Kami telah beralih

Jangan ragu untuk beralih. Beberapa dampingan Program Tahu Tempe Mercy Corps telah merasakan untungnya beralih ke teknologi yang lebih ramah lingkungan dan higienis. Berikut, Anda dapat membaca kisah-kisah mereka dalam memanfaatkan teknologi yang berkelanjutan ini.

Tempe Bersih dari Bukit Cigudeg - Healthy Tempe from Cigudeg hill

diposting pada tanggal 23 Okt 2014 03.20 oleh Aditya Krisnarwanto   [ diperbarui23 Okt 2014 21.55 ]

    Ateng 40 th adalah seorang produsen tempe yang bertempat tinggal di Desa Cigudeg di ujung wilayah Kabupaten Bogor yang berbatasan langsung dengan wilayah Banten Setiap harinya dia memproduksi tempe dengan menghabiskan 150kg kedelai. Produksi tempe ini sudah digelutinya selama 6-8th dan untuk menambah penghasilan sejak 2013 dibantu oleh isterinya dia mulai memproduksi keripik tempe. Produk tempe dan keripik tempenya sangat laku di pasar tempatnya berjualan, bahkan tidak jarang pelanggan harus kecewa karena tidak kebagian.

Ateng 40 years old is a tempe producer who lived in Cigudeg, a village at the end of Bogor District directly adjacent to the area of Banten. Everyday he produces tempe from 150kg of soybeans. He has been running the business for about 6-8 years. Furthermore, to increase his revenue, since 2013 assisted by his wife, he began producing tempe chips. His tempe and tempe chips products are very salable in the market place. Furthermore, on daily selling, some customers have to be disappointed because they do not get the products.     

    Sebelum memproduksi tempe, Ateng adalah seorang pekerja pabrik. Dia melihat peluang yang bagus saat dia melihat tempe di pasar tradisional di dekat tempat tinggalnya. Tempe banyak dijajakan dan setiap hari laku serta jarang tersisa. Dengan berbekal modal yang seadanya, Ateng mulai memproduksi tempe.


     Before becoming a tempe producer, Ateng was a factory worker. He saw a good opportunity when he saw tempe in a traditional market near his home. Tempe being sold daily and rarely left. Taking a risk with a modest capital, Ateng began producing tempe.
  
    
Ateng bergabung menjadi anggota KOPTI Kabupaten Bogor, setiap kali ada kesempatan penyuluhan, studi banding, dan yang berkaitan dengan peningkatan mutu produk dan produksi tempe, dia selalu berusaha untuk ikut hadir.
Kehadiran Rumah Tempe Indonesia melecut semangatnya untuk berubah. "Tempe, makanan yang merakyat, sudah seharusnya menjadi makanan yang berkualitas dan sehat. Sehat bagi pengkonsumsinya, produsennya dan juga lingkungan produksinya" tukasnya.


    Ateng
then joined KOPTI Bogor District as a member, every time there is a chance of training, comparative studies, and anything related to the improvement of product quality and production of tempe, he always tried to be present. The presence of Rumah Tempe Indonesia whipped up his enthusiasm for change. "Tempe is a populist food; it should be a qualified and healthy. Healthy for the customers, producers and also the environment" he said.

    
Sedikit demi sedikit disisihkannya hasil keuntungan produksi tempe untuk merubah peralatan dan tempat produksinya. Mulai dari kompor, dandang stainless steel, bak perendaman kedelai, pemecah kedelai, ragi, lalu layout tempat produksi dan penataan ruang produksi mulai dibenahinya. Ruang produksi basah dan kering dipisahkan, lantai ruang produksi diplester dan diberi keramik, menyediakan ruang simpan khusus untuk kedelai dan juga ruang khusus untuk fermentasi tempe (supaya jauh dari binatang pengerat ataupun binatang pengganggu lainnya). Jerih payahnya membuahkan hasil. Produk tempenya semakin baik dan semakin laku di pasaran. Dia pun mendapatkan sertifikat P-IRT untuk produk tempenya.


