Berita

Dalam segmen ini, Anda akan menemukan berbagai berita kegiatan program tempe tahu Mercy Corps Indonesia. Di sini juga Anda dapat temukan berita terkait kegiatan tersebut yang tercantum dalam laman portal berita yang lain.

Untuk informasi: artikel yang ada saat ini merupakan artikel pada program sebelumnya, yang berada pada situs blogspot. Pada artikel pindahan, Anda akan menemukan informasi laman dimana postingan ini berada sebelumnya. Untuk artikel baru, informasi yang dimaksud tidak tercantum.

Untuk dapat menemukan artikel yang Anda cari : ketikkan kata yang Anda maksud pada kotak pencarian di atas. Contoh, jika Anda mencari artikel yang dituliskan pada Februari 2011, maka pada kotak pencarian ketik 'Februari 2011' lalu klik tombol 'Telusuri situs ini'. Semua artikel yang mencantumkan kata 'Februari 2011' akan muncul.

Tahu Tempe goes to Campus

diposkan pada tanggal 5 Mei 2014 00.22 oleh Aditya Krisnarwanto

Entrepreneur Product Show 2014 & Talkshow Tahu dan Tempe Pusat Bisnis dan Kewirausahaan Universitas Gunadarma

Universitas Gunadarma mendorong mahasiswa dan mahasiswinya untuk menjadi wirausahawan muda dengan memberikan bantuan permodalan bergulir bagi mahasiswa dan mahasiswi yang tertarik untuk menjalankan usaha dan atau kepada mereka yang sudah memiliki usaha dan ingin mengembangkan usahanya. Tidak sedikit dari para mahasiswa dan mahasiswinya yang berhasil memajukan usaha dan membuka usahanya. Setiap tahunnya diadakan kegiatan Entrepreneur Product Show , dan untuk kesempatan ini Universitas Gunadarma bekerjasama dengan SCoPe Program Mercy Corps Indonesia mengadakan kegiatan talk show tentang peluang usaha di bidang tahu dan tempe.

Produk tahu dan tempe adalah produk makanan favorit dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Menilik dari besarnya permintaan akan produk tahu dan tempe dan luasnya area pemasaran dari produk tahu dan tempe ini, maka peluang usaha di sektor ini masih sangat terbuka. Yang perlu diperhatikan adalah standar produksi dan mutu/ kualitas produk tahu dan tempe yang harus sudah ditingkatkan dan harus sesuai dengan standar kesehatan pengolahan makanan. Sehingga dapat menciptakan pasar baru dan menjaring konsumen baru untuk produk ini. Pak Sukhaeri ketua KOPTI Kab. Bogor mengatakan : “Tempe dan tahu ini konsumennya cukup banyak, tetapi produk yang sehat dan higienis ini masih langka. Ini adalah kesempatan, peluang yang harus bisa kita ambil”.

Jumlah lapangan pekerjaan semakin lama semakin langka dan berbanding terbalik dengan jumlah pencari kerja. Mahasiswa dituntut untuk mampu membuka lapangan pekerjaan dan menjadi wirausahawan baru.  Namun demikian banyak para pengusaha muda yang patah arang di masa masa awal memulai usahanya. Drs Aris Budi Setyawan, SE, MM mengatakan: “Membuka usaha itu tidak mudah, dibutuhkan mental yang kuat, dibutuhkan ketekunan dan keberanian untuk merugi. Tetapi dari situlah awal keberhasilan seorang wirausahawan.”


Sektor tahu dan tempe bisa dibilang masih kurang diminati oleh kaum muda karena produksinya yang membutuhkan tenaga fisik yang cukup banyak. Namun demikian sebenarnya potensi usaha di bidang ini masih sangat luas. Seperti dikatakan oleh Bpk. Hidayat M. noor seorang praktisi di bidang pengolahan makanan yang banyak melakukan pengembangan dan variasi menu makanan berbasis tahu dan tempe “Tahu dan Tempe ini adalah makanan yang mudah diolah menjadi bentuk makanan yang lain dan mudah diterima oleh lidah masyarakat internasional. Terlebih lagi tahu dan tempe punya nilai gizi yang lebih daripada makanan olahan lain yang biasa kita makan seperti sosis atau makanan sejenisnya tetapi punya rasa yang bisa dibuat mendekati rasa sosis itu sendiri”

Kurang lebih ada 200 mahasiswa dan dosen yang menghadiri kegiatan talk show yang diadakan di Gedung D lantai 6 Universitas Gunadarma Kampus Margonda Depok tanggal 24 April 2014 ini. Sebagian besar mahasiswa menanyakan tentang bagaimana memulai usaha dan menanyakan tentang peluang usaha di bidang tahu dan tempe.

