Berita terbaru

Dapatkan berita terbaru Seputar Ngawi di sini.

Hasil SP 2010, Penduduk Ngawi Capai 816.003 Jiwa

diposkan pada tanggal 21 Jun 2010 23.33 oleh Mochtar Hadi

Sensus Penduduk atau cacah jiwa pada dasarnya merupakan kegiatan penghitungan jumlah penduduk di seluruh atau sebagian teritorial suatu negara dan mengumpulkan karakteristik pokok semua penduduk, rumah tangga dan bangunan tempat tinggal. Sesuai dengan amanat Undang – Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik, Sensus Penduduk diselenggarakan setiap sepuluh tahun sekali pada tahun berakhiran nol. Hal ini pula yang melandasi diadakannya Rapat Koordinasi dalam rangka evaluasi hasil pendataan Sensus Penduduk 2010, yang dihadiri oleh seluruh Camat se-Kabupaten Ngawi, Kepala Dinas/Bagian dan Kepala Kantor Pos sebagai mitra kerja, Selasa, 15 Juni 2010 di Notosuman, Ngawi.

Pengarahan dan rapat koordinasi ini dipimpin langsung oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ngawi, Drs. H. Widarto Adisiswanto, yang dalam sambutannya menyampaikan, bahwa kegiatan sensus penduduk ini merupakan Program Nasional yang diadakan di seluruh Indonesia dan menjadi tugas Badan Pusat Statistik. Konsep yang dipakai BPS dalam SP2010 adalah konsep Penduduk yakni Penduduk dicatat berdasarkan dimana seseorang bertempat tinggal (ussual residence) tanpa mempertimbangkan status kependudukan, pendekatan dimana seseorang biasanya menetap atau bertempat tinggal (de jure) dan dimana seseorang berada pada saat pencacahan (de facto). “,Dalam pelaksanaan Sensus Penduduk 2010, Badan Pusat Statistik Kab. Ngawi mengerahkan 2093 petugas, suatu angka yang cukup besar mengingat sensus 2010 ini merupakan sensus yang paling besar bila dibandingkan dengan sensus di tahun tahun sebelumnya. Selain itu juga bekerjasama dengan berbagai pihak seperti Kepala Desa, Ketua RW dan RT sehingga nanti akan mendapatkan data yang lebih akurat, “ungkap Drs. H. Widarto Adisiswanto” dalam penjelasannya.

Sesuai monitoring hasil pengolahan data sementara dari Badan Pusat Statistik (BPS), yang memulai pendataan pada tanggal 1 sampai dengan 31 Mei 2010 mencatat jumlah Penduduk Kabupaten Ngawi berkisar 816.003 jiwa. Hasil ini sedikit berbeda dengan data dari Dinas Kependudukan Kab Ngawi yang mencatat jumlah penduduk Kabupaten Ngawi berkisar 891.151 jiwa. Berdasarkan fakta ini, melalui rapat koordinasi Sensus Penduduk 2010 ini diharapkan ada masukan atau pendapat baik dari Camat maupun Dinas terkait supaya perbedaan ini tidak terpaut jauh.

Sementara itu menurut Camat Pitu, Rahmad Didik Purwanto S.Sos M.Si, ada beberapa sebab yang menyebabkan perbedaan jumlah penduduk ini, salah satunya adalah disebabkan karena adanya penduduk yang merantau mencari pekerjaan di daerah lain, banyaknya pelajar yang di luar kota dan dari data masuk belum tentu dilihat kalau sudah 6 bulan atau lebih karena penduduk yang datang kadang-kadang langsung membawa surat pindah atau masuk dari kecamatan/Kabupaten lain dan langsung dimasukkan ke sistim administrasi kependudukan.” Untuk itu bila terjadi sedikit perbedaan data, kami siap untuk memberikan masukan lebih lanjut agar hasil sensus ini benar benar akurat “,Tegasnya menambahkan

Melawan Hama Tikus dengan Burung Hantu (Tyto alba javanica)

diposkan pada tanggal 21 Jun 2010 23.28 oleh Mochtar Hadi   [ diperbarui24 Jun 2010 23.03 ]

Dalam sejarahnya, Burung serak (Tyto alba javanica Gmel.) telah diintroduksi dari ekosistem perkebunan kelapa sawit ke ekosistem persawahan untuk mengendalikan hama tikus. Tikus sawah merupakan hama yang menempati urutan pertama penyebab kerusakan pada tanaman padi diantara hama utama lainnya yang ada di Indonesia. Peningkatan serangan hama tikus di daerah sentra produksi padi dampaknya sangat nyata dan dirasakan oleh petani sangat memberatkan. Pengendalian tikus yang biasa digunakan di Indonesia dengan mengandalkan rodentisida pada awalnya dapat menurunkan populasi, tetapi jangka panjang kurang menguntungkan karena akan terjadi kompensasi populasi dan berdampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu agar pengendalian dapat berkelanjutan dan dampak negatif terhadap lingkungan dapat dihindari, maka pengendalian hayati menjadi pilihan utama. Pengendalian hayati terhadap hama tikus memberikan harapan yang baik di masa mendatang. Hal ini dapat terjadi karena jika agens pengendali hayati telah mapan di suatu tempat sifatnya berkelanjutan dan ramah terhadap lingkungan. Pemanfaatan burung serak Tyto alba javanica sebagai agens pengendali hayati hama tikus telah memberikan hasil yang cukup baik di sektor perkebunan kelapa sawit. Burung serak merupakan pemangsa tikus yang berpotensi karena kemampuan mencari dan mengkonsumsi mangsa lebih tinggi bila dibandingkan dengan pemangsa lain dari Kelas Reptilia dan Mammalia. Mangsa utama burung serak lebih dari 90% adalah jenis tikus, dengan kemampuan memangsa antara 3-5 ekor tikus per hari.

