Antara peran mentor dan orangtua
 

Jurnal ilmiah “Nature” tidak saja terkenal karena kualitas artikel penelitiannya yang amat tinggi namun juga karena materi “kolom karir”-nya yang menarik dan terasa mengena. Di edisi Kamis 14 Juni 2007, “kolom karir” tersebut mengangkat isu mengenai peran mentor dalam perkembangan karir [1]. Saya kutip kalimat yang ditampilkan sebagai sub-judul kali itu, “Memiliki seorang mentor yang baik pada awal karir dapat sangat mempengaruhi kesuksesan anda, dalam bidang apapun.”

Kalimat tersebut menunjukkan betapa besarnya peran seorang mentor dalam hidup anda. Ironisnya, apresiasi terhadap kualitas mentor adalah sesuatu yang masih terlalu sedikit dirasakan di dunia akademis. Seorang mentor bukanlah sekedar seorang pembimbing, karena seorang mentor tidak sekedar mengarahkan muridnya menyelesaikan proyek penelitian yang sedang dikerjakan melainkan juga piawai memupuk bakat muridnya dan dengan antusias ikut menyiapkan sang murid untuk membentuk karir jangka panjangnya.

Dalam artikel tersebut dipaparkan beberapa kiat untuk menjadi mentor yang baik, yang dikumpulkan dari beberapa kisah nyata. Salah satu kiat adalah bahwa “untuk menjadi mentor yang baik, anda perlu menjadi seorang guru dan komunikator yang baik”. Membaca kiat yang satu ini, saya lantas tersadar bahwa memang sifat-sifat yang diperlukan untuk menjadi mentor yang baik tersebut tidaklah jauh berbeda dengan sifat-sifat yang dibutuhkan untuk menjadi seorang guru. Pola yang lebih besar lagi kemudian terbentuk dalam benak saya: sebetulnya semua kiat yang ditampilkan di artikel tersebut juga cocok untuk diterapkan saat anda berperan sebagai seorang orangtua! Artinya, ada kaitan erat antara peran mentor/guru dan orangtua.

Di bawah ini daftar sifat yang perlu dimiliki seorang mentor yang baik, saya sarikan dari artikel tersebut. Coba anda ganti masing-masing kata “mentor” dengan “orangtua” dan kata “murid” dengan “anak”, dan anda akan lihat seberapa erat kaitan antara peran mentor dan orangtua.

1. Apresiasi terhadap perbedaan Seorang mentor yang baik perlu mengapresiasi perbedaan individual murid-muridnya. Sang mentor harus mampu mengenali apa kelebihan masing-masing muridnya dan memupuk bakatnya. Lebih penting lagi, sang mentor tidak boleh memaksakan setiap muridnya untuk menempuh karir yang sama, karena setiap karir memiliki kebutuhan dan kecocokan dengan kemampuan dan bakat yang berbeda.

2. Keterbukaan Seorang mentor harus bersikap terbuka dan selalu bersikap antusias dalam berkomunikasi dengan muridnya. Di tengah semua kesibukan yang harus dijalani, sang mentor perlu bersikap responsif, menjadi pendengar yang baik, dan memberikan perhatian personal bagi masing-masing muridnya.

3. Pembimbingan Seorang mentor harus tahu bagaimana menyeimbangkan antara kapan harus memberi tahu setiap detil yang diperlukan muridnya dan kapan harus membiarkan muridnya mencari tahu sendiri secara mandiri. Jika sang mentor terlalu ketat dalam membimbing, maka sang murid akan kehilangan kemandirian. Sebaliknya jika sang mentor terlalu mengabaikan muridnya, maka sang murid akan menghabiskan waktunya secara tidak efektif.

4. Pertanyaan yang aktif Dalam membantu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi sang murid, seorang mentor yang baik tidaklah serta merta memberikan jawaban yang dicari. Kiat yang dianjurkan adalah menjawab masalah sang murid dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan aktif yang merangsang daya pikir sang murid. Pada prakteknya hal ini lebih memakan waktu namun lebih berhasil secara jangka panjang untuk menumbuhkan kemampuan dan kemandirian murid.

5. Merayakan keberhasilan Setiap keberhasilan yang diraih sang murid perlu diberi penghargaan, salah satunya dengan cara merayakan bersama-sama rekan satu tim. Kiat ini jitu untuk membangkitkan motivasi murid dan membangun kebersamaan dalam tim.

6. Membangun komunitas ilmiah dan sosial Sang mentor perlu membangun suasana yang mendukung supaya para murid merasa nyaman dalam mengekspresikan kemampuan dan mengembangkan bakatnya. Suasana tersebut bisa dibentuk dengan menyediakan waktu dan tempat khusus di mana semua anggota tim yang terlibat dapat saling bertukar pendapat secara keilmuan maupun saling bertukar minat secara sosial.

7. Pengembangan keahlian Seorang mentor yang baik tidak hanya peduli apakah murid-muridnya mampu menyelesaikan pekerjaan yang sedang dijalani dengan baik dan tepat waktu. Ia juga secara aktif memastikan, bahwa sepanjang menjalani pekerjaan tersebut, para murid juga dapat menjaring semua ilmu dan keterampilan yang akan mereka perlukan dalam karir jangka panjang.

8. Pembentukan jaringan Sang mentor, yang biasanya telah memiliki komunitas dan jaringan yang mapan, juga harus memastikan bahwa semua muridnya memiliki akses yang sama ke dalam jaringan tersebut. Dalam konferensi-konferensi ilmiah, sang mentor dapat mempromosikan hasil pekerjaan dan prestasi murid-muridnya kepada para kolega dalam jaringannya. Hal ini tidak saja baik untuk pembangunan karir para murid, tapi juga baik untuk membangun kepercayaan diri dan keterampilan berkomunikasi dalam diri para murid.

9. Menjadi mentor untuk sepanjang hidup Mentor yang baik akan selalu menjadi tokoh yang sangat berkesan bagi murid-muridnya. Karena itu para murid akan selalu menghargai pendapatnya dan menikmati berkomunikasi dengannya. Di sisi lain, seorang mentor yang baik juga akan selalu antusias mengikuti aktifitas murid-muridnya bahkan setelah karir mereka berkembang dan mungkin tidak lagi berada dalam bidang yang persis sama.

Saya cukup beruntung karena memiliki mentor-mentor maupun sepasang orangtua yang sangatlah baik, dan saya haturkan banyak sekali rasa terima kasih dan penghargaan saya terhadap mereka semua. Sekarang saatnya saya belajar menerapkan kiat-kiat di atas, baik sebagai mentor maupun sebagai orangtua.

Referensi: [1] Adrian Lee, Carina Dennis, and Philip Campbell, “Nature’s guide for mentors”, Nature, Vol. 447, pp.791-797, 2007.