Kegiatan talk show ini ditutup dengan demo memasak menu olahan tahu dan tempe. Ada tiga menu yang didemokan yaitu : 1) nugget tempe, 2) tofu cordon bleu, 3) bajigur tempe. Mahasiswa dan Dosen Gunadarma tidak menyangka bahwa tahu dan tempe dapat diolah menjadi makanan yang lezat dan bisa pula diolah menjadi minuman yang menyegarkan.

Beberapa mahasiswa(i) dan dosen menyatakan minatnya untuk dapat melakukan kegiatan riset dan magang di Rumah Tempe Indonesia untuk mempelajari tentang proses produksi dan managemen usaha Tempe Kita. Beberapa mahasiswi yang lain setelah melihat demo memasak dalam kegiatan ini menyatakan ketertarikannya untuk menjalankan usaha produk olahan tahu dan tempe dan akan segera memulai usahanya dalam waktu dekat ini. 

Penyuluhan Keamanan Pangan (PKP) produsen tahu dan tempe Jakarta Selatan

diposkan pada tanggal 4 Mei 2014 21.12 oleh Aditya Krisnarwanto   [ diperbarui5 Mei 2014 00.30 ]

Kesadaran akan pentingnya keamanan industri pangan dan meningkatnya kesadaran produsen makanan akan produksi bersih industri makanan menjadi tuntutan untuk pengembangan industri makanan menuju ke perdagangan bebas asia tahun 2015. Salah satunya untuk sektor tahu dan tempe. Tahu dan tempe adalah makanan yang mudah ditemui di masyarakat umum dan memiliki prospek pasar yang sangat besar.

http://cdn.bisnisukm.com/2014/03/pasar-bebas-asean.jpg

Bila dihitung dari jumlah jumlah penduduk, Indonesia menempati angka terbesar dibandingkan dengan Negara lain ASEAN. dan ini berarti Indonesia akan dibanjiri produk produk dari Negara ASEAN lainnya, karena prospek pasarnya yang begitu besar. Para produsen di tanah air haruslah waspada dengan hal ini. Pada tahun 2015 nanti pasar akan dibanjiri produk produk dengan standar dan kualitas yang beragam dan masyarakat akan diberi kebebasan untuk memilih produk mana yang akan mereka konsumsi. Jangan sampai pasar potensial ini justru diambil oleh pihak luar dan produsen lokal hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Produsen harus mampu bersaing dan menghasilkan produk yang juga diminat oleh konsumen lokal.

http://2.bp.blogspot.com/-xVvYla628hc/UVNOI6pBGzI/AAAAAAAAADI/ljIvuqrlAVA/s1600/Untitled.png

Jakarta selatan adalah salah satu wilayah kerja program SCoPe Mercy corps Indonesia dan di wilayah ini SCoPe bekerjasama dengan KOPTI Jakarta Selatan melakukan kerjasama pengembangan cluster produksi tahu dan tempe yang bersih dan higienis serta sudah melakukan pengolahan terhadap limbahnya. Dan untuk menyempurnakannya diperlukan sertifikasi atas produk yang diproduksi sebagai bukti bahwa produk mereka sudah aman, layak dan memiliki standar keamanan pangan seperti yang sudah disyaratkan oleh pemerintah.

Pada tanggal 30 April 2014 bertempat di SMK 57 Jati Padang, Jakarta Selatan, produsen tahu dan tempe di cluster Tanjung Barat  dan produsen tahu tempe lain di wilayah lain di Jakarta Selatan yang sudah melakukan perubahan pada produksi tahu dan tempenya namun belum memiliki sertifikat P-IRT diundang untuk mengikuti kegiatan Pelatihan Keamanan Pangan. Total ada 43 orang produsen tahu dan tempe di wilayah Jakarta Selatan menghadiri kegiatan PKP sebagai syarat untuk mendapatkan P-IRT. Ini adalah program Penyuluhan Keamanan Pangan gelombang ke dua yang menyasar pada produsen tahu dan tempe di wilayah Jakarta Selatan yang belum memiliki sertifikat P-IRT. 