            Sepasang burung serak dapat menjangkau wilayah pengendalian seluas 25ha, dengan perhitungan total beaya Rp2.703 ha-1 tahun-1, jika pengendalian dengan kimia misalnya pemasangan umpan beracun total beaya Rp22.550 ha-1 tahun-1. Pemanfaatan burung serak untuk mengendalikan hama tikus selain di perkebunan kelapa sawit juga telah dirintis di beberapa ekosistem persawahan dengan mengintroduksi dari areal perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara. Beberapa wilayah di Indonesia yang telah mengintroduksi burung serak antara lain, Bali,Jawa Tengah, Kalimantan dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Malaysia juga telah memanfaatkan burung serak untuk mengendalikan tikus sawah (Widodo, 2000; Mangoendihardjo &Wagiman, 2001; Hafidzi, 2003 ) Namun demikian faktor-faktor yang mempengaruhi kemapanan burung serak di ekosistem persawahan belum pernah dikaji secara mendasar. Kemapanan burung serak dalam suatu ekosistem sangat tergantung pada ketersediaan habitat yang sesuai. Habitat adalah tempat beserta komponen-komponennya dimana burung serak dapat hidup dan berkembang secara optimal.

            Melihat sejarah yang penjang dan bermanfaat ini, tek heran bila penangkaran burung hantu jenis tyto alba ini mendapat perhatian serius dari Pemkab Ngawi terutama dari Litbangda Kab Ngawi. Hal ini terungkap ketika Bupati Ngawi dr H Harsono, Rabu,(16/6/2010) turun langsung ke Gayam dan melihat penangkaran burung hantu. Tercatat sejak tahun 1999 hingga sekarang petani di desa gayam telah berhasil menangkarkan Burung Hantu hingga menjadi 4.208 ekor.. 

Dalam kesempatan tersebut Bupati Ngawi dr. Harsono  tampak merasa bangga menyaksikan masyarakat petani Desa Gayam yang berhasil membudidayakan burung hantu sehingga tikus yang menyerang padi dapat ditangkal dengan musuh alami dan sekaligus kelestarian lingkungan dapat dijaga dengan baik dan keseimbangan ekosistem dapat diwujudkan. Jumlah persebaran penangkaran burung hantu (tyto alba) di Kabupaten Ngawi masih sangat terbatas sehingga masih perlu terus-menerus dikembangkan dan disosialisasikan kepada masyarakat. Penulis mencatat bahwa pengembangannya baru di wilayah Kecamatan Ngrambe, Sine, Kendal, Jogorogo dan Widodaren.Usaha penangkaran yang dipelopori oleh pak Jumangin ini  memang sangat serius sehingga dapat sukses dan dilihat hasilnya. Kesuksesan ini juga berkat adanya kerjasama dengan Kabupaten Boyolali, Demak, Klaten, Gorontalo dan Manado. Di daerah tersebut burung hantu juga dikembangkan untuk tujuan yang sama sebagaimana di Ngawi yaitu untuk melawan hama tikus, dan daerah tersebut juga mengambil anakan burung hantu dari tempat penangkaran di Desa Gayam

 

Ngawi Gelar Panen Raya SRI Skala Luas

diposkan pada tanggal 2 Mei 2010 21.20 oleh Informasi Humas Kabupaten Ngawi

T
anaman padi bukan tanaman air tapi tanaman yang hanya membutuhkan seefisien mungkin dalam penggunaan air, dengan pengelol aan lahan secara baik serta memakai pupuk organik yang lebih mengutamakan peningkatan kualitas tanah, sehingga akan mendapatkan hasil panen yang baik. System of Rice Intensification (SRI) suatu program yang telah dicetuskan oleh Dirjen Pengelolaan Lahan dan Air, pasalnya tanaman padi selama ini perlu ada suatu pembenahan mulai pengolahan lahan dan pengelolaan airnya. “SRI” merupakan salah satu metode pendekatan dalam praktek budidaya padi yang menekankan pada manajemen pengelolaan tanah, tanaman dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan atau secara sederhana bisa diartikan teknik budidaya pertanian yang non konvensional yang mampu menawarkan hemat air, benih dan pupuk dengan budidaya padi.

Keberhasilan teknik budidaya pertanian dengan metode System of Rice Intensification (SRI) menggembirakan berbagai pihak. Terbukti mampu memikat Menteri Pertanian RI Ir. H. Suswono, M.MA. yang diwakili oleh Dirjen Pengelolaan Lahan dan Air Kementerian Pertanian RI Ir. Hilman Manan Dipl. HE., beserta rombongan dalam acara Panen Raya SRI Skala Luas 600 Hektar di Kabupaten Ngawi. Hadir pula dalam acara tersebut Kepala Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur beserta rombongan, Muspida kabupaten Ngawi, Ketua DPRD Kabupaten Ngawi, Wakil Bupati Ngawi dan para kelompok tani sewilayah Kabupaten Ngawi. Acara berlangsung di Desa Geneng Kecamatan Geneng Kabupaten Ngawi Jum’at 25 Juni 2010.

