punya Tuhan, percayalah pada Tuhan.” 

 

Memang benar tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.  Terus terang kami sangat mengharapkan mujizat.  Dan mujizat itu memang terjadi, tetapi tidak seperti yang kita bayangkan seperti mujizat instan yang yang menyembuhkan saya seketika, melainkan sesuai dengan rencana Tuhan dan itu butuh suatu proses.

 

Akhirnya saya menjalani kemoterapi dengan obat Adriamycin dan Taxotere.  Semua efek samping kemoterapi saya alami, mulai dari lemas, mual-mual, konstipasi (sembelit), sariawan, mata berair terus, bahkan sesudah kemoterapi ke-4 dan ke-5 saya sempat diopname/diisolasi masing-masing 2 hari karena sel darah putih saya turun hingga 240-260/mm3 (normal: 4.000-10.000/mm3).  Saya juga mengalami pembengkakan pada kaki dan tangan.  Efek samping terberat pada wanita yaitu rambut rontok hampir semuanya, yang terjadi sekitar 10 hari sesudah kemoterapi pertama.

 

Akan tetapi, masih ada kejutan-kejutan membahagiakan yang saya alami.  Pada hari ketiga setelah kemoterapi pertama di kala kami masih bingung dan kaget menghadapi efek samping yang mulai timbul, atasan saya beserta istri (beliau seorang dokter ahli penyakit dalam) datang menjenguk di apartemen.  Mereka menjenguk sampai 3 kali selama saya dikemoterapi.  Beliau membantu baik moril maupun materil.  Begitulah cara ajaib dan bantuan kasih Tuhan yang kami rasakan.  Juga melalui saudara-saudara kandung dan keponakan-keponakan saya yang secara bergiliran menengok dan memberi dukungan terutama doa. Terutama juga dukungan doa dari suami dan anak-anak tercinta.

 

Saya akhirnya dapat menyelesaikan kemoterapi yang ke-6 dengan hasil CT Scan dan marker yang sudah mendekati normal (CA 15.3: 47 U/mL).  Kemudian dilanjutkan dengan pengobatan hormon untuk menekan estrogen yaitu Femara, sehingga CT Scan dan marker saya normal kembali hingga saat pengalaman ini saya tulis (Juni 2005, kurang lebih 4 tahun paska-kemo).  Perlu ditambahkan, menurut para dokter, hanya 5% orang yang diteliti dapat disembuhkan (sel kanker dimatikan) dengan jenis pengobatan ini.

 

Setelah saya dinyatakan sembuh, Peter ada keinginan untuk melanjutkan studi ke Amerika (yang tertunda sekitar 3 tahun karena mendampingi saya di kala kemoterapi di Singapura).  Peter belajar lagi untuk persiapan aplikasi sambil tetap bekerja.  Dan di sini sekali lagi Tuhan mengirimkan “malaikat penolong-Nya” yaitu 3 orang teman kerja Peter (lulusan universitas ternama di Amerika) yang terus memberi semangat dan membimbing dia dalam persiapan aplikasi sekolahnya.  Adalah suatu mujizat yang luar biasa bahwa akhirnya Peter dapat diterima di Harvard Business School, Boston, Amerika.  Itu semua merupakan berkat dan pimpinan dari Tuhan saja!

 

Bagaimana perasaan saya sekarang?  Untuk Stage 4 cancer, tidak ada obatnya dan hampir tidak mungkin untuk sembuh.  Semua obat hanya bersifat paliatif atau meringankan gejala saja.  Sama sekali tidak ada istilah sembuh kecuali ada mujizat.  Hanya remisi dan remisi dapat berlangsung dalam hitungan bulan ataupun tahun.  Kapan obat hormonal seperti Tamoxifen dan Femara harus dimakan? Dan sampai berapa lama?  3 tahun? 5 tahun? Atau.. sampai tidak ada tanda-tanda adanya kekambuhan/ pertumbuhan tumor lagi (recurrency)!  Karena itu, anjuran dokter adalah periksa tumor marker sekali tiap 3 bulan (khusus marker kanker payudara: CEA, CA 15.3, CA 125), USG, and CT Scan.

