KoPI Delft -
Diagnosa berbasis mikrofluida
(Below is an archive of two articles related to the event.)
[1/2]
http://organisasi.ppidelft.net/2009/02/10/laporan-pandangan-mata-kopi-delft-4-diagnosa-berbasis-mikrofluida-peluang-menuju-kemandirian-medis-di-indonesia/
Laporan Pandangan Mata KoPI Delft 4: “Diagnosa berbasis mikrofluida: peluang menuju kemandirian medis di Indonesia?”
“Perangkat mikrofluida dapat digunakan sebagai media untuk mendiagnosa penyakit. Cara ini adalah salah satu cara diagnosa yang hasilnya didapatkan dengan cepat dan dengan media analisa yang mudah tersebar secara luas” demikian yang disampaikan oleh Dr. Ir. Gea Oswah Fatah Parikesit pada saat Kolokium PPI Delft IV Jumat 6 Februari di fakultas 3mE TU Delft.
Mikrofluida adalah suatu media dengan sistem fluida berskala mikro yang untuk menggerakannya menggunakan perbedaan tegangan listrik. Hasil diagnosis mikrofluida yang dilakukan pada sample bisa juga disimpan dalam format data elektronik untuk keperluan analisis yang lebih mendalam.
Lebih lanjut, Gea yang juga merupakan peneliti Post-Doctoral di TU Delft ini memaparkan bahwa, Aplikasi sistem ini dapat juga diterapkan dalam kasus wabah penyebaran virus flu burung di Indonesia. Sampai tahun 2008 Indonesia masih menjadi salah satu negara endemik flu burung, hal ini disebabkan oleh lemahnya tindakan preventif serta lambatnya pengambilan tindakan apabila suatu daerah sudah positif terserang flu burung.
Sementara itu, Diagnosis terhadap virus flu burung haruslah dilakukan dengan secara spesifik dan dalam tempo relatif singkat agar dapat dipersiapkan tidakan selanjutnya. Mikrofluida merupakan salah satu alternatif pilihan dalam membantu proses diagnosis tersebut serta menganalisis ada atau tidak adanya penyakit flu burung pada tahap awal.
Dalam diskusi terungkap bahwa tantangan yang mungkin muncul adalah bagaimana supaya teknik-teknik diagnosis cepat semacam ini bisa ditemukan sendiri oleh bangsa kita, mengingat kita lah yang akrab dengan masalah-masalah kesehatan yang terjadi di negara kita dan sudah seharusnya kita pula lah yang menemukan solusinya secara kreatif. “Selama masih terikat dengan patent dari negara lain, sulit untuk mengatakan kita sudah independen dalam mengelola sistem kesehatan kita”, Tandasnya.
Dan untuk mengatasi masalah paten tersebut forum diskusi KOPI Delft mengarah kepada upayauntuk mengerti tentang proses pembuatan serta struktur model sehingga produk baru dapat ditemukan tanpa melanggar produk yang sudah memiliki paten.
Gea juga mengungkapkan, bahwa tantangan terbesar terletak pada implementasi perangkat ini di lapangan, terutama dari aspek sosial, budaya, dan ekonomi karena dalam teknologi ini seolah fungsi diagnosis yang umumnya dilakukan oleh dokter diwakilkan oleh sebuah perangkat mikrofluida. Sehingga sangat mungkin untuk disalahpahami sebagian masyarakat bahwa peralatan lah yang memvonis penyakit seseorang.
Selain itu, tenaga medis dalam jumlah yang cukup banyak juga sangat dibutuhkan, untuk memenuhi kebutuhan daya jangkau diagnosis yang seluas kepulauan Indonesia, selain juga karena alat tersebut berhenti hanya pada tahap diagnosis namun langkah penyembuhan selanjutnya sangat tergantung dari ketersediaan tenaga kesehatan di lapangan. (db/ys)
=====
[2/2]
http://www.detiknews.com/read/2009/02/10/215122/1082843/10/diagnosa-penyakit-berbasis-mikrofluida-cepat-dan-mudah
Selasa, 10/02/2009 21:51 WIB
Kopi Delft
Diagnosa Penyakit Berbasis Mikrofluida, Cepat dan Mudah
Eddi Santosa - detikNews

Kopi Delft, Tradisi Peduli
Delft
- Perangkat mikrofluida dapat digunakan sebagai media untuk
mendiagnosis penyakit. Hasilnya bisa didapatkan dengan lebih cepat dan
mudah.