Kunjungan kerja ini disambut langsung oleh Bupati Ngawi dr. H. Harsono, dalam kesempatannya beliau menyampaikan bahwa penerapan metode SRI yang melibatkan 2 Kecamatan yakni Kecamatan Geneng dan Gerih, 6 Desa, 6 HIPA, dan 30 kelompok tani, serta satu hamparan irigasi tejo, menampakkan hasil yang memuaskan, dengan hasil rata - rata 1 hektarnya adalah 9,6 ton sampai 11 ton. Lebih lanjut Bupati juga menjelaskan, Dengan telah berdirinya rumah kompos – rumah kompos di Kabupaten Ngawi khususnya di Kecamatan Geneng, sehingga penggunaan pupuk an organik bisa dikurangi. Sebelum ada program SRI, penggunaan pupuk an organik atau urea bisa 800 kg sampai 1,3 ton dalam 1 Hektarnya, melalui metode SRI sudah mulai turun, berkisar 400 kg bahkan ada yang 200 kg per Hektar, dengan demikian petani masih diuntungkan, ungkap beliau.

Sementara Perwakilan Kementrian Pertanian RI Dirjen PLA, Ir. Hilman Manan Dipl. HE., dalam sambutannya menyampaikan, Pemerintah secara terus menerus telah melakukan segala upaya untuk meningkatkan produktivitas lahan melalui berbagai inovasi teknologi seperti dalam Penggunaan kwalitas unggul baik hibrida maupun non hibrida, pemupukan berimbang, pengendalian UPT secara terpadu dan penerapan PTT serta salah satunya program SRI seperti yang dilakukan di Kabupaten Ngawi. Metode SRI telah terbukti meningkatkan efisiensi penghematan penggunaan pupuk sebagai sarana produksi, penghematan air 40 – 50%, penggunaan bibit mendekati 90% yang umumnya berkisar 80 – 85% dan penghematan penggunaan pupuk pestisida yang juga akan menekan biaya produksi. Budidaya padi organik metode SRI mengutamakan potensi lokal dan disebut pertanian ramah lingkungan, akan sangat mendukung terhadap pemulihan kesehatan tanah dan kesehatan pengguna produknya. Pertanian organik pada prinsipnya menitik beratkan prinsip daur ulang hara melalui panen dengan cara mengembalikan sebagian biomasa ke dalam tanah, dan konservasi air, mampu memberikan hasil yang lebih tinggi terbukti telah berhasil meningkatkan produktifitas padi sebesar 50% , bahkan di beberapa tempat mencapai lebih dari 100%.

Beliau juga mengapresiasi positif kegiatan tanam dengan metode System of Rice Intensification (SRI) skala luas karena selain mendukung ketersediaan pangan secara nasional juga memberikan solusi positif bagi permasalahan pertanian secara maksimal untuk kesejahteraan masyarakat. Usai panen raya, kunjungan kerja dilanjudkan dengan peninjauan lokasi rumah Kompos dan saluran jitut – jides di desa guyung.

Memandirikan Petani Melalui Festival Benih Padi

diposkan pada tanggal 30 Apr 2010 00.33 oleh Mochtar Hadi   [ diperbarui30 Apr 2010 00.41 ]

Pertanian adalah sector strategis bagi pembangunan Negara berkembang. Pertanian juga menjadi penyokong ketahanan pangan yang sekaligus menjadi lapangan pekerjaan yang menjanjikan dan generator bagi pembangunan pedesaan. Salah satu komponen penting dalam sektor pertanian adalah sector pembenihan yang merupakan hulu dari proses produksi pertanian. Selama beberapa decade terakhir, pengembangan pembenihan bertumpu pada maksimalisasi produktivitas dan spesifikasi produksi yang cenderung mengarahkan system budidaya pertanian menuju sistem tunggal yang didukung oleh paket peket teknologi modern. Upaya ini memang cukup berhasil untuk menjawab tantangan dalam rangka peningkatan produksi pertanian akan tetapi tidak serta merta memberikan pemecahan akan ketersediaan benih akibat ketergantungan pada teknologi pertanian yang begitu besar.

 Sementara itu, peningkatan jumlah Produksi dan Distribusi produk beras dalam kebijakan keamanan pangan diwujudkan dalam pembangunan pertanian yang mengadopsi sistem revolusi hijau. Sejak awal model ini sengaja didesain untuk mengatasi persoalan pangan khususnya beras, sehingga perlu dikembangkan jenis-jenis padi yang berumur pendek dengan tujuan cepat panennya, produksinya tinggi dan tahan terhadap hama penyakit. Berbagai jenis padi unggul dari berbagai jenis varietas, saat ini banyak beredar dan  dibudidayakan oleh masyarakat seperti IR 64, Sintanur, Mamberamo, Cisedane, Ciherang dan lainnya. Namun keberadaan berbagai varietas padi unggulan ini, yang notabene adalah produk impor dan didukung oleh paket teknologi dan pupuk yang juga produk impor, mau tidak mau telah meminggirkan keberadaan benih benih padi lokal sehingga menyebabkan petani kehilangan hak dalam mengelola sumberdaya benih lokal yang ada di wilayahnya.

