Mengapa teknologi berkelanjutan

Beragam pihak yang berbeda memiliki alasan yang berbeda pula untuk berpindah pada produksi yang memanfaatkan teknologi berkelanjutan, atau untuk mengkonsumsi produk yang dihasilkan dari proses yang telah mengadopsi teknologi berkelanjutan atau untuk mendukung beralihnya proses produksi menjadi lebih ramah lingkungan.

Kepedulian terhadap alam, fenomena perubahan iklim yang sedang terjadi merupakan alasan-
alasan utama bagi konsumen, sementara bagi produsen, alasan peralihan teknologi lebih disebabkan karena teknologi berkelanjutan yang lebih efisien sehingga dapat menekan biaya produksi. Kedua alasan ini, menjadi argumentasi yang baik bagi pemerintah untuk mendorong dan memberikan insentif pada proses peralihan teknologi: berkontribusi terhadap upaya internasional untuk menekan emisi karbon dan meningkatkan kesejahteraan produsen kecil dan rumah tangga.

Penjabaran dari semua itu, dapat ditemukan disini. 


Saatnya Beralih ke Produksi Tahu Tempe yang Lebih Higienis, Efisien dan Ramah Lingkungan

diposkan pada tanggal 23 Feb 2012 19.40 oleh Tina Napitupulu   [ diperbarui23 Feb 2012 20.01 ]

Orang Indonesia mana yang tak mengenal tahu dan tempe? Bisa dipastikan hampir tidak ada yang tak mengenalnya. Tahu memang bukanlah pangan asli Indonesia melainkan dari Negeri Tiongkok yang telah lama diperkenalkan oleh para pendatang dari daratan tersebut kepada masyarakat Indonesia, sementara tempe adalah makanan asli Indonesia yang mengakar dari tradisi masyarakat Jawa. Kedua jenis makanan yang berbahan baku kacang kedelai ini sangat digemari oleh masyarakat, entah sebagai lauk-pauk ataupun cemilan. Sebagai makanan yang sering dikonsumsi, tahu dan tempe mudah dijumpai di pasar. Harganya yang sangat terjangkau, pengolahannya yang mudah seperti digoreng, dibacem, atau bahkan direbus, serta kandungan gizinya yang tinggi membuat masyarakat dari semua kalangan, terutama masyarakat dari kalangan bawah menjadikannya sebagai makanan favorit.

Kebutuhan akan produk tahu dan tempe yang begitu tinggi di Indonesia, selama ini sebagian besarnya dipenuhi oleh Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM). UMKM merupakan kelompok mayoritas dari antara 85.000 produsen tahu tempe yang telah mempekerjakan 285.000 orang pekerja, yang 40 hingga 50 persennya adalah perempuan ini. Namun sayang, meskipun tahu tempe adalah makanan yang populer, dan industri ini bukanlah industri yang kecil dalam jumlah produsen ataupun kemampuannya menyediakan lapangan pekerjaan,  tidak banyak masyarakat luas yang mengetahui benar mengenai proses produksinya. Masyarakat lebih mengetahui produk akhirnya, berupa tahu dan tempe yang siap diolah untuk dikonsumsi, yang tersedia di pasaran.

Di dalam proses produksi tahu tempe, terutama semenjak dihapuskannya subsidi pemerintah atas minyak tanah, para produsen tahu tempe lebih memilih untuk kembali menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk merebus kedelai. Akses terhadap kayu bakar yang masih sangat mudah dan murah, dan bahkan di beberapa daerah bisa didapatkan secara secara gratis, menjadi alasan yang kuat bagi para produsen untuk menggunakan kayu. Tetapi kemudahan untuk mendapatkan kayu tidak dirasakan oleh produsen tahu tempe yang berada di kawasan perkotaan seperti di kawasan Jabotabek, karena mereka harus mengeluarkan uang untuk membeli kayu. Harganya bervariasi sesuai dengan jenis kayu yang yang digunakan, apakah kayu pohon besar, kayu-kayu bekas bangunan atau kayu bongkaran atau kayu dari kebun karet yang didatangkan dari kawasan sekitar Jakarta, semisal Rangkasbitung atau Kabupaten Bandung, dan jenis kayu lainnya.

Proses pembakaran kayu untuk merebus kedelai dalam produksi tempe, atau untuk memasak bubur kedelai tahu atau pun untuk sekadar memanaskan ketel uap tahu, telah menghasilkan dampak yang merugikan, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap produsen dan lingkungan sekitar tempat produksi. Selain membutuhkan tempat khusus untuk menumpuk kayu sebagai stok bahan bakar, pembakaran kayu juga memunculkan asap yang membuat kondisi bekerja di dapur menjadi tidak efisien. Kondisi di dalam dapur dengan hawa udara yang panas, mempengaruhi pilihan tindakan pekerja misalnya dengan bertelanjang dada atau memakai baju yang tidak sesuai dengan standar proses produksi makanan yang higienis. Asap dari pembakaran kayu juga menyebabkan pencemaran udara bagi wilayah sekitar pabrik, dan ini kerap memicu konflik sosial dengan penduduk sekitar pabrik tahu tempe.

