KHOTBAH DI BUKIT : DOA 


KOTBAH DI BUKIT : DOA

Matius 6:7-13

      Doa merupakan suatu fasilitas yang Tuhan sudah sediakan buat anak-anak-Nya berkomunikasi dengan-Nya. Tanpa harus melalui pengantara alat-alat elektronik yang canggih, namun kerjanya melampaui alat-alat komunikasi yang paling canggih di dunia. Doa ini bukan hanya tanpa memerlukan kabel, tanpa pesawat, juga tanpa tenaga listrik,  bahkan gratis. Seorang teman baik saya mengeluh karena  setiap telepon kartu yang dipakainya selalu habis sebelum waktunya. Sebaliknya waktu dengan Tuhan itu tanpa batas, tiada habis-habisnya.   Doa hanya melalui diri kita untuk dibawa datang ke hadirat Tuhan, itupun kita tidak perlu berpindah tempat, cukup di mana kita berada, arahnya (direction) bebas. 

      Kira-kira sebulan lalu di daerah Copertino, San Jose sempat terputus aliran listrik sehari penuh. Saya melihat semua restoran dan pertokoan di sana langsung mandek, tidak dapat beroperasi, karena mereka mengandalkan tenaga listrik untuk kompornya. Belum lagi lalu lintas macet, karena lampu-lampunya juga padam. Doa tidak membutuhkan listrik, kita boleh secara langsung berhubungan dengan Tuhan. 

      Ada dua model doa,  di dalam Alkitab dengan jelas sekali dibedakan kepada kita doa yang benar dan doa yang salah.  Ekstrem terhadap doa yang salah antara lain :

  • Pengulangan yang sia-sia atau tanpa arti
  • Doa yang diucapkan secara mekanis, seakan-akan menjadi mantera
  • Doa yang menyalahkan orang lain dan membenarkan diri sendiri
  • Doa yang dipanjatkan dengan tinggi hati, seakan-akan dirinya tidak berdosa
 

      Kalimat pengulangan dan menyalahkan orang lain itu ciri khas orang Farisi sedangkan doa yang mekanis itu merupakan ciri khas orang Kafir. Dengan pengulangan-pengulangan itu maka ia cenderung menuju ke arah kemunafikan. Timbul pertanyaan, apa itu kemunafikan?  Dalam konteks ini, kemunafikan boleh diartikan  “Mengubah dari tujuan yang memuliakan Allah menjadi memuliakan diri sendiri”   

      Kira-kira doa yang bagaimana yang diperkenankan oleh Tuhan? Tatkala Tuhan Yesus mengajarkan Doa Bapa kami, secara tidak langsung Yesus menyinggung dua model orang yang sedang berdoa.  

      Model pertama : cara berdoa orang kafir  - kesannya sangat bertele-tele “Dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah,”demikianlah katanya (ayat 7).  Pengulangan yang dimaksud adalah kata-kata yang tidak bermakna. Beda dengan pengulangan yang Tuhan Yesus lakukan di Taman Getsemani,  Matius 24 26 :44, di sini menunjuk kepada ketekunan-Nya berdoa serta kesungguhan-Nya.  

      Model kedua   : cara berdoa orang kristiani – yakni secara mekanisme. Nah secara  mekanisme juga tidak baik, bisa menuju kepada mantera, jadi kesannya seperti sudah dihafal, seperti Doa Bapa Kami yang selalu kita ucapkan di gereja, jadi kalau tidak dengan sungguh-sungguh menghayatinya maka makna doa ini akan hilang. Doa Bapa Kami yang diucapkan di gereja terkesan hanya sekadar saja. 

      Selanjutnya  di dalam Matius 6 ini Yesus menjelaskan bahwa satu-satunya hal terpenting dalam kehidupan  orang percaya adalah cara kita berpikir tentang Allah. Bagi Yesus, teologi (cara kita berpikir tentang Allah) akan menentukan praktek (cara kita hidup). Secara khusus Yesus mengajarkan kita bagaimana cara memangdang Allah sebagai Bapa, serta pentingnya kita mengenal hubungan keintiman hubungan Bapa-anak dengan-Nya. 

