Dalil-dalil Tata cara Sholat صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي “Sholatlah kalian seperti melihat aku sholat” [HR Al-Bukhori, dari Malik bin Al-Huwairits] 1. Wudhu’ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit[Maksudnya: sakit yang tidak boleh kena air.] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh[artinya: menyentuh. menurut Jumhur ialah: menyentuh sedang sebagian Mufassirin ialah: menyetubuhi.] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. [QS. Al-Maidah : 6] لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌُ بِغَيِرِ طُهُوْرٍِ “Tidak akan diterima sholat dengan tanpa berwudhu’” [HR: Muslim, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar] 2. Menghadap Qiblat Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit[maksudnya ialah nabi Muhammad s.a.w. sering melihat ke langit mendoa dan menunggu-nunggu Turunnya wahyu yang memerintahkan beliau menghadap ke Baitullah.], Maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.[QS. Al-Baqoroh : 144] إِذَا قُمْتَ اِلَي الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُظُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ “Jika engkau berdiri untuk sholat, maka sempurnakanlah wudhu’ , lalu menghadaplah ke qiblat, kemudian bertakbirlah…”[dikeluarkan 7 imam, ialah Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’I, Ibnu Majah] Membuat Sutroh, yaitu pembatas إِذَاصَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ شَئًَافأِنْ لَمْ يَجِدْفَلْيَنْصِبْ عَصًَا ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَلْيَخُطَّ خَطَّا ، ثُمَّ لاَ يَضُرُّ هُ مَنْ مَرَّ بَيْنَ يَدَ يْهِ “Jika seseorang dari kalian sholat, maka hendaklah ia jadikan sesuatu dihadapannya. Maka jika dia tidak menemukan sesuatu, hendaklah ia menancapkan tongkat, dan jika tidak ada tongkat, hendaklah ia menggaris sebuah garis, kemudian tidak akan merusak pada sholatnya siapa saja yang melintas dihadapannya”. [dikeluarkan oleh Ahmad dan ibnu Majah, dan ibnu Hibban menshohihkannya]. Jangan menoleh-noleh فَإِ ذَا صَلَّيْتُمْ فَلاَ تَلْتَفِتُوْا فَإِ نَّ اللّٰه يَنْصِبُ وَ جْهَهُ لِوَ جْهِ عَبْدِ هِ فِيْ صَلاَ تِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ ”Jika kalian dalam sholat, maka janganlah menoleh-noleh, karena susungguhnya Allah menegakkan wajah_Nya ke wajah hamba-Nya didalam sholatnya, selagi ia tidak menoleh”. [HR riwayat At-Tirmidzi dan Al-Hakim] إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ يُصَلِّى أَ قْبَلَ اللّٰهُ عَلَيْهِ بِوَجْهِهِ حَتَّى يَنْقَلِبَ أَوْ يَحْدُثُ حَدَثَ السُّوْءِ ”Sesungguhnya seseorang, apabila ia berdiri untuk sholat, maka Allah akan menghadapkan wajah-Nya kepadanya, sehingga ia berbalik [selesai] atau melakukan perbuatan buruk”. [HR. Ibnu Majah] 3. Takbiratul Ihram Mengarahkan pandangan ketempat sujud كاَنَ سَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ طَأْ طَأَ رَ أْسَهُ وَرَمَى بِبَصَرِهِ نَحْوَاْلا ءَ رْضِ “Adalah beliau SAW, apabila sholat menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya kearah bumi”. [HR Al-Baihaqi dan Al-Hakim] Tidak boleh mengangkat pandangan ke langit مَابَالُ أَقْوَامٍِ يَرْفَعُوْنَ أَبْصَارَ هُمْ إِلَى السَّمَا ءِ فِيْ صَلاَ تِهِمْ “Apakah perkaranya orang-orang yang mengangkat pandangannya kelangit didalam sholat mereka?” لَيَنْتَهُنَّ عَنْ ذَلِكَ أَوْلَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارَهُمْ ”Niscaya harus benar-benar berhenti dari perbuatan itu, atau niscaya penglihatan mereka akan benar-benar disambar” [HR Al-Bukhari] 4. Mengangkat ke-2 tangan ketika Takbiratul Ihram أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى ِللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ وَ إِذَا كَبَّرَ لِلرُّ كُوْ عِ وَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ “Sesungguhnya nabi SAW mengangkat ke-2 tangannya sejajar dengan ke-2 bahunya, yaitu ketika Beliau memulai sholat, dan juga ketika Beliau bertakbir untuk ruku’ dan mengangkat kepalanya dari ruku’”. [Muttafaqun ‘alaihi] حَتَّى يُحَاذِي بِهِمَا فُرُوْ عَ أُذُنَيْهِ “Nabi SAW mengangkat kedua tangannya sehingga ia sejajarkan keduanya dengan ujung kedua telinganya” [HR Muslim] 5. Meletakkan kedua tangan di dada صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى ِللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ “Aku pernah sholat bersama nabi SAW, maka beliau meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya didadanya”.