Sermons‎ > ‎

KERENDAHAN HATI YESUS

posted Mar 28, 2010, 1:04 AM by Edick Mbatono   [ updated Apr 1, 2010, 7:04 AM ]
 
Bahan Alkitab : Yohanes 13 : 1-17
Beberapa hari lagi kita akan memperingati hari kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus, saya teringat akan suatu kejadian di masa remaja ketika dalam suatu Retreat ada demonstrasi tentang pembasuhan kaki. Bagi setiap orang yang belum menghayati akan arti dan makna dari pembasuhan kaki maka hal itu dijadikan suatu hal yang aneh dan tidak dimengerti oleh pikiran kita. Ketika saya teringat akan kejadian tersebut, maka saya ingin mendalami lebih banyak arti dan makna pembasuhan kaki oleh Tuhan Yesus kepada murid-muridNya sebelum perjamuan Paskah. Suatu kisah yang akan memberikan penghayatan dalam diri kita didalam menyambut peringatan kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Ada beberapa nara sumber yang akan saya tambahkan untuk renungan minggu ini.

Pembasuhan kaki adalah budaya lama yang dilakukan oleh orang yang mempunyai posisi rendah daripada orang yang dibasuh, seperti halnya seorang budak kepada tuannya, seorang murid kepada gurunya. Kitab Yohanes 13 kita menemukan bahwa Tuhan Yesus sebagai orang yang dihormati justru sebaliknya membasuh kaki murid-muridNya, Ia ingin menunjukkan suatu pengajaran tentang kerendahhatian melalui momen ini. Ia menanggalkan jubah dan mengenakan kain yang diikatkan di pinggang , lalu mengambil air untuk dibasuhkan dan mengeringkan kaki dengan kain. Cara tersebut merupakan gambaran penampilan budak yang sedang membasuh kaki, dan hal ini dijadikan contoh bagi murid-muridnya untuk belajar merendahkan diri.

Pembasuhan kaki mempunyai 3 makna :

1. Demonstrasi kasih yang sempurna (Yoh 13:1-5)

Tuhan Yesus mengasihi murid-muridNya sampai kesudahan. Sampai kesudahan mempunyai dua aspek yaitu apek waktu dan kualitas. Hal ini Ia akan lakukan sampai kembali kepada Bapa atau mengarahkan kita kepada kematianNya di atas kayu salib. Pembasuhan kaki juga ia lakukan kepada Yudas Iskariot sambil Ia menundukkan badan dan kepala dihadapannnya, Ia tahu bahwa hati Yudas Iskariot telah dikuasai iblis. Tuhan Yesus melakukan hal ini dengan kerelaan hati tanpa ada keharusan atau paksaan, yang mendasari adalah adanya kasih, tanpa kasih maka tidak ada kerendahan hati.

2. Simbol penebusan dosa di kayu salib (Yoh 13:6-11)

Petunjuk penebusan dosa tergambar dalam pembicaran Tuhan Yesus dengan Petrus. Terdapat penolakan dan ketidak mengertian Petrus terhadap cara yang dilakukan Yesus terhadap dirinya. Petrus tahu bahwa Yesus tidak layak melakukan hal itu, hal ini mengarahkan Petrus untuk mengerti bahwa tindakan pembasuhan kaki memiliki makna yang dalam dari sekedar membersihkan kaki. Tuhan Yesus katakan kepada Petrus bahwa ia tidak mengerti sekarang tapi ia akan mengerti kelak. Kata kelak dimaksudkan pada saat kematianNya di kayu salib. Jika petrus tidak mau dibasuh kakinya maka ia tidak dapat mendapat bagian di dalam Dia, diartikan disini bahwa Petrus tidak bisa memawarisi berkat rohani akhir jaman, seperti yang dijanjikan Yesus ada jaminan tempat di surga ketika Ia kembali ke surga. Pembasuhan kaki tidak sekedar pembersihan kaki secara fisik tetapi Yesus mengajarkan bahwa berkat rohani di surga hanya bisa di dapat melalui pembasuhan kaki.

Pembasuhan kaki hanya dilakukan Yesus hanya sekali untuk selamanya, jadi penebusan dosa dilakukan Yesus hanya sekali, namun mandi dapat dilakukan berulang kali untuk membersihkan tubuh sama halnya kita harus membersihkan diri dengan firman Tuhan agar diri kita berbuah. Pembersihan harus dilakukan dengan firman Tuhan maupun penebusan Kristus dikayu salib, dua-duanya bukan pilihan tetapi suatu keharusan.

3. Contoh/teladan hidup orang Kristen (Yoh 13:12-17)

Murid-murid mngakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan guru, berarti ada konsekuensi dari seorang guru untuk memberi teladan dan contoh kepada murid-muridNya. Sebagaimana yesus lakukan pembasuhan kaki kepada murid-muridnya maka mereka wajib untuk saling membasuh kakinya. Ini ditekankan tuhan Yesus bahwa kita tidak perlu memandang siapa dia yang kita basuh. Tuhan Yesus sendiri yang telah merendahkan diri untuk membasuh kaki murid-muridnya, dan hal ini juga memberikan pengajaran bahwa kita juga haru merendahkan diri kepada orang lain.
 
Oleh: Beni Setyo
 
 

 
 
Comments