Rilis Media

Akhir Perioda Program Kerja SCoPe - End of SCoPe Project Period

diposkan pada tanggal 7 Jan 2015 21.34 oleh Aditya Krisnarwanto

Tanpa terasa tahun 2014 sudah terlalui, banyak hal yang telah terlewati, dan juga berarti bahwa program SCoPe Indonesia akan berakhir. Setelah tiga tahun berkutat dengan pengembangan produk, produksi, dan standar operasional produksi tahu dan tempe, SCoPe Indonesia akan menutup buku program kerjanya di awal tahun 2015 ini.

2014 has passed, many things has happened during the year, but this also means that this will be the end of SCoPe Indonesia’s project period. After three great years working closely with tempe and tofu producers in developing the production standard, and also in the search and development of the hygiene production equipment and technology, by the end of January 2015, SCoPe Indonesia project activities will officially be ended.

source : google.com
Tempe dan tahu adalah makanan yang menjadi makanan favorit masyarakat Indonesia, mudah ditemui di berbagai tempat, dikonsumsi oleh berbagai lapisan masyarakat dan memiliki manfaat yang besar untuk kesehatan masyarakat. Namun demikian tempe dan tahu justru dikenal masyarakat sebagai makanan yang kotor, jorok dan hanya untuk “kelas rendah”. Hal ini disebabkan oleh karena proses produksi tempe dan tahu yang selama ini ada, masih dilakukan dengan cara-cara yang tidak mengindahkan kaedah kesehatan dan kebersihan.

Tempe and tofu are kinds of favorite food within the community in Indonesia, they are easily being found in many places, consume by many types/class of community, and having high benefit towards health. Yet, tempe and tofu are being well known as dirty, unhealthy food, a “low class” food. Simply because the production process of tempe and tofu which now exist are far from hygiene, healthy and

source : google.com
environmental friendly processs.

Dengan besarnya jumlah konsumsi dan manfaat kesehatan bagi konsumen, maka sudah selayaknya produksi tempe dan tahu dilakukan secara higienis dan ramah lingkungan. Untuk merubah pola produksi ini, SCoPe Indonesia mencari jalan keluar dan mempromosikan peralatan dan cara produksi tempe dan tahu yang higienis dan ramah lingkungan. Dan untuk menjadi rujukan bagi produsen tempe dan tahu mengenai produksi tempe dan tahu yang higienis ini, beberapa pilot project program SCoPe didirikan sebagai model percontohan, antara lain: 1) Rumah Tempe Indonesia di Jl. Raya Cilendek no. 27, Bogor, 2) Rumah Tempe Rumah Perubahan di Komplek Rumah perubahan Rhenald Kasali, Bekasi, 3) Sentra Produksi Bersama tempe-tahu di Gang seratus, Tanjung Barat, Jakarta selatan, 4) Rumah Tempe Gunung Kidul di Jl. Wonosari Km 2 Siyono Wetan, Playen, Gunung Kidul, Yogyakarta, 5) Instalasi pengolahan limbah cair tahu di Cilendek, Bandung, 6) Tumah Tahu di Ciluer, Bogor.

Based on the large number of tempe and tofu consumption and its benefit towards health, it is being a mandatory that the process of production should be through a clean, hygiene and environmental friendly production system.in order to switch the production system, SCoPe Indonesia held a research on the equipment and SoP and promote it to tempe and tofu producers in SCoPe project area. Some pilot projects are being built to be the source of example for other tempe and tofu producers who want to duplicate the hygiene and environmental friendly production system, there are: 1) Rumah Tempe Indonesia at Jl. Raya Cilendek no 27, Bogor, 2) Rmah Tempe Rumah Perubahan at Komplek Rumah perubahan Rhenald kasali, Bekasi, 3) Sentra Produksi Bersama tempe-tahu at Gang seratus, Tanjung Barat, Jakarta selatan, 4) Rumah Tempe Gunung Kidul at Jl. Wonosari Km 2 Siyono Wetan, Playen, Gunung Kidul, Yogyakarta, 5) Instalasi pengolahan limbah cair tahu at Cilendek, Bandung, 6) Tumah Tahu at Ciluer, Bogor.