Kegiatan PKP ini dipimpin oleh Bpk. Deden Muliadi unit pelaksana SUKU Dinas Kesehatan Jakarta Selatan. Materi yang disampaikan antara lain penerapan konsep higienis dalam proses produksi, pelabelan produk, peraturan-peraturan tentang pengolahan pangan yang berskala home industry, dan lain-lain.

Diharapkan kedepan, banyak pengrajin tahu tempe yang termotivasi untuk menerapkan sertifikasi P-IRT terhadap produk mereka. Sehingga pengrajin tahu tempe ini siap bersaing di pasar bebas asia 2015.


1000 Petualang Cilik di Rumah Tempe Rumah Perubahan

diposkan pada tanggal 3 Apr 2014 19.53 oleh Aditya Krisnarwanto   [ diperbarui3 Apr 2014 21.36 ]

rumah tempe
Pada tanggal 23 Maret 2014 bertempat di Rumah Perubahan - Rhenald Kasali Center of Social Change Jl. Raya Hankam, Jatimurni, Bekasi, Jawa Barat diadakan kegiatan 1000 petualang cilik. Acara ini ditujukan bagi anak-anak untuk mengalami kegiatan wisata edukasi luar ruang selain itu acara ini juga ditujukan kepada orangtua anak untuk mendapatkan penyuluhan tentang makanan sehat keluarga. Acara ini juga merupakan acara berseri yang akan dilakukan sampai pesertanya mencapai 1000 anak.

Salah satu acara dalam rangkaian acara 1000 petualang cilik ini adalah kunjungan anak-anak ke rumah tempe. Di tempat ini anak-anak diajak untuk mengalami sendiri proses pembuatan tempe, mulai dari sortir kedelai sampai dengan proses fermentasi tempe.

anak-anak antusias mengikuti kegiatan

Rumah Tempe Rumah Perubahan adalah sebuah rumah produksi tempe yang juga merupakan pilot project produksi tempe dan tahu yang ramah lingkungan dan higienis. Setiap harinya Rumah Tempe Rumah Perubahan memproduksi tempe untuk dipasarkan ke lingkungan sekitar. Yang menjadikan keunikan dan kelebihan dari produksi tempe di tempat ini dibandingkan dengan tempat yang lain selain daripada produksinya yang bersih dan sehat adalah penggunaan air embun sebagai bahan baku pembuatan tempe. Air embun ini didapatkan dengan menangkap kelembaban udara kemudian dikondensasikan menggunakan mesin sehingga dihasilkan air.

Rumah Tempe Rumah Perubahan juga melakukan pengolahan limbah produksi Tahu dan tempe untuk diolah menjadi biogas. Untuk menambah kapasitas produksi biogas yang dihasilkan, ditambahkan bahan biogas yang lain yaitu kotoran ternak sapi yang diambil dari peternakan sapi di lingkungan Rumah Perubahan.

Pada siklusnya, produksi tahu dan tempe di Rumah Tempe Rumah Perubahan saling berkaitan erat dengan peternakan. Sampah hasil pengolahan kedelai akan menjadi makanan bagi ternak dan limbah ternak menjadi bahan bakar pendukung produksi tahu dan tempe. 
 




Melalui pendidikan ini diharapkan anak-anak memahami tentang produksi sehat dan bersih tempe, sehingga mereka akan manjadi pioner di masa mendatang untuk perubahan industri tahu dan tempe dan juga menjadi konsumen tahu dan tempe yang memahami tentang pentingnya produk yang sehat dan proses produksi tahu dan tempe yang higienis. 

Beberapa anak yang diwawancara paska mengikuti petualangan di Rumah Tempe Rumah Perubahan mengatakan bahwa ini adalah kali pertama mereka merasakan langsung bagaimana membuat tempe dan ternyata membuat tempe itu menyenangkan. "Kalau di TV kita melihat produksi tempenya jorok, di sini semuanya bersih, saya mau makan tempe". 

Exchange Visit

diposkan pada tanggal 29 Jan 2014 18.58 oleh Aditya Krisnarwanto   [ diperbarui29 Jan 2014 19.02 ]

Kunjungan Pengurus dan Produsen Tahu dan Tempe dari PRIMKOPTI Gunung Kidul dan Kulon Progo dan Perwakilan DISPERINDAGKOP Provinsi D.I. Yogyakarta ke area program SCoPe di Jakarta dan Bogor.