Secara tradisional, petani secara alamiah telah mendapatkan ilmu dan pengalaman dalam mengembangkan dan mengelola lingkungannya secara berkelanjutan. Benih padi  sebagai sumber kehidupan selalu dijaga dan diupayakan terus tersedia di tingkat petani dengan cara mereka sendiri. Meskipun dengan metode sederhana, para petani tradisional memiliki prinsip prinsip dasar yang sebenarnya kurang lebih sama dengan metode yang telah berkembang saat ini yaitu selalu memperhatikan prinsip dasar dalam membuat benih, seperti asal usul benih harus jelas (tua, sehat, produktif), penyeleksian secara ketat benih waktu dilahan (pengamatan CVL-campuran varietas lain setiap fase ) sampai pada proses panen dan penanganan pasca panen.

Belajar dari pengalaman dan sekaligus mengantisipasi semakin langkanya benih padi lokal, maka kemarin, Rabu, 28 April 2010, Kelompok Among Tani Dusun Pucangan Ngrambe,bekerja sama dengan LSM GITA PERTIWI, KRKP, Petani Dampingan Gita Pertiwi kab. Ngawi mengadakan acara yang bertajuk Festival Benih Padi Petani dengan tema “ Mengembalikan  Hak Petani Atas Benih Padi ”. Festival ini bertujuan untuk mendorong petani atau kelompok untuk memproduksi dan menggunakan benih yang di produksinya sendiri, sekaligus menggali model pengelolaan benih oleh petani atau kelompok tani secara berkelanjutan sehingga nantinya diharapkan para petani bisa mengembangkan dan memproduksi benih yang berkualitas untuk kebutuhannya sendiri, kelompok dan lingkungan.

Tampil sebagai narasumber adalah para wakil Petani Indonesia dari kelompok tani yang telah belajar tentang seluk beluk pertanian di Philipina yaitu Sugiyem dan Surati. Dalam pemaparannya, Sugiyem yang juga tergabung dalam Kelompok tani Gemah Ripah, Wakah , Ngrambe, banyak menyampaikan tentang teknik bagaimana membuat benih sendiri seperti bagaimana pemilihan benih pokok, pemeraman benih, teknik persemaiannya hingga pengemasan benih dan disambung oleh Surati yang pada acara tersebut lebih banyak menyampaikan tentang bagaimana menyilangkan padi sebagaimana yang telah mereka pelajari saat belajar di Philiphina. Dari Festival ini nantinya diharapkan para petani bisa mendapat pengetahuan langsung bagaimana cara cara alternatif membuat benih padi selain yang telah mereka ketahui secara tradisional sekaligus merupakan ajang tukar-menukar benih padi antara kelompok satu dengan yang lainnya yang belum bersertifikat.

            Festival Benih Padi yang diadakan di rumah Supar, Ketua Kelompok Tani desa Pucangan ini juga mendapat perhatian serius dari Pemkab Ngawi. Kepala Dinas Pertanian Ngawi, Ir Dwi Sucipto yang hadir dalam acara tersebut menegaskan bahwa apa yang telah dilakukan oleh para petani dalam proses ketersediaan benih padi akan terus difasilitasi oleh Pemerintah dengan menyediakan tenaga tenaga penyuluh pertanian yang siap memberikan bantuan teknis bagi petani. Acara yang dihadiri 130 petani dari berbagai elemen seperti Paguyuban Petani lereng Selonjono Kab. Wonogiri, IPPHTI, Bappeda , Balitbangda, Badan Ketahanan Pangan Kab. Ngawi dan berbagai kelompok tani yang ada di sekitar Ngrambe mencatat poin penting yaitu kebijakan Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dalam mendorong kemandirian petani atas pengelolaan benihnya sangatlah diperlukan dimana hal ini nantinya petani secara individu maupun kelompok bisa mengembangkan benih untuk memenuhi kebutuhan benihnya baik secara kuantitas, kualitas maupun kontinuitas. Selain itu juga mengembalikan kemandirian petani atas pengelolaan benihnya sendiri dan tidak bergantung pada produk luar yang belum tentu cocok dengan wilayahnya

Pembahasan Draf Dokumen Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) Kabupaten Ngawi

diposkan pada tanggal 28 Apr 2010 00.00 oleh Informasi Humas Kabupaten Ngawi

”Menurunkan jumlah penduduk miskin bukan pekerjaan yang mudah, karena masalah kemiskinan berkaitan dengan beberapa aspek, yaitu rendahnya tingkat pendapatan, gizi, kesehatan, pendidikan, dan rentan terhadap kondisi sosial ekonomi maupun politik, sehingga dibutuhkan kebijakan penanggulangan kemiskinan yang komprehensif”. Begitulah kata sambutan yang diucapkan bapak Sekda H. Mas Agoes Nirbito dalam acara rapat pembahasan dokumen Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah Kabupaten Ngawi pada tanggal 27 April 2010 di aula gedung PKK Kabupaten Ngawi.
Rapat yang dihadiri oleh semua pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah se-Kabupaten Ngawi dan pimpinan LSM ini bertujuan untuk memberikan gambaran relistis terhadap kondisi dan kebutuhan masyarakat miskin, memberikan alternatif langkah-langkah strategis untuk mengurangi kemiskinan dan memberikan acuan untuk melakukan program pengurangan kemiskinan di Kabupaten Ngawi. Rapat ini adalah salah satu bentuk kinerja pemerintah daerah untuk menuju kemakmuran Kabupaten Ngawi.