[Dikeluarkan oleh Ibnu Khusaimah, dari Wa’il bin Hujr r.a.] وَ كَانَ يَضَعُ الْيُمْنَى عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى وَ الرُّ سْغِ وَ السَّاعِدِ “Adalah Beliau SAW meletakkan tangan kanannya diatas punggung telapak tangannya yang kiri dan pergelangan serta lengan”. [HR Abu Dawud, An-Nasa-i, dan Ibnu Khusaimah, dishohihkan Ibnu Hiban] كَانَ -- أَحْيَانَا -- يَقْبِضُ بِالْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى “Terkadang Beliau SAW menggenggam dengan tangan kanan terhadap tangan yang kiri”. [HR An-Nasa-i dan Ad-Daraquthni] كَانَ يَضَعُهُمَا عَلَى الصَّدْرِ “Beliau meletakkan kedua tangannya di dadanya”. [HR Abu Dawud, Ibnu Khusaimah] Membaca do’a Iftitah Membaca Isti’adzah ( أَعُوْذُ بِا للّٰهِ مِنَ ِلشَّيْطَانِ الرَّ جِيْمِ) 6. Membaca Surah Al-Fatihah لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِأُمِّ الْقُرْآ نِ “Tidak Shah sholat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an”. [Muttafaqun alaih, dari Ubadah bin Ash-Shamit r.a.] Adab diwaktu membaca surah Al-Fatihah Hendaklah dalam membaca surah Al-Fatihah dibaca dengan tartil dan berhenti di ujung ayat [tidak washol/terus], karena dalam sholat kita berhadapan langsung dengan Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung. قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِي وَ بَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَ لِعَبْدِي مَا سَأَلَ “Aku membagi sholat menjadi 2 bagian, dan bagi hamba-Ku mendapat apa yang ia minta”[Hadits Qutsi] فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَ بِّ ِلْعَالَمِيْنَ ) قَالَ اللّٰهُ : حَمِدَنِي عَبْدِي “Maka ketika hamba itu berkata : ( الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَ بِّ ِلْعَالَمِيْنَ ) maka Allah menjawab : حَمِدَنِي عَبْدِي [Hamba-Ku telah memuji Aku] فَإِذَا قَالَ ( الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ) قَالَ اللّٰهُ : أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي “maka ketika hamba-Ku berkata : ( الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ) maka Allah SWT menjawab : hamba-Ku telah menyanjung-Ku” ”Maka ketika hamba itu berkata : yang merajai hari pembalasan, maka Allah menjawab : Hamba-Ku telah mengagungkan Aku” فَإِذَا قَالَ ( إِيَاكَ نَعْبُدُ وَ إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ ) قَالَ : هَذَا بَيْنِي وَ بَيْنَ عَبْدِي وَ لِعَبْدِي مَا سَأَلَ “Maka ketika hamba-Ku itu berkata : Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan, maka Allah menjawab : Ini ucapan yang membagi antara bagian-Ku dan antara bagian hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta” فَأَذَا قَالَ ( إِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ . صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ . غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَ الضَّآلِّيْن – قَالَ : هَذَا لِعَبْدِي وَ لِعَبْدِي مَا سَأَلَ َ ’Maka ketika hamba itu berkata :Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai atas mereka dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat”, maka Allah menjawab : Ini [permintaan] merupakan bagian hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta” [HR Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairoh] Mengucapkan Amin setelah membaca Al-Fatihah كَانَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى ِللّٰهِ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا فَرَ غَ مِنْ قِرَأَةِ أُمِّ الْقُرْآنِ رَفَعَ صَوْتَهُ وَ قَالَ : آمِيْنَ “Adalah Rosulullah SAW apabila selesai membaca Ummul Qur’an, beliau keraskan suaranya dan berkata : “Amin” [HR