Sofi (16) terjebak antara ambisi dan tuntutan keluarga. Saat ujian menentukan segalanya, ia dan Roni (16) mengambil risiko besar yaitu melakukan kecurangan. Satu keputusan mengubah hubungan, nilai, dan cara mereka melihat diri sendiri.Â
Saya membuat film ini sebagai bentuk suara atas frustrasi yang sering dialami remaja ketika mereka tidak diberi ruang untuk menyalurkan bakat dan minatnya. Remaja kerap dianggap belum mampu menentukan apa yang mereka inginkan karena dinilai belum dewasa. Akibatnya, banyak dari mereka memilih jalan pintas demi mempertahankan pilihannya, termasuk melakukan kecurangan.
Kecurangan akademik adalah praktik yang masih marak terjadi di lingkungan pendidikan. Sering kali, ini bukan sekadar soal moralitas, tetapi hasil dari tekanan yang kompleks. Salah satu pemicunya adalah tuntutan orang tua untuk meraih nilai tinggi tanpa mempertimbangkan proses belajar, kapasitas individual, maupun potensi non-akademik yang dimiliki anak. Ketika tekanan itu tak memberi ruang untuk gagal atau berkembang secara alami, remaja merasa tidak punya pilihan lain selain melakukan kecurangan.
Kita lupa bahwa manusia memiliki berbagai bentuk kecerdasan. Tidak semua individu unggul secara akademis dan itu tidak menjadikan mereka gagal. Lingkungan yang hanya berfokus pada angka dan pencapaian formal justru berpotensi mematikan potensi lain yang tak kalah penting.
Lewat film ini, saya ingin membuka ruang diskusi tentang bagaimana sistem pendidikan dan pola asuh keluarga yang terlalu menekan dapat mendorong remaja ke arah keputusan yang keliru. Ini bukan sekadar cerita tentang kecurangan, tetapi tentang keresahan yang tersembunyi di baliknya.
M. Raihan Rizki Putra - Sutradara DEAL!