Manusia adalah mahluk visual dan sebagian besar keputusan yang diambil oleh otak manusia memanfaatkan masukan dari mata sebagai sensor penglihatan. Tapi walaupun kita selalu memakai mata kita saat bekerja sehari-hari, ada sejumlah sifat kerja mata yang tidak kita sadari. Mari kita tengok beberapa permainan ringan yang bisa dilakukan untuk mengenal mata kita lebih jauh.
Permainan konsentrasi statik
Permainan ini hanya membutuhkan selembar kertas yang dipenuhi dengan objek, misalnya tulisan. Cara melakukan permainan ini adalah dengan meletakkan kertas itu di hadapan kita, misalnya dengan menempelkannya ke dinding. Duduklah menghadap kertas itu, dan pusatkan konsentrasi ke salah satu bagian dari tulisan yang berada di atas kertas, misalkan sebaris tulisan tepat di tengah-tengah kertas. Begitu anda berhasil memusatkan konsentrasi anda, perlahan anda akan merasa bahwa objek di kertas itu memudar dan menghilang. Namun begitu anda menggerakkan bola mata anda untuk memperhatikan objek-objek lain tersebut, mereka akan muncul kembali! Apa yang terjadi?
Mata manusia adalah instrumen yang efisien untuk mendeteksi objek yang dinamis [1]. Artinya, mata kita hanya bisa terus mendeteksi sebuah objek jika (1) objek itu bergerak terhadap mata kita, atau (2) mata kita bergerak terhadap objek tersebut (khususnya untuk objek yang diam, seperti kertas yang ditempel di dinding tersebut). Akibatnya, jika baik mata kita maupun objek yang kita lihat sama-sama diam, mata tidak lagi mampu mendeteksi objek itu. Begitu pula yang terjadi dalam permainan kita. Saat kita memusatkan konsentrasi ke sebuah objek di atas kertas, perhatian kita akan begitu terpusat sehingga mata kita akan terdiam dan menjadi benar-benar statis. Karena objek dan mata kita sama-sama statis terhadap satu sama lain, maka tidak ada objek dinamis yang terdeteksi, dan perlahan objek memudar dari pandangan. Tapi ketika bola mata kita gerakkan sedikit saja, maka objek yang hilang itu akan kembali muncul dalam sekejap.
Selain objek berbentuk tulisan, sebenarnya objek-objek lain juga bisa kita gunakan dalam permainan ini. Saya ingat, ketika saya dulu pernah ikut berlatih bela diri, salah satu metode pelatihan konsentrasi yang diajarkan adalah dengan memusatkan pandangan pada gambar spiral di atas kertas (seperti terlihat di gambar di atas). Pandangan dipusatkan ke bagian tengah dari spiral. Jika konsentrasi berhasil dilakukan dengan baik, maka spiral akan menghilang dari pandangan. Tentu saja anda dapat mencoba sendiri dengan memakai objek menarik lainnya.
Penampakan monster yang mengambang
Permainan berikutnya saya namai permainan ‘monster mengambang’. Saya pertama kali menemukan permainan ini secara tidak sengaja, saat saya masih kecil dulu. Caranya tidak terlalu sulit: anda hanya perlu melamun. Ya, betul, anda hanya perlu melamun, sambil melayangkan pandangan anda ke arah objek yang berwarna terang (misalnya jendela kamar anda, saat siang hari). Di saat seperti itu, biasanya saya mulai melihat ada ‘monster-monster’ berwarna transparan yang berseliweran melintasi bola mata saya. Bentuknya biasanya memanjang seperti cacing, tapi kadang juga bundar. Anehnya, saat saya menggerakkan bola mata ke kiri atau ke kanan untuk memperhatikan benda aneh itu, maka benda itu akan meloncat menjauh, mengikuti arah pergeseran bola mata saya. Jadi kalau misalnya si ‘monster’ berada di sisi kanan sudut pandang saya, lalu saya berusaha menggerakkan mata saya ke kanan untuk mengikutinya, maka ‘monster’ itu akan meloncat ke kanan pada saat yang bersamaan dan semakin menjauhi bagian tengah sudut pandang saya.
