Relatif mahalnya harga mikroskop yang berada di pasaran menjadi pemicu bagi sejumlah komunitas, seperti House of Natural Fiber di Yogyakarta [1], untuk mencari akal dan solusi yang cerdas. Hasilnya, komunitas tersebut berhasil mengoprek webcam menjadi sebuah mikroskop yang siap dipakai dan mudah dibawa. Sayangnya, selama ini hasil kinerja dari sejumlah komunitas tersebut belum terkuantifikasi secara teknis, sehingga muncul kesan keliru mengenai kualitas mikroskop yang dihasilkan. Untuk memenuhi keperluan ini, maka sejumlah peneliti di Lab Mikrofluida, Jurusan Teknik Fisika, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada [2] mereproduksi teknik yang dikembangkan komunitas-komunitas tersebut dan menganalisa performansi mikroskop yang diperoleh. Hasil yang diperoleh melalui analisa pencitraan kuantitatif memang cukup mencengangkan: dengan harga “hanya” ratusan ribu rupiah, sebuah mikroskop dapat dibangun dengan cepat dan langsung dipakai untuk melihat objek dengan ukuran terkecil 7 mikrometer (sekitar 30 kali lebih tipis daripada rambut manusia). Namun demikian, sejumlah keterbatasan juga dimiliki oleh mikroskop hasil oprekan tersebut: kualitas lensanya yang tidak sempurna menyebabkan citra mengalami degradasi kualitas di bagian tepi. Meski begitu, masalah ini dapat diatasi dengan teknik pengolahan citra digital yang tidak terlalu sulit. Pada 24 November 2010 lalu, pekerjaan yang dilakukan oleh Lab Mikrofluida tersebut telah terpublikasikan sebagai sebuah artikel ilmiah di jurnal internasional “Optical Engineering” [3]. Salinan dari artikel ilmiah itu dapat diperoleh dengan menghubungi tim peneliti di Lab Mikrofluida [2]. Saat ini mikroskop yang dapat dioperasikan dengan mudah melalui saluran USB tersebut sedang dipergunakan oleh Lab Mikrofluida untuk menyelidiki sejumlah fenomena aliran di skala mikroskopik yang dinilai menarik dan bermanfaat secara teknologi. [1] http://www.natural-fiber.com/ |
