Tujuan Kita‎ > ‎

Terjemahan Alkitab yang paling tepat

Alkitab yang adalah wahyu Allah ditulis dalam dua bahasa, Ibrani dan Yunani. Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani sedangkan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani. Tentunya, kedua bahasa itu hanya dipahami oleh kalangan terbatas, yakni mereka yang mengerti kedua bahasa tersebut.

Lalu bagaimana caranya agar sebanyak mungkin orang dapat mengerti tentang karya keselamatan Allah yang tertulis di dalam buku suci itu? Jalan satu-satunya adalah menerjemahkan Alkitab ke dalam berbagai bahasa yang dapat dimengerti oleh pembacanya dalam konteks budaya dan bahasanya.

Tentang hal ini, ada sebuah kisah menarik. Ceritanya begini. 

Ada seorang mahasisawa teologi yang sangat pintar dan jago di kelasnya. Dia dikenal teman-temannya sebagai pakar dalam bahasa Yunani dan Ibrani. Dia bahkan mengambil kelas khusus mengenai kedua bahasa tersebut. Selain kelas khusus, dia juga privat dibawah bimbingan seorang profesor teologi ternama yang juga sangat ahli dalam bidang bahasa. Mahasiswa ini juga dikenal sangat hebat dalam berargumentasi. Profesor yang hebat sekalipun kewalahan ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya. Ide-idenya cemerlang dan berbeda dengan ide mahasiswa lain pada umumnya.

Suatu hari, mahasiswa itu pulang ke kampungnya karena kuliah libur. Begitu sampai di kampung, dia berkunjung ke rumah neneknya. Ketika tiba di sana, dia mendapati neneknya sedang asyik membaca Alkitab. Nenek ini sudah membiasakan diri merenungkan dan membaca Alkitab setiap hari. “No Bible, No Breakfast”, demikianlah semboyan hidup si nenek tua yang usianya sudah 70 tahun itu.

Menyaksikan neneknya sangat percaya pada apa yang tertulis di dalam Alkitab, mahasiswa teologi yang hebat ini mencoba melontarkan pertanyaan kepada neneknya. “Nek, apakah nenek percaya pada apa yang tertulis di dalam Alkitab itu? “ 

“Ya, Jawab si nenek penuh kemantapan”. Lebih lanjut mahasiswa ini bertanya lagi, apakah nenek tahu bahwa Alkitab ditulis dalam dua bahasa, Yunani dan Ibrani. “Katanya orang sich begitu”, jawab nenek singkat.

“Alkitab ini adalah terjemahan Nek”, jelas si mahasiswa. Ya, Aku juga tahu begitu. Bagaimana Nenek tahu bahwa hasil terjemahan mereka benar? Bagaimana jika di dalamnya terdapat terjemahan yang keliru, bukankah itu merusak iman Nenek ? Sebagai mahasiswa yang ahli bahasa, saya berharap Nenek tidak usah fanatik terhadap isi Alkitab itu. Sesungguhnya, banyak terjemahan yang keliru di dalamnya.

Mendengarkan si cucu berkata Alkitab terjemahannya keliru, Nenek yang sederhana itu berkata demikian. “Meskipun terjemahan para pakar keliru, tetapi saya sudah punya terjemahan sendiri koq”. Terjemahan? Terjemahan seperti apa itu? Tanya mahasiswa yang pintar ini penuh keheranan. Kapan Nenek saya jadi ahli bahasa pikirnya. Aku ingin tahu Nek, seperti apakah terjemahan itu? Siapa penulisnya? Penerbit bukunya dari perusahaan apa?

Ketika aku sakit, DIA datang memberi kesembuhan. Ketika aku putus asa, DIA datang memberi pengharapan. Ketika aku perlu, DIA mengulurkan tangan-Nya memberi pertolongan. Sekarang bagaimana engkau berani berkata bahwa Firman Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab itu keliru ? Bagaimana engkau berani berkata bahwa Allah yang tertulis di dalam Alkitab itu adalah Allah yang keliru ?

Bagiku, apapun kata orang, aku tidak peduli. Secara pribadi aku telah mengalami bahwa Allah dan FirmanNya yang tertulis di dalam Kitab Suci benar adanya. Bagiku, INILAH TERJEMAHAN ALKITAB YANG PALING TEPAT. Ketika Allah dan FirmanNya nyata di dalam hidupku, maka itulah terjemahan tentang Allah yang tidak dapat dibantah oleh Teolog yang belum mengalami TUHAN sekalipun.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa Firman Tuhan harus dihidupi, agar menjadi nyata dalam kehidupan keseharian kita. Pemazmur berkata : “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku (Mazmur 119:105). Tuhan memberkati kita. Amin.

Solo, 24 Pebruari 2004

Manati I. Zega
Comments