Transparansi Bermuara Pada Layanan Publik Yang Lebih Baik

diposkan pada tanggal 27 Apr 2010 22.07 oleh Informasi Humas Kabupaten Ngawi

Pemberlakuan UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) dilingkup birokrasi dan institusi, membuka ruang bagi transparansi yang menyangkut pelayanan Publik. Meskipun demikian “UU KIP bukan berarti memberikan informasi yang sebebas-bebasnya. Namun masih ada batas pengecualiannya. Jadi akan berjalan sinergi”. “Informasi diperoleh dengan cepat dan tepat waktu, biaya ringan dan cara yang diterapkan untuk mengakses sederhana. Itulah Keunggulan KIP nantinya,” tegas Suprawoto, Staf ahli Menkominfo Bidang Sosial, Budaya dan Peran Masyarakat dalam Rapat Koordinasi Kehumasan yang diselenggarakan Pem. Kab. Ngawi di Pendopo Wedya Graha, Jum’at 16/4/2010 kemarin.
Pada kesempatan yang sama, Arswendo Atmowiloto yang juga hadir dalam rapat tersebut menuturkan,”Bahwa, Keterbukaan di kalangan pemerintah perlu ditumbuh kembangkan. Keleluasaan dan kemerdekaan berkreasi itu merupakan aspek logis untuk menata transparansi birokrasi dan institusi. Sistem keterbukaan yang terkelola dengan maksimal akan bermuara pada peningkatan layanan publik”. Sementara itu General Manager Radar Madiun Aris Sudanang mengatakan, ”Dibutuhkan Penyelarasan hubungan media massa dan birokrasi untuk mendorong efektivitas pelaksanaan UU KIP. Birokrasi akan Tumpul tanpa menggandeng media sebagai pewarta ke masyarakat”.
Acara yang menghadirkan Staf Ahli Menkominfo Suprawoto, Budayawan Arswendo Atmowiloto, GM Radar Madiun Aris Sudanang dan Daniel Tito owner majalah Genta Sebagai Narasumber utama, merupakan pengalaman yang pertama sekaligus menjadi sesuatu yang tidak terlupakan. Apresiasi tentu diharapkan kegiatan-kegiatan semacam itu akan terus berjalan di tahun-tahun mendatang. “Akan sangat Bagus bila tahun-tahun mendatang bisa dilaksanakan lagi, khususnya di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Ngawi”, tandas Eko Purnomo Kabag Humas Setda Kab. Ngawi Selaku Ketua Panitia Kegiatan. Saking senangnya, Agoes Nirbito Sekretaris Daerah (Sekda) juga turut Nimbrung di moment tersebut. Suasana Akrab dan Penuh Candapun begitu terlihat dari raut wajah mereka. Maklum, para pembicara yang dihadirkan merupakan teman lama. Untuk melengkapi rasa senangnya, Agoes Nirbito mengajak Arswendo putar-putar Ngawi dan sempat mengajak mampir ke sebuah jajanan khas Ngawi, yaitu Tempe Kripik yang sudah menjadi ikon kota perbatasan ini

Deklarasi Pemilukada Ngawi Damai

diposkan pada tanggal 27 Apr 2010 22.00 oleh Informasi Humas Kabupaten Ngawi

Agenda tahapan Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Ngawi tahun 2010, yang di prakarsai oleh Kapolres Ngawi AKBP Budi Sajidin, merupakan “komitmen Pemilukada damai” dengan ditandai penanda tanganan Memorandum of Understanding (MoU) atau kesepakatan bersama Pemilukada damai di aula Polres, Rabu 24/3/2010.
Dalam Nota kesepakatan tersebut dituangkan, mendukung dan meneruskan Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Ngawi tahun 2010, secara langsung, umum, bebas, rahasia, adil, jujur dan beradab dalam tatanan ketentuan hukum yang berlaku, menghormati dan bertanggung jawab mengembalikan pendukung dalam menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif di Kabupaten Ngawi, sanggup menyelesaikan setiap permasalahan secara musyawarah untuk mencapai mufakat dan atau melalui jalur hukum sesuai ketentuan hukum yang berlaku serta menghindari bentuk kekerasan, berjiwa besar untuk menerima hasil Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Ngawi tahun 2010 dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan, (siap menang dan siap kalah).
Usai pembacaan deklarasi damai, masing – masing pasangan calon Kepala Daerah dan Wakil Daerah yakni, Tri Suyono, Spd/Suramto, S.Sos. MSi, Mohammad Rosyidi/Siti Amsiyah, Ir. H. Budi Sulistyono/Ony Anwar, ST, Maryudhi Wahono, SE, MM./Suratno, BSC, Hj. Ratih Sanggarwaty, SE./H. Khoirul Anam Mu’min, SH,Mhi. menandatangani Nota MoU disaksikan Kapolwil Madiun, Bupati Ngawi, Muspida, KPUD, Panwaslu, Ketua DPRD, Ketua Pengadilan, Kajari dan tamu undangan lainnya.
Bupati Ngawi dr. H. Harsono dalam sambutannya menyampaikan, Pemilukada suatu sarana yang tujuannya mensejahterakan masyarakat, untuk itu kita saling menjaga agar tidak terjadi apa yang tidak kita inginkan, kompetisi memamg perlu dibutuhkan tetapi kompetisi yang sifatnya mencari simpati dan tidak menghina orang lain, sehingga Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Ngawi tahun 2010 bisa berjalan dengan damai, sukses dan menghasilkan pemimpin harapan masyarakat.
Kapolwil Madiun Kombes Pol Achmadi, pada kesempatan yang sama juga menyampaikan bahwa, “kita patut memberikan apresiasi”, kepada ke lima pasangan calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang sudah memberikan komitmen bahkan suara hati yang telah tercermin dalam deklarasi damai, tentunya seluruh masyarakat pasti memiliki suara hati yang sama dan menginginkan Pemilukada bisa berjalan aman, tertib, kondusif sesuai koridor hukum yang berlaku.

