Keripik Tempe Mama Tina

diposting pada tanggal 24 Sep 2014 22.08 oleh Aditya Krisnarwanto
Abdulah – Pengusaha Tempe dari kebayoran Baru Jakarta Selatan adalah produsen Kripik Tempe Mama Tina. Keripik tempe Mama Tina telah diproduksi oleh Pak Abdulah dan istrinya (Ibu Martina) sejak 2 tahun terakhir.

Produksi keripik tempe ini diawali ketika Pak Abdulah dan istri merasakan penjualan tempe segar yang diproduksi setiap harinya kurang laku di pasaran. Pak Abdulah yang biasanya memproduksi tempe dengan jumlah kedelai yang diolah per hari sampai dengan 100 Kg mendapatkan sisa 30 Kg tempe per hari yang tidak laku.

Sehari-hari Pak Abdulah berjualan tempe segar di Pasar Santa, Kebayoran Baru. Sayangnya, usaha yang telah dirintis sejak tahun 1990an tersebut harus terkendala karena pengaturan arus jalan. Meskipun lokasi Pasar Santa ini strategis, namun pengaturan arus jalan (dibuat menjadi satu arah) ternyata berpengaruh banyak pada menurunnya jumlah pengunjung di Pasar ini.

Bu Martina merasa kecewa dan semakin hari semakin tidak yakin dengan usaha yang dijalani oleh suaminya. Setiap harinya Pak Abdulah banyak membawa pulang tempe yang tidak laku. Kala itu Ibu dari 4 orang anak ini merasa letih karena hasil penjualan tempe yang dijual oleh Pak Abdulah dirasa kurang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga ditambah sekolah anak-anak.

“Saya sudah pesimis, dan sudah malas mau usaha tempe. Tiap hari produksi, tiap hari banyak yang dibawa pulang, mau rugi terus berapa banyak dan berapa lama lagi” kata Ibu Martina.

Pak Abdulah berkeluh kesah mengenai permasalahan ini kepada keponakannya yang juga membuka usaha tempe di Magelang, dan pada kesempatan itu Pak Abdulah diberi resep membuat keripik tempe.

“Awalnya keponakan yang ngasih tahu resep ini, lalu kita coba dan lakukan tes rasa ke teman teman dan saudara, sampai akhirnya ketemu standar ketebalan, tingkat kematangan dan rasa” kata Pak Abdulah.

Sejurus dengan semakin bertambahnya animo konsumen terhadap produk olahan tempe ini, Pak Abdulah bersama keluarga berembug dan memutuskan untuk memberi nama produk kripik tempe ini dengan nama “Mama Tina”. Nama Mama Tina diambil dari nama istri Pak Abdulah Martina. Pak Abdulah dan istrinya tidak khawatir resepnya di contoh orang lain karena mereka yakin kalau rezeki dari-Nya sudah diberikan masing-masing.

Pak Abdulah sadar bahwa P-IRT itu penting, dan dia secara mandiri mendaftarkan produk olahannya ke Dinas Kesehatan Jakarta selatan untuk mendapatkan legalitas P-IRT untuk produknya.

“Saya sadar bahwa dengan P-IRT, saya bisa memasarkan produk saya ke pasar yang lebih luas dan produk aya akan lebih mudah diterima konsumen serta memiliki daya saing yang kuat dengan produk sejenis di pasaran.” Kata Pak Abdulah.

SCoPE Indonesia berkesempatan untuk berkunjung ke lokasi produksi keripik Tempe ini dan melihat produksinya. SCoPe Indonesia memberikan beberapa masukan kepada Pak Abdulah mengenai peralatan produksi yang sesuai dengan standar keamanan produksi pangan. Pak Abdulah kemudian mengganti peralatan poduksi tempenya yang belum sesuai standar keamanan produksi pangan. SCoPe Indonesia juga membantu pemasaran keripik tempe ini dengan mengiklankannya ke media cetak Warta Kota beberapa waktu lalu.

Paska pemasangan iklan di media cetak ini, kami pun kembali datang ke rumah Pak Abdulah guna menanyakan penjualannya pasca pemasangan iklan untuk produk kripik tempe Mama Tina.  Pak Abdulah menyatakan bahwa sejak ditampilkan di dalam Iklan Koran, Kripik Tempe merek Mama Tina dirasakan lebih banyak dikenal orang. Ada beberapa orang menghubungi Pak Abdulah melalui telepon untuk memesan kripik tempe dan mengatakan mengetahui produknya dari koran Wartakota. Ada beberapa konsumen datang langsung ke alamat rumah Pak Abdulah setelah sebelumnya menelepon nomor yang tertera pada iklan di warta kota.

“Terimakasih atas kritik dan sarannya pada kunjungan sebelum ini, saya sudah mengganti drum oli dengan wadah plastik untuk perendaman kedelai, sekarang semua alat produksi tempe sudah memenuhi syarat kemanan pangan.” Kata Pak Abdulah. “Sekarang tempe yang diproduksi sudah lebih higienis dan semakin baik kualitasnya” imbuhnya.

“Sekarang, kripik tempe mama Tina sudah dipasarkan di Koperasi RS Fatmawati dan di kios saudara juga di pasar modern Total Buah cabang Buncit, Bintaro, Santa, Fatmawati, dan 2 lokasi baru di cabang Total Buah di Bogor.” Kata Pak Abdulah. “Kami kewalahan memenuhi pesanan yang datang, tempat produksi belum memadahi dan mencari pekerja yang bisa menjaga kualitas produk masih sulit, sementara ini baru saya, istri dan seorang anak saya serta dibantu dua orang tenaga potong tempe dan dua tenaga goreng”. Tambah Ibu Martina.

Sejauh ini Pak Abdulah merasa masih harus meningkatkan kualitas dan kuantitas produknya. Tetapi ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan antara lain membuat pabrik terpisah dengan tempat tinggal, memikirkan cara pengemasan produk yang lebih baik (khususnya pesanan yang dikirim via ekspedisi) dan menjaring pemasaran yang lebih luas seperti melalui internet.

“Terimakasih kepada Mercy Corps Indonesia yang sudah memberikan kami dukungan, sekarang saya sudah mengganti peralatan yang tidak memenuhi standar keamanan pangan. Produk tempe kami semakin higienis dan produk keripik tempe kami juga semakin dikenal masyarakat luas.” Pungkas pak Abdulah.

(ARK & DF)


Comments