Rupanya ‘monster’ itu adalah ‘muscae volitantes’, yaitu sel-sel retina mata yang menjadi tua dan terlepas dari retina kita [1]. Dalam bahasa Inggris disebut sebagai ‘si pengambang’ (floaters), karena sel-sel itu memang mengambang di depan bola mata kita. Jika anda pernah mengamati hal yang sama seperti saya di atas, maka anda tidak perlu kuatir: ‘muscae volitantes’ itu dimiliki oleh setiap orang [1]. Para ‘pengambang’ ini bisa kita lihat saat kita melamun, karena pada saat itulah mereka berada di luar fokus mata kita (out-of-focus). Otot mata yang melamun berada dalam keadaan santai dan fokus pandangan menjadi terarah ke tempat yang sangat jauh. Objek-objek yang berada sangat dekat dengan mata, seperti para ‘pengambang’ itu, jadi terlihat lebih jelas.
Anda mungkin lantas bertanya, “mengapa para ‘pengambang’ ini justru tidak terlihat sehari-hari, saat mereka berada dalam fokus pandangan kita (in-focus)?” Sebenarnya sensor mata kita selalu melihat para ‘pengambang’ ini dalam keadaan bagaimana pun. Hanya saja, dalam situasi sehari-hari di mana mereka berada dalam fokus pandangan kita, maka mereka terlihat sangat kecil. Selain itu, kontras perbedaan intensitas cahaya antara para ‘pengambang’ itu dan latar belakangnya sangat rendah, sehingga otak kita tidak mampu mengenali mereka.
Tuan Pemarah dan Nyonya Baik Hati
Sumber untuk permainan selanjutnya datang dari sebuah surat elektronik yang pernah saya terima. Surat ini berisi dua buah gambar, yaitu potret ‘tuan pemarah’ dan ‘nyonya baik hati’, yang diciptakan oleh Philippe G. Schyns dan Aude Oliva [2]. Kedua potret ditampilkan dalam ukuran besar, secara berdampingan: ‘tuan pemarah’ di sebelah kiri dan ‘nyonya baik hati’ di sebelah kanan. Menurut petunjuk permainan dalam surat elektronik, pada awalnya anda diminta duduk atau berdiri dekat di depan komputer. Lalu perlahan-lahan anda mundur menjauh sambil tetap memperhatikan kedua potret yang bersebelahan itu, hingga tiba-tiba kedua potret itu bertukar tempat: ‘tuan pemarah’ sekarang ada di sebelah kanan, dan ‘nyonya baik hati’ di sebelah kiri! Bagaimana mungkin?
Setiap objek yang kita lihat memiliki resolusi (tingkat ketelitian) yang berbeda-beda. Sebuah objek yang terdiri dari detail yang tajam dan teliti dikatakan memiliki resolusi yang tinggi. Sedangkan objek gambar dengan resolusi rendah punya tingkat ketelitian yang tidak tajam. Mata kita hanya mampu mendeteksi resolusi dengan rentang yang terbatas. Kedua potret di atas sama-sama mengandung informasi dengan resolusi yang tinggi maupun rendah. Di potret yang kiri, gambar ‘tuan pemarah’ memiliki resolusi tinggi, sedangkan gambar ‘nyonya baik hati’ memiliki resolusi rendah. Sebaliknya, di potret yang kanan, gambar ‘nyonya baik hati’ beresolusi tinggi dan gambar ‘tuan pemarah’ beresolusi rendah. Ketika kita berada dekat dengan layar komputer, maka resolusi tinggi lebih mudah ditangkap mata kita, sehingga ‘tuan pemarah’ tampak muncul di kiri. Sementara itu ketika kita menjauh dari layar, resolusi rendah menjadi lebih mudah terdeteksi mata, dan ‘tuan pemarah’ terlihat di kanan.
Untuk mengamati transisi itu, sebenarnya ada cara lain selain maju dan mundur di depan layar komputer. Salah satu alternatifnya adalah dengan membesarkan dan mengecilkan tampilan kedua potret pada layar [3]. Sedangkan alternatifnya, jika anda kebetulan berkaca mata minus, adalah dengan memakai dan melepaskan kacamata anda. Saat anda memakai kacamata, maka mata akan terbantu menangkap resolusi tinggi. Sedangkan saat anda melepas kacamata, maka kemampuan mata anda yang terbatas hanya akan menangkap resolusi rendah dalam kedua potret.
Nah, selamat bermain dengan mata anda!
[1] D.K. Lynch dan W. Livingston, “Color and Light in
Nature”, Cambridge University Press, 2001
[2] http://www.ianrowland.com/MiscPages/Mrangryandmrscalm.html
[3] http://www.ianrowland.com/MiscPages/Mrangryandmrscalm2.html