    Little by little he set aside his profits to transform his tempe production equipment and production facility. Starting from buying the stove, stainless steel vat, soaking vat, soy solver, yeast, and then he re-layout his production facility and re-arranging the area of production. He separated the wet and dry production area, plastered the floor on the wet production area and put ceramic on the dry production area, providing a special store room for soybeans and also a special room for the fermentation (save the tempe from rodents or other vermin). His hard work paid. His tempe products has become better and more marketable. He also received a P-IRT certificate for his tempe product.
   
    
“Awalnya saya pakai kayu untuk memasak, tetapi ruangan jadi kotor, debunya jadi masalah ke tetangga, belum lagi sisa bara kayunya, harus ada pekerja khusus yang mengawasi proses memasak, belum lagi harus mempersiapkan ruang penyimpanan, belum lagi kalau musim penghujan kayu menjadi mahal dan basah. Kayu bisa dibilang murah tetapi juga meninggalkan banyak masalah.”


     "Initially I used wood for cooking, but the room was so dirty, the dust flew to the neighbors, the waste of the wood-fired also become a problem, there should be a special worker who oversees the process of cooking, not to mention the need to prepare the storage space to store the wood. Furthermore, during the rainy season, the wood becomes expensive and wet. Wood is exactly cheap but it also lefts a lot of problems."

    Tempat tinggal Ateng bisa dibilang berada di dekat hutan rakyat, tidak susah untuk mendapatkan kayu dan harganyapun juga murah, namun Ateng lebih memilih menggunakan bahan bakar gas. 

    Ateng’s place of residence is not arguably be near public forests, it is not hard to get wood and the price is also cheap, but Ateng prefer to use LPG.

 
   “Pakai gas praktis, tempat kerja rapih, tetangga tidak protes debu dan asap, tidak lagi ada tumpukan kayu yang jadi masalah, tempat produksi nyaman. Saya sangat terinspirasi oleh Rumah Tempe Indonesia, tempe harusnya sehat baik produknya maupun produksinya karena tempe adalah makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat”


"By using LPG, the workplace is neat; neighbors did not protest the dust and smoke, the stock of pile of wood no longer becomes a problem, the production becomes comfortable. I was so inspired by Rumah Tempe Indonesia, tempe should be healthy for either on the product and production because tempe is a food which consumed by a lot of people."     

    Ateng tidak menampik bahwa masih banyak produsen tempe di sekitarnya yang masih menambahkan bahan pewarna berbahaya pada produk tempe mereka, dengan alasan konsumen yang mencari dan produsen menyediakan apa yang dimau konsumen.

     Ateng does not deny that there are many tempe producers in his surrounding which are still using hazardous dye added to the product of their tempeh. They are arguing that it is the demands from the consumers and producers are just providing what consumers want.

   
    
“Kalau saya hanya berjualan tempe putih, saya tidak mau meracuni orang lain. Kalau ada yang mencari tempe kuning saya tidak jarang memberikan pemahaman kepada konsumen bila ada produk tempe (kuning) yang menggunakan bahan tambahan berbahaya (pewarna tekstil) sebagai pewarnanya. Alhamdulillah, tidak sedikit konsumen yang kemudian sadar. Setelah mendapat pengarahan dari Mercy Corps Indonesia, saya juga akhirnya paham bahwa drum oli bekas tidak layak untuk produksi tempe. Segera setelahnya saya ganti dengan stailess steel beli di KOPTI Kab. Bogor”    

     "I only sell white tempe, I do not want to poison others. If anyone is looking for yellow tempe, I often provide insights to consumers that some of (yellow) tempe product is produce using harmful additives (fabric dye) as a color. Thanks God, there are few consumers who were now aware of it. After receiving information from Mercy Corps Indonesia, I finally understood that the use of used oil drum is not eligible for tempe production. Soon afterwards, I replace it with stainless steel vat which I buy from KOPTI Bogor District."
    