 

Secara manusia yang lemah (kurang iman?), salahkah/dosakah saya bila tiap kali akan di-check atau diambil darah saya selalu khawatir?  Tuhan itu baik, penuh pengampunan, setia dan kasih adanya.  Begitulah cara Dia menyapa dan mengingatkan kembali akan firman-firmanNya yang sangat menguatkan dan memberi terus pengharapan pada saya.  Firman-firman tersebut antara lain saya dapatkan dengan melalui khotbah di radio/televisi/teman-teman dekat.  Sekali lagi bukan kebetulan pada saat-saat iman saya goyah.  Terima kasih Tuhan Yesus.

 

 

“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya.” (Efesus 3: 20-21)

 

 


FEBRUARI 2005 – AGUSTUS 2006: Pergumulan terakhir (dalam bentuk surat)

 

Surat pertama

 

Suami dan anak-anak, menantuku tercinta,

 

Terima kasih dan aku sangat bersyukur kepada Tuhan atas bimbingan, penyertaan, kasih setia, dan kekuatan yang Tuhan berikan hingga saat ini. 

 

Tahun 2001 hingga awal 2005 kulalui tanpa keluhan apapun.  Pada bulan Februari 2005, aku menjalani tes darah rutin.  Di luar dugaan, marker darah Ca 15.3 yang biasanya stabil ± 16-17 U/ml naik menjadi 23.2 U/ml.

 

Aku masih berpikir mungkin ada kesalahan atau dalam batas normal (N: 28 U/ml), tapi hatiku tak enak dan 2 minggu kemudian aku periksa kembali, marker menjadi 34 U/ml.  Aku mulai bimbang, 2 minggu lagi aku periksa kembali dan menjadi 51 U/ml.  Barulah aku cerita ke suami dan anak-anak yang lalu terkejut dan kamipun ke dokter.  Anjuran dokter: USG dan sidik seluruh tubuh dengan zat radioaktif.

 

Hasilnya mengejutkan, banyak spot-spot (kumpulan sel-sel kanker) pada tulang.  Kami berangkat ke Singapura.  PET Scan hasil yang begitu jelek, di daerah perut peritoneum banyak spot-spot selain tulang.  Marker CA 15.3: >100 U/ml, CA 125: 325 U/ml (normal: 35 U/ml).  Mengejutkan sekali! (Tapi kami tetap bisa bersyukur karena aku secara klinis belum merasa apa-apa).

 

Kami kemudian mengadakan konsultasi ke dokter gastroenterologist, gineakolog dan urolog.  Usul dokter adalah operasi perut hisektomi.  Hasilnya, indung telur ternyata telah tertutup cairan (ascites).  Operasi total kemudian dilakukan pada tanggal 5 Okt 2005.  Akan tetapi, tes marker malah menunjukkan peningkatan CA 125 menjadi 896.8 U/ml, aneh sekali.

 

Kemudian aku menjalani kemoterapi memakai obat Gemzar & Navelbine selama 12 kali (6 cycle).  Dilanjutkan kemudian dengan PET Scan lagi.  Ternyata hasilnya kurang lebih sama, malah di paru-paru kanan ternyata telah ada indikasi kanker. Marker CEA naik menjadi 5.2 U/ml dan CA 125 menjadi 1060 U/ml. Mengherankan semua dokter.  Penyebabnya?  Nobody knows.  Mungkin sekitar perut ada apa-apa lagi, sedang kemoterapi sudah selesai.

 

Keputusan dokter adalah suntikan obat hormon Faslodex sebulan sekali.  Tetapi marker tetap naik, sehingga kami lalu kembali ke Singapura.  Dokter menyarankan aku untuk menjalani kemoterapi dengan Xeloda + Navelbine (keduanya oral).  Efek samping mual dan tidak suka makan, kembung, lambung parah lalu distop.

 

Atas saran dokter Indonesia, aku minum obat hormone Aromacyn sejenis Femara penekan estrogen.  Obat inipun ternyata tidak dapat digunakan karena marker tetap naik terus.  Mendadak jantung lemas, fungsi tinggal 34% dan sudah tidak mungkin dipasang stand atau ditiup.