Salah satu program SCoPE yaitu mengadakan Studi Banding (Exchange Visit) Produsen Tahu dan Tempe sebagai bentuk peningkatan kemampuan dalam penggunaan teknologi, bahan baku, dan sumber daya. Seperti studi banding yang pernah dilakukan oleh Produsen Tahu dan Tempe dari Bogor ke Yogyakarta, pada tanggal 20-23 Januari 2014 program SCoPe mendatangkan pengurus KOPTI Kab. Gunungkidul, KOPTI Kab. Kulon Progo, DISPERINDAGKOP Provinsi DIY, dan perajin tahu dan tempe dari masing masing wilayah tersebut ke Jakarta dan Bogor. Sejumlah 20 orang peserta dari Yogyakarta turut serta dalam kegiatan ini. Berbagai kunjungan kegiatan mereka lakukan selama studi banding, dimana semua peserta terlihat antusias untuk ikut serta dalam kegiatan.

biogas bertekanan tinggi
Pada hari pertama, rombongan langsung menuju Bogor untuk beristirahat. Kegiatan dimulai pada hari ke dua menuju ke Duren tiga Pabrik Tahu Milik Pak Heri, Jakarta Selatan untuk melihat pemanfaatan dan teknologi terbaru biogas yang dikembangkan oleh Bapak Sanyoto untuk industri tahu. Di tempat ini para peserta merasa takjub dengan api yang dihasilkan dari biogas yang bisa menyala dengan stabil dan dengan tekanan yang besar. Peserta sangat aktif menanyakan banyak hal tentang teknologi pemampatan biogas ini.

Semua peserta terkesima dengan nyala api yang dihasilkan dari biogas air limbah pengolahan tahu.

Selanjutnya peserta menuju ke cluster tahu dan tempe di Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Di tempat ini peserta melihat penataan ruang produksi bersama perajin tahu dan tempe yang sudah menggunakan teknologi ketel uap versi terbaru yang dapat menghemat penggunaan LPG sampai dengan 35% dari pemakaian normal serta dapat menghemat waktu produksi, sehingga setiap harinya 22 perajin tahu dan tempe dapat melakukan proses produksi di tempat ini.
Dalam kegiatan ini, peserta juga melakukan dialog dengan pengurus KOPTI Jakarta Selatan mengenai teknologi dan sistem pengaturan produksi yang dilakukan di cluster tersebut. Tidak sedikit peserta yang menanyakan tentang penggunaan ketel uap, baik tentang teknologinya, penghematan bahan bakarnya, penghematan waktu produksi serta harga ketel uap dan spesifikasinya.

Pada malam harinya peserta diajak berdiskusi mengenai usaha peningkatan kapasitas dan pendalaman tentang prospek industri tahu dan tempe serta pengembangan peralatan dan teknologi di sektor tahu dan tempe. Diskusi ini disampaikan oleh Pak Sukhaieri dari Primkopti Kab. Bogor untuk melakukan kajian kerjasama atara perajin, pengurus KOPTI dan pemerintah dan pihak terkait. Apa sajakah yang bisa dikaitkan dan dikerjasamakan diantara mereka dan apa saja yang harus dilakukan untuk menjalin kerjasama diantara mereka.


Pada hari ke tiga, rombongan diajak menuju ke KOPTI Kabupaten Bogor untuk melihat kondisi KOPTI Kabupaten Bogor dan melihat produksi tempe di Rumah Tempe Indonesia (RTI). Dari kunjungan ini peserta dari DISPERINDAGKOP Provinsi DIY langsung menghubungi rekanan kerja mereka di Yogyakarta dan melaporkan apa yang dia temui di RTI. Para peserta tidak pernah menyangka bahwa produksi tempe sudah sampai sedemikian bersih dan sudah sangat tertata.

Dari kunjungan ini peserta juga melihat peralatan produksi tahu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Peserta sangat antusias melihat pengembangan teknologi yang sudah dilakukan oleh KOPTI Kabupaten Bogor. Salah seorang peserta bahkan langsung memesan satu peralatan produksi tahu.