some pilot projects

Ribuan pengunjung baik lokal maupun internasional sudah berkunjung ke Rumah Tempe Indonesia, tidak sedikit pula yang datang untuk belajar membuat tempe dengan standar keaman produksi dengan standard HACCP (Hazard Analytic Critical Control Point) salah satu standar keamanan produksi pangan yang diakui secara internasioanal dan menjadi standar tertinggi yang sudah dicapai oleh Rumah Tempe Indonesia. Tidak sedikit pula akademisi yang melakukan penelitian di Rumah Tempe Indonesia. Selain itu, Rumah Tempe Indonesia juga menjadi rujukan bagi KOPTI-KOPTI lain di wilayah lain di Indonesia untuk menduplikasi baik layout, proses dan peralatan produksi tempe.

Thousands of visitors has visit Rumah Tempe Indonesia both local and international visitor, some of them also learning how to produce tempe with the HACCP (Hazard Analytic Critical Control Point) standard; a high standard of food production certificate which already achieved by Rumah Tempe Indonesia. Besides, there are academic researcher who conducting reseach about tempe in this facility. Another achievement is Rumah Tempe Indonesia nowadays has become role model of other KOPTI in Indonesia in duplicating the layout, process and production equipment of tempe production.

Lambat laun produsen tempe dan tahu di wilayah kerja SCoPe Indonesia mulai menerapkan sistem kelola dan produksi tempe dan tahu yang higienis dan ramah lingkungan ini. Tidak sedikit pula produsen tempe dan tahu yang meningkat jumlah produksinya dan mendapatkan pasar yang lebih baik setelah merubah pola dan peralatan produksi mereka.

Slowly but sure, tempe and tofu producers within SCoPe Indonesia’s project area switch their production equipment and system to the hygiene and environmental friendly production system. Some of them also have already increased their production number and able to enter higher market since they swith their production equipment and system.

 peralatan produksi tempe - tempe production equipment peralatan produksi tahu - tofu peoduction equipment

Senyum dan kebahagian produsen tempe dan tahu yang merasakan manfaat dari program ini dan konsumen yang semakin memahami tentang manfaat tempe dan memahami ini pentingnya produksi bersih tempe dan tahu adalah kado terbaik bagi SCoPe Indonesia. Dan semoga produk dan produksi tempe dan tahu Indonesia akan semakin berkembangan dan semakin baik di kemudian hari dan konsumen mendapatkan tempe dan tahu yang higienis dan berkualitas.

The bright happiness smile from tempe and tofu producers who get the benefit of this program and from consumers who aware on the high benefit of consuming tempe and tofu and the importance of hygiene tempe and tofu production is the best gift for SCoPe Indonesia. Afterwards, may the production of tempe and tofu in Indonesia will grew better in the future and consumers will get a hygiene and high quality tempe and tofu product.

mereka yang telah beralih - those who changes

Terimakasih atas semua bantuan dan dukungan dari semua pihak yang terlibat dalam program ini, terutama kepada produsen tahu dan tempe di wilayah Jakarta Selatan,Bekasi, Bogor, Bandung dan Gunung Kidul Yogyakarta beserta dengan jajaran KOPTI di masing masing wilayah tersebut, GAKOPTI, Dinas Perindustrian, Dinas Kesehatan, Dinas Koperasi, Kementrian Lingkungan Hidup, BULOG, juga tak lupa terimakasih kepada para penyedia teknologi CV. Gastech, CV. Kubangan Prima Karya, CV. Gatayu engineering, mitra promosi CV. Hari Hari Jaya. Rekanan program SCoPe : Rumah Perubahan, Bank Syariah Mandiri, USSEC, Forum Tempe Indonesia, PT. ANTAM, Komunitas Orgaik Indonesia (KOI), FKS Multiagro, dan seluruh rekan yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

We would like to give thanks and appreciate to all help and support from all stake holders and partners who involved in this project, especially to tempe and tofu producers in SCoPe Indonesia projects area: Greater Jakarta (South Jakarta, Bekasi, Bogor), Bandung, and Gunung Kidul (Yogyakarta Province); and to KOPTI (Indonesian Tofu Tempe Producers Cooperative), GAKOPTI; Government services: Industrial Department, Cooperative Department, Health Department,Ministry of Environment, BULOG; technology provider: CV. Gastech, CV. Kubangan Prima Karya, CV. Gatayu Engineering; promotion partner: CV. Hari Hari Jaya; SCoPe project partner:  Rumah Perubahan, Mandiri Syariah Bank, USSEC, Forum Tempe Indonesia (Indonesian Tempe Forum), PT. ANTAM, Indonesian Organic Community, FKS Multiagro, and many other who we cannot stated here in detail.

