Penangkapan Ikan Tuna di Indonesia

tuna boat

Penangkapan ikan tuna di Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang. Hal ini karena Indonesia merupakan daerah pertemuan antara Lautan Pasifik dan Lautan Hindia yang merupakan sumber ikan tuna yang potensial. Laut Banda dan Selat Makassar merupakan daerah tangkapan tuna sejak lama. Seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan ikan tuna, baik dalam dan luar negeri, penangkapan ikan tuna pun mulai banyak dilakukan di perairan Indonesia lainnya, seperti Lautan Hindia sebelah barat Pulau Sumatera, sebelah selatan Pulau Jawa, perairan di Nusa Tenggara, perairan di sebelah utara Sulawesi dan perairan sebelah utara Papua.

Ikan tuna secara tradisional telah lama dikonsumsi secara langsung ataupun dijadikan pindang oleh masyarakat Indonesia. Dengan semakin berkembangnya pabrik pengalengan ikan tuna di berbagai daerah seperti di Sulawesi Utara, Jawa Timur (Banyuwangi, Pasuruan), Papua, Bali, dan Jawa Tengah (Cilacap), penangkapan ikan tuna lokal pun semakin bergairah. Baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun untuk ekspor ke luar negeri. Ekspor ikan tuna ini terutama untuk kebutuhan pabrik tuna kaleng di luar negeri, misalnya perusahaan pengalengan tuna di Thailand.

Teknologi penangkapan ikan tuna di Indonesia masih sederhana dan dilakukan oleh para nelayan setempat. Hal ini berbeda sekali dengan perburuan ikan tuna oleh negara-negara maju seperti Jepang, Korea dan Taiwan. Kapal penangkap (catching vessel) mereka memilik kapasitas 100-200 MT dan kapal pengepul (carrier vessel) 1000-4000 MT, area tangkapannya pun sangat jauh sampai ke ujung lautan Pasifik dan Hindia.

Kapal penangkap para nelayan lokal memiliki kapasitas yang masih kecil, sekitar 3-10 MT (metric ton) dengan jarak jelajah antara 100-200 mil ke tengan laut dan memakan waktu sekitar 1-7 hari bolak-balik.

Jenis-jenis kapal nelayan yang umum dipakai adalah:

  • Payangan (kapasitas 3 MT, jelajah 100 KM ke tengah laut, waktu jelajah 1-2 hari)
  • Sekoci (crew kapal: 6 orang, kapasitas 5 – 10 MT, jelajah 220 mil, waktu jelajah 4-5 hari)
  • Slerek – terdiri dari 2 kapal (besar dan kecil), crew kapal: 30 orang kapasitas 20 MT, jelajah 50 mil.
  • Trawl (crew kapal: 25-30 orang, kapasitas 20-30 MT, jelajah 200 mil lebih ke tengah laut)

Untuk meningkatkan tangkapan ikan tuna, para nelayan menggunakan rumpon sebagai daya tarik agar ikan tuna berkumpul dan berkembang biak di sekitarnya. Rumpon ini berfungsi sebagai “perkampungan” ataupun “rumah” ikan tuna. Secara sederhana rumpon merupakan kumpulan tali / daun-daunan yang dibuat para nelayan dan terapung-apung di tengah laut. Setelah beberapa waktu, di sekitar rumpon akan tumbuh plankton yang akhirnya akan menarik ikan-ikan lain termasuk ikan tuna untuk berkumpul di sekitarnya.

Jenis rumpon:

  • Rumpon tengah, jarak sekitar 220 mil ke tengah laut dengan kedalaman laut 6000 meter
  • Rumpon pinggir, jarak sekitar 50 mil ke tengah laut.

Rumpon akan dibiarkan terapung-apung selama 2-4 bulan sebelum “menghasilkan” ikan tuna.  Agar rumpon ini tidak hanyut terbawa arus air laut, maka rumpon ini “diikat” tali panjang sampai ke dasar laut.

Untuk menentukan dan menemukan posisi rumpon, para nelayan sekarang ini sudah menggunakan bantuan GPS (Global Positioning Systems). Setelah menghasilkan ikan, rumpon ini bisa terus-terusan “dipanen” setiap bulan.

rumpon tuna

Picture source: http://bbppi.info/images/mukaan.jpg