Fermentasi Jerami Starbio, Usaha Baru Yang Menjanjikan

diposkan pada tanggal 27 Apr 2010 21.54 oleh Informasi Humas Kabupaten Ngawi

Apa yang dilakukan Sukadi S.Pd, seorang mantan Kepala Desa Pandean, Karanganyar merupakan suatu upaya yang perlu ditiru, pasalnya, mantan Kepala Desa yang sekarang aktif menjadi pengajar di SMP 3 Karanganyar, telah melakukan usaha yang bisa menjadi contoh untuk meningkatkan kesejahteraan melalui budidaya fermentasi jerami starbio. Sebagai mantan Kades yang sudah dua kali menjabat sebagai kepala desa, Sukadi tergolong seorang yang peduli dan aktif meskipun tidak lagi menjabat. Hal ini bisa dibuktikan keikutsertaannya dalam membina dan membantu masyarakat sekitarnya dengan aktif dalam kegiatan kelompok tani.
Desa Pandean letaknya berbatasan antara Jawa Tengah - Jawa timur yang mempunyai areal hutan 4.118,114 Ha, sangat cocok untuk peternakan. Di Desa Pandean ini, terdapat 8 Kelompok tani dan ada 2.230 KK, hampir setiap KK rata-rata memiliki 2 ekor ternak, dengan niat yang tulus dan mulia, mantan kepala desa mengundang Balai Penyuluhan Pertanian dari dinas Perikanan dan Peternakan, untuk mengadakan pelatihan pembuatan pakan ternak dari limbah pertanian.
Jerami padi merupakan limbah tanaman pertanian yang sangat potensial sebagai pakan hijauan terutama di daerah kering. Pada penghujan, jerami padi diberikan dalam jumlah sedikit. sedangkan pada musim kemarau pada umumnya peternak memberikan jerami padi sebagai hijauan tunggal. Jerami padi mengandung sedikit protein, lemak dan pati serta serat kasar yang relatif tinggi karena lignin dan silikanya tinggi. Untuk meningkatkan kecernaan jerami padi dan jumlah konsumsinya, jerami padi perlu diberi perlakuan secara biologis dengan menggunakan probiotik. Probiotik merupakan produk bioteknologi yang mengandung polimikroorganisme, lignolitik, proteolitik, amilolitik, sellulolitik, lipolitik dan nitrogen non simbiotik yang dapat memfermentasi jerami sehingga dapat meningkatkan kualitas dan nilai kecernaannya
Pelatihan pembuatan pakan ternak dengan cara fermentasi jerami starbio yang dilakukan di desa Pandean Kecamatan Karanganyar, tepatnya di rumah mantan kades Sukadi, SPd., Senin 22/2/2010 yang dihadiri oleh satuan kerja dari Dinas Perikanan dan Peternakan, dalam hal ini diwakili oleh Kasi Pelayanan Usaha,Darijono S.Pt, para penyuluh peternakan, Bagian Humas setda Kab. Ngawi dan kelompok tani. Diharapkan para petani ternak mendapatkan semacam pengetahuan, dan sudah tidak akan kesulitan lagi tentang pakan ternak.
Saat ini Pemerintah menggalakkan UKM ( Usaha Kecil Menengah ) untuk menunjang kegiatan ekonomi masyarakat, oleh sebab itu masyarakat diajari salah satu kegiatan yang bersifat meningkatan, mendorong ekonomi produktif sehingga masyarakat tidak menggantungkan bantuan.
Dengan cara intensifikasi atau penggemukan melalui pakan ternak fermentasi starbio, bisa membantu Pemerintah Kabupaten Ngawi untuk mensumplai daging, sehingga tidak perlu import dari luar negeri. Ini merupakan salah satu poin untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Untuk memulai usaha sapi kereman paling tidak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya, memiliki ilmu, modal dan pemasaran. Dalam hal ini sdr. Darijono,menyampaikan bahwa fermentasi adalah proses perombakan dari struktur keras secara fisik, kimia dan biologis sehingga bahan dari struktur yang komplek menjadi sederhana, dan daya cerna ternak menjadi lebih efisien. Kemudian dilanjutkan dengan mempraktekan pembuatan pakan ternak secara fermentasi jerami starbio, dengan sebelumnya harus mengetahui komposisinya, bila jeraminya basah seberat 1 ton maka, starbio 5 Kg dan urea 5 Kg, kalau jerami kering dengan perbandingan starbio 6 Kg serta urea 6 Kg, sedangkan cara pembuatannya meliputi:
1. Tempatkan jerami pada tempat yang terlindung dari sinar matahari
2. Kelembaban jerami 60% yaitu basah ditelapak tangan
3. Tumpuk jerami setinggi 30 cm kemudian atasnya ditabur starbio dan urea, lalu diinjak-injak, lakukan berulang-ulang sampai ketinggian 1,5 cm, tumpuk jerami secara menyilang, guna mempermudah pembongkaran untuk penjemuran, apabila jerami kering, sirami dengan air terutama pada minggu pertama.
4. Jerami diperam selama 21 hari, jangan sampai lebih karena bisa jadi kompos.
5. Bongkar jerami kemudian diangin – anginkan atau dijemur lalu dapat disimpan, sebagai stok yang dapat disimpan selama 1 tahun.
6. Setelah diangin – anginkan sudah dapat diberikan pada sapi.
Untuk mengetahui Ciri – ciri jerami fermentasi yaitu : selama proses fermentasi jerami berbau harum, jerami berwarna coklat, serat jerami menjadi lunak

