Kado Istimewa Natal (1)


KADO ISTIMEWA NATAL (1)
Saumiman Saud *)

Damai sejahtera! Damai sejahtera!, tetapi tidak ada damai sejahtera. (Yesaya 8 :11)

            Menjelang natal tahun 2002   saya sempat kehilangan konsentrasi, pasalnya sejak awal Desember mendadak ibu saya sakit keras. Saat itu sebenarnya saya lagi sibuk  mempersiapkan diri pindah pelayanan ke Amerika Serikat. Namun karena kejadian ini maka saya segera berangkat dari Surabaya menuju ke Medan. Cukup menjengkelkan sekali, sebab dokter yang merawat ibu saya itu selama sepuluh hari tidak berani bertindak apa-apa, padahal beliau salah seorang dokter yang sangat top di Medan. Saya curiga dokter itu takut gagal sehingga pamornya menjadi tidak baik, ia malah ambil cuti ke Singapore. Semestinya ia tidak boleh demikian, membiarkan pasien terlantar tak berpengharapan. Jikalau memang beliau tidak sanggup menangani, biarlah kami mencari dokter lain. Itu nyawa, bukan barang dagangan! Bersyukurlah di tengah pemikiran yang kusut itu  Tuhan buka jalan, salah seorang teman saya yang juga dokter bersedia menangani bersama rekan-rekannya. Akhirnya kami pindah ke rumah sakit lain, walaupun biayanya bakal lebih mahal sedikit.

            Sementara itu saya merasa lega, sebab boleh kembali  ke Surabaya untuk kotbah di hari Natal. Di saat –saat  hati gundah gulana seperti itu, saya harus menyampaikan berita suka-cita Natal, bagi saya hal ini tidak gampang, bertentangan sekali dengan hati nurani, pada waktu itu saya bisa merasakan apa artinya pergumulan dalam kotbah. Bagaimana mungkin saya berkata ada suka-cita Natal, sementara ibu saya masih berbaring di rumah sakit menunggu waktunya operasi tanpa mengetahui apa yang bakal terjadi? Namun pada malam natal itu juga saya harus mengatakan ada suka-cita dan damai sejahtera, rasanya mustahil bukan? Tetapi Tuhan memberikan saya kekuatan. Saya jadi teringat para nabi yang mengatakan “Shalom, Shalom, tetapi tidak ada Shalom” (Yesaya 8 :11)     Setelah kotbah saya menerima beberapa kado natal  dari beberapa anggota gereja, namun sayang sekali  kado-kado itu tidak sanggup menghapus suasana hati yang kacau ini. Pemikiran saya tidak tertuju pada kado, tetapi bagaimana ibu saya sembuh? Sebab hal ini menyangkut jadwal kepindahan saya. Ternyata benar, kekayaan, harta benda belum tentu dapat membeli damai sejahtera.

            Sehabis natal, saya balik lagi ke Medan lagi, sebab dokter mengatakan bahwa ibu saya harus segera dioperasi. Sebelum hari “H” operasi, seperti biasanya ibu saya itu orangnya keras hati, kalau ia sakit begini karena selama ini beliau merahasiakan pada kami anak-anaknya. Satu hal lagi ia belum percaya pada Yesus sebagai Juruselamat pribadinya. Namun tanggal 27 Desember 2002 merupakan momen penting, karena hari itu hatinya yang keras dihancurkan, ia menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadinya. Walaupun setelah sembuh karena kesehatannya hingga meninggal 12 April 2008 ia tidak pernah ke gereja, namun saya percaya momen malam itu sudah cukup baginya menjadi anak Tuhan.  Jadi ini merupakan Kado Natal yang paling istimewa. Pada saat itu hati saya sudah mulai tenang tidak seperti awalnya, dan konsep pengharapan saya juga berubah yang terpenting saat ini bukan lagi dia sembuh dari sakit-penyakitnya, tetapi lebih dari itu adalah keselamatannya. 

            Sebelum dokter menjalani operasi, saya beserta adik saya dipanggil menghadap  untuk menandatangani surat-surat, salah satu hal yang penting dibicarakan waktu adalah mengenai  hasilnya 50% hidup atau mati. Namun puji Tuhan, operasi yang dilakukan kurang lebih 6 jam itu berjalan lancar, ibu saya sembuh dan masih diijinkan hidup, walaupun tubuhnya tidak sekuat sebelum sakit.

            Saya melihat di sinilah letaknya kasih dan kemurahan Tuhan kita. Sering Tuhan tidak secara langsung memberikan kado itu kepada kita. Ada orang yang harus mengalami pukulan yang dahsyat baru mau menerima Tuhan Yesus sebagai juruselamat. Banyak orang yang saya temui, apalagi mereka yang sudah merasa mapan di dalam hidupnya, tatkala berbicara tentang Tuhan Yesus maka ia menganggap remeh, sebab ia tidak butuh cerita “usang” ini. Namun ketika ia menghadapi masalah, usahanya bangkrut, diserang penyakit kanker stadium empat, atau dokter mengatakan ia bakal lumpuh total, baru mau menerima Tuhan Yesus dan bahkan berjanji akan melayani Dia seumur hidupnya. Itupun kalau Tuhan memberikan kesempatan padanya untuk hidup, namun kalau ia mendadak dipanggil Tuhan bagaimana? Tentu ia kehilangan kesempatan mendapat kado itu bukan? Kado dari Allah membawa damai sejahtera bagi penerimanya. Walaupun secara manusia kita tidak menjadi orang kaya, tetapi ada suka-cita yang besar tersalur di dalam diri ini, karena Ia mendapat Kado yang berdampak damai sejahtera abadi.

            Jangan biarkan Kado Istimewa ini berlalu begitu saja di dalam kehidupan kita, sebab belum tentu ada tawaran yang ke dua. Masih ingat cerita Nuh yang disuruh Allah membuat Bahtera di atas gunung, kemudian ia berkata sebentar lagi akan ada hujan deras dan air Bah. Nuh bukan hanya diejek tetapi barang kali ia juga dianggap sebagai orang gila karena membuat bahtera di atas gunung. Tetapi apa lacur, ketika hujan deras tiba, kemudian banjir datang, pintu Bahtera itu tiba-tiba tertutup, kali ini orang-orang yang hendak masukpun tidak bisa lagi. Demikian juga dengan tawaran keselamatan ini bukan? Hidup itu adalah kesempatan dan  selama kita hidup ini, Tuhan Allah tidak bosan menawarkan Kado itu buat kita. Saat ini tawaran ini masih terbuka, dan bagi anda belum menerimanya perlu waspada dan hati-hati. Sebab Kado  Istimewa itu segera beralih  kepada orang lain, dan penyesalan sedahsyat apapun tidak bakal menggantikannya. (Edit kembali, Lynnwood, 031208)

*) Penulis adalah alumni Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang yang saat ini melayani di Gereja Injili Indonesia West Coast. Beliau dapat dihubungi melalui emal : saumiman@gmail.com