Salam Tempe Tahu,

Viva Tempe Tofu,

 

written by : adrio_k

Bangun Kualitas Produksi Tempe yang Bersaing, Mercy Corps Indonesia bersama KOPTI DIY Luncurkan Pusat Percontohan Produksi Tempe Higienis dan Ramah Lingkungan

diposkan pada tanggal 27 Agt 2014 21.13 oleh Aditya Krisnarwanto   [ diperbarui 3 Sep 2014 20.50 oleh asuryana@id.mercycorps.org ]

Gunung Kidul, 21 Agustus 2014
- Tahu dan tempe telah menjadi pangan yang diterima secara luas di Indonesia, terutama masyarakat di pulau Jawa. Dari sisi ekonomi, industri tahu tempe merupakan sumber pendapatan bagi 285.000 pekerja dan mampu menghasilkan kurang lebih Rp. 700 juta per tahun. Namun sayangnya, proses produksi tahu tempe kurang mendapat perhatian, sehingga tidak mengindahkan aspek kebersihan dan kesehatan baik bagi perajin, konsumen, maupun lingkungan. Penelitian mencatat satu pabrik tahu di Indonesia dalam satu tahun menghasilkan emisi sebanyak 452 ton sementara pabrik tempe menghasilkan emisi sebanyak 27 ton. Jumlah yang tidak sedikit untuk membuat bumi menjadi panas atau yang disebut dengan pemanasan global.  Melihat fenomena tersebut, Mercy Corps Indonesia (MCI) bekerja sama dengan  KOPTI Kab. Gunung Kidul mempromosikan teknologi produksi tahu tempe yang higienis dan ramah lingkungan. Promosi teknologi ini dilakukan salah satunya dengan membangun pusat percontohan produksi tempe higienis dan ramah lingkungan yang bernama Rumah Tempe Gunung Kidul (RTGK).

Danielle de Knocke Van Der Muelen selaku Program Director Mercy Corps Indonesia, Tri Harjono selaku Ketua KOPTI DIY, Sudarso Kabid. Agro DISPERINDAGKOP dan Sukhaeri Ketua KOPTI Kab. Bogor turut hadir dalam peluncuran RTGK. Undangan lain yang tak kalah pentingnya seperti Aip Syarifudin selaku Ketua GAPOKTINDO Jakarta, Sutaryo selaku Ketua KOPTI Jakarta Selatan, turut hadir dalam peluncuran RTGK yang berlangsung pada Kamis (21/8) di kompleks KOPTI Gunung Kidul
.


Danielle de Knocke van der Muelen selaku Program Director Mercy Corps Indonesia mengatakan, “Tempe tidak hanya sekedar menjadi panganan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Tempe juga menjadi warisan budaya Indonesia yang saat ini mulai dikenal oleh masyarakat dunia. Oleh karena itu, proses produksinya harus mulai memprioritaskan aspek higienitas, kenyamanan pekerja, serta dampak terhadap lingkungan. RTGK merupakan salah satu cara bagi pelaku usaha industri tempe untuk mengetahui bagaimana teknologi baru ini tidak hanya bisa membuat kualitas tempe lebih baik dan meningkatkan kinerja produksi, namun juga memberikan kenyamanan bagi para pekerja, mengurangi limbah produksi, serta lebih hemat dari segi investasi dibandingkan proses produksi yang telah ada sebelumnya. Harapan kami dengan adanya teknologi ini, produsen tidak hanya bisa mengurangi dampak terhadap lingkungan, namun juga siap bersaing dengan kualitas produk yang bisa diandalkan.”