    
Produksi tempe juga sangat berkaitan dengan ketersediaan air bersih. Lokasi rumah Ateng yang berada di perbukitan tidak jarang juga mengganggu produksinya. Pada saat musim kemarau, Ateng harus mengurangi jumlah produksinya karena debit air sumurnya menurun.

    Tempe  production is also strongly related to the availability of clean water. Ateng’s home location which is located in the hills sometimes interferes the production cycle. During the dry season, Ateng should reduce the number of production since the water level on his wells decreased.     

Pada saat tulisan ini disusun jumlah produksi tempe Ateng sedang mengalami penurunan dikarenakan debit air yang berkurang di musim kemarau.


     When this article is arranged, Ateng’s tempe production is in decline due to the decreased of the water level in his well during the dry season.

    “Saya masih belum mau berhenti, cita-cita saya adalah memiliki pabrik tempe seperti Rumah Tempe Indonesia. Mohon dukungannya ya” pungkas Ateng, di akhir wawancara.


    "I still do not want to stop; my goal is to have a tempe factory just like Rumah Tempe Indonesia. Please support me."
Concluded Ateng, at the end of the interview.

-ARK-

Keripik Tempe Mama Tina

diposting pada tanggal 24 Sep 2014 22.08 oleh Aditya Krisnarwanto

Abdulah – Pengusaha Tempe dari kebayoran Baru Jakarta Selatan adalah produsen Kripik Tempe Mama Tina. Keripik tempe Mama Tina telah diproduksi oleh Pak Abdulah dan istrinya (Ibu Martina) sejak 2 tahun terakhir.

Produksi keripik tempe ini diawali ketika Pak Abdulah dan istri merasakan penjualan tempe segar yang diproduksi setiap harinya kurang laku di pasaran. Pak Abdulah yang biasanya memproduksi tempe dengan jumlah kedelai yang diolah per hari sampai dengan 100 Kg mendapatkan sisa 30 Kg tempe per hari yang tidak laku.

Sehari-hari Pak Abdulah berjualan tempe segar di Pasar Santa, Kebayoran Baru. Sayangnya, usaha yang telah dirintis sejak tahun 1990an tersebut harus terkendala karena pengaturan arus jalan. Meskipun lokasi Pasar Santa ini strategis, namun pengaturan arus jalan (dibuat menjadi satu arah) ternyata berpengaruh banyak pada menurunnya jumlah pengunjung di Pasar ini.

Bu Martina merasa kecewa dan semakin hari semakin tidak yakin dengan usaha yang dijalani oleh suaminya. Setiap harinya Pak Abdulah banyak membawa pulang tempe yang tidak laku. Kala itu Ibu dari 4 orang anak ini merasa letih karena hasil penjualan tempe yang dijual oleh Pak Abdulah dirasa kurang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga ditambah sekolah anak-anak.

“Saya sudah pesimis, dan sudah malas mau usaha tempe. Tiap hari produksi, tiap hari banyak yang dibawa pulang, mau rugi terus berapa banyak dan berapa lama lagi” kata Ibu Martina.

Pak Abdulah berkeluh kesah mengenai permasalahan ini kepada keponakannya yang juga membuka usaha tempe di Magelang, dan pada kesempatan itu Pak Abdulah diberi resep membuat keripik tempe.

“Awalnya keponakan yang ngasih tahu resep ini, lalu kita coba dan lakukan tes rasa ke teman teman dan saudara, sampai akhirnya ketemu standar ketebalan, tingkat kematangan dan rasa” kata Pak Abdulah.

Sejurus dengan semakin bertambahnya animo konsumen terhadap produk olahan tempe ini, Pak Abdulah bersama keluarga berembug dan memutuskan untuk memberi nama produk kripik tempe ini dengan nama “Mama Tina”. Nama Mama Tina diambil dari nama istri Pak Abdulah Martina. Pak Abdulah dan istrinya tidak khawatir resepnya di contoh orang lain karena mereka yakin kalau rezeki dari-Nya sudah diberikan masing-masing.

