Jajak Pendapat

Online Chatt

Profil

Laboratorium bahasa  IPDN kampus Jatinangor yang terdiri dari dua buah ruangan dilengkapi dengan peralatan yang mendukung kegiatan belajar-mengajar bahasa bagi Praja dan pegawai IPDN seperti: meja operator guru, pemutar kaset audio, video player, bel elektronik, speaker ruangan, televisi, mikrofon, booth siswa, headphone dengan mikrofon, dan jaringan internet. Kapasitas ruangan lab bahasa IPDN kampus Jatinangor dapat menampung sebanyak 30 (tiga puluh) orang per kelas. Adapun kegiatan belajar mengajar yang dapat dilakukan di lab bahasa berupa:

Monolog

Monolog yang terdiri dari kegiatan berbicara dan mendengarkan melibatkan hanya satu pembicara dan sejumlah penonton. Jenis komunikasi semacam ini dapat dilakukan dalam beberapa cara bila diterapkan di laboratorium bahasa. Pertama, dari mesin operator guru, instruktur dapat berperan sebagai sumber informasi. Di sini, dia berperan sebagai pembicara, sedangkan siswa menjadi pendengar. Kedua, instruktur dapat menggunakan kaset audio atau bahkan kaset video sebagai sumber informasi. Siswa ditugaskan untuk menjadi pendengar. Ketiga, dalam laboratorium bahasa yang dilengkapi dengan koneksi internet ini, instruktur dapat membuka sebuah situs web dan memperlihatkan mata kuliah pilihan kepada siswa di meja duduk mereka. Para siswa dapat mengambil keuntungan besar dari laboratorium bahasa, maksudnya adalah bahwa siswa dapat memfokuskan perhatian mereka ke kuliah yang disampaikan melalui headphone yang tersedia pada setiap meja duduk (booth) siswa.

Dialog

Dialog merupakan format komunikasi yang melibatkan dua pembicara. Di laboratorium bahasa, dialog dapat dilakukan dengan tepat dalam dua cara, yaitu: dialog antara guru dengan siswa dan dialog antara siswa dengan siswa. Dengan menggunakan fasilitas di laboratorium bahasa, instruktur dapat berbicara hanya dengansatu siswa dengan atau tanpa melibatkan siswa lainnya untuk memonitor percapannya dengan siswa tersebut dengan cara mengaktifkan tombol SEMUA atau tombol INDIVIDU. Headphone dengan mikrofon yang tersedia di meja operator guru dan di meja siswa akan memberikan suara berkualitas baik dalam kegiatan komunikasi. Guru juga dapatmemilih untuk berbicara dengan siswa yang dia inginkan, atau memutuskan untuk menugaskan dua siswa untuk melakukan kegiatan dialog.

Diskusi Panel

Diskusi panel umumnya melibatkan dua sampai empat pembicara atau panelis dengan satu moderator dan sejumlah penonton. Moderator memulai diskusi tersebut dengan memperkenalkan panelis dan topik diskusi terlebih dahulu, dan kemudian mempersilahkan setiap panelis berbicara tentang topiknya satu per satu. Tujuan dari diskusi panel adalah untuk melihat masalah tertentu dari berbagai sudut pandang. Para penonton dapatterlibat, sehingga diskusi akanmenjadi interaktif.

Ketika kita dibawa ke laboratorium bahasa, jenis format komunikasi seperti ini dapat dilakukan dengan menarik untuk meningkatkan keterampilan berbicara-mendengarkan siswa. Instruktur yang bekerja dimejaoperator guru dapat berfungsi sebagai moderator, dan dua sampai empat siswa secara demokratis ditunjuk sebagai panelis. Moderator berbicara dari meja operator guru, dan panelis berbicara dari stand meja duduk siswa yang diaktifkan. Ketika penonton ingin memberikan komentar, dia bisa menekan bel elektronik yang dipasangdi meja duduk siswa untuk memberikan sinyal bahwa ia ingin berbicara. Kemudian moderator mengaktifkan meja duduk tersebut dan memberikan kesempatan kepada penonton untuk berbicaradalam kurun waktu yang ditentukan. Setelah selesai berbicara, moderator dapat menonaktifkan koneksi aktif meja duduk tersebut untuk mencegah suara yang tidak perlu.

Debat

Debat merupakan format komunikasi yang juga sesuai untuk penggunaan laboratorium bahasa. Debat melibatkan dua individu atau kelompok pembicara dengan satu moderator. Instrukturnya dapat merangkap sebagai moderator, yang mana para siswa dapat dibagi menjadi dua kelompok yang saling berlawanan: kelompok yang mendukung (proponents) dan kelompok yang menentang (oponents). Untuk itu, maka harus disiapkan permasalahan yang dapat dipertentangkan.

Pembacaan Berita

Dalam lab bahasa, siswa dapat ditugaskan untuk mengembangkan keahlian membaca mereka melalui format komunikasi yang disampaikan melalui radio atau bahkan seorang reporter TV. Microfon yang tersedia dapat digunakan sebagai alat untuk melaporkan berita. Pembacaan berita itu sendiri dapat dilakukan dengan dua cara yang berbeda, yaitu: pembacaan berita secara monolog dan pembacaan berita secara interaktif. Pembacaan berita monolog melibatkan hanya satu siswa sebagai pembaca; yang lainnya menjadi pendengar. Dalam pembacaan berita yang interaktif, satu orang siswa ditugaskan sebagai pembaca berita, siswa lainnya bertindak sebagai wartawan yang dapat berpura-pura melaporkan keterangan tambahan dari tempat kejadian. Keberadaan jaringan kamera akan memberikan aktivitas pembelajaran yang menarik karena pembaca berita dapat disiarkan secara langsung seperti dia benar-benar merupakan peliput berita sungguhan.

Pelatihan Alih Suara

Jenis format komunikasi lainnya yang sesuai untuk lab bahasa adalah pelatihan alih suara. Pelatihan ini sebenarnya jenis teknik memainkan peran. Pelatihan alih suara dapat dilakukan dengan memutar video tentang film serial yang melibatkan tiga atau empat aktor. Pertama, siswa ditugaskan untuk menyaksikan film tersebut dengan saksama. Kedua, beri mereka naskah video agar mereka mengingat kata-kata atau ekspresi yang ditampilkan oleh para aktor. Ketika anda yakin bahwa siswa telah siap untuk melakukan alih suara, putar kembali videonya tanpa mendengarkan suaranya. Gunakan mikrofon, suruh siswa untuk berbicara sehingga suaranya sesuai dengan aksi di film tersebut. Instrukturnya dapat merekam suara mereka dengan menggunakan mesin perekam yang tersedia di meja operator guru.

Kegiatan pengalihan suara akan terasa menarik ketika hasil dari pengalihan suara tersebut mirip dengan aslinya. Siswa juga akan merasa antusias karena mereka juga dapat mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka ke dalam ekspresi yang tepat. Kadang-kadang mereka harus tertawa seperti orang gila; di saat lainnya mereka harus mengucapkan sesuatu dengan suara yang pelan ketika memerankan adegan sedih; dan bahkan kadang-kadang mereka harus “menangis”. Melibatkan perasaan tampaknya menjadi hal yang efektif untuk mempelajari bahasa asing. Beberapa orang mengatakan bahwa ketika di dalam mimpi anda berbicara dalam bahasa Inggris, maka anda akan mampu untuk berbicara dalam bahasa tersebut; dan ketika anda telah mampu mengekspresikan rasa marah, bahagia, dan kesedihan anda dalam bahasa Inggris, maka anda sudah menguasainya.

Comments