Kemiskinan: Berkah Indonesia yang Tersembunyi?
Apakah kemiskinan itu suatu kerugian? Bukan tidak mungkin kemiskinan
itu sendiri merupakan berkah yang tersembunyi bagi bangsa Indonesia,
demikian cerminan dari artikel dalam jurnal "Environmental Science and
Technology", berjudul: "Ecological Knowledge is Lost in Wealthier Communities and Countries" [1] yang dinukil seperti berikut ini.
Kekayaan pengetahuan ekologi
Pengetahuan ekologi alam adalah pengetahuan yang dikumpulkan manusia
dari berbagai interaksi dengan alam sekitar, terutama diperlukan untuk
mengatur dan mengkonservasi alam. Berbekal pengetahuan ini, masyarakat
(atau dalam skala lebih besar lagi: negara) dapat memajukan
kesejahteraan penduduknya sambil terus memastikan bahwa sumber daya
alamnya tidak akan terbengkalai.
Seiring dengan semakin mapannya kehidupan kita, muncul kecenderungan
untuk mengabaikan pentingnya pengetahuan ekologi alam. Lantas, adakah
hubungan antara tingkat pendapatan sebuah komunitas/negara dengan laju
pengabaian pengetahuan ekologi yang dimiliki? Ilmuwan yang meneliti
sebagaimana telah dipublikasi pada artikel di atas berusaha menyelidiki
jawaban pertanyaan ini secara terukur. Dalam penyelidikan yang
dilakukan, mereka menilik tiga negara berbeda: Inggris, India, dan
Indonesia.
Perbandingan kasus antar negara
Untuk mendapatkan nilai yang terukur, maka dua parameter digunakan. Pertama, adalah Gross Domestic Product (GDP), guna
menandai tingkat ekonomi dari responden yang ditanyai. Kedua, adalah
kemampuan responden mengenali jenis tumbuhan liar di lingkungan sekitar
dan kemampuan memaparkan fungsi/kegunaan tumbuhan tersebut (kemampuan
ini diukur dalam tingkat presentasi jumlah jawaban yang benar terhadap
total jumlah jawaban). Di Inggris, dengan GDP mencapai angka US$
26.150, penduduknya hanya mampu memberikan 24% jawaban yang benar.
Sedangkan di Indonesia (pada beberapa daerah pendalaman) dengan GDP
hanya mencapai US$ 2.143, jumlah presentasi jawaban benar mencapai 71%.
Sementara itu, India (diwakili daerah Tamil Nadu) dengan GDP setingkat
US$ 2.892 menghasilkan presentasi jawaban benar 46%. Penyelidikan
lanjutan kemudian diarahkan di Indonesia, khususnya di enam desa
terpencil di wilayah Sulawesi Tenggara. Demikian pula, ternyata
ditemukan hubungan yang sangat jelas di sana: semakin besar tingkat pendapatan penduduk setempat, maka semakin rendah kemampuan mereka dalam mengenali alam sekitarnya.
Rentang variasi pengetahuan di dalam sebuah komunitas
Hal menarik lain juga dapat diukur dari studi tersebut. Pada studi
kasus di enam desa di Indonesia, rentang pengetahuan ekologi alam yang
ditemukan cukup sempit. Artinya, tidak terbentuk jurang pengetahuan
yang signifikan antara penduduknya yang berpengetahuan ekologi tinggi
dan penduduknya yang berpengetahuan ekologi rendah. Sebaliknya, di
Inggris (di mana tingkat pendapatannya tertinggi), rentang pengetahuan
ekologi alam yang ditemukan sangat lebar. Lebih dari itu, penduduk
Inggris yang berpengetahuan ekologi tinggi umumnya adalah hanya
orang-orang yang berusia lanjut. Sedangkan pada kasus Indonesia dan
India, pengetahuan ini tersebar merata di seluruh kalangan usia.
Blessing in Disguise
Ada dua kemungkinan dalam menyikapi hasil riset tersebut. Bagi yang
memilih bersikap skeptis, maka mungkin akan terpikir bahwa "penduduk
Indonesia akan terus menjadi miskin, selama mereka tergantung dengan
pengetahuan ekologi alam sekitarnya." Namun, bagi mereka yang cenderung
berpikir positif, bisa jadi justru terbersit bahwa "kemiskinan penduduk
Indonesia saat ini hanyalah cara tak terduga yang menyibakkan berkah
nan tersembunyi, berupa pengetahuan ekologi alam yang kaya".
Melihat kasus Inggris, ketika penduduknya bertambah kaya, maka
pengetahuan ekologi hanya tersisa pada segelintir orang yang memang
sengaja mencari dan memeliharanya (misalnya: mereka yang memang
mengambil jalur pendidikan yang mempelajari mengenai ilmu lingkungan).
Karena itu, tantangan (atau peluang?) terbesar bagi masyarakat/negara
Indonesia adalah bagaimana caranya agar tingkat kesejahteraan penduduk
Indonesia bisa meningkat, sementara di saat bersamaan juga menjaga
kumpulan pengetahuan ekologi yang dimiliki agar selalu eksis dan bisa
bertambah manfaatnya untuk lingkup nasional.
Referensi:
[1] S. Pilgrim et al., "Ecological Knowledge is Lost in Wealthier
Communities and Countries", ENVIRONMENTAL SCIENCE & TECHNOLOGY /
VOL. 42, NO. 4, 2008, halaman 1004-1009.