Pak Abdulah sadar bahwa P-IRT itu penting, dan dia secara mandiri mendaftarkan produk olahannya ke Dinas Kesehatan Jakarta selatan untuk mendapatkan legalitas P-IRT untuk produknya.

“Saya sadar bahwa dengan P-IRT, saya bisa memasarkan produk saya ke pasar yang lebih luas dan produk aya akan lebih mudah diterima konsumen serta memiliki daya saing yang kuat dengan produk sejenis di pasaran.” Kata Pak Abdulah.

SCoPE Indonesia berkesempatan untuk berkunjung ke lokasi produksi keripik Tempe ini dan melihat produksinya. SCoPe Indonesia memberikan beberapa masukan kepada Pak Abdulah mengenai peralatan produksi yang sesuai dengan standar keamanan produksi pangan. Pak Abdulah kemudian mengganti peralatan poduksi tempenya yang belum sesuai standar keamanan produksi pangan. SCoPe Indonesia juga membantu pemasaran keripik tempe ini dengan mengiklankannya ke media cetak Warta Kota beberapa waktu lalu.

Paska pemasangan iklan di media cetak ini, kami pun kembali datang ke rumah Pak Abdulah guna menanyakan penjualannya pasca pemasangan iklan untuk produk kripik tempe Mama Tina.  Pak Abdulah menyatakan bahwa sejak ditampilkan di dalam Iklan Koran, Kripik Tempe merek Mama Tina dirasakan lebih banyak dikenal orang. Ada beberapa orang menghubungi Pak Abdulah melalui telepon untuk memesan kripik tempe dan mengatakan mengetahui produknya dari koran Wartakota. Ada beberapa konsumen datang langsung ke alamat rumah Pak Abdulah setelah sebelumnya menelepon nomor yang tertera pada iklan di warta kota.

“Terimakasih atas kritik dan sarannya pada kunjungan sebelum ini, saya sudah mengganti drum oli dengan wadah plastik untuk perendaman kedelai, sekarang semua alat produksi tempe sudah memenuhi syarat kemanan pangan.” Kata Pak Abdulah. “Sekarang tempe yang diproduksi sudah lebih higienis dan semakin baik kualitasnya” imbuhnya.

“Sekarang, kripik tempe mama Tina sudah dipasarkan di Koperasi RS Fatmawati dan di kios saudara juga di pasar modern Total Buah cabang Buncit, Bintaro, Santa, Fatmawati, dan 2 lokasi baru di cabang Total Buah di Bogor.” Kata Pak Abdulah. “Kami kewalahan memenuhi pesanan yang datang, tempat produksi belum memadahi dan mencari pekerja yang bisa menjaga kualitas produk masih sulit, sementara ini baru saya, istri dan seorang anak saya serta dibantu dua orang tenaga potong tempe dan dua tenaga goreng”. Tambah Ibu Martina.

Sejauh ini Pak Abdulah merasa masih harus meningkatkan kualitas dan kuantitas produknya. Tetapi ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan antara lain membuat pabrik terpisah dengan tempat tinggal, memikirkan cara pengemasan produk yang lebih baik (khususnya pesanan yang dikirim via ekspedisi) dan menjaring pemasaran yang lebih luas seperti melalui internet.

“Terimakasih kepada Mercy Corps Indonesia yang sudah memberikan kami dukungan, sekarang saya sudah mengganti peralatan yang tidak memenuhi standar keamanan pangan. Produk tempe kami semakin higienis dan produk keripik tempe kami juga semakin dikenal masyarakat luas.” Pungkas pak Abdulah.