Hal
itu disampaikan peneliti post-doctoral pada Delft University of
Technology Dr. Ir. Gea Oswah Fatah Parikesit dalam Kolokium PPI Delft
(Kopi Delft) Edisi ke-4 di gedung Fakultas Mechanical Maritime &
Material Engineering (3mE), Jumat 6/2/2009.
"Perangkat
mikrofluida dapat digunakan sebagai media untuk mendiagnosis penyakit.
Ini adalah salah satu cara diagnosa, yang hasilnya bisa diperoleh
dengan cepat dan dengan media analisa yang mudah tersebar secara luas,"
papar Gea, seperti disampaikan Dira Bungawardani dan Yugi Sukriana
kepada detikcom hari ini. Detikcom berhalangan karena ada kunjungan
Wapres ke Belgia dan Belanda.
Dijelaskan bahwa mikrofluida
adalah suatu media dengan sistem fluida berskala mikro, yang untuk
menggerakannya digunakan perbedaan tegangan listrik. Hasil diagnosis
mikrofluida yang dilakukan pada sampel bisa juga disimpan dalam format
data elektronik untuk keperluan analisis lebih mendalam.
Lebih
lanjut, Gea memaparkan bahwa aplikasi sistem ini dapat juga diterapkan
dalam kasus wabah penyebaran virus flu burung di Indonesia.
Hingga
2008, Indonesia masih menjadi salah satu negara endemik flu burung, hal
ini disebabkan oleh lemahnya tindakan preventif serta lambatnya
pengambilan tindakan apabila suatu daerah sudah positif terserang flu
burung.
Menurut Gea, diagnosis terhadap virus flu burung harus
dilakukan secara spesifik dan dalam tempo relatif singkat, agar dapat
dipersiapkan tidakan selanjutnya.
"Mikrofluida merupakan salah
satu alternatif pilihan dalam membantu proses diagnosis tersebut, serta
menganalisis ada atau tidak adanya penyakit flu burung pada tahap
awal," tandas Gea.
Temukan Sendiri
Dalam
diskusi terungkap bahwa tantangan yang mungkin muncul adalah bagaimana
supaya teknik-teknik diagnosis cepat semacam ini bisa ditemukan sendiri
oleh bangsa kita, mengingat kitalah yang akrab dengan masalah-masalah
kesehatan di negara kita dan sudah seharusnya kita pula yang menemukan
solusinya secara kreatif.
"Selama masih terikat dengan paten
dari negara lain, sulit untuk mengatakan kita sudah independen dalam
mengelola sistem kesehatan kita," ujar Gea.
Untuk mengatasi
masalah paten tersebut forum Kopi Delft mengarah kepada upaya untuk
mengerti tentang proses pembuatan serta struktur model, sehingga produk
baru dapat ditemukan tanpa melanggar produk yang sudah memiliki paten.
Implementasi
Gea
mengingatkan, bahwa tantangan terbesar terletak pada implementasi
perangkat ini di lapangan, terutama dari aspek sosial, budaya, dan
ekonomi. Karena dalam teknologi ini seolah fungsi diagnosa yang umumnya
dilakukan oleh dokter diwakili oleh sebuah perangkat mikrofluida.
"Sehingga
sangat mungkin untuk disalahpahami sebagian masyarakat bahwa
peralatanlah yang memvonis penyakit seseorang," demikian Gea.
Selain
itu, lanjutnya, tenaga medis dalam jumlah cukup banyak juga sangat
dibutuhkan, untuk memenuhi kebutuhan daya jangkau diagnosis yang seluas
kepulauan Indonesia. Di samping juga karena alat tersebut berhenti
hanya pada tahap diagnosis, namun langkah penyembuhan selanjutnya
sangat tergantung dari ketersediaan tenaga kesehatan di lapangan.
Kopi
Delft merupakan kolokium rutin para ilmuwan, praktisi dan mahasiswa
Indonesia di Delft dari berbagai latarbelakang untuk mendiskusikan
berbagai hal secara terjadwal sebagai sumbangsih kepada tanah air. (es/es)


