Bagaimana Menaklukkan Autisme dengan Hasil yang Menakjubkan Autis merupakan gangguan kesehatan pada anak yang hampir tidak bisa disembuhkan. Berbagai pengobatan, perawatan atau terapi umum untuk mengatasinya selalu mahal, tidak praktis, serta sedikit memberikan kemajuan. Apalagi untuk kesembuhan, terapi konvensional sampai saat ini belum berhasil memberikan solusi kesembuhan yang memuaskan bagi autis. Dengan program terapi kami, kans kesembuhan bisa dicapai 50-100%. KesaksianUmur 5 Bulan Terlihat Tanda-Tanda Autis Rayhan G. Rifqie (Aldo) – diceritakan oleh Doni Widya (orangtua Aldo) Aldo lahir di Pontianak pada tahun 2000 secara Caesar. Pada umur 5 bulan, mulai terlihat keanehan pada Aldo. Pandangannya tidak dapat focus, waktu mulai berjalan sering membenturkan kepalanya ke dinding, belum dapat berbicara, hiperaktif, dipanggil sering acuh, dan sering berbicara sendiri yang tidak jelas artinya. Sepertinya ia mempunyai dunianya sendiri. Pada usia 1,5 tahun, Aldo melakukan tes BERA di laboratorium RSU Dr. Sardjito dan dinyatakan tidak ada gangguan. Sedangkan hasil tes EEG menunjukkan adanya gangguan pada syaraf otaknya. Kemudian melakukan tes dengan tumbuh kembang anak. Hasil tes menunjukkan adanya kecenderungan mengarah ke autism. Kemudian, dari hasil tes virus, juga diketahui bahwa terdapat virus Rubella +126. Selain itu, Aldo juga pernah diimunisasi MMR. Setelah itu, selama 1 minggu, Aldo mengalami panas tinggi dan ciri-ciri autisnya semakin jelas terlihat, seperti hand-bang, memakan apa yang ada di depannya, jalan berjinjit, suka berteriak-teriak, sulit makan, sulit buang air besar, dan emosinya tinggi. Pada usia 2 tahun, Aldo mulai bersekolah di TK Autis Dian Amanah dan mulai mengonsumsi produk HD Honebee PollenS dan HD Clover Honey. Setelah mengonsumsi selama 3 hari, konsentrasi belajarnya semakin meningkat, nafsu makannya semakin membaik. Dan selama kurang lebih enam bulan mengonsumsi, banyak perkembangan yang semakin membaik, seperti konsentrasi belajar dan nafsu makan yang membaik, buang air besar lancer, tingkat hiperaktifnya berkurang, serta tidak lagi rentan terhadap penyakit radang tenggorokan dan flu seperti sebelumnya. Enam bulan kemudian, saya menambahkan HD Bee Propolis untuk Aldo konsumsi. Virus dalam tubuhya pun mulai hilang, bicaranya semakin jelas dan terarah, walaupun masih meniru (echolalia). Ciri-ciri autismenya pun semakin menghilang. Pada usia 3,5 tahun, karena banyaknya perkembangan yang baik dari Aldo, membuat pihak TK Dian Amanah mempersiapkan Aldo untuk bisa masuk ke TK umum. Dan kini, Aldo sudah bersekolah di TK umum Tunas Melati, Yogyakarta. Perkembangannya semakin pesat, bicaranya semakin jelas dan terarah, sudah dapat berkomunikasi 2 arah, dapat bersosialisasi dengan teman-temannya tanpa hambatan, mengerti mana yang benar dan tidak benar. Kini, Aldo sedang dalam persiapan masuk ke SD umum. Selama 3 tahun menggunakan produk HD, banyak sekali perkembangan yang terjadi pada Aldo, bahkan di stkis Yogyakarta, Aldo mendapat julukan anak Pollen. Produk HD memang sungguh berkhasiat. Senang Bermain Sendiri dan Sangat Nakal Kesaksian Lisa, 30 Tahun. Pangkal Pinang Pada awalnya anak saya tidak menunjukan kelainan apapun, sikap dan tingkah lakunya pun normal. Tetapi ketika menginjak usia 3 tahun, sikapnya mulai berubah. Dia senang bermain sendiri dan menjadi sangat nakal. Saya sudah mencoba berbagai macam pengobatan, tetapi tidak kunjung memberikan