      J. I Packer di dalam bukunya Knowing God ia meringkaskan dalam kalimat-kalimat sebagai berikut : 

      “Ketika saudara menyebut ajaran Perjanjian Baru sebagai peryataan keberadaan Allah Bapa yang adalah Sang Pencipta Agung maka saudara telah meingkat seluruh ajaran itu ke dalam satu kalimat. Demikian pula, ketika saudara menggambarkannya sebagai pengetahuan tentang Allah Pencipta yang adalah Sang Bapa Agung, maka saudara telah menyimpulkan seluruh kepercayan Perjanjian Baru. Jika saudara ingin menilai pemahaman seseorang terhadap Kekristenan, tinjaulah pemikirannya mengenai hal menjadi anak Allah maupun hal memperlakukan Allah sebagai Bapanya. Jika ternyata bukan pemahaman ini yang telah mendorong serta mengendalikan penyembahannya, kehidupan doanya, maupun seluruh pandangan hidupanya berarti ia sama sekali belum memahami Kekristenan” 

      Di dalam doa kita membutuhkan perjuangan, namun bukan perjuangan untuk menaklukkan Allah, tetapi menaklukkan diri sendiri supaya sungguh-sungguh bertekuk lutut di bawah Allah. Doa Bapa Kami yang Tuhan Yesus ajarkan itu mengandung 5 konsep : 

  1. Konsep Penyembahan kepada Bapa
  2. Konsep Kerjaan milik Bapa
  3. Konsep berkat Jasmani dari Bapa
  4. Konsep Anugerah dari Bapa
  5. Konsep Perlindungan oleh Bapa
 
      1. Konsep Peyembahan Kepada Bapa
 

                Yesus sedang memberikan suatu pengajaran yang aksesnya menuju kepada keintiman kepada Sang Raja yakni Allah sebagai Bapa. Ia menjadi alamat tujuan kita berdoa. Perhatikan tatkala Tuhan Yesus mengajarkan “Bapa kami yang di sorga”, ini merupakan pengajaran yang berhubungan dengan suatu persekutuan dalam hidup orang Kristen. Kita berdoa “Bapa kami” bukan “Bapaku” atau “Bapamu” . Inilah konsep yang  juga mengingatkan bahwa kita saling berbagi suatu hak rohani yang istimewa dengan semua umat Allah. Hal ini dengan sendirinya telah menjadi suatu penegasan atas hak istimewa yang kita terima. 

                Perhatikan keseimbangan yang terjadi di dalam pengajaran ini : “Bapa kami yang di sorga”   Ada 3 elemen  : Bapa : keintiman kita   , Kami : persekutuan kita , di sorga : Penyembahan. Jadi sebenarnya tujuan Yesus mengajar kita mengucapkan Bapa kami yang di sorga, bukan hanya sekadar etiket , melainkan suatu kebenaran agar kita datang kepada Dia dalam keadaan hati dan pikiran yang tepat.  

      1. Konsep Kerajaan milik Bapa
 

            Rahasia kerajaan Allah yakni pemerintahan-Nya yang dikendalikan oleh Bapa. Kita sudah melihat ada bukti nyata dengan kehadiran Kerajan Allah melalui Yesus Kristus. Namun di dalam pengertian tertentu, kerajaan tersebut belum dinyatakan dalam kepenuhan kemuliaan-Nya. Puncaknya masih di dalam proses. Saat ini kita sedang hidup  di antara masa pembukaan dengan masa penyempurnaan kerajaan tersebut. Oleh sebab itu kita berdoa agar kerajaannya yang sudah ditegakkan itu semakin menyatakan kemuliaan-Nya.  Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan akan memerintah sebagai  raja sampai selama-lamanya.” (Wahyu 11:15). 

      Yesus mengajarkan “datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga. Mari kita memikirkan apa saja yg termasuk di dalamnya : 

  1. Menaklukkan diri di bawah kehendak Allah yang berdaulat
 

          Tuhan Yesus bukan hanya mengajar murid-murid-Nya berdoa, jadilah kehendakMu” Ia sendiri telah menegakkan kerajaan Allah dengan cara berdoa menggunakan kata-kata tersebut di Taman Getsemani. (lihat Matius 26 :39). Bagi Yesus mendahulukan kerajaan Allah dan berdoa bagi kedatangan-Nya berarti pula memikul salib serta mati bagi umat manusia. Dengan demikian berarti Ia telah menyerahkan seluruh hidup-Nya dengan ketaatan penuh kepada Allah. Berdoa bagi kerajaan Allah berarti komitmen pada jalan salib, karena mengundang Bapa menguasai seluruh hidup dan kehendak kita. 

  1. Mengerjakan pekabaran Injil
 

          Kerajaan Allah memang hadir dalam batin manusia, namun anak-anak Allah juga dipanggil untuk mengabarkan Injil yakni keluar dari wilayah geografis mereka. Mengapa kita katakan Doa Bapa kami sebagai suatu penginjilan? Kata “Bapa Kami “, itu berarti mengajak semua orang di dunia untuk mengetahui bahwa ada seorang Bapa yakni Allah yang dipanggil dengan sebutan “Bapa kami” bukan bapa kita masing-masing yang di rumah. Konsep Bapa sebagai keluarga besar baik bagi mereka yang sudah percaya maupun bagi mereka yang bakal percaya.   

          Yohanes 17 :20 “ Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka”   Jadi Yesus sendiri merupakan seorang pemberita Injil yang diutus Bapa ke dalam dunia. Ia berdoa bagi para penginjil lain dan bagi mereka yang percaya oleh pemberitaan mereka.   

