Renungan Warta, 28 Agustus 2011

diposkan pada tanggal 2 Sep 2011 21.03 oleh Essy Eisen
“Setiap orang yang mau mengikut Aku,
ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”

Matius 16:21-28

Kata “sejak waktu itu” menandakan sebuah titik balik. Yesus menekankan kematian dan kebangkitan yang akan dijelang-Nya. Hal ini belum masuk dalam pikiran para Murid karena mereka memiliki gambaran yang berbeda dengan Yesus soal peran mesias. Ini adalah yang pertama dari tiga pernyataan Yesus tentang penderitaan yang akan ditempuh-Nya (Lihat Mat. 17:22-23; 20:18). Petrus, yang pada bagian sebelumnya dengan tegas mengungkapkan identitas Yesus, mencoba “melindungi” Yesus dari peran mesias yang harus menderita. Tetapi Yesus menegaskan bahwa apa yang dipikirkan Petrus keliru. Yesus tidak terjebak dengan pendapat Petrus yang dapat membelokan tugas-Nya menuju ke “ruang nyaman”.

Dalam pencobaan di padang gurun, Yesus mendengar godaan untuk mendapatkan kemuliaan tanpa harus mengalami penderitaan dan kematian (Mat 4:9). Di sini rupanya Ia mendengarnya kembali dari mulut Petrus. Walaupun Petrus mengenali Yesus sebagai mesias, tetapi rupanya ia belum melihat dalam cara pandang Allah dan hanya menilai situasi kehidupan melalui pandangan manusiawinya saja.

Yesus lalu menggunakan penggambaran “memikul salib” sebagai nasihat bagi para murid dalam soal mengikuti-Nya. Murid-murid tahu apa yang dimaksud-Nya. Salib adalah cara hukuman mati orang Roma bagi para penjahat. Mereka diharuskan membawa salib melewati jalan-jalan utama menuju tempat penyaliban. Mengikuti Yesus dengan demikian menuntut komitmen yang jelas, beresiko dan tidak ada kesempatan untuk berbalik arah (Mat 10:39).

Kemungkinan untuk kehilangan nyawa merupakan keniscayaan bagi para murid, terlebih bagi Yesus. Komitmen sejati selalu berbuahkan kepada pelayanan yang nyata. Jika murid-murid mencoba untuk melarikan diri dari kematian, kesengsaraan dan ketidaknyamanan, mereka ada dalam bahaya kehilangan kehidupan yang kekal. Pilihan kehidupan kekal dan bermakna hanya dapat ditemukan di dalam pengenalan yang benar akan Kristus. Ini memampukan seseorang untuk melihat bahwa hidup di dunia ini sebagai pembuka terhadap kehidupan kekal yang akan dijelang. Bagaimana kita menghidupi kehidupan sekarang ini akan berpengaruh kepada kehidupan yang akan datang. Evaluasi gaya hidup dengan menggunakan cara pandang hidup kekal, akan mempengaruhi nilai hidup dan cara orang memilih di dalam kehidupan saat ini.

Yesus Kristus sudah diberikan otoritas untuk menghakimi dunia (Roma 14:9-11; Filipi 2:9-11). Meskipun penilaian-Nya sudah terjadi dalam kehidupan pada waktu sekarang ini, ada penghakiman terakhir saat Ia datang kembali (Mat 25:31-46) dan kehidupan setiap orang akan ditelisik dan dinilai. Pengikut Kristus juga akan menghadapi penghakiman. Allah akan mempertanyakan sejauh mana mereka sudah mengelola talenta yang dikaruniakan, kesempatan dan tanggungjawab mereka akan kehidupan yang sudah ditebus, untuk kemudian mendapatkan upah sorgawi. Hak penghakiman itu adalah hak Allah. Setiap orang tidak boleh menghakimi sesamanya.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments