Announcement‎ > ‎

Evaluasi Perdana Proses Pembelajaran Bahasa pada Matrikulasi Bahasa 2016

posted Sep 19, 2016, 6:50 AM by Sulaiman Mappiasse   [ updated Sep 19, 2016, 7:05 AM ]
Dihadiri oleh seluruh instruktur bahasa Arab, tiga orang, yaitu Sabbar Dahham, Irfan Afandi, dan Sri Pewan M, serta instruktur bahasa Inggris, 6
orang, yaitu Edward Chaniago, Anis Komariah, Salsa Putri Chaniago, Firly F. Simbala, Wahdania Damopolii, dan Fadhlan Saini, evaluasi perdana proses pembelajaran bahasa Arab/Inggris pada Kegiatan Marikulasi Bahasa IAIN Manado 2016 berjalan dengan baik.

Acara ini juga dihadiri oleh seluruh panitia pelaksana, Sulaiman Mappiasse (Ketua), Wahyudi Baluntu (Sek.) dan Meiskyarti Luma, Rustam W., and Taufik Ulias (Anggota).

Evaluasi ini meliputi aspek (1) pelaksanaan lesson plan, (2) proses pembelajaran di kelas, (3) isu-isu penting dari para peserta, dan (4) penyesuain jadwal instruktur.

Dalam paparannya, Ketua Panitia menekankan bahwa lesson plan harus disetorkan sehari sebelum pelajaran dimulai, yaitu hari Jumat. Lesson plan harus menjadi acuan utama dalam pembelajaran di kelas. Tidak boleh lesson plan dibuat setelah kelas berjalan sebab lesson plan adalah salah satu tolak ukur yang digunakan untuk menilai keberhasilan seorang instruktur/tutor bahasa. Di samping itu, lesson plan yang dibuat setelah kelas berjalan bukan lagi lesson plan sebab rencana selalu datang lebih awal dari pada aksi.

Ketua Panitia juga menekankan bahwa penataan kursi kelas sangat penting. Kelas bahasa harus dibuat sedemikian rupa sehingga interaksi dan
komunikasi antar peserta dapat berjalan dengan baik. Pengaturan tempat duduk ke dalam bentuk U atau lingkaran akan memudahkan komunikasi dan kerjasama. Ia juga akan mengurangi hirarki dan dominasi instruktur dalam proses pengajaran. Mengatur kursi secara berbaris, sebagaimana sering kita temukan dalam penataan konvensional tidak hanya menegaskan dominasi instruktur sehingga peserta tidak percaya diri, tetapi juga menghambat komunikasi antara peserta. Padahal, rasa percaya diri dan kemudahan komunikasi serta interaksi antara peserta mutlak untuk mempercepat penguasaan bahasa.

Salah satu isu yang mencuat adalah adanya instruktur bahasa Arab yang tidak dapat berbahasa Indonesia dalam penyampaian materi. Ketua panitia menanggapi bahwa keluhan dan kekhawatiran itu ada. Bahkan, ada peserta yang meminta pindah ke kelas lain yang instrukturnya dapat berbahasa Indonesia. Tetapi oleh panitia, permintaan itu tidak dipenuhi. Alasannya adalah bahwa memperlajari bahasa secara natural sebagaimana kita dulu di masa kecil belajar bahasa adalah penting. Saat kita bayi, lalu mulai belajar berbicara, kita juga tidak tahu bahasa kedua orang tua kita. Tetapi, lambat laun
akhirnya kita juga bisa.

Dari evaluasi ini dihasilkan kesimpulan bahwa: (1) lesson plan harus disetor setiap hari Jumat, (2) komitmen mengedepankan keterampilan berkomunikasi harus dilakukan dalam proses pembelajaran, (3) kelas didesain dalam bentuk huruf U atau lingkaran guna menguatkan interaksi dan komunikasi, (4) minggu depan akan dilakukan peer review/observation. Sesama instruktur akan saling mengobservasi guna memberikan masukan kepada kolega instruktur lain dalam rangka meningkatkan kualitas pengajaran, (5) penugasan rumah untuk menulis diary harian bagi peserta matrikulasi, dan (5) penyesuain jadwal tutor/instruktur. 
Comments