          Sering kita lakukan doa penginjilan bagi hamba Tuhan. Apabila gereja hendak mengikuti cara  Yesus mestinya kita perlu berdoa untuk  para pekabar Injil yang lain. 

    c. Mencari Kehendak Allah melalui Alkitab 

          Jadilah Kehendak-MU” ...pengertiannya adalah di dalam seluruh kehidupan ini, kita sadar bahwa Allah bekerja dengan maksud tertentu. Kadang kita pikir seperti kebetulan saja, namun sesungguhnya kita benar-benar berada di dalam ruang lingkup yang tealh diprogramkan Allah. Jadikanlah Kehendak-MU bukan berarti secara membabi buta atau pasrah - .namun sepanjang kehidupan kita ada niat atau usaha untuk mengikuti kemauan Tuhan sampai  kita mengetahui dengan jelas apa yang dikehendaki-Nya.. 

  1. Berdoa bagi kedatangan Kristus kedua kali
 

      Kedatangan Kerajaan Allah maupun kedatangan Allah sebagai Sang Raja merupakan dua peristiwa yang terjadi bersamaan. Ketika kita berdoa  “Datanglah KerajaanMU” berarti kita sedang memohon kepada Bapa suatu hal yang kita yakini akan dilakukanNya – yaitu membawa sejarah umat manusia kepada tujuan akhirnya, untuk kemudian menghantarkannya ke dalam suatu jaman baru yang penuh kemuliaanNya.   

      Pengharapan ini hanya dimengerti bagi mereka yang sudah percaya kapada Kristus dan menerima keselamatan-Nya. Aspek yang tercakup di dalam Jadilah Kehendak-MU  ini menyiratkan bahwa hidup kita ini telah diserahkan kepada Tuhan Yesus Kristus, di sini dan saat ini. 

      III. Konsep Berkat dari Bapa 

      Berbicara masalah makan dan minum, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.....Dasar pemikiran ini sangat tepat, sebab Allah menciptakan manusia untuk tujuan akhir bagi kemuliaan Allah. Manusia tidak mungkin menggenapi kemulian bagi Allah kalau ia tidak mau taat pada Allah. Jadi sesungguhnya apabila kita taat pada Allah bukan suatu kerugian bagi kita. Malah itu merupakan keuntungan besar. Karena kita akan diberkati oleh-Nya. Lihat 1 Korintus 10 :31, coba kita baca ini :  Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 

        Mungkin kita sudah terbiasa dengan kelimpahan sehingga kita tidak pernah berdoa berikanlah makanan pada hari ini yang secukupnya. Bagaimana mungkin berdoa begitu, sebab makanan kemarin masih tersisa banyak i di kulkas yang sebentar lagi bakal dibuang ke tong sampah. Namun kalau kita coba terjemahkan bahwa ini adalah makanan dari Allah tentu kita bisa lihat bedanya. Sebab  mencakup segala berkat yang Tuhan berikan kepada kehidupan kita ini.

      1. Konsep Kemurahan Bapa
 

      “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”   Itu berarti sesunguhnya jika kita sadar bahwa tatkala kita ucapkan kalimat ini, maka di dalam hati tidak ada lagi orang-orang yang belum kita ampuni. Orang yang memohon pengampunan pada orang lain, namun ia sendiri tidak mau mengampuni orang lain adalah orang yang tidak mengerti atau memahami betapa ia telah berbuat kesalahan besar di dalam hidupnya 

      Ampunuilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang lain”. Sedemikian pentingnya hingga kemudian Ia melanjutkan menjadi “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamau tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu”. 

      Apabila kalimat “Ampunilah - itu diucapkan dengan tenggorokan yang seakan-akan tersangkut, karena kita belum mengampuni, maka doa untuk pengampunan ini tidak memeiliki makna. 

      1 Yohanes 4 : 11 “Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi dengan kasih  yang penuh pengampunan” 
 

      1. Konsep Perlindungan dari Bapa
 

      Permohonan terakhir dari Doa Bapa Kami ini memberikan asumsi bahwa anak-anak Allah menyadari keberadaan mereka yang lemah. Mereka tidak kebal terhadap segala permasalahan, karena itu mereka mengharapkan perlindungan Allah terhadap kuasa yang jahat. 

      Dunia ini tidka menentu, bencana dapat saja terjadi setiap saat. Terjangan air Tsunami dan Gempa di Jogjakarta membuktikan bahwa manusia tidak berkuasa di di dunia ini. Itu sebabnya perlindungan itu dibutuhkan dari segala arah, sebab pencobaan itu juga muncul dari segala arah.  Perlindungan di dunia sifatnya sementara dan tidak terjamin, tetapi perlindungan dari Allah Bapa jangan diragukan lagi.  Saya yakin Anda menyetujuinya.