RTGK hadir dengan keunggulan tersendiri, yakni menggunakan peralatan yang terbuat dari stainless steel, dengan standar food grade, serta sudah melakukan pengolahan limbah produksi tempe untuk dapat diolah menjadi biogas. Seluruh proses produksi juga dilakukan oleh tenaga kerja yang diharuskan menggunakan standar tertentu seperti mencuci tangan sebelum memasuki ruang produksi, dan wajib menggunakan sepatu khusus dan juga masker ketika memulai proses produksi. Pusat percontohan yang dibangun mulai Maret 2014 hingga Agustus 2014 tersebut hadir sebagai media belajar baik bagi para pelaku usaha industri tempe, maupun masyarakat luas sebagai konsumen. Di RTGK, baik perajin tempe maupun konsumen bisa melihat teknik pengolahan yang dapat menghasilkan tempe yang lebih bersih dan lebih tahan lama.


Peluncuran RTGK ini merupakan bagian dari Pekan Teknologi yang telah berlangsung mulai dari 18 Agustus 2014 hingga 22 Agustus 2014. Pekan Teknologi ini merupakan serangkaian kegiatan yang mengajak para perajin tempe untuk beralih teknologi, seperti Pelatihan Cost Benefit Analysis, Pelatihan Pengelolaan Keuangan, Promosi Peralatan Higienis. Selain itu, Pekan Teknologi ini juga mengajak konsumen khususnya ibu rumah tangga untuk mengkonsumsi tempe higienis dan ramah lingkungan melalui lomba kreatifitas memasak panganan yang berbahan baku kedelai. Berbagai kegiatan tersebut turut melibatkan pengurus dan anggota KOPTI Gunung Kidul, DISPERINDAGKOP, ESDM Kab. Gunung Kidul, BULOG Divisi Regional Provinsi DI Yogyakarta, Forum Tempe Indonesia, dan para perajin tempe.


Pembangunan pusat percontohan untuk proses produksi tempe yang higienis dan ramah lingkungan bukan pertama kalinya dibangun oleh Mercy Corps Indonesia. Sebelumnya, MCI bersama dengan KOPTI Kabupaten Bogor dan Forum Tempe Indonesia membangun pusat percontohan yang sama di Bogor. Pusat percontohan yang diberi nama Rumah Tempe Indonesia tersebut telah berdiri sejak April 2012  dan sampai saat ini sudah mampu mengolah 50Kg Kedelai/hari menghasilkan ± 75Kg tempe per hari-nya. Bersama dengan KOPTI Bogor, Mercy Corps Indonesia juga masih aktif melakukan berbagai kegiatan yang membangun kapasitas perajin untuk siap beralih ke teknologi baru ini.


Seluruh kegiatan untuk mengajak para perajin dan konsumen untuk beralih teknologi tersebut merupakan bagian dari program SCoPe (Scaling Sustainable Consumption and Production in the Soybean Processing Industry) Indonesia. Program ini merupakan hasil kerjasama MCI dengan Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) yang mendapat dukungan dari European Comission dan REEEP (Renewable Energy dan Energy Efficiency Partnership).
 

Program yang telah berlangsung sejak tahun 2012 dan bekerja sama dengan perajin tempe di wilayah Jabodetabek, Bandung, Sumedang, Gunung Kidul dan Kulonprogo, Yogyakarta. Program tersebut berfokus pada produksi bersih tahu tempe mulai dari penggunaan peralatan pengembangan teknologi, penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan, pengurangan emisi karbon, pengolahan limbah produksi dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya produksi dan produk tahu tempe yang berkualitas dan higienis.

Sekilas tentang Mercy Corps Indonesia

Mercy Corps Indonesia merupakan lembaga nirlaba yang memiliki fokus untuk membantu masyarakat Indonesia membangun komunitas yang sehat, produktif, dan tangguh. Mercy Corps Indonesia berfokus pada isu kesehatan dan nutrisi, air dan sanitasi, pemberdayaan ekonomi, pengurangan risiko bencana, adaptasi perubahan iklim, serta tanggap darurat bencana. Melalui berbagai macam programnya, Mercy Corps Indonesia telah membantu masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai daerah di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Maluku.


Informasi lebih lanjut hubungi:

Stella Puteri
Communication Assistant
Mercy Corps Indonesia
stputeri@id.mercycorps.org

Tahu dan Tempe juga butuh Teknologi Ramah Lingkungan

diposkan pada tanggal 28 Nov 2012 01.58 oleh tnapitupulu@id.mercycorps.org

Perubahan iklim yang sedang dialami dunia saat ini membutuhkan respon cepat manusia, dari sisi adaptasi maupun mitigasi. Beragam tindakan dilakukan manusia untuk dapat beradaptasi dengan perubahan iklim dan untuk menahan laju perubahan yang lebih buruk. Salah satu yang didorong adalah mengubah pola konsumsi makanan. Gaya hidup vegetarian dilihat sebagai salah satu upaya mitigasi perubahan iklim.

