Tempe Bersih dari Bukit Cigudeg - Healthy Tempe from Cigudeg hill

diposkan pada tanggal 23 Okt 2014 03.20 oleh Aditya Krisnarwanto   [ diperbarui23 Okt 2014 21.55 ]
    Ateng 40 th adalah seorang produsen tempe yang bertempat tinggal di Desa Cigudeg di ujung wilayah Kabupaten Bogor yang berbatasan langsung dengan wilayah Banten Setiap harinya dia memproduksi tempe dengan menghabiskan 150kg kedelai. Produksi tempe ini sudah digelutinya selama 6-8th dan untuk menambah penghasilan sejak 2013 dibantu oleh isterinya dia mulai memproduksi keripik tempe. Produk tempe dan keripik tempenya sangat laku di pasar tempatnya berjualan, bahkan tidak jarang pelanggan harus kecewa karena tidak kebagian.

Ateng 40 years old is a tempe producer who lived in Cigudeg, a village at the end of Bogor District directly adjacent to the area of Banten. Everyday he produces tempe from 150kg of soybeans. He has been running the business for about 6-8 years. Furthermore, to increase his revenue, since 2013 assisted by his wife, he began producing tempe chips. His tempe and tempe chips products are very salable in the market place. Furthermore, on daily selling, some customers have to be disappointed because they do not get the products.     

    Sebelum memproduksi tempe, Ateng adalah seorang pekerja pabrik. Dia melihat peluang yang bagus saat dia melihat tempe di pasar tradisional di dekat tempat tinggalnya. Tempe banyak dijajakan dan setiap hari laku serta jarang tersisa. Dengan berbekal modal yang seadanya, Ateng mulai memproduksi tempe.


     Before becoming a tempe producer, Ateng was a factory worker. He saw a good opportunity when he saw tempe in a traditional market near his home. Tempe being sold daily and rarely left. Taking a risk with a modest capital, Ateng began producing tempe.
  
    
Ateng bergabung menjadi anggota KOPTI Kabupaten Bogor, setiap kali ada kesempatan penyuluhan, studi banding, dan yang berkaitan dengan peningkatan mutu produk dan produksi tempe, dia selalu berusaha untuk ikut hadir.
Kehadiran Rumah Tempe Indonesia melecut semangatnya untuk berubah. "Tempe, makanan yang merakyat, sudah seharusnya menjadi makanan yang berkualitas dan sehat. Sehat bagi pengkonsumsinya, produsennya dan juga lingkungan produksinya" tukasnya.


    Ateng
then joined KOPTI Bogor District as a member, every time there is a chance of training, comparative studies, and anything related to the improvement of product quality and production of tempe, he always tried to be present. The presence of Rumah Tempe Indonesia whipped up his enthusiasm for change. "Tempe is a populist food; it should be a qualified and healthy. Healthy for the customers, producers and also the environment" he said.

    
Sedikit demi sedikit disisihkannya hasil keuntungan produksi tempe untuk merubah peralatan dan tempat produksinya. Mulai dari kompor, dandang stainless steel, bak perendaman kedelai, pemecah kedelai, ragi, lalu layout tempat produksi dan penataan ruang produksi mulai dibenahinya. Ruang produksi basah dan kering dipisahkan, lantai ruang produksi diplester dan diberi keramik, menyediakan ruang simpan khusus untuk kedelai dan juga ruang khusus untuk fermentasi tempe (supaya jauh dari binatang pengerat ataupun binatang pengganggu lainnya). Jerih payahnya membuahkan hasil. Produk tempenya semakin baik dan semakin laku di pasaran. Dia pun mendapatkan sertifikat P-IRT untuk produk tempenya.


    Little by little he set aside his profits to transform his tempe production equipment and production facility. Starting from buying the stove, stainless steel vat, soaking vat, soy solver, yeast, and then he re-layout his production facility and re-arranging the area of production. He separated the wet and dry production area, plastered the floor on the wet production area and put ceramic on the dry production area, providing a special store room for soybeans and also a special room for the fermentation (save the tempe from rodents or other vermin). His hard work paid. His tempe products has become better and more marketable. He also received a P-IRT certificate for his tempe product.
   