Keseluruhan kegiatan kunjungan ini ditutup dengan workshop mengenai analisa keuntungan dan biaya penggunaan teknologi bersih produksi tahu dan tempe, tantangan dan hambatan (SWOT), serta rencana tindak lanjut pasca kegiatan kunjungan ini. Peserta segera merumuskan kegiatan yang akan mereka lakukan paska kegiatan kunjungan ini dan mereka sepakat untuk segera melakukan kegiatan untuk dapat mengaplikasikan teknologi bersih ini di wilayah mereka.

Pihak DISPERINDGKOP Provinsi DIY juga menyatakan keseriusannya untuk dapat menjembatani para perajin tahu dan tempe untuk dapat mengakses bantuan maupun untuk menyelenggarakan pertemuan bersama antar KOPTI se-DIY.

MoU sign between KOPTI Jakarta Selatan and Bank Syariah Mandiri Pejaten Raya

diposkan pada tanggal 2 Jan 2014 22.45 oleh Aditya Krisnarwanto

A new achievement of Mercy Corps Indonesia-PUPUK SCoPe Program founded by European Comission and REEEP has arisen lately. Primkopti Jakarta Selatan finally meets an agreement with Bank Syariah Mandiri Pejaten Raya Branch.
The Signing of Memorandum of Understanding (MoU) between Primkopti Jakarta Selatan and Bank Syariah Mandiri KCP Pejaten Raya was held on December 17th 2013.This letter of understanding is about supporting and facilitating members of Kopti South Jakarta to apply loan regarding tofu and tempe equipment purchase.

The Signing process run smooth and well, both parties agreed and committed to corporate in financial support with some agreement made during the loan process

Representative from Primkopti Jaksel who signed the MoU are:
1.    Head of Primkopti Jaksel : Bpk. Tohari S                                                             
2.    Vice director of Primkopti Jaksel Bpk. H. Sutaryo
3.    Secretary of Primkopti Jaksel Bpk. Ahmad Saikhu
4.    Treasure of Primkopti Jaksel Bpk. Abdul Hamid
5.    Steering Committee of Primkopti Jaksel Bpk. H. Tjasbari and Bpk. Rasdjo



Representatives from Bank Syariah Mandiri are:

1.    Head of Bank Syariah Mandiri Jakarta-Pejaten Raya Branch: Ibu Deasy Anggraini
2.    Micro Analysis Assistance of Bank Syariah Mandiri Jakarta-Pejaten Raya Branch: Bpk. Indra Wahyudiansyah


By signing the MoU, Primkopti agreed to act as promoter who selecting and promoting tempe and tofu producer who wanted to apply the loan. As a matter of fact, Primkopti will also act as a guarantor if there where something happened in the future. 

Most of tempe and tofu producers are micro producers who are having only a small saving. They arhaving very small income and having not enough warranty to access loan from Bank or any monetary institution as the Bank or monetary institution needs a warranty (land letter, house, cars, or any valuable things) for those who wanted to access loan from them. In accordance to it, this achievement becoming important because it means that tofu and tempe producer can access a soft loan in order to upgrade their production tools and equipment without any loan warranty as any other monetary institution asked.

Afterwards, Mercy Corps Indonesia will conduct next event to follow up potential market collaborate with Primkopti South Jakarta and PT Bank Syariah Mandiri Jakarta-Pejaten Raya Branch in January 2014. 


Cross Visit to Yogyakarta

diposkan pada tanggal 8 Des 2013 20.20 oleh Aditya Krisnarwanto   [ diperbarui8 Des 2013 20.23 ]

Seeing is Believing
Kunjungan KOPTI Bogor ke KOPTI Gunung Kidul dan Studi Banding Ke Pabrik Tahu di Gunung Kidul dan Pabrik Tempe di Bantul

Pabrik Tahu H. karyono, Gunung Kidul

Pabrik Tempe Muclar


Pada tanggal 25-27 November 2013, Pengurus dan anggota KOPTI Bogor difasilitasi oleh Mercy Corps SCoPe program, melakukan studi banding ke Yogyakarta. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk melihat sistem produksi dan managemen produksi tahu dan tempe di daerah lain.

Yogyakarta termasuk salah satu kota dengan jumlah pengusaha tahu dan tempe yang cukup banyak dan tersebar merata di 5 kabupaten. Kapasitas produksi dari masing-masing pengusaha juga bervariasi, beberapa diantaranya bahkan memiliki jumlah produksi yang cukup besar 2-3 ton kedelai perhari.