Antisipasi Kekurangan Tenaga Penggarap, Petani Gunakan Sistem Tabela

diposkan pada tanggal 27 Apr 2010 21.28 oleh Mochtar Hadi   [ diperbarui27 Apr 2010 21.34 ]

Panen raya padi hibrida sistem Tabela yang dilaksanakan di desa Sidorejo, Kecamatan Geneng (1/03/2010) menyisakan cerita tersendiri. Sebagai sebuah sistem baru, tabela atau tanam benih langsung memang memiliki beberapa keunggulan yang membuat sistem ini dengan cepat bisa menarik perhatian petani. Adapun keunggulannya adalah : Sistem tabela hemat kebutuhan air hingga 20% per musimnya, Hemat kebutuhan tenaga kerja tanam. Dengan sistem tabela kebutuhan tenaga kerja penanam untuk luasan 1 hektar adalah lima orang tenaga kerja dengan waktu + 4 jam sehingga besar biaya akan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan budidaya dengan sistem yang selama ini dipakai petani, Hemat waktu karena tidak diperlukan kegiatan persemaian, Tanaman tumbuh lebih cepat karena tidak memerlukan waktu untuk penyesuaian lahan dan menghasilkan anakan yang dapat berproduksi secara maksimal. Hasil produksi lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanam pindah dan tanaman lebih tahan terhadap serangan hama penggerek batang / Sundep.
Akan tetapi beberapa keunggulan tersebut tidak serta merta membuat tabela jauh dari kelemahan. Salah satu yang mengemuka adalah jatuhnya benih tidak merata pada waktu penyebarannya. Hal ini disebabkan sistem tabela menggunakan alat bantu atabela (alat tanam benih langsung) / peralatan yang dilengkapi dengan roda.
Untuk itu, Bupati Ngawi dr. Harsono yang secara langsung memimpin panen raya sistem tabela bayer ini mengatakan, apa yang telah dilakukan Bayer selaku partner petani dalam bercocok tanam padi sistem tabela ini pantas untuk di apresiasi dan ditindaklanjuti karena telah membuktikan beberapa hasil positif bagi petani. Pernyataan Bupati dibenarkan Moh. Rizkon selaku perwakilan Bayer. Selanjutnya Rizkon menegaskan bahwa Bayer akan terus berkomitmen sebagai partner petani dengan membantu petani mengembangkan inovasi teknologi pertanian yang salah satunya bisa dibuktikan dengan terciptanya sistem tabela beserta baytani atau alat tebar benih langsung. Baytani dirancang bangun dengan harapan, sistem tabela dapat menjadi alternatif dalam bercocok tanam padi selain sistem pindah tanam. Sekaligus sebagai solusi makin sulitnya tenaga tanam. Dan yang lebih penting, tabela baytani merupakan teknologi bertanam padi hemat air. Secara teori antara tabela dengan sistem pindah tanam, kebutuhan airnya berbeda. Pada sistem pindah tanam, yang ditanam adalah bibit sehingga perlu air untuk penggenangan.Jika tidak digenangi, maka bibit akan mati. Sedangkan pada tabela, biji yang ditanam akan tumbuh dalam situasi aerob, jadi bila digenangi jadi bila digenangi akan mati. Jadi, diperlukan kondisi yang tidak tergenang. Dari sisi bahan yang ditanam saja menunjukkan tabela memang hemat air. Setelah sebar benih sampai umur 19 hari, kondisi lahan hanya macak-macak. Pada umur 10—30 hari, tanaman memasuki masa pertumbuhan. Perbanyakan anakan akan berlangsung bagus bila diberikan air secara berkala 2—3 hari sekali. Air masuk cukup sampai memenuhi caren dan membasahi permukaan guludan. Setelah 30 hari dan seterusnya, tanaman bisa diperlakukan seperti sistem pindah tanam. Setelah sebar benih sampai umur 19 hari, kondisi lahan hanya macak-macak. Pada umur 10—30 hari, tanaman memasuki masa pertumbuhan. Perbanyakan anakan akan berlangsung bagus bila diberikan air secara berkala 2—3 hari sekali. Air masuk cukup sampai memenuhi caren dan membasahi permukaan guludan. Setelah 30 hari dan seterusnya, tanaman bisa diperlakukan seperti sistem pindah tanam.
“,Lima hingga sepuluh tahun kedepan, minat para pemuda untuk menjadi petani akan semakin berkurang, hal ini disebabkan beberapa faktor, sehingga pada masa itu nantinya tenaga penggarap tani secara otomatis juga akan berkurang. Untuk itu, saya sangat mendukung bila sistem tabela dikatakan hemat tenaga. Selain itu juga bisa menjadi langkah antisipasi bila kedepannya tenaga penggarap padi memang benar benar menipis”, ungkap Bupati menanggapi pernyataan Rizkon seputar hemat tenaga sistem tabela
Terkait dengan ketersediaan bibit, Bupati juga menghimbau para petani agar lebih kreatif mengembangkan diri, tidak hanya menggantungkan pada bibit padi hibrida akan tetapi juga mampu menciptakan dan membudidayakan bibit sendiri. Hal ini bertujuan selain hibrida kurang begitu maksimal untuk daerah tropis seperti Ngawi, juga bermaksud untuk menghilangkan ketergantungan terhadap bibit hibrida. “, Kalau petani sudah ketergantungan, suatu saat bila bibit hibrida ini harganya naik, para petani sendiri yang akan cotho “, kelakar Beliau. “, Selama ini, Ngawi selalu mengembangkan pertanian melalui 3 manajeman yaitu, manejemen lahan, menajemen air dan manajemen pola tanam dan bayercorp dengan tabelanya telah masuk kedalam 3 mola manajemen ini, Untuk itu, sekali lagi, Pemkab Ngawi mengucapkan terima kasih pada Beyercorp yang telah membantu masyarakat Ngawi dalam inovasi dan improvisasi teknologi pertanian, sekaligus membantu Pemkab yang selama ini terus berusaha mengembangkan pertanian sebagai mainbase pembangunan di Ngawi “, Pungkas beliau mengakhiri sambutannya.