(ARK & DF)


Pak Munziat: Sukses...Sukses...Sukses!

diposting pada tanggal 16 Feb 2012 23.28 oleh tnapitupulu@id.mercycorps.org   [ diperbarui16 Feb 2012 23.29 ]

Diusianya yang ke 44, Pak Munziat, seorang pengrajin tempe asal Pekalongan,  tengah menanti kelahiran anak ke tiga dari isteri tercintanya, Muhafsah. Laki-laki yang beralamat di Jln RA. Kartini gang Mawar 6, Bekasi Kidul 08/13 Margahayu itu memiliki kata-kata sakti dalam menjalankan usahanya: Sukses.. Sukses.. Sukses!.

Dalam perjalanan hidupnya, Munziat kecil tinggal bersama pamannya yang juga seorang pengrajin tempe.  Sepuluh tahun Pak Munziat belajar membuat tempe hingga menjualnya di pasar sembari nyambi menjadi tukang kuli “anti repot” yang diupah hanya Rp 25 (dua puluh lima rupiah). Di usia 19 tahun, ia memberanikan diri untuk mandiri dan mulai membuka usaha tempe sendiri di Bekasi. Semangat untuk sukses mendorong setiap ayunan langkah usahanya, “Jika orang lain bisa, saya juga Bisa”, begitulah tekad itu tertanam kuat dalam batinnya. Dengan bermodal uang Rp 20.000, pada tahun 1988, ia pun memulai membuka usaha tempe.

Ternyata langkah awal menjadi pengrajin tempe tidaklah mudah. Beberapa kendala sempat dialami oleh Munziat seperti air yang digunakan untuk mencuci kedelai diambil dengan menggunakan pompa tangan. dan Padahal ia membutuhkan berember-ember untuk sekedar membersihkan kedelai. Tantangan kedua adalah proses memecah kedelai yang saat itu masih dengan cara diinjak-injak. Sehingga Praktis, seluruh waktunya habis tersita untuk mengerjakan pembuatan tempe. Hingga tahun 1990, ia pernah mengkhayal akan ada alat yang dapat membantu memudahkan proses pembuatan tempe.

Tahun 1995, saya mengganti pompa tangan milik saya dengan pompa jet pump dan ini mempermudah kerja saya. Kemudian, tahun 2003, saya mendapat informasi dari Kopti Jakarta Selatan bahwa ada mesin pemecah kedelai. kemudian saya pun lalu membeli alat tersebut. Tetapi untuk proses perebusan saya masih menggunakan drum bekas oli dan kayu bakar.

Tahun 2009, saya berkenalan dengan Mercycorps yang memberikan bimbingan produksi bersih dan mengikuti pelatihan Pola Produksi Bersih bersama Forum Tempe Indonesia. Setelah pelatihan itu, saya mendapat subsidi drum stainless dari Mercycops dan  langsung menggunakannya. Desain ruang produksi saya rubah atas biaya saya sendiri dengan membuat cerobong asap ke atas. Sekarang ini saya sudah menggunakan gas untuk merebus kedelai.

Saya merasakan manfaat dari setiap perubahan yang saya lakukan, penggantian peralatan produksi tersebut telah mempermudah pekerjaan saya, menghemat waktu, tenaga dan ruang produksi pun menjadi bersih.

Saya bersyukur dan merasa senang karena selain saya sendiri bisa memperbaiki produksi sendiri, ada 10 perajin tempe yang juga telah bisa berproduksi sendiri setelah sebelumnya ikut dapur produksi saya. Pencapaian ini juga membuat saya bermimpi  untuk memiliki rumah produksi tempe yang diatur khusus untuk kelangsungan produksi yang efisien, higienis dan ramah lingkungan sebagaimana diupayakan selama ini oleh Mercycorps.

 

(Yuyu)

 

Posting awal di http://tnt-warehouse.blogspot.com/2011/12/pak-munziat-suksessuksessukses.html pada Jumat, Desember 02, 2011

Suwarno: Terdorong Bikin Tempe Berkualitas

diposting pada tanggal 16 Feb 2012 23.13 oleh tnapitupulu@id.mercycorps.org   [ diperbarui16 Feb 2012 23.19 ]

Suwarno – Pengrajin tempe kelahiran Pekalongan 62 tahun yang lalu itu tampak lebih muda 10 tahun dari usian sebenarnya. Pabrik tempe miliknya yang berlokasi  di Kavling Serpong RT 02/04 Kelurahan Serpong, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan telah berdiri sejak tahun 1990.