    
“Awalnya saya pakai kayu untuk memasak, tetapi ruangan jadi kotor, debunya jadi masalah ke tetangga, belum lagi sisa bara kayunya, harus ada pekerja khusus yang mengawasi proses memasak, belum lagi harus mempersiapkan ruang penyimpanan, belum lagi kalau musim penghujan kayu menjadi mahal dan basah. Kayu bisa dibilang murah tetapi juga meninggalkan banyak masalah.”


     "Initially I used wood for cooking, but the room was so dirty, the dust flew to the neighbors, the waste of the wood-fired also become a problem, there should be a special worker who oversees the process of cooking, not to mention the need to prepare the storage space to store the wood. Furthermore, during the rainy season, the wood becomes expensive and wet. Wood is exactly cheap but it also lefts a lot of problems."

    Tempat tinggal Ateng bisa dibilang berada di dekat hutan rakyat, tidak susah untuk mendapatkan kayu dan harganyapun juga murah, namun Ateng lebih memilih menggunakan bahan bakar gas. 

    Ateng’s place of residence is not arguably be near public forests, it is not hard to get wood and the price is also cheap, but Ateng prefer to use LPG.

 
   “Pakai gas praktis, tempat kerja rapih, tetangga tidak protes debu dan asap, tidak lagi ada tumpukan kayu yang jadi masalah, tempat produksi nyaman. Saya sangat terinspirasi oleh Rumah Tempe Indonesia, tempe harusnya sehat baik produknya maupun produksinya karena tempe adalah makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat”


"By using LPG, the workplace is neat; neighbors did not protest the dust and smoke, the stock of pile of wood no longer becomes a problem, the production becomes comfortable. I was so inspired by Rumah Tempe Indonesia, tempe should be healthy for either on the product and production because tempe is a food which consumed by a lot of people."     

    Ateng tidak menampik bahwa masih banyak produsen tempe di sekitarnya yang masih menambahkan bahan pewarna berbahaya pada produk tempe mereka, dengan alasan konsumen yang mencari dan produsen menyediakan apa yang dimau konsumen.

     Ateng does not deny that there are many tempe producers in his surrounding which are still using hazardous dye added to the product of their tempeh. They are arguing that it is the demands from the consumers and producers are just providing what consumers want.

   
    
“Kalau saya hanya berjualan tempe putih, saya tidak mau meracuni orang lain. Kalau ada yang mencari tempe kuning saya tidak jarang memberikan pemahaman kepada konsumen bila ada produk tempe (kuning) yang menggunakan bahan tambahan berbahaya (pewarna tekstil) sebagai pewarnanya. Alhamdulillah, tidak sedikit konsumen yang kemudian sadar. Setelah mendapat pengarahan dari Mercy Corps Indonesia, saya juga akhirnya paham bahwa drum oli bekas tidak layak untuk produksi tempe. Segera setelahnya saya ganti dengan stailess steel beli di KOPTI Kab. Bogor”    

     "I only sell white tempe, I do not want to poison others. If anyone is looking for yellow tempe, I often provide insights to consumers that some of (yellow) tempe product is produce using harmful additives (fabric dye) as a color. Thanks God, there are few consumers who were now aware of it. After receiving information from Mercy Corps Indonesia, I finally understood that the use of used oil drum is not eligible for tempe production. Soon afterwards, I replace it with stainless steel vat which I buy from KOPTI Bogor District."
    
    
Produksi tempe juga sangat berkaitan dengan ketersediaan air bersih. Lokasi rumah Ateng yang berada di perbukitan tidak jarang juga mengganggu produksinya. Pada saat musim kemarau, Ateng harus mengurangi jumlah produksinya karena debit air sumurnya menurun.

    Tempe  production is also strongly related to the availability of clean water. Ateng’s home location which is located in the hills sometimes interferes the production cycle. During the dry season, Ateng should reduce the number of production since the water level on his wells decreased.     

Pada saat tulisan ini disusun jumlah produksi tempe Ateng sedang mengalami penurunan dikarenakan debit air yang berkurang di musim kemarau.


     When this article is arranged, Ateng’s tempe production is in decline due to the decreased of the water level in his well during the dry season.

    “Saya masih belum mau berhenti, cita-cita saya adalah memiliki pabrik tempe seperti Rumah Tempe Indonesia. Mohon dukungannya ya” pungkas Ateng, di akhir wawancara.


    "I still do not want to stop; my goal is to have a tempe factory just like Rumah Tempe Indonesia. Please support me."
Concluded Ateng, at the end of the interview.

-ARK-

Comments