hasil. Setelah menjalani beberapa tes dan terapi, akhirnya diketahui bahwa anak saya menderita autis hiperaktif. Walaupun saya memasukannya di sekolah umum, namun sikap dan tingkah lakunya tidak berubah. Pada suatu hari, seorang teman saya menawarkan produk perlebahan HD kepada saya. Sejak saat itulah saya mulai memberikan HD Clover Honey, HD Honeybee PollenS, HD Royal Jelly, dan Melatonin kepada anak saya. Semenjak mengonsumsi produk HD hingga saat ini, anak saya sudah menunjukan banyak perubahan. Saat ini anak saya sudah dapat mandi dan makan sendiri, bisa bermain sepeda, dan mau diajak berkomunikasi. Keluarga saya saat ini juga mengonsumsi produk HD. Terima kasih HD yang telah membantu proses penyembuhan anak saya. Divonis Autis Sejak Berusia 2 Tahun Annisa Nur Asyifa - diceritakan oleh Nurasiah (orangtua Annisa) Saat berusia 2 tahun, seorang dokter di Jambi telah memvonis bahwa Annisa merupakan penyandang autism. Dokter tersebut menyarankan agar Annisa diterapi dan harus melakukan kontrol ke dokter setiap bulannya. Sarn dokter tersebut saya ikuti sampai Annisa berusia 5 tahun 4 bulan. Namun, ternyata ada efek samping dari obat-obatan yang harus Annisa konsumsi. Jari-jari Annisa sepertinya mengalami alergi, karena timbul bintik-bintik seperti terkena kutu air. Saya sudah memberikan obat, namun tidak berhasil. Selain itu, daya tahan tubuh Annisa pun tidak stabil. Annisa sering mengalami panas, sulit makan, dan sulit untuk belajar. Pada awal Oktober 2006, sepupu saya, Kartasiah, menawarkan produk HD kepada saya. Karena tertarik, maka pada November 2006, saya mulai mencoba memberikan HD Honeybee PollenS, HD Clover Honey, dan HD Royal Jelly Liquid kepada Annisa. Alhamdullilah, mulai ada perkembangan kesehatan pada Annisa. Annisa mulai jarang panas, makannya pun mulai banyak, dan jari-jarinya yang kasar seperti terkena kutu air pun, kini telah bersih kembali. Hal baik lainnya, setelah Annisa mengonsumsi produk-produk HD tersebut selama 5 bulan, Annisa mulai menyenangi kegiatan belajar (membaca, menulis, dan terutama mewarnai), kosakatanya semakin bertambah, emosinya mulai terkontrol. Biasanya Annisa mudah sekali marah dan menangis, kini apabila dijelaskan secara perlahan, Annisa sudah memahami. Bahkan, kini Annisa sudah dapat menghafal beberapa surat pendek di Al Qur’an, salah satunya adalah Ayat Kursi. Obat dokter pun tidak lagi saya berikan kepada Annisa agar dia tidak menjadi tergantung dengan obat-obat medis. Saat ini, Annisa sudah bersekolah di TK umum dan caranya berkomunikasi pun semakin membaik. Terima kasih Allah, yang telah menunjukkan jalan bagi saya untuk dapat mengenal produk HD. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB AUTISME Profesor Baron-Cohen percaya bahwa kombinasi dari faktor genetika dan lingkungan seperti misalnya pestisida serta paparan hormon berlebih saat di dalam kandungan adalah faktor potensial dibalik meningkatnya angka penderita autis. Disamping itu, Dr. Blaylock dalam bukunya menyebutkan bahwa vaksin pada anak juga faktor yang tinggi penyebab autis, disamping faktor terpapar merkuri dan aluminium. Faktor lingkungan pemicu autisme yang tidak bisa diremehkan meliputi: · Merkuri – Sudah merupakan fakta tak terbantahkan bahwa terpapar mercuri akan dapat membuat daya tahan tubuh, sensor tubuh, syaraf otak, dan kemampuan gerak jadi terganggu, dimana ini semua merupakan kondisi dari autisme. Thimerosal, yang ditambahkan pada vaksin, merupakan