 

Obat kanker terbaru yang harganya aduhai Herceptin, aku tidak bisa menerima karena HER2 new-ku negatif.  Rupanya sekarang Tuhan tidak mengizinkan lagi  badanku untuk diapa-apakan lagi.  Aku cukup pasrah dengan apa yang Tuhan sudah berikan padaku.  Manusia tetap memperlihatkan tak puas.  Ada lagi penemuan obat baru Avastin, tapi aku tidak sreg dengen efek2 sampingnya.  Jadi sekarang aku menjalani kemoterapi dengan obat Xeloda dan juga minum obat penguat ginseng Bing Han.

 

Suami dan anak-anakku, menantuku sekalian, Tuhan memberkati.

 

 

                                                                                               

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bandung, 23 Agustus 2006

 

Surat kedua

 

Tuhan terus mendengarkan permohonan kami.  Anak bungsuku Vivi justru pada masa-masa itu (2005-2006) sedang berkenalan dengan seorang pria, insinyur lulusan perguruan tinggi di Jerman dan putra seorang dokter di Bandung.  Malah dengan tuntunan Tuhan, karunia dan berkat kasih Tuhan, Vivi bisa pacaran dengan Andri Seno Kurnadi (mantuku sekarang).  Anaknya baik, sabar, rajin ke gereja dan jadi pimpinan komsel.

 

Bulan Maret 2006 anakku Vivi dilamar.  Rencananya mereka akan menikah tgl 11 November.  Tetapi berhubung keadaanku dan atas nasihat dokter pribadi & teman-teman, pernikahan diajukan menjadi tgl 24 Juni.  Lagi-lagi Tuhan mengadakan mujizat, kasih sayang, dan penyertaan kepada kami. Aku yang diperkirakan tidak bakal kuat (2 bulan dan 4 hari sebelumnya masuk RS karena lemes, tak suka makan) bisa mendampingi pernikahan mereka waktu pemberkatan di gereja & resepsi.

 

Nama Tuhan dipermuliakan & dibesarkan karena siapa di balik itu semua.  Tuhan kita yang hebat telah beri kesehatan & kekuatan hingga aku kuat berdiri dan bersalaman walaupun sesekali duduk karena tamu lebih dari 1000 orang.  Usai resepsi, saya masih bisa mengantar anak saya ke hotel.  Besoknya mengajak saudara-saudara santap siang dan foto bersama di salah satu restoran di Dago pk. 14.00.  Sedang senang-senangnya merenungi betapa kasih setia Tuhan pada keluarga.  Betapa anak-anak begitu mengasihi kami.  Tiap malam kami bisa bersyukur bersama dengan menyanyikan lagu kesukaanku Bapa Sorgawi:

 

Bapa Sorgawi

 

Bapa sorgawi ajarku mengenal betapa dalamnya kasihMU

Bapa sorgawi buatku mengerti betapa kasihMU padaku

Semua yang terjadi di dalam hidupku

Ajarku menyadari Kau s’lalu sertaku

B’ri hatiku s’lalu bersyukur padaMU

Kar’na rencanaMU indah bagiku

 

Denny dan Karen begitu perhatian, sayang, merawat waktu saya sakit dan membantu finansialnya.  Peter lulus dari MBA Harvard dan mau kembali ke Indonesia, kerja di J&J Jakarta.  Vivi dengan sukarela telah mengorbankan kehidupan pribadi dan kerja masa depan, demikian juga Peter, untuk mendampingi aku di Indonesia.

 

Pada tgl 4 Agustus 2006 suamiku Bernard masuk RS, untuk menjalani operasi pada tanggal 7 Agustus.  Prostatnya membengkak, dan di kandung kemih ada 3 batu.  Aku, bersama anak-anakku membujuk dan mendampingi dia waktu operasi.  Terima kasih untuk anak perempuanku Vivi, yang bijak sekali mendampingi dan memberi support pada papinya yang selalu ketakutan sebelum dan sesudah operasi.

 

Puji Tuhan semuanya sudah beres, operasi berjalan lancar dan bisa pulang RS tgl 11 Agustus.  Sekarang suamiku sudah bisa bekerja normal kembali.  Kini perutku agak kurang nyaman, kembung, dan mual lagi.  Saya berdoa agar Tuhan memberi pengampunan dosa, kesabaran, dan kekuatan kepadaku dalam menghadapi penyakit ini.