Konsumsi daging dianggap tidak selaras dengan upaya menekan lepasnya jumlah gas rumah kaca ke udara. Laporan FAO (2006) menyebutkan bahwa 18 persen dari emisi gas rumah kaca bersumber dari peternakan. Angka ini terhitung lebih besar jika dibandingkan dengan total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh seluruh kendaraan di dunia, yaitu 13 persen.

Sekalipun tahu dan tempe merupakan produk olahan kedelai yang direkomendasikan sebagai pangan yang patut dikonsumsi sebagai langkah untuk memitigasi perubahan iklim, namun sampai hari ini, di Indonesia, proses pengolahan kedelai menjadi tahu tempe belumlah ramah lingkungan. Penggunaan kayu sebagai bahan bakar untuk merebus kedelai menjadi batu sandungan bagi industri tahu tempe untuk sepenuhnya bisa menjadi pangan yang mitigatif untuk perubahan iklim. Dalam setahun, satu pabrik tempe bisa melepaskan 27 ton karbon ke udara, sementara satu pabrik tahu melepaskan 452 ton. Usaha untuk menjadikan industri tahu tempe lebih ramah lingkungan yang dengan demikian menjadi industri yang berkelanjutan perlu dilakukan.

Salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah dengan melibatkan beragam pemangku kepentingan seperti kementerian lingkungan hidup, kementerian industri, private sector, dan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) dalam mendorong penggunaan teknologi yang ramah lingkungan dalam industri tahu tempe, misalnya dengan menggunakan vacuum cooker.

Dalam lokakarya yang dilakukan program SCoPe Indonesia Mercy Corps dengan dukungan Uni Eropa, berbagai teknologi dan metode ramah lingkungan yang dapat diaplikasikan pada industri tahu tempe dibahas secara mendalam. Proses membangun Rumah Tempe Indonesia dan teknologi yang diterapkannya juga menjadi bahan diskusi para peserta.

Lokakarya ini kemudian ditutup dengan kunjungan para peserta lokakarya ke Rumah Tempe Indonesia yang terletak di Bogor, Jawa Barat untuk melihat langsung produksi tempe yang higienis dan ramah lingkungan. []

Sehat dengan Pangan berbahan Kedelai

diposkan pada tanggal 26 Sep 2012 23.58 oleh tnapitupulu@id.mercycorps.org

Tahu dan Tempe merupakan pangan kultural Indonesia tapi seberapa baik kita mengenal manfaatnya? Jika disandingkan dengan daging dan produk hasil peternakan, ada kecenderungan masyarakat umum untuk lebih memilih pangan berbasis daging karena dianggap lebih enak dan karena daging dan produk hewan lainnya dipersepsikan sebagai makanan yang lebih berkelas. Padahal kedelai dan produk turunannya jauh lebih sehat, sementara olahannya pun tidak kalah enak.

Teo (2001) membandingkan kandungan protein dan kalsium di dalam beberapa pangan. Dalam paparannya terlihat bahwa kandungan protein di dalam tempe tidak kalah dengan daging sapi ataupun ayam. Jika di dalam per 100 gram tempe terdapat 18,3 gram protein maka di dalam 100 gram daging sapi atau ayam, hanya terdapat 13,6 gram dan 14,5 gram protein. Kandungan protein dalam 100 gram kedelai bahkan melesat lebih tinggi lagi, sebesar 34,1 gram. Jumlah mg kalsium yang didapatkan dari 100 gram tahu dan tempe bahkan juga lebih tinggi dari jumlah mg kalsium – yakni sebesar 128 mg dan 155 mg, dibandingkan 118 mg yang dapat diperoleh dari susu sapi. Mematahkan pendapat yang dianut khalayak awam bahwa susu merupakan penyelia kalsium yang terbaik.