Dengan jumlah produksi yang cukup besar tersebut, perlu dipelajari tentang tata cara pengolahan dan managemen produksinya sehingga didapatkan bagaimana cara mencapai target produksi tersebut.

Tujuan lain dari studi banding ini adalah untuk melihat dan mebandingkan kondisi KOPTI di wilayah Gunung Kidul dan Kulon Progo Yogyakarta dengan kondisi KOPTI wilayah Bogor. Dengan komparasi ini diharapkan agar supaya masing-masing daerah bisa melihat kelemahan dan kekuatan masing-masing KOPTI untuk dapat mengembangkan organisasi mereka di kemudian hari. Demikian pula dengan anggota KOPTI yang menjadi pengusaha tahu dan tempe, mereka dapat melihat langsung dan menanyakan secara detail kiat-kiat apa yang bisa dilakukan untuk mengembangkan usaha mereka.

Secara keseluruhan kedua belah pihak mendapatkan informasi yang saling melengkapi. Satu sisi mereka mendapatkan manajemen pengelolaan usaha dan di sisi lain mereka mendapatkan pengetahuan baru mengenai teknologi bersih pengolahan tahu dan tempe.

diposkan pada tanggal 8 Des 2013 20.18 oleh Aditya Krisnarwanto


No clue where the money goes....

diposkan pada tanggal 9 Jul 2013 03.35 oleh mnursholiqin@id.mercycorps.org

A warehouse for soybeans in Jakarta - a group of women sits on the floor listening to a speaker. This is the scene of a financial literacy class organised by the SCoPe - Soybean Processing project in June 2013. one of the participants explained why she came. The women said that she had been reminded on the importance of doing daily bookkeeping, because she sometimes felt that she had no clue where the money went. 

Women are an important target group of the project as traditionally the wife in the family manage the money/cash received from tofu tempe business, either for household or business expenses. In order to interest women in the financial training, the project combines the bookkeeping session with a cooking demo.The training usually starts with the cooking demo. 

Two award winning young chefs presented innovative recipes. The financial literacy training itself takes about 1 hour long, which starts from presenting the underlyings/ reasonings why the producers need to have a well documented financial bookkeeping.
 
Afterward, the facilitators engage the producers in the simulation of daily financial bookkeeping. The simulation includes two main financial planning principles: (1) how to do daily bookkeeping and (2) how to calculate the amount of money needed to save for different purposes (business purpose, household purpose). The simulation engages producers in doing daily bookkeeping (which includes the introduction of the basic accounting terms: income, outcome (expense); the calculation of balance) and calculating the amount of money to be saved for different kind of purposes. The simulation is based on a special case, that has been previously by the team.

Most participants said that the event was useful and impressive, the material presented by facilitators was easily understood, they got valuable knowledge on financial planning and the recipes of processed foods based on tofu and tempe. At the end of the training, the project team asked participants commitments to do their daily bookkeeping and to start saving and allocating some money for different purposes by using special envelope given as training kit, along with accounting book, pen and financial literacy modul.

So far most tempe and tofu producers are still lacking in their financial literacy, especially in the areas of bookkeeping and financial planning. They have done their business long time without any good bookkeeping. That's why, the financial institutions face challenges when checking producers' financial records. Consequently, producers have difficulties to access loan from the financial institution.

Tempe dan Tahu Siap Melakukan Perubahan!

diposkan pada tanggal 27 Mei 2013 02.01 oleh mnursholiqin@id.mercycorps.org   [ diperbarui27 Mei 2013 18.21 ]

Tempe dan Tahu Siap Melakukan Perubahan!

Salah seorang akademisi terkemuka yang juga sekaligus sebagai motivator perubahan, Prof. Rhenald Kasali Ph.D memuji apa yang telah dilakukan oleh Rumah Tempe Indonesia (RTI). Dengan merubah standard produksi menjadi lebih tinggi maka diharapkan RTI dapat menjadi lokomotif perubahan di sektor tempe baik dari sisi produsen maupun konsumen. Hal ini disampaikannya disela-sela beliau mengunjungi lokasi Rumah Tempe Indonesia di Kota Bogor pada hari Kamis sore tanggal 2 Mei 2013 lalu.

Kegiatan tersebut terselenggara sebagai bentuk fasilitasi program SCoPe Indonesia yang bekerja sama dengan Rumah Perubahan dalam upaya membantu pengembangan kapasitas lembaga asosiasi koperasi produsen tempe tahu di Indonesia dalam pengelolaan wacana dan penyebarluasan informasi yang terkait pada implementasi teknologi berkelanjutan dalam produksi dan konsumsi tahu tempe yang berkelanjutan pada skala nasional.