 

Terima kasih untuk suami dan anak-mantuku yang kukasihi, Tuhan memberkati.

 

 

Catatan akhir dari penyunting:

 

Nyonya Ratna Sutrani, istri, mama kami yang tercinta akhirnya berpulang ke rumah Bapa di surga dengan damai pada tanggal 2 September 2006 pukul 20.10 WIB di RS Kebonjati Bandung, karena komplikasi penyakit yang dideritanya setelah dirawat selama 4 hari di ruang ICU.

 

Kesaksian singkat ini merupakan amanat terakhir dari mama untuk dibagikan kepada banyak orang, sebagai bukti kebesaran Allah Bapa di sorga dan Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus melalui berkat-Nya yang melimpah dalam hidup mama.  Semoga kesaksian singkat ini dapat menjadi berkat bagi saudara sekalian.

 

Tuhan berkati..

 

 

Bandung, 5 September 2006

 

 

Email penghiburan yang diterima tgl. 12 September 2006 dari dokter yang merawat mama, Dr. YO Tan – Gleneagles Hospital, Singapore (diterjemahkan bebas).

 

Yth. Vivien,

 

Terimakasih untuk kiriman email dan kesaksian ibu anda tentang kebesaran Tuhan. Saya ingin berterima kasih untuk kebaikan anda lewat email. Saya tidak dapat menahan air mata saya ketika saya membaca kesaksian itu dan saya harap kesaksian tersebut dapat menyentuh semua orang terutama yang belum percaya. Ijinkan saya mengemukakan pendapat saya dan saya harap ini dapat membantu kalian pada saat sulit ini.

 

Pertama, ibu anda adalah orang yang sangat pemurah dan penuh perhatian, dan saya selalu malu bahwa beliau selalu membawakan saya dan staf saya makanan & barang setiap kali beliau berobat.

 

Kedua, beliau adalah orang yang sangat beruntung dan sangat diberkati karena keluarga selalu memberikannya dukungan 200% terutama di saat penyakitnya bertambah parah. Saya melihat setiap anggota keluarga memberikan dukungan moril & materiil agar beliau memperoleh pengobatan yang terbaik. Saya sebagai dokter sudah melihat banyak keluarga dari pasien2 saya dan sangat sedikit yang seperti keluarga anda. Ketepatan waktu dari beberapa peristiwa keluarga sangatlah sempurna – Kepergian Peter untuk wisudanya (Saya sempat mengharapkan agar beliau dapat pergi ke Boston untuk menyaksikan saat tersebut), pernikahan anda (saya juga berharap saya dapat berada di sana untuk menyaksikannya), operasi ayah anda, kepulangan kakak anda dari Amerika dan lainnya. Sepertinya ada tangan yang berkuasa yang turut campur dalam peristiwa2 tersebut.

 

Ketiga, ketahanan ibu anda selama lima tahun dengan menderita penyakit kanker payudara stadium 4 dan jantung yang lemah adalah suatu keajaiban. Penyebab meninggalnya ibu anda mungkin bukan dikarenakan oleh kanker payudara. Dengan bantuanNya, beliau dapat meninggal dengan cepat dan tanpa sakit di tengah keluarga yang menyayanginya, yang saya yakin kita semua juga menginginkan proses tersebut. Meninggalnya ibu anda bukan sesuatu yang mengagetkan karena saya telah memperingatkan beliau juga kalian dengan prognosa yang memburuk, tapi beliau akan selalu dikenang. Seperti luka-luka lain, waktu akan menyembuhkan dan selalu ingatlah kenangan-kenangan indah bersamanya. Anda sangat beruntung telah memperoleh kesempatan beberapa bulan untuk mengantar ibunda berobat Singapur-Indonesia.

 

Hidup terus berjalan tetapi simpanlah terus kenangan akan ibu anda dan ketahuilah bahwa beliau sekarang sudah berada di tempat yang lebih baik dan damai – bebas dari rasa sakit dan penderitaan.

 

Sekali lagi, kami turut berduka cita dan kami akan selalu kehilangan beliau tetapi akan selalu mengingat kebaikannya dan senyumnya.

 

Semoga Tuhan memberkati anda dan keluarga selalu.

 

Salam,

 

Dr. YO Tan dan staf