Ad-Daraqutni, dishohihkan Al-Hakim] 7. Ruku’ رَكَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ “Nabi SAW ruku’ lalu Beliau menundukkan punggungnya” [HR Al-Bukhari] Yang dimaksud هَصَرَ / menundukkan punggung adalah dengan rata, tidak bungkuk وَ كَانَ لاَ يَصُبُّ رَأْسَهُ وَ لاَ يَقْنَعُ ”Dan adalah Nabi SAW ketika ruku’ tidak menundukkan kepalanya, dan tidak mendongakkan”[HR Abu Dawud dan Al-Bukhari] وَ كَانَ صَلَّى ِللّٰهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَضَعُ كَفَّيْهِ عَلَى رُ كْبَتَيْهِ ”Dan adalah Nabi SAW ketika ruku’ meletakkan kedua telapak tangannya diatas kedua lututnya” كَأَنَّهُ قَابِضٌُ عَلَيْهِمَا ”Seakan-akan Beliau menggenggam atas kedua lututnya” [HR Al-Bukhari dan abu Dawud] Lalu mengucapkan Dzikir : سُبْحَانَ رَبِّي الْعَظِيْمِ [”maha suci Robku yang maha Agung] sebanyak 3 kali, atau membaca : سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَ بِحَمدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِى “Maha suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, ya Allah, ampunilah aku”[HR Al-Bukhari dan Muslim] 8. Mengangkat kepala dari ruku’ Dengan mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahu atau kedua telinga sambil mengucap : سَمِعَ ِللّٰهُ لِمَنْ حَمِدَهُ “Semoga Allah mendengarkan kepada orang yang memuji-Nya” Kemudian setelah berdiri tegak, mengucapkan : رَبَّنَا وَ لَكَ الْحَمْدُ حَمْدًَا كَثِيْرًَا طَيِّبَا مُبَارَكًَا فِيْهِ مِلْءَ السَّموَا تِ وَ مِلْءَ اْلاَرْضِ وَ مِلْءَ مَاشِعْتَ مِنْ شَيْءٍِ بَعْدُ “Robku, bagi-Mu segala puji. Dengan pujian yang banyak, yang baik, yang mengandung berkah, Sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki selain dari itu”[HR Muslim dan Abu Awamah] Jika sebagai makmum, maka cukup membaca : رَبَّنَا وَ لَكَ الْحَمْدُ Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan Muslim : إِنَّمَا جُعِلَ اْلاِيْمَامُ لِيُعْ تَمَّ بِهِ فَإِذَا قَالَ سَمِعَ ِللّٰهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُوْ لُوْ رَبَّنَا وَ لَكَ الْحَمْدُ ”Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti, apabila ia berkata : سَمِعَ ِللّٰهُ لِمَنْ حَمِدَهُ maka jawablah : رَبَّنَا وَ لَكَ الْحَمْدُ Dan disunnahkan untuk kembali meletakkan kedua tangan diatas dada أَنَّ النَّبِيِّ ـ ص ـ كَانَ إِذَاقَاعِمًَا فِى الصَّلاَة قَبَضَ بِيَمِيْنِهِ عَلَى شِمَالِهِ وَ فِى رِوَايَةٍِ لَهُ أَيْضًَا وَ لآبِي دَاوُدَبِإِسْنَادٍِ صَحِيْحٍِ عَنْ وَاعِلَ بْنِ حُجْرٍِ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ ـ ص ـ بَعْدَ مَا كَبَّرَ لِإِ حْرَامِ وَظَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى وَالرُّسْغِ وَالسَّاعِدِ ”Sesungguhnya Nabi SAW ketika berdiri dalam sholat, beliau meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri ”, dalam riwayat lain juga dari An-Nasa’i dan Abu Dawud dari Wa’il bin Hujrin: sesungguhnya ia pernah melihat Nabi SAW sholat, setelah takbirotul Ihram, beliau meletakkan tangan kanannya diatas punggung telapak kirinya, pergelangan dan lengan” كَانَ النَّاسُ يُعْ مَرُوْنَ أَنْيَضَعَ الرَّجُلُ الْيَدَ الْيُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ الْيُسْرَى فِى الصَّلاَةِ ”Adalah manusia diperintah yaitu agar setiap orang meletakkan tangan kanan diatas lengan yang kiri, yaitu ketika sholat”[HR Al-Bukhari] 9. Sujud رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ ـ ص ـ إِذَا سَجَدَ وَ ضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ ”Aku pernah melihat nabi SAW ketika sujud, Beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya ”[HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah] أَمِرْتُ أَنْ أسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظَمٍِ : عَلَى الْجَبْهَةِ وَ أَشَارَا بِتَدِهِ إِلَى أَنْفِهِ وَ الْيَدَيْنِ وَ الرُّكْبَتَيْنِ وَ أَطرَافِ اْقَدَمَيْنِ ، وَ لاَ نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَ الشَّعْر ”Aku diperintah agar sujud diatas 7 tulang, yaitu : Dahi—dan Beliau isyaratkan dengan tangannya kepada hidung--, dua tangan, dua lutut, dan ujung-ujung jari kedua telapak