Dibandingkan dengan kereta api di Jepang pada saat itu, kereta api SS jauh lebih maju. Masa tahun 1930-an prestasi kereta api Eendaagsche Expres (Ekspres Siang) merupakan salah satu rekor dunia. Sejak kehadiran kereta api di Jawa pada tanggai 10 Agustus 1867 yang 5 tahun lebih awal dibanding kehadiran kereta api di Jepang. Tahun 1934 kecepatan kereta api SS sudah mencapai 100 km/jam, kemudian kecepatan kereta api mencapai 120 km/jam mulai dirintis sekitar tahun 1941 dan perusahaan SS sudah merencanakan perjalanan kereta api 150 km/jam. Pada lebar sepur 1.067 mm di Jepang, untuk kecepatan 110 km/jam baru menjadi kenyataan pada tahun 1958 dan kecepatan 120 km/jam baru terjadi di tahun 1968. Tahun 1941, perusahaan SS menggunakan rel :
Dengan peralatan tersebut pada tahun 1941, perusahaan SS menyatakan beberapa ruas jalan datar dapat dilalui dengan kecepatan 120 km/jam. Namun lokomotif uap pada saat itu hanya mampu melaju dengan kecepatan maksimum 105 km/jam. Bandingkan dengan jalan rel masa PT Kereta Api (Persero) yang sudah menggunakan rel R.14A dengan berat 42,18 kg/m dan rel UIC-54 dengan berat 54 kg/m. Kekuatan rel yang digunakan sekarang jauh lebih baik dibanding rel pada jaman perusahaan SS dan lebih mampu dilewati kereta api dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Bantalan yang digunakan umumnya bantalan beton dengan penambat elastis. Bantalan beton dengan penambat elastis memberikan kestabilan yang lebih tinggi dan manunjang program peningkatan kecepatan untuk mengurangi waktu tempuh. Jalur Jakarta - Bandung sepanjang 174 km saat ini hanya sebagian kecil yang masih menggunakan bantalan kayu yaitu pada rute pegunungan antara Padalarang - Purwakarta. Sisanya sudah menggunakan bantalan beton dengan penambat elastis. Pengelasan rel menjadi panjang antara 85 meter sampai dengan 3.000 meter. Persinyalan yang digunakan banyak peralatan modern bahkan beberapa stasiun mcnggunakan pesawat NX dan jalur sudah dilengkapi dengan CTC. Peralatan tersebut dapat digunakan untuk memperlancar perjalanan kereta api dan menjamin keselamatan yang lebih tinggi. Lokomotif uap sudah ditinggalkan oleh Perkeretaapian Indonesia dan lokomotif yang saat ini dioperasikan menggunakan lokomotif diesel baik dengan transmisi hidrolik maupun transmisi elektrik. Lokomotif diesel tersebut dapat melaju dengan kecepatan mencapai 120 km/jam. Tidak ada kesulitan dalam hal membeli lokomotif dengan kecepatan maksimum hingga 120 km/jam atau 150 km/jam karena tinggal memesan dan dapat disediakan oleh pabrik. Laju kecepatan kereta api di jalan datar saat ini hanya diperbolehkan 90 km/jam, artinya jauh di bawah kemampuan lokomotif yang mampu melaju dengan kecepatan 120 km/jam. Semua peralatan mutakhir yang dimiliki Perkeretaapian Indonesia ternyata tidak membawa kemajuan transportasi kereta api jika tolok ukurnya adalah kecepatan. Padahal di bidang transportasi pengurangan waktu tempuh atau peningkatan kecepatan laju sarana transportasi menjadi tolok ukur kemajuan. Jika mengacu pada tolok ukur kecepatan, Perkeretaapian Indonesia tidak lebih baik dibanding kereta api masa perusahaan SS di tahun 1935. Tenggang waktu selama 73 tahun sejak tahun 1935 sampai dengan sekarang tahun 2008 tidak menjadikan Perkeretaapian Indonesia bertambah maju atau berkembang bahkan terjadi kemunduran. Jika mengacu pada tolok ukur pelayanan maka perusahaan SS sebelum perang kemerdekaan kondisinya lebih baik dibandingkan sekarang. Kesimpulan itu diperoleh dari data frekuensi operasional sarana lokomotif, kereta dan gerbong per kilometer masa perusahaan SS masih lebih tinggi dibandingkan kondisi sekarang. Di Jepang kecepatan kereta api mencapai 100 km/jam terjadi sekitar tahun 40-an atau sekitar 60 tahun yang lalu. Jika ingin memperbaiki kinerja Perkeretaapian Indonesia untuk mengikuti irama kerja bangsa Jepang maka dengan kerja keras memperbaiki kecepatan dari 90 km/jam menjadi kecepatan 140 km/jam dibutuhkan waktu sekitar 50 tahun. Sedangkan saat ini kecepatan kereta api di Jepang sudah mencapai 350 km/jam. Jadi untuk mengejar teknologi kereta api agar sama dengan bangsa Jepang mungkin diperlukan kerja keras selama 150 tahun atau lebih. Perkeretaapian Indonesia ketinggalan 2 generasi jika dibandingkan dengan Perkeretaapian Jepang. Prestasi keberhasilan dan kemajuan kereta api tidak hanya diukur dari kecepatan tetapi kualitas pelayanan juga sangat menentukan. Sewaktu perusahaan SS melakukan uji coba dengan kecepatan 100 km/jam pada jalan datar dan 55 km/jam pada lintas pegunungan dinyatakan dalam kalimat bahwa “de loc en de rijtuigen nog restig blijven” (lok dan kereta masih berjalan dengan tenang) pada kecepatan uji coba 105 km/jam. Jarak pengereman tahun 1934 dengan menggunakan rem vakum (udara kosong) dari kecepatan 105 km/jam tercatat membutuhkan jarak sepanjang 580 meter. Jarak pengereman sekarang dengan menggunakan rem udara tekan yang teknologinya lebih baik dibanding rem vakum berdasarkan uji coba dari kecepatan 100 km/jam tercatat membutuhkan jarak sepanjang 910 meter. Saat ini, kecepatan maksimum antara Jatinegara - Cikampek dapat mencapai 100 km/jam. Namun jika dibandingkan kestabilan Iokomotif dan kereta pada kecepatan tersebut dengan masa perusahaan SS, mungkin jauh berbeda. Jika faktor kenyamanan perjalanan tersebut ikut sebagai faktor pembanding maka kondisi saat ini masih jauh di bawah 73 tahun yang lalu. Bagaimana jika kuantitas dan kualitas kecelakaan juga diperhitungkan. Mungkin angka kemunduran dan ketertinggalan Perkeretaapian Indonesia menjadi jauh lebih besar lagi. |