Dalam menjalankan roda usahanya, Pak Suwarno melibatkan isteri dan  4 orang anaknya serta 3 orang keponakannya yang tinggal serumah dengannya. Anak laki-lakinya yang saat ini masih kuliah sementer 6 di Pamulang lebih banyak membantu di proses produksi tempe, sedangkan putrinya yang juga kuliah di semester 2, bersama ibunya menjual tempe di pasar Serpong.

Di awal November 2011, Pak Suwarno membeli seperangkat peralatan produksi stainless steel ( Drum stainless ukuran 90kg, LPG dan mesin pengupas kulit kedelai) dari CV- Kubangan Prima. Informasi alat produksi dari stainless steel diperoleh dari Nuraji – pengrajin tempe asal Kranggan, Bekasi yang memperoleh subsidi pembelian drum stainless dari Mercycorps Indonesia. Pak Nuraji sendiri tak lain adalah  adik dari  Suwarno.

Perubahan yang paling dirasakan oleh Suwarno dengan mengganti peralatan stainless dan gas LPG  adalah karena kemudahan penggunaannya.

"Sekarang saya tidak perlu lagi membungkuk untuk mengambil kedelai yang telah direbus, untuk dipindahkan, untuk perendaman dan tentunya tidak membuat sakit pinggang..haha..".

Begitu pula penggunaan gas menurutnya telah menghemat waktu sekitar 3 jam,

"Biasanya merebus kedelai 250 kg mulai dari jam 9 pagi hinggá jam 3 sore, sekarang dari jam 9 pagi hinggá jam 11.  Kemudian masalah asap dan suhu udara di rumah juga lagi tidak panas"

Pergantian peralatan dan bahan bakar telah memberikan banyak manfaat bagi Pak Suwarno seperti  rumah tidak lagi banyak asap, waktu istirahat lebih panjang, hemat tenaga, rumah lebih bersih karena tidak ada tumpukan kayu dan alat baru ini bisa awet sampai 10 tahun.

Penggunaan alat stainless telah menarik perhatian pengrajin disekitar Serepong seperti Bu Sidon dan Riyanto. Mereka juga berkeinginan mengganti peralatan produksi yang lama dengan stainless.

Pak Suwarno juga turut serta dalam program branding dari Mercycorps. Perkenalannya dengan Mercycorps melalui Pak Nuraji dengan memberikan informasi nomor telephone staff lapangan Mercy yaitu  Ana dan Aliq.

Proses pembuatan Merk Suwarno terhitung cepat. Setelah 2 minggu, tempe dikemas dengan menggunakan plastik bermerk  Tempe Suwarno, justru mengingatkannya pada Surat Izin Usaha, P- IRT (Pangan Industri Rumah Tangga), dan Izin Depkes yang perñah ia miliki 16 tahu lalu dengan nama Maju Jaya. Selain itu,  Pedagang di Pasar Serepong juga memberikan rekomendasi kepada konsumen. “Ini tempe yang enak", ujar seorang pedagang sembari menunjuk tempe merk Suwarno. Pembeli juga sudah mengenal Merk Suwarno. Bagi Pak Suwarno sendiri branding sangat penting karena produknya bisa dikenal lebih luas dan memotivasinya untuk menggunakan bahan-bahan yang berkualitas terutama kedelainya. Saat ini ia menggunakan kedelai super.