kaki. Dan kami tidak boleh mencegah / menghalangi pakaian dan rambut” [Muttafaqun alaihi] اعْتَدِلُوْا فِيْ السُّجُوْدِ وَ لاَ يَبْسُطْ أًَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ إِنْبِسَاطَ الْكَلْبِ “Tegakkanlah tubuh kalian ketika sujud, dan janganlah salah seorang kalian membentangkan lengannya seperti membentangkannya seekor anjing”[HR Al-Bukhari dari Anas bin Malik] Lalu berdzikir : سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَ عْلَى atau سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَ بِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي Memperbanyak do’a dalam sujud. أَمَّا الرُّكُوْ عُ فَعَظِّمُوْا فِيْهِ الرَّبَّ وَ أَمَّا السُّجُوْدُ فَاجْتَهِدُوْا فِي الدُّعَاءِ فَقَمنٌُ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ “Adapun ruku’ itu, maka hendaklah kalian agungkan Rabb didalamnya [ruku]. Dan diwaktu sujud, bersungguh-sungguhlah berdoa kepada-Nya, karena patut jika dikabulkan pada kalian [HR Muslim] 10. Mengangkat kepala [bangkit dari sujud] فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتيْنِ جَلَسَ عَلَى رِ جْلِهِ الْيُسرَى وَنَصَبَ الْيُمنَى “Maka jika beliau SAW duduk dalam 2 rokaat, Beliau duduk diatas kaki kirinya, dan menegakkan yang kanan” [HR Al-Bukhari] Lalu berdzikir : رَبِّ اغْفِرْلِي وَ ارْ حَمْنِي وَ اجْبُرْنِي وَارْفَعْنِي وَ اهْدِنِي وَ عَافِنِي وَ ارْزُقْنِي Atau membaca : رَبِّ اغْفِرْلِى رَبِّ اغْفِرْلِى 11. Sujud yang kedua 12. Mengangkat kepala, bangkit dari sujud yang ke-2 أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ ـ ص ـ يُصَلِّي فَإِذَا كَانَ فِي وِتْرٍِ مِنْ صَلاَتِهِ لَمْ يَنْهَضْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًَا “Sesungguhnya ia [Malik] pernah melihat nabi SAW sholat. Yaitu apabila Beliau berada rakaat ganjil dari sholatnya, Beliau tidak langsung bangun, sehingga duduk dulu dengan tetap sempurna” [HR Al-Bukhari] 13. Duduk tasyahhud Apabila sholat 2 rokaat فَإِذَا جَلَسْتَ فِي وَسْطِ الصَّلاَةِ فَا طْمَعِنْ وَ افْتَرِ شْ فَخِذَكَ الْيُسْرَى ثُمَّ تَشَهَّدْ “Apabila engkau duduk ditengah sholat [yaitu rokaat ke-2] maka tenanglah, dan bentangkan pahamu yang kiri lalu tasyahhudlah”[HR Abu Dawud dan Al Baihaqi] أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ ـ ص ـ كَانَ إِذَا قَعَدَ لِلتَّشَهُّدِ وَ ضَعَ يَدَهُ الْيُسرَى عَلَى رُكْبِهِ اليًًَسْرَى وَ الْيُمنَى عَلَى الْيُمْنَى وَ عَقَدَ ثَلاَثاًَ وَ خَمْسِنْ وَ أَشَارَبِإِصْبَعِهِ السَّبَابَةِ “Sesungguhnya Rosulullah SAW apabila duduk tasyahhud, beliau meletakkan tangan kirinya diatas lutut kirinya, dan yang kanan diatas paha yang kanan. Lalu beliau menggenggam lima puluh tiga dan isyarat dengan jari telunjuknya” [HR Muslim] ثُمَّ قَبَضَ اثْنَتَيْنِ مِنْ أَصَابِعِهِ وَ حَلَّقَ حَلْقَةًَ ثُمَّ رَ فَعَ أُصْبُعُهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُوْ بِهَا “Kemudian beliau SAW menggenggam dua buah jari dari jari-jarinya, dan membuat lingkaran. Lalu Beliau mengangkat telunjuknya, maka aku melihat Beliau menggerak-gerakkannya, Beliau berdo’a dengannya. Do’a Tasyahhud التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَ الصَّلَوَاتُ وَ الطَّيِّبَاتُ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَتُهُ ، السَّلاَمُ عَلَيْنَ وَ عَلَى عِبَادِ اللّٰهِ الصَّالِحِيْنَ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداًَ عَبْدُهُ وَ رُسُوْلُهُ Dan seterusnya….. membaca sholawat … Lalu ditambah doa minta perlindungan dari 4 perkara اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ مِنْ فِتْنَتِ الْمَحْيَا وَ الْمَمَاتِ وَ مِنْ شَرِّفِتْنَتَ الْمَسِحِ الدَّجَّالِ “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa Jahannam, dan dari siksa kubur, dan dari fitnahnya kehidupan dan kematian, dan juga dari fitnahnyaAl-Masih Dajjal” Salam السَّلا مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰه “Semoga kesejahteraan dilimpahkan atas kalian [HR Abu Dawud, An-Nasai dan At Tirmidzi] Gunung Putri, 14 Muharram 1431H /31 Desember 2009 Dari berbagai sumber
kunjungi juga : Haramkah rokok?...
|