Pada kesempatan sebelumnya, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D juga memberikan pencerahan pada para pengurus pusat Gakopti (Gabungan Koperasi Tempe Tahu Indonesia) dan KOPTI dari wilayah DKI Jakarta, Kota Depok, Kota bogor, Kab. Bogor, Serang dan Cianjur di acara Lokakarya Kepemimpinan dalam Menerapkan Teknologi Berkelanjutan dalam Produksi dan Konsumsi Tempe dan Tahu yang Berkelanjutan. Untuk kedepannya diharapkan para pengurus KOPTI tersebut mampu mendorong perubahan di wilayah kerja mereka masing-masing.  ‘Sangat bagus dan mencerahkan sekali apa yang disampaikan oleh Prof. Rhenald dan kami siap melakukan perubahan. Terima kasih!’, seru Pak Pak Endang, salah satu peserta acara lokakarya dari Kopti Kab. Bogor. (M. Ridha/Alique. N)

Yuk, Kita Buat Kroket Tempe!

diposkan pada tanggal 15 Apr 2013 20.30 oleh mnursholiqin@id.mercycorps.org   [ diperbarui15 Apr 2013 20.32 ]


“Pak, kemarin saya nonton di tivi, ada Pak Hidayat masak dan bikin juice dari tempe. Saya penasaran, sudah nggak sabar nanti orangnya mau masak di sini”, kata Ibu Nuraji yang tampak bersemangat sekali untuk segera mengikuti kegiatan demo masak makanan olahan tempe yang dilakukan setelah pelatihan pencatatan keuangan. Acara demo masak menghadirkan Bapak Syam Hidayat M. Noor, seorang chef senior yang juga praktisi makanan olahan dari tempe.

 

Sebelum memperagakan pengolahan makanan, Pak Hidayat dan timnya menyajikan kroket tempe dalam kemasan belum goreng kepada para peserta. Ia menjelaskan bahwa tempe bisa diolah menjadi makanan apapun asal tahu bagaimana penanganan yang sesuai sehingga dapat menghilangkan aroma langu khas kedelai. “ Tempe sebelum diolah harus dikukus dulu, penanganan selanjutnya tergantung tempe mau dibuat menjadi apa”, papar Pak Hidayat.

 

Sambil bercerita Pak Hidayat membagikan minuman bajigur tempe di yang disajikan dingin di dalam gelas-gelas kecil kepada semua yang hadir. “Enak, rasanya seperti susu kedelai namun lebih kental dan gurih,” komentar sebagian besar peserta.


Dikelilingi para peserta yang antusias melihat, Pak Hidayat sangat cekatan menggoreng kroket-kroket dari kemasan yang sebelumnya telah ia tunjukkan itu. Setelah cukup banyak yang matang, kroket-kroket tersebut dibagikan kepada para peserta untuk dicicipi. “Wah ini seperti combro,” tukas Ibu Yanah, salah seorang peserta, disambut tawa hadirin lain.

 

Bersama tim, Pak Hidayat membagi keahlian membuat kroket, mulai dari adonan, pembuatan lem dan juga pemaniran sampai dengan penggorengan kembali. Bumbu dan bahan lain yang dipergunakan juga ia bagikan.

 

Selain untuk menyemarakkan kegiatan pelatihan pencatatan keuangan, acara demo masak ini ditujukan untuk memberikan pengetahuan bagi ibu-ibu produsen tempe tentang makanan olahan yang sehat dari tempe dan juga untuk mendorong terciptanya peluang usaha baru dengan memanfaatkan sisa tempe yang tidak terjual – misalnya dengan membuat kreasi resep produk olahan makanan yang tentunya dapat menambah  pendapatan bagi rumah tangga produsen tempe.


Lebih dari satu jam acara demo masak malam itu berlangsung, diakhir acara sebagian peserta berfoto bersama Pak Hidayat. “Acara malam ini bagus, senang akhirnya bisa ketemu dengan Pak Hidayat dan tim, yang ternyata salah satunya adalah tetangga saya dari kampung di Pekalongan”, terang Ibu Nuraji dengan gembira. (Alique / Tina)

1-10 of 53