Meskipun baru hitungan bulan menggunakan kemasan berlabel dan menjualnya dengan harga Rp.7000/pieces serta menggunakan peralatan stainless, tetapi Pak Suwarno sudah mulai melihat kenaikan kapasitas produksi sebanyak 15 kg dalam catan pembukuannya, yaitu dari 250 kg/hari menjadi 265 kg/hari.[Yuyu/Irfan]

Posting awal di http://tnt-warehouse.blogspot.com/2011/12/suwarno-terdorong-untuk-memproduksi.html pada Rabu, Desember 07, 2011

Switching to LPG

diposting pada tanggal 16 Feb 2012 20.12 oleh tnapitupulu@id.mercycorps.org   [ diperbarui16 Feb 2012 20.14 ]

Entering the wide opened joint-kitchen in Setu, East Jakarta, producers and workers are in their hectic hours of producing tempe. Then there was a man called Maryono greet with smiles. This 44 year-old man is a tempe producer with a capacity of 35 kg/day and renting a space in this joint-kitchen managed by East Jakarta PRIMKOPTI (Tofu and Tempe Cooperative).

In April 2011, the joint-kitchen was upgraded by Indonesian Tempe Forum and funded by soybean importer with support from East Jakarta PRIMKOPTI and Mercy Corps Indonesia. It was renovated and equipped with stainless steel drum, efficient stove, stainless steel grinding machine as well as LPG. Thus he has been using those new equipments since then. Particularly for fuel cost, he usually spent IDR 150.000/month for firewood while using LPG (3 kgs), he is spending IDR 145.000/month which saves him IDR 5.000/month. He is very happy that there are changes in this joint-kitchen to a far better condition.

“Yes, it’s (the LPG) very good, now I can have two extra hours to rest and/or do other things (related with producing tempe)”, said Maryono explaining about some benefits of using LPG compare to firewood. Other benefits that he felt are: it saves his manpower; the place is much cleaner now as there is no smoke anymore; and LPG is available in the market. “Firewood is getting rare and more expensive these days”, exclaimed this man who originally came from Pekalongan, Central Java. There are times when he has to stop producing tempe approximately 1–2 days in a month because he don’t have a firewood supply.

Major, what he usually called further explained about the comparison of firewood price within six years. “In 2006, one car (pick up) of fire wood cost IDR 75.000, while now, it reaches up from IDR 250.000 to IDR 300.000”, said a father of three children . This condition has really shown an increase of firewood cost approximately 30% per year and will continue to increase in the future.

Originally posted in http://tnt-warehouse.blogspot.com/2011/06/switching-to-lpg.html on Thursday, June 09, 2011

Benefit of a Switch

diposting pada tanggal 16 Feb 2012 19.53 oleh tnapitupulu@id.mercycorps.org   [ diperbarui16 Feb 2012 19.54 ]

Nursidik, this 55 year-old man has been making tempe since 1982. Currently, he produces 100 kgs of soybean per day with the help of his son. In order to produce tempe, he is renting the facilities with other four renters to one of the board members of South Jakarta PRIMKOPTI named Tjasbari.

South Jakarta PRIMKOPTI has been partnering with Tofu & Tempe Program of Mercy Corps since 2010 to promote more efficient and hygiene equipments.  With this partnership, many producers in South Jakarta have replaced their rusted drum to stainless steel drum as well as switching from firewood to LPG where Tjasbari is one of them. As Tjasbari made a switch on April 2011, therefore, all five renters are also switching to new equipments.

 “When I was using firewood, I have to check it (fire) periodically. But since I use LPG, I don’t need to do it anymore, so that I can do other things like wrapping (the soybean) or taking a rest”, said Nursidik when he explains about the benefit of using LPG. He is happy with the switch because he also felt that the kitchen is much cleaner now and that he can save his manpower. Moreover, now he can save IDR 120.000/month as prior using LPG, he spent IDR 750.000, while using LPG (3kgs), he only spends IDR 630.000/month. The switch to LPG also makes his life easier as LPG are available in the market thus he doesn’t need to search for firewood anymore. Furthermore, the price of firewood continues to increase every year around 20%.

 

Originally posted in http://tnt-warehouse.blogspot.com/2011/06/benefits-of-switch.html on Thursday, June 09, 2011

1-6 of 6