Industri Tahu Tempe dan Perubahan Iklim

Proses pembakaran dalam jumlah besar yang telah kerap dilakukan dalam jangka panjang inilah yang pada akhirnya turut menyumbang tingkat emisi karbon yang tinggi. Berdasarkan catatan tim Climate Change MercyCorps, pembakaran kayu bakar sebagai bahan bakar yang digunakan dalam proses produksi tahu tempe dapat melepaskan 29 juta ton karbon ke udara per tahun. Untuk itulah upaya melakukan kampanye produksi tahu tempe yang higienis, efisien dan ramah lingkungan dengan melakukan penyadaran kepada para produsen tahu tempe dan juga dengan memberikan edukasi terhadap mereka tentang teknologi produksi yang lebih efisien dan ramah lingkungan perlu dilakukan.

Beragam cara dapat dilakukan untuk mengurangi emisi karbon dalam proses pembuatan tahu tempe, antara lain seperti penggantian bahan bakar dari kayu ke gas elpiji, dan penggunaan teknologi ketel uap untuk perebusan tahu dengan bahan bakar gas dan instalasi biogas yang memanfaatkan limbah cair tahu tempe. Upaya lain untuk mengokohkan perubahan pada produsen adalah dengan melakukan penyadaran dan edukasi terhadap konsumen produk tahu tempe akan pentingnya mengenali dan mendukung produksi makanan tahu tempe yang aman dikonsumsi dan berkualitas.

Dengan melakukan sosialisasi kepada produsen tentang produksi higienis dengan peralatan produksi higienis, penguatan organisasi koperasi produsen, memperkenalkan mekanisme pembelian peralatan higienis melalui kredit leasing, mendorong penggantian peralatan produksi tahu tempe yang sesuai dengan standar produksi higienis, seperti penggantian peralatan semisal dandang tempe stainless steel dan pemakaian gas elpiji untuk produksi tempe, dan dengan mendorong penggunaan tahang tahu stainless steel yang lebih higienis untuk menggantikan tahang kayu dan pemakaian ketel uap berbahan bakar gas elpiji yang lebih efisien serta pemasangan instalasi biogas, dan pemasaran produk tahu tempe higienis dengan berlabel untuk produksi tahu, menjadikan upaya mewujudkan produksi tahu tempe yang lebih berkualitas dan aman untuk dikonsumsi serta lebih ramah lingkungan sebagai sebuah tantangan bersama yang harus dilalui. (M. Nursholiqin/htn)

Ketel Uap (Steam Boiler) LPG untuk Tahu

diposkan pada tanggal 16 Feb 2012 19.32 oleh Tina Napitupulu   [ diperbarui28 Feb 2012 18.13 ]

Penggunaan kayu bakar dalam industri kecil khususnya industri tahu merupakan masalah tersendiri yang sampai saat ini masih menjadi dilema bagi pengrajin. Semenjak pencabutan subsidi minyak tanah beberapa tahun yang lalu membuat kayu menjadi alternatif utama untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar.

Tingginya tingkat polusi yang dihasilkan oleh kayu bakar, rendahnya efisiensi kalor, ketiadaan ruang untuk menyimpan kayu bakar, serta naiknya harga kayu bakar menjadi momok bagi pengrajin tahu. Kebutuhan kayu bakar pada indiustri tahu tradisional berkisar antara 1,5 ton/ukm perhari dan jika diakumulasikan dengan jumlah ukm tahu yang ada di jabodetabek yang berkisar antara 2500-3000 ukm maka kebutuhan kayu bakar pengrajin tahu di jabodetabek perhari adalah 4000-4500 ton/hari.

Penggunaan ketel uap yang berbahan bakar LPG merupakan solusi yang dianggap cukup tepat karena minim polusi, memiliki efesiensi kalor yang tinggi serta tidak membutuhkan ruang yang luas untuk penyimpanan.

Penggunaan LPG sebagai bahan bakar berkonsekuansi pada desain ketel yang harus sesuai dengan karakter LPG tersebut, sehingga pengrajin tahu harus melakukan investasi yang relative besar jika ingin menggunakan LPG. Oleh karena itu Mercy Corps mencoba mensosialisasikan teknologi tersebut dengan mendatangkan satu unit ketel berbahan bakar LPG yang di produksi oleh Fateta UGM Jogjakarta. Ketel tersebut di hibahkan kepada pengrajin tahu yaitu H. Momo Sutisna yang  berlokasi di Utan kayu Jakarta timur, Adapun dengan pemasangan ketel uap berbahan bakar LPG ini diharapkan nantinya dapat menjadi model bagi pengrajin tahu lainnya di Jabodetabek sehingga mau untuk beralih dari kayu bakar ke LPG.

Biaya bahan bakar yang dikeluarkan oleh pengrajin tahu dengan ketel uap LPG ini diharapkan mampu menghemat 15-20% biaya bahan bakar jika dibandingkan dengan biaya bahan bakar kayu. disamping itu kebersihan tempat produksi juga menjadi lebih baik dengan tidak adanya asap dan debu.

Posting awal di http://tnt-warehouse.blogspot.com/2011/12/ketel-uap-steam-boiler-lpg-untuk-tahu.html pada Jumat, Desember 23, 2011

1-2 of 2