Pangan berbasis kedelai ternyata memiliki khasiat yang luar biasa. Pakar gizi internasional yang juga merupakan Koordinator International Vegetarian Union (IVU) Asia Pasifik Dr Susianto,MKM di dalam seminar yang diadakan oleh Mercy Corps bekerja sama dengan PKK DKI Jakarta, pada 26 September 2012 memperlihatkan bahwa pangan berbasis kedelai mampu melindungi individu dari penyakit jantung, hipertensi, kanker, osteoporosis, ginjal dan kondisi tidak nyaman yang ditimbulkan dari menopause. Pangan berbasis kedelai bahkan memiliki fungsi untuk menangkap radikal bebas sehingga mampu memperlambat proses penuaan. Khususnya untuk pangan berbasis kedelai yang difermentasi seperti tempe, trend global menunjukkan bahwa pangan ini tidak hanya untuk konsumsi biasa tetapi juga akan menjadi food medicine pada penyakit-penyakit seperti asam urat, kanker, jantung, Dementia dan Alzheimer.

Sayangnya berbagai manfaat baik yang diberikan oleh tahu dan tempe belum diimbangi dengan proses produksinya yang kerap belum higienis dan ramah lingkungan. Untuk itu, selain mendorong konsumsi tahu dan tempe sebagai pangan yang sehat, rendah energi dengan harga terjangkau di kalangan masyarakat perkotaan, program ScoPe Indonesia dengan dukungan dari Uni Eropa juga mendorong perubahan cara berproduksi pengusaha tahu dan tempe ke arah yang lebih higienis, sehingga potensi tahu dan tempe sebagai pangan yang menyehatkan lebih terpenuhi.

Di dalam Seminar Utama dan Kompetisi Kreasi Makanan berbahan Tahu Tempe yang diselenggarakan di Gedung PKK Melati Jaya di Jl. Kebagusan Raya No.42 Pasar Minggu, Jakarta Selatan ini juga akan menampilkan Tempekita, tempe higienis dan ramah lingkungan yang merupakan produksi Rumah Tempe Indonesia.[]

RUMAH TEMPE INDONESIA: Membangun Tolak Ukur Industri Tempe di Indonesia

diposkan pada tanggal 5 Jun 2012 19.06 oleh tnapitupulu@id.mercycorps.org

Industri tempe di Indonesia merupakan industri yang dirajai oleh produsen kecil dan menengah yang jumlahnya sangat besar. Kontribusinya terhadap perekonomian kita, yakni sebesar kurang lebih 700 miliar rupiah per tahun tidak dapat dipandang sebelah mata. Meski memiliki kontribusi ekonomi yang besar dan merupakan bagian dari budaya pangan Indonesia, hanya sedikit perhatian yang diberikan terhadap kondisi industri tempe selama ini.

Penuh asap yang memedihkan mata, pengap dan panas, seperti itulah pemandangan pabrik tempe sehari-hari. Asap yang bersumber dari pembakaran kayu untuk perebusan kedelai telah menyebabkan ruangan produksi yang tidak terlalu luas menjadi panas dan pengap, akibatnya memaksa para pekerja untuk melepaskan pakaiannya. Memproduksi tempe dengan bertelanjang dada. Proses pengolahannya juga mengkhawatirkan, karena seperti untuk perebusan, menggunakan drum bekas oli, yang meskipun sudah dibersihkan namun rentan terhadap karat.

Kondisi memprihatinkan ini mendorong Koperasi Pengrajin Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) Kab. Bogor, Mercy Corps dan Forum Tempe Indonesia untuk berinisiatif mendirikan Rumah Tempe Indonesia. Dengan dukungan pendanaan dari beberapa organisasi seperti Kedutaan Uni Eropa, PT FKS Multiagro, PT ANTAM dan American Soybean Association International Marketing (ASA IM), maka Rumah Tempe Indonesia (RTI) ini berhasil dibangun dan diresmikan pada 6 Juni 2012.

Di tempat ini, tempe tidak lagi diolah menggunakan drum-drum bekas oli, melainkan menggunakan peralatan stainless steel yang berstandar food grade. Bahan bakar yang dipakai juga bukan kayu bakar yang melepaskan karbon dengan jumlah besar ke udara, melainkan memakai gas elpiji yang lebih rendah emisi. Selain itu, para pekerjanya juga telah mendapatkan beberapa kali pelatihan GHP (Good Hygiene Practice) terkait tempe dan pengolahan yang lebih higienis. Kemajuan-kemajuan inilah yang akan dijadikan patokan bagi industri tempe Indonesia di masa mendatang.

