Dari sekian banyak jenis pasta gigi di pasaran, ada satu jenis yang membuat saya merasa penasaran. Ini adalah pasta gigi bergaris-garis, di mana kalau kita tekan keluar dari tabungnya akan terbentuk deretan garis berwarna-warni yang sangat rapih. Apakah anda juga pernah penasaran, bagaimana sebenarnya deretan garis warna-warni itu bisa terbentuk dengan rapih? Ternyata, lewat diskusi di sebuah milis [1], terungkap bahwa seorang kawan saya punya rasa penasaran yang sama. Dalam diskusi itu, saya teringat bahwa fenomena yang sama bisa ditemukan pada produk “Campina Dubbel Vla”.
Suatu kali, saat mengobrol ngalor-ngidul dengan istri, saya baru tahu kalau ternyata dia pun penasaran dengan hal tersebut. Hipotesa saya, untuk bisa menghasilkan fenomena itu, maka ruang di dalam tabung pasta gigi tersebut harus dibagi-bagi dalam beberapa kompartemen. Keluaran dari masing-masing kompartemen dipasang dengan jarak yang teratur di mulut tabung, sehingga saat pasta gigi ditekan keluar maka akan terbentuk kombinasi garis berwarna yang diinginkan.
Istri saya keberatan dengan hipotesa itu. Alasannya: secara manufaktur, pelaksanaannya sulit, dan ongkosnya bisa jadi mahal. Karena itu, dia membuat hipotesanya sendiri. Menurut istri saya, tidak diperlukan kompartemen dalam tabung pasta gigi. Tabung cukup diisi dengan beberapa jenis pasta sekaligus (tentunya dengan warna yang berbeda) melalui sejumlah saluran nozzle terpisah. Karena kekentalan pasta gigi yang tinggi, maka warna-warna itu tidak akan bercampur di dalam tabung walaupun dibiarkan dalam waktu yang lama. Saat tabung ditekan, maka susunan spasial warna-warna tersebut akan direproduksi di luar mulut tabung.
Kali itu, giliran saya yang keberatan dengan hipotesa istri saya itu. Alasan utama berkeberatan adalah karena saya berpendapat:
Jika memang teknik yang dipakai adalah seperti ide istri saya, maka garis berwarna-warni yang terbentuk hanya akan rapih saat tabung masih penuh atau setengah penuh, karena saat itu susunan spasial warna-warna dalam tabung masih terdistribusi seperti saat tabung baru diisi. Sedangkan saat tabung hampir kosong, distribusi jadi semakin tidak teratur, dan warna-warni garis yang dihasilkan tidak akan rapih lagi.
Saya cukup yakin dengan pendapat saya itu, karena memang selama ini saya selalu mendapati bahwa garis warna-warni yang dihasilkan tabung selalu rapih, walaupun isi tabung sudah hampir kosong dan tabungnya mulai ditekan-tekan dengan brutal. Akhirnya saya mencari tahu ke Wikipedia [2]. Ternyata, menurut ensiklopedia tersebut, kedua teknik di atas (yang diusulkan saya maupun istri saya) sama-sama dipakai. Satu hal baru yang saya dapat dari ensiklopedia itu, adalah bahwa sebetulnya garis warna-warni itu hanya aksesoris dan tidak memberikan manfaat praktis bagi konsumen.
Nah, kembali ke teman saya yang sempat berdiskusi di milis tadi. Rupanya rasa penasaran membuat dia tidak puas hanya membaca isi ensiklopedia. Dia membuat eksperimen kecil yang membuktikan bahwa memang ada dua teknik untuk menghasilkan garis warna-warni pada pasta gigi. Eksperimen ini dipublikasikan di halaman pribadinya [3]. Membaca hasil eksperimennya di situ, saya jadi teringat pendapat saya saat berdiskusi dengan istri. Bagaimana kalau eksperimen itu dibuat lebih kuantitatif? Misalnya dengan cara menekan tabung sampai isinya habis (dengan laju keluaran pasta gigi yang dibuat sekonstan mungkin), sambil menggunakan video untuk merekam keluaran garis warna-warni yang dihasilkan. Dengan analisa citra, akan bisa dipelajari apakah memang kerapihan garis warna-warni itu akan selalu konstan, atau merupakan fungsi dari volume pasta gigi yang tersisa di dalam tabung. Kalau ada waktu luang, mungkin saya juga akan mencoba melakukan eksperimen menarik ini.
[1]
http://groups.yahoo.com/group/TF96-Centroid/message/3639
[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Toothpaste#Striped_toothpaste
[3] http://www.witoelar.com/aree/pop/Multicolored
Toothpaste.pdf