sumber utama adanya merkuri pada anak yang telah melampaui ambang keamanan. · Virus pada Vaksin – Vaksin mengandung berbagai agen aktif termasuk virus, bakteri mati, dan zat kimia beracun termasuk aluminium, merkuri, dan formaldehyde. Walaupun kebanyakan pihak memfokuskan merkuri sebagai penyebab autis, kandungan virus di dalam vaksin juga tidak bisa disepelekan. Dalam hal ini, infeksi virus mengacaukan reaksi sistem imun sehingga bukannya melindungi tubuh dari musuh, sistem imun malah menyerang organ sang anak, dimana dalam kasus autis, organ yang paling utama diserang adalah otak. Namun, permasalahan pada saluran pencernaan juga umum terjadi pada reaksi sistem imun yang berlebihan tersebut. Keterkaitan paling kuat ada pada antibodi virus campak (dari vaksin campak rubella) dengan anti protein dasar myelin (MBP = Myelin Basic Protein), yang memperlihatkan bahwa vaksin campak bisa memicu respon autoimun yang mengganggu perkembangan myelin. Jika myelin dalam otak anak tidak berkembang dengan baik, jaringan saraf tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga menimbulkan ketidaknormalan otak sebagai gejala utama autisme. · Susu Pasteurisasi – Penelitian lainnya mengindikasikan bahwa autisme dan schizophrenia berhubungan dengan ketidakmampuan tubuh untuk mencerna protein susu. Hal ini terjadi pada anak-anak yang rutin diberi susu olahan atau pasteurisasi. Ketika tidak dicerna oleh tubuh, protein susu yang disebut kasein, menghasilkan exorphin, yaitu komponen serupa morphine, yang kemudian diserap oleh otak dan menimbulkan disfungsi sel. Para peneliti telah menemukan bahwa exorphin diserap oleh 32 area berbeda di otak manusia, termasuk area untuk penglihatan, pendengaran, dan komunikasi, yang jika semuanya mengalami gangguan,dampaknya menjadi gejala-gejala yang ada pada autisme dan schizophrenia. · Teknologi Wireless –Journal of the Australasian College of Nutritional & Environmental Medicine: mempublikasikan suatu penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa radiasi elektromagnetik dari HP, BTS, perangkat Wi-Fi dan teknologi wireless lainnya berhubungan dengan resiko autisme. Setelah 5 tahun meneliti anak-anak penderita autis, mereka menemukan bahwa radiasi elektromagnetik memberi dampak negatif pada membran sel, sehingga memudahkan terjadinya keracunan logam berat yang menumpuk dalam tubuh dan mengakibatkan autisme. Radiasi elektromagnetik dapat menyebabkan logam berat terkeperangkap di dalam sel-sel saraf, sehingga menimbulkan berbagai gejala keracunan logam berat dan mengganggu kemampuan alami tubuh dalam menghilangkan berbagai racun. BAGAIMANA MENDETEKSI AUTISME PADA ANAK? Pada tanggal 29 Oktober 2007, American Academy of Pediatrics (AAP) mengeluarkan pemberitaan resmi yang berisi detail informasi tanda dan gejala autism. Tanda-tanda awal, dimulai dari sejak umur 18 bulan, yaitu: Berdasarkan laporan penelitian mereka: Beberapa “bendera merah”yang merupakan indikasi absolut untuk diadakan evaluasi segera yaitu: tidak ada gumaman (babbling) atau menunjuk sesuatu atau gerakan isyarat lainnya di usia 12 bulan; tidak ada satu kata pun di usia 16 bulan; tidak ada 2 patah kata dari ungkapan spontan di usia 24 bulan; serta kehilangan kemampuan bicara atau kemampuan sosial di segala usia. Produk yang Direkomendasikan: HD DT + Enzymeminerals 90 tablet Harga 1 paket Rp.543.000 (belum termasuk ongkos kirim) Untuk pemesanan produk, silahkan KLIK DI SINI.
|