Selain memproduksi tempe yang higienis dan ramah lingkungan, Rumah Tempe Indonesia juga akan menjadi pusat belajar bagi pengrajin tempe yang lain, sehingga memungkinkan percepatan adopsi dan replikasi teknologi dan menjadikan industri tempe di Indonesia berdaya saing internasional.


Organisasi pendukung Rumah Tempe Indonesia


Perubahan Iklim, Perubahan Gaya Hidup: Saatnya untuk Beralih pada Produksi dan Konsumsi Tahu Tempe yang Lebih Higienis dan Ramah Lingkungan

diposkan pada tanggal 17 Apr 2012 21.56 oleh tnapitupulu@id.mercycorps.org   [ diperbarui26 Feb 2013 19.04 ]

Indonesia termasuk dalam kelompok negara penyumbang gas rumah kaca terbesar di dunia. Setiap tahun kurang lebih 3 miliar ton karbon dilepaskan ke udara. Penyumbang terbesar bersumber dari deforestasi, dan meski perbandingan kontribusi gas rumah kaca dari sektor lain tidaklah sebesar kontribusi deforestasi, namun ada kecenderungan peningkatan secara cepat lepasan gas rumah dari sektor-sektor tersebut. Misalnya, dari sektor energi yang mencakup industri, pembangkit listrik, dan transportasi, yang bertanggungjawab terhadap 9 persen dari lepasan karbon Indonesia. Dalam 25 tahun ke depan jika tidak terjadi perubahan kebijakan pemerintah dan kendala untuk mengakses energi yang terbarukan dan bersih masih besar, jumlah lepasan dari sektor ini akan membengkak menjadi tiga kali lipat. Bergerak dari angka 275 juta ton gas rumah kaca pertahun (berdasarkan perhitungan 2003) menjadi 716 juta ton di tahun 2030.

Dari angka 275 juta ton itu, rupa-rupanya sektor tahu tempe memiliki pengaruh yang cukup besar. Berdasarkan perhitungan unit teknis Perubahan Iklim Mercy Corps pada tahun 2011, satu pabrik tahu tempe rata-rata dapat melepaskan 240 ton gas rumah kaca ke udara. Angka ini jika dikalikan dengan 85,000 produsen tahu tempe yang ada akan menghasilkan angka yang menakjubkan, yaitu 20 juta ton gas rumah kaca. Diperkirakan, jumlah lepasan gas rumah kaca dari industri tahu tempe jauh lebih besar dari angka ini, karena diperkirakan, jumlah produsen tahu tempe kini sudah melebihi angka 110,000 produsen.

Gas rumah kaca dari industri tahu tempe bersumber dari penggunaan kayu bakar, yang secara tradisional dipakai para produsen sebagai bahan bakar untuk  merebus kedelai. Perpindahan dari kayu bakar ke elpiji dapat mengurangi lepasan karbon sebesar 94% pada pabrik tahu dan 96% pada pabrik tempe. Melihat potensi mitigasi yang besar ini, program Scope Indonesia Mercy Corps dengan dukungan Uni Eropa mendorong produsen untuk beralih pada penggunaan teknologi yang lebih bersih dan berkelanjutan

Untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang produksi dan konsumsi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan kepada publik luas, Program SCoPe Indonesia Mercy Corps akan terlibat dalam 2nd Indonesia Climate Change Education Forum & Expo yang diselenggarakan oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim pada 19-22 April 2012 di Jakarta Convention Centre.

Selama berlangsungnya pameran ini, Program SCoPe Indonesia Mercy Corps akan mengadakan pameran  peralatan produksi dan produk tahu tempe yang higienis dan ramah lingkungan  dan juga akan menyelenggarakan talkshow ‘Perubahan Iklim, Perubahan Gaya Hidup: Konsumsi Tahu Tempe yang Ramah Lingkungan’. Talkshow akan membahas tentang kondisi produksi tahu tempe saat  ini dan bagaimana kondisi tersebut dapat diperbaiki, serta akan berbagi kisah tentang pengurus  Koperasi Tahu Tempe dalam membina  anggotanya yang terdiri dari produsen tahu tempe untuk beralih ke teknologi yang higienis dan ramah lingkungan. []


1-6 of 6