Pemerintah Lakukan Evaluasi Dan Perencanaan Pembangunan Lewat Sensus Penduduk 2010

diposkan pada tanggal 27 Apr 2010 21.23 oleh Press Release

Sensus penduduk pada dasarnya merupakan kegiatan penghitungan jumlah penduduk di seluruh atau sebagian teritorial suatu negara dan mengumpulkan karakteristik pokok semua penduduk, rumah tangga dan bangunan tempat tinggal. Sesuai amanat Undang Undang nomor 16 tahun 1997 tentang statistik, penyelenggara sensus penduduk adalah Badan Pusat Statistik (BPS) dengan rentang waktu pelaksanaan sensus setiap sepuluh tahun sekali.
Tujuan dan manfaat sensus penduduk adalah menghitung jumlah penduduk serta mengumpulkan informasi dasar kependudukan dan perumahan masyarakat Indonesia yang nantinya akan bermanfaat untuk memperoleh informasi dasar kependudukan dan perumahan yang akan digunakkan untuk bahan evaluasi pembangunan serta perencanaan pembangunan kependudukan, sosial, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di masa mendatang.
Sensus Penduduk 2010 mencakup semua penduduk yang tinggal di seluruh wilayah teritorial Indonesia baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing yang bertempat tinggal tetap maupun yang bertempat tinggal tidak tetap termasuk anggota korps diplomatik di luar negeri beserta anggota rumah tangganya akan tetapi tidak mencakup anggota korps diplomatik negara asing beserta anggota rumah tangganya meskipun tinggal di wilayah teritorial Indonesia.
Hal ini terungkap dalam acara Sosialisasi Sensus Penduduk 2010 yang dilaksanakan rabu,10 Maret 2010 di Pendopo Widyagraha Kab. Ngawi yang dihadiri oleh pejabat dari BPS Propinsi serta dari Kab Ngawi, Pemkab Ngawi dan perangkat desa se- Kab. Ngawi. Menurut Drs H Widarto Adisiswanto, Kepala BPS Ngawi, Sensus Penduduk 2010 akan dilaksanakan 1-31 Mei 2010 di semua daerah di Indonesia. Untuk Kabupaten Ngawi akan mengerahkan petugas sebanyak 2100 petugas yang terlebih dahulu dilatih selama 3 hari penuh. “,Proses sosialisasi sensus penduduk ini akan dijalankan secara bertahap, mulai dari karyawan di BPS, pejabat di lingkup pemerintahan, sosialisasi tingkat RT dan bahkan pada bulan april akan dilaksanakan siaran keliling dan jalan sehat untuk menggugah kesadaran masyarakat akan arti pentingnya sensus penduduk ini”, ungkap Widarto.
Sementara itu Drs. Hera Hendra Permana, Kabid Sosial Prop. Jatim menambahkan, pada tanggal 15 Mei 2010, akan dilaksakan sensus untuk penduduk tuna wisma dan penduduk yang bertempat tinggal tidak tetap seperti gelandangan, anak jalanan dsb. “, Sensus Penduduk 2010 ini nantinya akan menggambarkan Indonesia sebagai sebuah negara besar dengan beragam potensinya serta menggambarkan pencapaian kualitas kehidupan penduduk di bidang ketenaga kerjaan, kualitas perumahan dan kesejahteraan secara umum”, Imbuhnya.
Sebagai Informasi, Sensus Penduduk 2010 ini bukan hanya agenda Bangsa Indonesia saja. PBB sebagai sebuah Badan Internasional juga mengagendakan kegiatan yang sama dengan cara menyerukan kepada semua negara-negara di dunia untuk melakukan sensus penduduk dimana Amerika Serikat dan China sebagai dua negara dengan penduduk terbesar di dunia juga akan melakukan sensus Penduduk pada tahun 2010.

1-10 of 13